Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada akhir Desember 2018 merupakan salah satu peristiwa vulkanik paling signifikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pada tanggal 22 Desember 2018, gunung tersebut mengeluarkan letusan dahsyat yang disertai dengan tsunami, mengakibatkan dampak besar di kawasan sekitarnya, termasuk wilayah Lampung.
Rombongan Persebaya Surabaya yang sedang dalam perjalanan menuju Lampung untuk melaksanakan serangkaian pertandingan menghadapi situasi yang sulit ketika erupsi terjadi. Waktu kejadian erupsi yang tidak terduga tersebut sangat mengganggu jadwal penerbangan mereka dari Surabaya. Proses evakuasi dan pengalihan rute menjadi pilihan yang harus diambil saat itu, karena maskapai penerbangan menghadapi tantangan dalam mengatur penerbangan di atas area yang terpapar abu vulkanik.
Abu dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke berbagai arah dan secara langsung mempengaruhi banyak penerbangan di wilayah tersebut, terutama penerbangan yang menuju dan dari Bandara Lampung. Ketebalan abu vulkanik dapat berisiko bagi keselamatan penerbangan, karena dapat merusak mesin pesawat, sehingga tidak jarang beberapa penerbangan dibatalkan atau ditunda. Situasi ini mengakibatkan rombongan Persebaya Surabaya harus menunggu lebih lama dan mencari alternatif perjalanan dengan moda transportasi lain, seperti darat, untuk mencapai lokasi pertandingan mereka.
Faktor lain yang menjadi perhatian ialah dampak sosial dan psikologis dari situasi tersebut, baik bagi para pemain maupun supporter. Munculnya kecemasan dan ketidakpastian berkenaan dengan perjalanan mereka menggambarkan tantangan tidak hanya secara fisik tetapi juga mental dalam menghadapi bencana alam seperti ini. Kejadian erupsi merupakan pengingat akan potensi risiko yang dihadapi oleh masyarakat dan perjalanan mereka di daerah rawan bencana.
Pada sore hari yang dihiasi oleh nuansa pertarungan yang tinggi, Persebaya Surabaya melakoni pertandingan penting melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC. Pertandingan ini berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, yang mengundang ribuan pendukung fanatik yang siap memberikan dukungan maksimal. Para pemain Persebaya datang ke lapangan dengan semangat juang yang besar, berusaha untuk mengangkat nama tim setelah mengalami serangkaian tantangan. Kembali berkompetisi di tengah situasi ketidakpastian pasca-erupsi Gunung Anak Krakatau menambah tekanan bagi tim.
Sejak awal pertandingan, kedua tim menunjukkan determinasi yang tinggi, dengan Bhayangkara FC berusaha menguasai permainan. Namun, Persebaya tidak kalah dalam memberikan perlawanan yang gigih. Peluang demi peluang tercipta dari kedua sisi, memberi para penonton pengalaman menegangkan. Tak lama, Persebaya berhasil mencetak gol pertama melalui permainan apik dari lini depan mereka. Gol ini menjadi momentum bagi tim, menambah kepercayaan diri mereka di tengah keadaan yang penuh risiko akibat situasi pasca-erupsi.
Setelah gol tersebut, permainan menjadi semakin intens. Bhayangkara FC, tidak ingin menyerah, meningkatkan tempo permainan dan berhasil menyamakan kedudukan sebelum paruh waktu berakhir. Ini adalah titik kritis dalam permainan yang membawa dampak besar pada psikologis kedua tim. Pasca jeda, kedua tim kembali berjuang untuk meraih kemenangan, tetapi hingga peluit akhir berbunyi, hasil pertandingan harus ditutup dengan skor 1-1.
Hasil ini, meski bukan kemenangan, memberikan harapan dan pelajaran berharga bagi Persebaya Surabaya. Mereka dapat mengambil dari pengalaman ini untuk memperbaiki diri. Momen kebersamaan dalam pertandingan ini, dengan berbagai gejolak emosi, juga mengingatkan tim tentang pentingnya solidaritas dan kebersamaan. Sore itu, meskipun mereka tidak keluar sebagai pemenang, avid supporters mereka pulang dengan rasa bangga dan optimisme untuk pertandingan mendatang.Rute Perjalanan Kembali ke SurabayaSetelah pertandingan yang berlangsung di Bandar Lampung, rombongan Persebaya Surabaya memulai perjalanan kembali ke Surabaya dengan sebuah rute yang terencana. Perjalanan ini melibatkan beberapa moda transportasi, termasuk bus, kapal ferry, dan kereta.
