JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 22 September 2026, Pada sebuah acara yang dihadiri oleh berbagai kalangan pemangku kepentingan, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya terkait fenomena kemunculan sejumlah individu yang seringkali disebut sebagai ‘pakar’. Pernyataan ini mengundang berbagai reaksi di masyarakat, terutama saat Prabowo menggarisbawahi bahwa tidak semua yang mengenakan label ‘pakar’ sesungguhnya memenuhi kriteria sebagai ilmuwan yang kredibel. Menurutnya, banyak yang mempertanyakan integritas intelektual sebagian orang yang berusaha mempengaruhi opini publik tanpa didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Prabowo menunjukkan kekhawatirannya atas penyebaran informasi yang mungkin menyesatkan dari pihak-pihak yang mengambil peran sebagai ahli, tetapi tidak memiliki dokumentasi atau penelitian yang mendukung klaim mereka. Melalui klarifikasinya, ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menanggapi informasi yang disampaikan oleh individu-individu tersebut. Kritik yang dilontarkan bukan ditujukan untuk menyingkirkan semua ilmuwan atau akademisi, melainkan lebih pada penegasan bahwa ada kelompok tertentu yang mungkin memiliki konflik kepentingan dalam menyampaikan pandangan mereka.
Dalam pandangannya, penting bagi masyarakat untuk membedakan pakar yang memiliki reputasi dan pengalaman yang baik di bidangnya dengan mereka yang sekadar memanfaatkan status tersebut untuk kepentingan pribadi atau politik. Tanpa adanya landasan yang kuat, apapun yang disampaikan oleh individu-individu tersebut berisiko untuk merusak pemahaman publik mengenai isu-isu yang krusial. Oleh karena itu, Prabowo menekankan perlunya transparansi dalam setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh mereka yang mengklaim sebagai ahli.
Melalui pernyataan itu, Prabowo berharap agar masyarakat bisa lebih bijak dalam mencari dan menilai informasi, serta mempertimbangkan kredibilitas dari sumber yang mereka akui sebagai pakar. Dengan langkah tersebut, diharapkan pemahaman publik terhadap berbagai isu dapat meningkat dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak jelas asal-usulnya.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Natalius Pigai memberikan penjelasan mengenai kelompok yang menjadi sorotan kritik Prabowo Subianto. Pigai menyatakan bahwa individu-individu yang dimaksud bukan hanya sekedar profesional di bidangnya, tetapi juga seringkali memiliki peran ganda sebagai aktivis, buzzer, dan influencer. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai integritas dan objektivitas mereka dalam menyampaikan pendapat publik.
Sebagian dari kelompok ini, menurut Pigai, tidak hanya aktif dalam dunia akademis atau sosial, tetapi juga terlibat dalam berbagai agenda politik yang dapat mempengaruhi pandangan masyarakat. Keterlibatan ini, di satu sisi, bisa dianggap sebagai upaya untuk mempengaruhi kebijakan publik, namun di sisi lain, menimbulkan keraguan akan agenda di balik aktivitas mereka. Pigai menegaskan bahwa fenomena ini memperlihatkan adanya saling silang posisi profesional seorang pengamat dengan kepentingan politik yang mungkin mereka pegang.
Dengan kata lain, individu yang mengidentifikasi diri sebagai pakar sering kali menduduki posisi yang sangat menonjol di media sosial dan platform digital lainnya, sehingga memengaruhi pendapat publik secara signifikan. Pengaruh ini bisa sangat besar, terutama di kalangan masyarakat yang mungkin tidak memilki kapasitas untuk mengevaluasi kebenaran informasi yang disampaikan. Pigai mengingatkan pentingnya pemisahan keahlian dan kepentingan politik agar masyarakat dapat menerima informasi yang objektif dan berdasar pada fakta.
Oleh karena itu, Pigai menyerukan agar publik lebih kritis dalam menyerap informasi dari mereka yang mengklaim sebagai pakar. Poin-poin yang pengamat sampaikan harus dilihat dengan skeptis, terutama jika ada indikasi kuat bahwa ada kepentingan politik tertentu di belakang pernyataan-pernyataan tersebut. Dengan cara ini, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pelaku aktif dalam penilaian informasi yang mereka terima.
