JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mendapat tugas dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk mencari jalan keluar atas kebutuhan air dalam pengembangan pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia. Penugasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak hanya berkaitan dengan teknologi, investasi, dan konektivitas, tetapi juga membutuhkan dukungan sumber daya dasar, termasuk air.
Air menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan teknologi AI karena pusat data memerlukan sistem pendinginan untuk menjaga kinerja dan keamanan perangkat komputasi. Seiring meningkatnya kapasitas pemrosesan serta kebutuhan penyimpanan data, konsumsi sumber daya di fasilitas tersebut berpotensi ikut bertambah. Karena itu, ketersediaan air yang memadai dan pengelolaannya secara berkelanjutan perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan. Persoalan ini menjadi semakin penting ketika pembangunan pusat data berlangsung di wilayah yang juga menghadapi kebutuhan air untuk rumah tangga, industri, pertanian, dan kegiatan ekonomi lainnya.
Dradjad menyampaikan bahwa dirinya membantu Airlangga mencari solusi, terutama untuk tiga aspek, yakni air, energi, dan kesiapan masyarakat. Ketiganya dipandang saling berkaitan dalam memastikan pengembangan AI dapat berjalan tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan maupun kehidupan masyarakat di sekitar lokasi pusat data. Ketersediaan energi yang andal diperlukan untuk mengoperasikan fasilitas, sedangkan kesiapan masyarakat mencakup pemahaman, keterampilan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang ditimbulkan oleh teknologi tersebut.
Hingga kini, belum ada rincian mengenai bentuk solusi yang sedang disiapkan untuk menjawab kebutuhan air bagi pusat data AI. Pemerintah juga belum menjelaskan apakah pendekatan yang akan dikaji mencakup teknologi pendinginan tertentu, pemanfaatan sumber air alternatif, pengaturan lokasi, atau kebijakan khusus. Pembahasan lebih lanjut baru akan disampaikan setelah Dradjad mulai menjalankan tugas tersebut dan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan serta pilihan penanganannya.
Perkembangan kecerdasan buatan yang berlangsung pesat perlu diikuti perhatian serius terhadap kebutuhan infrastruktur pendukungnya. Dradjad menilai pemerintah tidak hanya perlu melihat AI dari sisi kemampuan teknologi dan manfaatnya, tetapi juga memperhitungkan kebutuhan air serta energi yang menyertai pengembangannya. Perhatian tersebut menjadi penting karena pembangunan dan pengoperasian pusat data untuk AI memerlukan sumber daya dalam jumlah besar.
Data center AI membutuhkan energi yang besar untuk menjalankan komputasi, menyimpan data, dan mendukung berbagai proses yang berkaitan dengan pengembangan serta pemanfaatan teknologi tersebut. Pada saat yang sama, fasilitas ini juga membutuhkan air dalam jumlah besar. Kebutuhan air dan energi itu menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan AI, sehingga pemerintah perlu mencari jalan keluar agar pertumbuhan teknologi dapat berjalan dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya.
Menurut Dradjad, kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Tantangannya terletak pada kemampuan memenuhi kebutuhan air dan energi seiring dengan meningkatnya pengembangan AI. Namun, perkembangan tersebut juga membuka peluang karena AI berpotensi memberikan pengaruh besar terhadap arah kemajuan ekonomi dan teknologi. Oleh sebab itu, kebutuhan sumber daya untuk pusat data tidak semestinya membuat Indonesia mengabaikan perkembangan AI.
Dradjad menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat mengabaikan AI karena teknologi ini berpotensi menjadi salah satu penentu kekuatan ekonomi dan teknologi pada masa depan. Ia memperkirakan, dalam lima hingga 10 tahun mendatang, AI akan berkaitan erat dengan kekuatan ekonomi, teknologi, militer, dan geopolitik suatu negara. Pandangan itu menunjukkan bahwa pembahasan mengenai air dan energi perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap posisi AI dalam perkembangan negara, termasuk upaya menyiapkan kebutuhan yang diperlukan bagi pengembangannya.
