Demo Singkat IMATARA di Jakarta: Tuntutan PETI hingga Evaluasi ESDM Menguat

Demo Singkat IMATARA di Jakarta: Tuntutan PETI hingga Evaluasi ESDM Menguat

Jakarta | Sekelompok massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Musi Rawas Utara (IMATARA) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan seberang Gedung Menara Danareksa, Jalan Silang Selatan Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat, pada Kamis (2/7/2026) siang. Aksi yang melibatkan sekitar 20 orang peserta itu sempat menjadi perhatian pengguna jalan dan aparat keamanan yang berjaga di sekitar lokasi.

Sejak pukul 11.30 WIB, area sekitar lokasi aksi mulai dipadati oleh kelompok mahasiswa yang membawa sejumlah atribut dan perlengkapan demonstrasi. Massa diketahui dipimpin oleh M. Abdullah Fahsyah, yang bertindak sebagai koordinator lapangan dalam aksi tersebut. Kehadiran mereka membawa satu agenda utama yang berkaitan dengan isu pertambangan di daerah asal mereka, yakni Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan.

Aksi ini awalnya direncanakan sebagai penyampaian aspirasi secara terbuka di sekitar kawasan pusat pemerintahan. Namun dalam perjalanannya, massa yang berupaya melakukan longmarch menuju Istana Negara sempat terhenti setelah aparat keamanan melakukan pengamanan di titik awal aksi. Kondisi ini membuat pergerakan peserta aksi tertahan dan tidak dapat melanjutkan rute yang direncanakan.

Di lokasi, sejumlah atribut terlihat dibentangkan oleh peserta aksi. Bendera Merah Putih turut dikibarkan bersama spanduk dan banner bertuliskan berbagai tuntutan yang mereka suarakan. Selain itu, satu unit pengeras suara digunakan untuk menyampaikan orasi secara bergantian kepada peserta aksi maupun masyarakat yang melintas di sekitar lokasi.

Selain perlengkapan tersebut, dua kendaraan pribadi juga tercatat berada di sekitar titik aksi dengan nomor polisi T 1622 EH dan F 1753 JZ. Kendaraan itu digunakan sebagai sarana mobilisasi peserta sebelum dan sesudah aksi berlangsung di kawasan tersebut.

Dalam pernyataan yang tertulis pada spanduk, massa IMATARA mengusung sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan dugaan aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Musi Rawas Utara. Mereka menyoroti perlunya langkah tegas pemerintah pusat dalam menangani persoalan tersebut, termasuk evaluasi terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Beberapa poin tuntutan yang disampaikan antara lain desakan agar dilakukan pengusutan tuntas terhadap dugaan PETI di wilayah tersebut, penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Musi Rawas Utara, serta tindak lanjut terhadap seluruh laporan masyarakat yang berkaitan dengan aktivitas tambang ilegal. Massa juga menuntut adanya tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga menjadi pemodal maupun aktor intelektual di balik kegiatan tersebut.

Selain itu, dalam tuntutannya mereka juga meminta pembentukan tim investigasi independen untuk menangani persoalan PETI, serta transparansi pemerintah dalam menyampaikan perkembangan penanganan kasus kepada publik. Evaluasi terhadap tata kelola distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Musi Rawas Utara juga turut masuk dalam daftar aspirasi yang mereka bawa.

Tidak hanya itu, dalam salah satu poin yang disuarakan, massa bahkan mendesak adanya evaluasi terhadap Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), termasuk wacana pencopotan menteri apabila dinilai gagal dalam menangani persoalan PETI yang mereka soroti.

Sekitar pukul 11.32 WIB, situasi di lokasi masih dalam kondisi terkendali. Aparat keamanan tampak berjaga untuk mengatur arus lalu lintas dan memastikan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan tetap berjalan normal. Pada saat yang sama, massa aksi masih berada di titik kumpul dan belum bergerak menuju Istana Negara sebagaimana rencana awal mereka.

Namun, upaya untuk melakukan longmarch tersebut tidak dapat dilanjutkan. Aparat yang berada di lokasi melakukan pembatasan pergerakan massa sehingga kelompok mahasiswa tersebut tertahan di seberang Gedung Menara Danareksa. Meski demikian, aksi tetap berlanjut dalam bentuk orasi-orasi terbuka yang disampaikan secara bergantian.

Memasuki pukul 11.38 WIB, massa mulai meningkatkan intensitas penyampaian aspirasi mereka melalui pengeras suara. Beberapa orator secara bergantian menyampaikan kekecewaan terhadap tindakan aparat yang menurut mereka menghambat penyampaian pendapat di muka umum. Dalam orasinya, mereka menegaskan bahwa aksi ini dilakukan secara damai untuk menyuarakan persoalan lingkungan dan tata kelola pertambangan di daerah asal mereka.

Salah satu orasi yang disampaikan menyoroti dugaan tindakan represif aparat keamanan. Massa mengaku tidak menerima adanya perlakuan yang mereka anggap sebagai bentuk kekerasan saat hendak melanjutkan perjalanan menuju Istana Negara. Mereka menilai bahwa ruang demokrasi seharusnya memberikan kesempatan yang aman bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi tanpa tekanan.

Dalam orasi lainnya, peserta aksi juga menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah menyampaikan persoalan yang terjadi di sektor energi dan pertambangan kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian ESDM. Mereka meminta agar pemerintah tidak menutup mata terhadap dugaan praktik pertambangan ilegal yang dinilai merugikan masyarakat di daerah.

Selain itu, suara-suara mahasiswa juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap hak kebebasan berpendapat. Mereka menyebut bahwa tindakan pembatasan terhadap aksi yang mereka lakukan justru menimbulkan rasa ketidakadilan dan memperkuat dorongan untuk terus menyuarakan tuntutan.

Situasi di lokasi aksi terus dipantau oleh aparat keamanan hingga menjelang akhir kegiatan. Arus lalu lintas di sekitar Jalan Silang Selatan Monas sempat mengalami perlambatan akibat konsentrasi massa di satu titik, namun masih dapat dikendalikan tanpa penutupan total jalan.

Seiring berjalannya waktu, massa akhirnya memutuskan untuk mengakhiri aksi mereka di lokasi tersebut. Pada pukul 11.48 WIB, kegiatan unjuk rasa dinyatakan selesai. Peserta aksi kemudian mulai membubarkan diri secara tertib dan kembali menuju kendaraan masing-masing yang telah diparkir di sekitar lokasi.

Setelah aksi dinyatakan selesai, rombongan mahasiswa tersebut dilaporkan melanjutkan perjalanan menuju Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dengan menggunakan kendaraan pribadi yang telah disiapkan sebelumnya.

Aparat keamanan yang sejak awal melakukan pengamanan tetap melakukan pemantauan hingga situasi benar-benar kondusif dan area sekitar kembali normal seperti semula. Tidak lama setelah massa meninggalkan lokasi, aktivitas lalu lintas di sekitar kawasan Menara Danareksa berangsur kembali lancar.

Secara umum, aksi unjuk rasa yang dilakukan IMATARA berlangsung dalam durasi singkat dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan. Meski sempat terjadi ketegangan akibat pembatasan pergerakan massa, kegiatan tersebut akhirnya dapat diselesaikan tanpa eskalasi lebih lanjut dan tetap dalam kondisi relatif terkendali di pusat ibu kota.

Pewarta: Abdul Latif