Pertama, rombongan berkumpul di titik meeting yang telah disepakati di Bandar Lampung. Dari sana, mereka menaiki bus yang mengantarkan mereka menuju Pelabuhan Bakauheni. Selama perjalanan, para pemain dan ofisial memanfaatkan waktu untuk beristirahat sekaligus mempersiapkan diri untuk tahap perjalanan selanjutnya.
Setibanya di Pelabuhan Bakauheni, mereka melakukan proses boarding dengan efisien. Kapal ferry yang mereka naiki memuat pengalaman penting dalam perjalanan ini, menghubungkan Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa. Selama perjalanan melintasi Selat Sunda, rombongan menyaksikan panorama yang indah sambil beristirahat dan menikmati suasana di dek kapal.
Setelah tiba di Pelabuhan Merak, rombongan Persebaya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus lagi menuju stasiun kereta yang terdekat. Perjalanan dari Merak menuju stasiun memberikan mereka kesempatan untuk berinteraksi dan merefleksikan pertandingan yang baru saja dilalui.
Kemudian, setelah tiba di stasiun, mereka menunggu kereta yang akan membawa mereka ke Surabaya. Kereta yang dipilih adalah kereta ekonomi yang nyaman, menyediakan fasilitas yang memadai bagi seluruh rombongan. Selama perjalanan dengan kereta yang memakan waktu cukup lama ini, para pemain bisa beristirahat atau bahkan membahas strategi untuk pertandingan mendatang.
Akhirnya, rombongan tiba di stasiun Surabaya dengan selamat, disambut dengan antusias oleh para pendukung. Perjalanan panjang mereka yang melewati berbagai moda transportasi ini tidak hanya menandai kembalinya mereka ke kota asal, tetapi juga menjadi pengalaman berharga yang akan dikenang dalam perjalanan tim Persebaya Surabaya.
Manajer Persebaya Surabaya, Sidiq Maulana Tualeka, baru-baru ini memberikan pernyataan terkait perjalanan panjang yang harus dilalui oleh tim usai erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam penjelasannya, Sidiq menyoroti tantangan yang dihadapi oleh tim, yang tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik tetapi juga psikologis para pemain. "Ini adalah perjalanan yang sangat berat bagi kami, dan tentunya kami merasa kecewa karena harus menghadapi berbagai kesulitan," ujarnya.
Sidiq menjelaskan bahwa rute yang akan dilalui mencakup beberapa daerah yang terdampak secara langsung oleh bencana alam tersebut. Hal ini membuat akses menuju lokasi pertandingan menjadi tidak mudah. "Kami harus mempersiapkan diri dengan baik, baik dari segi logistik maupun kesiapan mental pemain. Saat ini, kami juga harus tetap fokus pada pertandingan yang akan datang, meskipun rintangan yang ada sangat signifikan," tambahnya.
Lebih lanjut, Sidiq menekankan pentingnya dukungan dari seluruh pihak, termasuk suporter dan manajemen, dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Ia berharap dukungan tersebut dapat memberikan motivasi tambahan bagi para pemain untuk terus berjuang dan tidak menyerah. "Meskipun perjalanan ini memakan waktu dan melelahkan, kami percaya bahwa setiap langkah yang kami ambil akan membawa kami lebih dekat ke tujuan akhir kami, yaitu keberhasilan di lapangan," jelasnya.
Pernyataan Sidiq Maulana Tualeka ini mencerminkan keseriusan tim Persebaya Surabaya dalam menghadapi berbagai rintangan yang muncul akibat bencana alam. Ini adalah momentum untuk kebangkitan dan peneguhan semangat tim dalam perjalanan panjang mereka.













