KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut sebanyak 25 daerah telah mengajukan bantuan air bersih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Permintaan tersebut disampaikan untuk menangani dampak kekeringan yang meluas selama musim kemarau, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air bagi kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Jumlah daerah yang mengajukan bantuan itu bertambah dibandingkan catatan sebelumnya. Sebelumnya, terdapat 24 daerah di Jawa Timur yang telah mengeluarkan surat darurat terkait kekeringan dan membutuhkan dukungan pasokan air bersih. Dalam beberapa hari terakhir, satu daerah kembali menyampaikan pengajuan sehingga totalnya menjadi 25 daerah.
Informasi tersebut disampaikan Khofifah setelah meninjau pendistribusian bantuan air bersih di Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (3/10). Peninjauan itu dilakukan untuk melihat secara langsung penyaluran bantuan kepada warga yang terdampak kekeringan sekaligus memastikan kebutuhan air bersih di daerah terdampak dapat ditangani.
Meluasnya pengajuan bantuan menunjukkan bahwa musim kemarau memberikan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah Jawa Timur. Daerah-daerah yang mengirimkan surat darurat memerlukan pasokan tambahan agar masyarakat tetap memperoleh air untuk kebutuhan dasar, khususnya ketika sumber air setempat mengalami penurunan debit atau mengering.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur kemudian menjadi salah satu pihak yang berperan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut melalui pendistribusian air bersih. Bantuan itu diharapkan dapat membantu warga selama kondisi kekeringan masih berlangsung. Penambahan jumlah daerah pengaju juga menjadi gambaran bahwa penanganan dampak kemarau perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan bahwa kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah tidak terlepas dari fenomena El Nino. Fenomena tersebut membuat musim kemarau berlangsung lebih kering dan cukup panjang dibandingkan kondisi kemarau pada umumnya. Keadaan itu menjadi salah satu alasan meningkatnya kebutuhan bantuan air bersih di berbagai daerah.
Menurut Khofifah, pengajuan bantuan dilakukan oleh daerah yang mulai menghadapi kebutuhan air bersih selama periode kemarau. Pemerintah daerah menyampaikan kondisi tersebut melalui surat darurat sebagai dasar untuk meminta dukungan, termasuk penyaluran atau dropping air ke wilayah yang memerlukan.
Penjelasan mengenai El Nino disampaikan untuk menerangkan latar belakang kemarau yang lebih kering dan cukup panjang pada periode tersebut. Dengan kondisi itu, kebutuhan dropping air bersih diajukan secara resmi oleh daerah melalui surat darurat. Data pengajuan tersebut menjadi dasar dalam mencatat wilayah yang membutuhkan bantuan air bersih selama kemarau.
Khofifah juga menegaskan bahwa jumlah daerah yang mengajukan bantuan dapat berubah mengikuti perkembangan situasi di lapangan. Dalam keterangan awal, tercatat 24 daerah membutuhkan bantuan, lalu jumlahnya bertambah menjadi 25 daerah. Setiap pengajuan disampaikan oleh pemerintah daerah yang telah menerbitkan surat darurat terkait kebutuhan air bersih.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi ancaman bencana kekeringan yang muncul selama musim kemarau. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui distribusi air bersih kepada daerah terdampak, tetapi juga mencakup strategi antisipasi agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait memantau perkembangan kondisi cuaca, ketersediaan sumber air, serta wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan pasokan.
Salah satu langkah yang dipertimbangkan ialah operasi modifikasi cuaca. Strategi ini dilakukan dengan memanfaatkan informasi mengenai perkiraan pertumbuhan awan di wilayah tertentu. Ketika terdapat potensi awan yang cukup, proses modifikasi dapat diarahkan untuk memicu turunnya hujan sehingga membantu menambah cadangan air dan mengurangi dampak kekeringan. Pelaksanaan operasi tersebut membutuhkan perencanaan yang cermat karena keberhasilannya sangat bergantung pada dinamika atmosfer dan kondisi awan.
Koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tetap menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. BMKG menyediakan analisis dan informasi meteorologis sebagai dasar untuk menentukan waktu, lokasi, serta kelayakan operasi. Dengan dukungan data tersebut, pemerintah dapat mengarahkan intervensi secara lebih tepat dan menyesuaikannya dengan perubahan kondisi di lapangan. Langkah ini juga melengkapi pengiriman air bersih yang terus dilakukan ke wilayah yang telah mengajukan bantuan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa hujan ringan hingga sedang masih turun di beberapa tempat. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk menjaga ketersediaan air, meskipun belum merata dan belum sepenuhnya mengatasi kebutuhan wilayah yang mengalami kekeringan. Karena itu, pemantauan cuaca, distribusi bantuan, serta koordinasi lintas lembaga tetap diperlukan agar penanganan dapat berlangsung cepat dan sesuai dengan tingkat kebutuhan setiap daerah.
Upaya memenuhi kebutuhan air bersih selama kemarau juga dilakukan melalui pipanisasi di beberapa titik. Langkah ini ditujukan untuk mengalirkan air dari sumber menuju kawasan permukiman penduduk, sehingga masyarakat dapat memperoleh akses air secara lebih dekat dan teratur. Pipanisasi menjadi bagian dari penanganan di lapangan, terutama ketika sumber air berada cukup jauh dari wilayah tempat tinggal warga.
Selain pembangunan atau pemasangan jaringan pipa, bantuan air bersih tetap disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Penyaluran tersebut menjadi bentuk respons pemerintah terhadap kondisi kemarau yang berdampak pada ketersediaan air di sejumlah daerah. Pelaksanaannya melibatkan koordinasi pemerintah daerah dan unsur terkait agar bantuan dapat diterima oleh warga di wilayah terdampak.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau pendistribusian bantuan air bersih di Desa Pagak, Kabupaten Malang. Peninjauan itu dilakukan untuk melihat secara langsung proses penyaluran bantuan kepada masyarakat sekaligus memastikan kegiatan berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
Dalam kegiatan tersebut, Khofifah didampingi Bupati Malang M Sanusi. Keduanya turut terlibat dalam proses pengisian jeriken milik warga. Keterlibatan ini memperlihatkan perhatian pemerintah terhadap pelaksanaan distribusi, bukan hanya pada penyediaan bantuan, tetapi juga pada proses penyalurannya kepada masyarakat.
Pipanisasi di sejumlah titik dan distribusi air bersih menjadi dua langkah yang berjalan beriringan dalam menghadapi dampak kemarau. Jaringan pipa membantu menghubungkan sumber air dengan permukiman, sedangkan penyaluran secara langsung memberikan dukungan kepada warga selama kebutuhan air bersih masih harus dipenuhi melalui bantuan. Peninjauan di Desa Pagak memperkuat koordinasi pemerintah dalam memastikan penanganan tersebut berlangsung di tengah masyarakat.