Di era digital saat ini, fenomena ketidakjelasan mengenai siapa yang dapat dianggap sebagai "pakar" semakin berkembang, terutama melalui media sosial. Platform-platform ini memungkinkan individu dengan berbagai latar belakang akademis untuk berbagi pandangan dan analisis mereka, seringkali tanpa melalui proses penyaringan yang ketat. Hal ini berakibat pada munculnya banyak orang yang mengklaim diri mereka sebagai pakar dalam bidang tertentu, meskipun belum tentu memiliki kredibilitas yang memadai.
Natalius Pigai mengidentifikasi bahwa transformasi ini sangat terkait dengan penggunaan media sosial. Media ini memberikan panggung bagi siapa saja untuk menyuarakan pendapat dan mengklaim keahlian, seringkali tanpa adanya bukti atau fakta yang kuat. Akibatnya, terjadi kerancuan yang cukup besar di masyarakat terkait pembedaan pendapat subjektif dan pengetahuan yang berbasis ilmiah. Individu yang memiliki gelar akademis sekalipun dapat terjebak dalam jebakan opini politik yang identik dengan kelompok tertentu, yang dapat menciptakan bias dalam penyampaian informasi.
Pentingnya kejelasan dalam peran dan identitas seorang pakar menjadi krusial ketika masyarakat kilau akan informasi yang diproduksi di dunia maya. Pigai menekankan bahwa hal ini menyebabkan masyarakat semakin kesulitan dalam memisahkan fakta dari opini. Untuk mengatasi fenomena ini, diperlukan kesadaran lebih dari masyarakat dalam memahami literasi media, serta pendekatan kritis saat menerima informasi. Dengan mengenali latar belakang dan motivasi dari setiap "pakar", masyarakat dapat lebih mudah menentukan mana opini yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan mana yang sekadar pandangan belaka.
Fenomena tersebut menegaskan pentingnya penggunaan sumber yang kredibel dan evaluasi kritis dari informasi yang beredar di platform online. Masyarakat harus dilatih untuk mengenali tanda-tanda bias dan memeriksa sumber secara menyeluruh agar dapat mengurangi ketidakpastian yang ditimbulkan oleh klaim-klaim yang tidak berdasar.
Dalam diskursus mengenai pengetahuan dan keahlian, penting untuk membedakan ilmuwan dan pakar. Natalius Pigai, dalam klarifikasinya terhadap kritik Prabowo, menggarisbawahi bahwa ilmuwan adalah individu yang mengandalkan metodologi ilmiah untuk menghasilkan pengetahuan dan pandangan yang didasarkan pada bukti. Ilmuwan sering kali terlibat dalam penelitian yang ketat dan proses evaluasi sejawat, yang memastikan bahwa pandangan mereka diakui dan dihormati dalam komunitas akademis dan profesional.
Di sisi lain, istilah 'pakar' sering kali digunakan untuk merujuk kepada individu yang memiliki pengaruh luas di ruang publik, namun tidak selalu berdasarkan pada kualifikasi ilmiah atau metodologi yang ketat. Pakar ini mungkin terdiri dari berbagai kalangan, termasuk jurnalis, pengamat, dan analis yang memiliki pengetahuan dalam bidang tertentu tetapi tidak selalu memiliki latar belakang akademis yang kuat. Dalam hal ini, pandangan mereka dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti opini publik, pengalaman pribadi, atau bahkan kepentingan politik.
Pigai menekankan bahwa tidak semua pakar dapat dianggap setara, terutama dalam konteks informasi yang bersifat 'post-truth'. Terdapat risiko bahwa beberapa pakar mungkin menyajikan informasi yang menyesatkan atau tidak akurat, yang dapat mempengaruhi cara pandang masyarakat. Sebagai comparator, ilmuwan biasanya lebih dihargai karena pendekatan mereka yang berbasis data dan bukti. Ini merupakan kontribusi positif bagi pencarian kebenaran dan pemahaman yang lebih baik mengenai isu-isu kompleks. Dengan perbedaan ini, jelaslah bahwa ketika Prabowo mengkritik fenomena pakar, ia berusaha untuk menekankan pentingnya membedakan sumbangsih ilmiah yang valid dan opini yang berpotensi menyesatkan yang kadang-kadang disampaikan oleh pakar di bidang tertentu.







