Tangerang | Permohonan penangguhan penahanan Richard Lee dikabulkan majelis hakim. Dengan keputusan tersebut, ia dapat menjalani persidangan dari rumah selama proses hukum berlangsung. Kabar itu disampaikan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Tangerang pada Kamis (22/10/2026), yang mengagendakan keterangan saksi ahli bidang kesehatan. Kehadiran Richard dalam persidangan menjadi kesempatan baginya untuk menyampaikan kondisi dan perasaannya setelah kembali ke rumah.
Richard mengungkapkan rasa syukur atas penangguhan penahanan yang diberikan. Ia mengatakan kini dapat beristirahat di rumah, sesuatu yang menurutnya membuat hari-hari setelah keputusan tersebut terasa berbeda. Meski tetap harus mengikuti rangkaian persidangan, ia merasa memiliki kondisi yang lebih baik untuk menghadapi proses itu. Pernyataan tersebut ia sampaikan ketika hadir dalam sidang lanjutan, di tengah agenda pemeriksaan keterangan saksi ahli.
Menurut Richard, beristirahat di rumah membantunya merasa lebih siap menghadapi persidangan. Ia juga menyebut dirinya lebih percaya diri untuk mengikuti proses hukum selanjutnya. Perubahan suasana setelah dapat kembali ke rumah menjadi hal yang ia rasakan secara langsung, sembari tetap menjalani kewajiban hadir dalam persidangan sesuai agenda. Ia menyampaikan perasaan tersebut dengan rasa syukur, tanpa mengubah fokus sidang yang pada hari itu membahas keterangan ahli di bidang kesehatan.
Penangguhan penahanan itu memungkinkan Richard mengikuti persidangan dari rumah, tetapi agenda sidang tetap berjalan di Pengadilan Negeri Tangerang. Pada Kamis tersebut, persidangan berlanjut dengan mendengarkan keterangan saksi ahli bidang kesehatan. Richard menyatakan dirinya kini lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi sidang. Ia juga merasa dapat beristirahat dengan lebih baik di rumah. Kabar mengenai hari-hari pertamanya setelah penangguhan itu pun menyoroti rasa syukur Richard atas kesempatan menjalani persidangan dalam kondisi yang ia nilai lebih nyaman dan mendukung kesiapan dirinya.
Richard Lee tiba di kediamannya menjelang tengah malam setelah penangguhan penahanannya dikabulkan. Waktu yang sudah larut membuat suasana kepulangan berlangsung sederhana dan tenang. Setelah melewati hari-hari dengan keadaan yang berbeda dari biasanya, ia akhirnya dapat kembali berada di rumah bersama keluarga. Richard menceritakan bahwa hal pertama yang dilakukannya setibanya di sana adalah mandi dengan nyaman, sebelum kemudian tidur dan beristirahat.
Kesempatan untuk beristirahat menjadi bagian penting dari malam pertamanya di rumah. Richard tidak menguraikan kegiatan lain setelah tiba, selain mandi dan tidur. Ia memilih memulihkan tenaga setelah perjalanan dan rangkaian peristiwa yang dijalaninya. Pagi berikutnya, suasana rumah memberinya kesempatan untuk kembali menjalani rutinitas bersama anak-anak. Sarapan telah disiapkan oleh anaknya, sebuah perhatian keluarga yang membuat momen pagi itu terasa berarti baginya.
Setelah bangun, Richard menyapa anak-anaknya dengan pelukan. Ia lebih dahulu memeluk putra ketiganya, yang saat itu sudah bangun. Anak tersebut memiliki autisme dan memanggilnya dengan sebutan “daddy”. Richard mengaku bahagia karena putranya masih mengingat dirinya dan memanggilnya demikian. Bagi Richard, panggilan itu menjadi momen emosional yang menunjukkan kedekatan mereka tetap terasa, meski ia sempat tidak berada di rumah.
Usai memeluk putra ketiganya, Richard kemudian memeluk anak kedua dan anak pertamanya. Pertemuan kembali itu berlangsung melalui hal-hal sederhana: sarapan yang disiapkan anak, sapaan, dan pelukan. Ceritanya tentang pagi tersebut menyoroti arti kehadiran keluarga setelah masa yang penuh tekanan. Ia dapat kembali menyapa anak-anaknya secara langsung dan menikmati waktu bersama mereka di rumah. Bagi Richard, momen itu bukan sekadar rutinitas setelah bangun tidur, melainkan kesempatan untuk kembali dekat dengan anak-anaknya, mendengar panggilan yang dikenalnya, serta merasakan kehangatan keluarga setelah pulang menjelang tengah malam.
