JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 18 September 2026, Musik kolintang, yang merupakan warisan budaya dari Indonesia, khususnya daerah Minahasa, dipersiapkan untuk tampil di Paris dalam sebuah acara yang dijadwalkan berlangsung dari 27 September hingga 2 Oktober 2026. Penampilan ini merupakan hasil undangan dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Paris dan UNESCO, dengan tujuan untuk mengenalkan keindahan dan kekayaan musik tradisional Indonesia kepada publik internasional.
Untuk mempersiapkan pertunjukan ini, berbagai langkah telah diambil oleh tim pengelola. Salah satu aspek utama dari persiapan adalah pemilihan repertoar. Tim resital kolintang telah melakukan telaah menyeluruh terhadap komposisi yang akan ditampilkan, memilih karya-karya ikonik yang mampu mewakili sejarah dan keunikan musik kolintang. Karya-karya tersebut akan dipentaskan untuk menunjukkan teknik dan keunggulan alat musik tradisional ini.
Pelatihan intensif bagi para pemusik juga menjadi perhatian utama dalam proses persiapan. Para pemain kolintang, yang terdiri dari musisi berpengalaman dan juga pemain muda, diharuskan untuk menjalani sesi latihan rutin. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya menguasai teknik permainan yang baik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan aransemen baru yang dirancang untuk pertunjukan di Paris. Keberhasilan penampilan nanti sangat bergantung pada kemampuan para pemusik untuk berkolaborasi dan menampilkan satu kesatuan yang harmonis di atas panggung.
Selain itu, aspek promosi juga dipersiapkan dengan cermat. Informasi tentang pertunjukan akan disebarluaskan melalui berbagai saluran media, termasuk media sosial, site berita, dan kolaborasi dengan influencer lokal di Paris. Diharapkan, langkah-langkah ini dapat menarik perhatian masyarakat Prancis dan pengunjung internasional lainnya, sekaligus memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kekayaan seni musik Indonesia.
Kolintang, sebagai salah satu bentuk musik tradisional Indonesia, menyimpan makna yang sangat dalam dan beragam. Setelah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, kolintang mendapatkan momentum yang sangat berarti untuk menampilkan kekayaan musik dan budaya yang dimilikinya. Penampilan kolintang tidak hanya sekadar hiburan, melainkan juga merupakan wadah untuk mengkomunikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ketukan.
Ketua Umum Persatuan Insan Kolintang Nasional (Pinkan), menggambarkan pentingnya ajang ini sebagai platform yang strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Minahasa kepada masyarakat global. Dalam setiap pertunjukan, kolintang menampilkan harmoni alat musik yang terdiri dari gong, gendang, dan alat pukul lainnya, yang berkolaborasi menciptakan melodi yang enak didengar. Melodi ini sering kali mencerminkan kehidupan sehari-hari, alam, serta filosofi masyarakat Minahasa.
Selain itu, pertunjukan kolintang juga berfungsi sebagai sarana pendidikan untuk generasi muda. Melalui pengenalan terhadap kolintang, para penikmat dapat memahami lebih jauh mengenai budaya dan tradisi yang telah diwariskan selama berabad-abad. Dengan pertunjukan ini, harapannya adalah generasi mendatang dapat merasakan dan menghargai warisan budaya dengan lebih baik. Penampilan kolintang, dengan segala keindahan dan kedalaman maknanya, diharapkan dapat terus menggugah minat serta rasa cinta terhadap budaya lokal.
Grup Rhythm of Minahasa (ROM) telah menyusun sebuah daftar repertoar yang mencakup berbagai genre musik, yang dirancang untuk menyuguhkan pengalaman mendengarkan yang beragam bagi penonton. Repertoar ini tidak hanya menampilkan keindahan kolintang, alat musik tradisional Indonesia, tetapi juga menunjukkan kemampuannya dalam mengadaptasi dan menginterpretasikan lagu-lagu dari berbagai budaya dan latar belakang.
Salah satu lagu ikonik yang akan dihadirkan adalah "La Vie en Rose," sebuah lagu Prancis yang terkenal di seluruh dunia. Melalui lagu ini, ROM berusaha untuk menampilkan keindahan melodi dan nuansa yang dihasilkan dari permainan kolintang, menjadikannya sebagai medium penyampaian perasaan yang mendalam. Interpretasi lagu ini tidak hanya akan mengenalkan penonton pada musik tradisional Indonesia, tetapi juga menciptakan jembatan budaya Prancis dan Indonesia.
Tidak kalah menarik, sepenggal lagu daerah yang sangat populer di Indonesia, "Si Patokaan," juga akan dibawakan dalam repertoar. Lagu ini berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, dan menjadi salah satu lagu unggulan yang sangat dikenal di kalangan masyarakat. Dalam penampilannya, ROM berkolaborasi dengan ritme dan melodi yang harmonis, menunjukkan kemampuan kolintang untuk menyatu dengan berbagai aransemen musik. Kehadiran lagu-lagu ini di acara tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif baru tentang fleksibilitas kolintang dalam memainkan berbagai genre, dari musik nasional hingga jaz, serta lagu-lagu populer asing.
Pemilihan lagu-lagu beragam ini merupakan upaya ROM untuk membuktikan bahwa kolintang tidak hanya cocok untuk musik tradisional, tetapi juga dapat beradaptasi serta berkembang di tengah dinamika musik modern. Dengan kombinasi tersebut, penonton di Paris diharapkan dapat menikmati sebuah pertunjukan yang tidak hanya menghibur tetapi juga sarat makna, menciptakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan.
Pertunjukan Kolintang Indonesia di Paris bukan semata-mata sebuah acara seni, melainkan sebuah langkah strategis dalam upaya diplomasi budaya. Dengan seniman-seniman terbaik yang mewakili Indonesia, acara ini menjadi sarana bagi negara untuk memperkenalkan dan menonjolkan warisan budaya yang kaya serta beragam. Diplomasi budaya yang dilakukan melalui musik memberikan jalan bagi pertukaran budaya yang bermanfaat bagi kedua belah pihak, baik bagi Indonesia maupun Prancis.
Dalam konteks ini, pemimpin ROM (Reorchestrating Old Music) menegaskan bahwa penampilan grup ini di Paris tidak hanya untuk hiburan. Melainkan juga sebuah misi untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Prancis. Musik Kolintang, dengan instrumen unik dan nada yang harmonis, mampu menciptakan jembatan komunikasi yang mendalam. Karya-karya yang akan dipersembahkan menghidupkan semangat persahabatan dan kolaborasi diantara musisi dari berbagai latar belakang.
Lebih dari sekedar pertunjukan, keberangkatan ini membuka peluang baru untuk berkolaborasi dengan musisi lokal di Paris, memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan teknik dua budaya musik yang berbeda. Inisiatif ini tidak hanya berpotensi memperkaya pengalaman musisi kedua negara, tetapi juga dapat memperkenalkan banyak aspek keindahan dan nilai-nilai budaya Indonesia kepada masyarakat Prancis. Dengan demikian, melalui musik, Kolintang Indonesia berkontribusi dalam memperkuat posisi diplomasi budaya di pentas dunia, menunjukkan bahwa seni tidak mengenal batasan, dan dapat menyatukan berbagai bangsa dalam keindahan yang universal.