Pemerintah menilai terdapat tiga syarat utama yang harus dipenuhi Indonesia apabila ingin menjadi basis atau markas industri data center, yaitu ketersediaan lahan, listrik, dan air. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal tersebut dalam keynote speech pada acara Big Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa, 6 Oktober. Ketiga unsur tersebut dipandang sebagai fondasi penting karena fasilitas data center membutuhkan ruang yang memadai, pasokan energi stabil, serta ketersediaan air untuk mendukung sistem pendinginan dan operasional sehari-hari.
Kebutuhan terhadap fasilitas pengolahan dan penyimpanan data terus meningkat seiring persaingan antarnegara dalam mengembangkan industri kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Pengembangan teknologi tersebut memerlukan kapasitas komputasi besar, sehingga pembangunan data center tidak dapat dilakukan hanya dengan menyediakan gedung dan perangkat digital. Pemerintah juga perlu memastikan dukungan infrastruktur berskala besar, termasuk jaringan listrik, akses transportasi, konektivitas telekomunikasi, serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Ketersediaan seluruh komponen itu akan menentukan daya tarik Indonesia bagi investasi teknologi dan industri berbasis data.
Dalam konteks penyediaan lahan, Airlangga menyebut Kawasan Ekonomi Khusus digital di Bintan, Kepulauan Riau, telah penuh atau sold out. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya minat terhadap kawasan yang dirancang untuk menampung kegiatan ekonomi digital, sekaligus mendorong pemerintah menyiapkan ekspansi. Selain Bintan, pemerintah merencanakan pengembangan kawasan data center di Karawang, Jawa Barat. Lokasi ini dinilai strategis karena berada dekat dengan pasar domestik, sehingga dapat mempermudah pelayanan bagi pengguna data dan perusahaan teknologi di Indonesia. Pengembangan di sejumlah wilayah diharapkan berjalan seiring dengan pencarian solusi atas kebutuhan air, listrik, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Selain membahas kebutuhan air untuk mendukung operasional pusat data berbasis kecerdasan buatan, Airlangga Hartarto menyampaikan pentingnya penguatan kapasitas listrik nasional. Ketersediaan energi menjadi salah satu prasyarat bagi pertumbuhan industri digital, termasuk pembangunan dan pengoperasian data center. Fasilitas tersebut membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan memadai karena menjalankan perangkat komputasi dalam jumlah besar secara terus-menerus.
Menurut Airlangga, kapasitas listrik nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan berpotensi memperoleh tambahan sekitar 500 megawatt. Tambahan kapasitas ini disebut sebagai bagian dari langkah pendukung untuk memenuhi kebutuhan industri digital dan pusat data yang terus berkembang. Pembahasan mengenai kapasitas listrik tersebut melengkapi perhatian terhadap kebutuhan sumber daya lain yang diperlukan agar ekosistem teknologi dapat beroperasi sesuai tuntutan industri.
Di samping infrastruktur fisik, pengembangan AI juga memerlukan dukungan data yang berkualitas dan kredibel. Data merupakan bahan utama bagi sistem kecerdasan buatan untuk mempelajari pola, menghasilkan analisis, serta menjalankan berbagai fungsi secara optimal. Karena itu, ketersediaan data tidak cukup hanya dilihat dari jumlahnya. Keandalan sumber, ketepatan informasi, konsistensi format, dan relevansinya dengan kebutuhan pemrosesan turut menentukan kualitas teknologi yang dikembangkan.
Airlangga juga menekankan bahwa kredibilitas data berhubungan langsung dengan kemampuan AI dalam menjalankan proses crawling data. Tanpa data yang kredibel, sistem AI tidak mampu melakukan crawling dengan baik. Kondisi tersebut dapat memengaruhi bahan yang dihimpun dan digunakan dalam proses pengolahan lebih lanjut. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas listrik dan penyediaan data yang terpercaya disebut sebagai agenda pendukung yang perlu diperhatikan bersamaan dalam pengembangan industri digital serta pusat data AI di Indonesia.