Richard Lee mengungkapkan bahwa kondisi kebugaran tubuhnya menurun drastis selama menjalani masa tahanan. Setelah kembali berada di rumah, ia mulai memperhatikan lagi keadaan fisiknya dan berupaya membangun kebiasaan sehat secara bertahap. Ia menyadari bahwa aktivitas fisik yang terbatas selama berada di tahanan berdampak pada stamina dan kebugaran. Karena itu, olahraga menjadi salah satu langkah awal yang ia coba untuk membantu tubuhnya kembali aktif. Richard tidak menggambarkan proses tersebut sebagai sesuatu yang langsung mudah, melainkan sebagai upaya menyesuaikan diri setelah melewati periode dengan rutinitas yang berbeda. Ia juga mulai mengenali kembali kemampuan fisiknya, sembari berhati-hati agar tidak memaksakan diri ketika beraktivitas.
Salah satu kegiatan yang mulai dicobanya adalah berolahraga di pusat kebugaran. Richard menyebut pengalaman tersebut sebagai kali pertama dirinya nge-gym. Pengalaman baru itu menandai perubahan dalam rutinitas hariannya, sekaligus menjadi kesempatan baginya untuk mulai melatih kebugaran kembali. Ia mencoba menjalani kegiatan olahraga dengan menyesuaikan kondisi tubuh setelah lama tidak terbiasa melakukan latihan semacam itu. Kegiatan di pusat kebugaran tersebut bukan sekadar aktivitas baru, tetapi juga bagian dari upayanya menjaga kesehatan selama berada di rumah. Richard menyampaikan bahwa kebugarannya memang terasa menurun, sehingga ia perlu kembali bergerak dan membiasakan tubuh dengan aktivitas fisik. Ia tidak menyebutkan jenis latihan tertentu maupun target olahraga yang ingin dicapai.
Selain mulai berolahraga, Richard menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh pada hari Senin di rumah sakit terdekat. Pemeriksaan itu mencakup pemeriksaan laboratorium, sebagai bagian dari pengecekan kondisi kesehatannya setelah keluar dari tahanan. Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan sebagai persiapan untuk kembali menjalani persidangan. Dengan memeriksakan diri lebih dahulu, ia berupaya mengetahui kondisi tubuh dan memastikan dirinya siap menghadapi tahapan hukum berikutnya. Informasi yang disampaikan tidak merinci hasil pemeriksaan ataupun diagnosis, sehingga belum dapat diketahui apa temuan dari pemeriksaan tersebut. Untuk saat ini, Richard hanya menyatakan bahwa pemeriksaan telah dijalani dan menjadi bagian dari persiapannya. Olahraga serta pemeriksaan kesehatan menjadi dua hal yang ia lakukan pada hari-hari awal di rumah.
Reni Effendi, istri Richard Lee, turut mendampinginya setelah penangguhan penahanan dikabulkan. Dalam momen tersebut, Reni menyampaikan harapan yang berkaitan dengan doa suaminya serta persoalan hukum yang sedang mereka hadapi. Ia mengatakan melihat Richard sedang berdoa, dan berharap doa yang dipanjatkan itu dapat terkabul. Pernyataan tersebut menggambarkan harapan Reni agar keinginan yang disampaikan melalui doa itu memperoleh jawaban.
Bagi Reni, doa Richard menjadi hal yang ia saksikan secara langsung. Ia tidak merinci isi doa tersebut, tetapi mengungkapkan harapan agar doa itu dikabulkan. Dengan demikian, harapan yang disampaikannya tetap berpusat pada apa yang ia lihat dan harapkan, tanpa menjelaskan lebih jauh mengenai hal-hal yang tidak disebutkan. Reni juga menyampaikan harapan agar persoalan hukum yang tengah mereka hadapi dapat segera selesai. Ia berharap proses yang sedang dijalani itu tidak berlangsung berlarut-larut dan dapat menemukan penyelesaian dalam waktu dekat.
Harapan tersebut disampaikan Reni sebagai istri yang mendampingi Richard. Selain berharap doa suaminya terkabul, ia menginginkan persoalan hukum yang mereka hadapi cepat berakhir. Reni juga berharap hal-hal yang mereka harapkan dapat tercapai. Ia tidak menyebutkan secara terperinci apa saja harapan tersebut, sehingga yang disampaikan adalah keinginannya agar harapan-harapan itu terwujud. Pernyataan Reni memuat dua hal yang ia nantikan: terkabulnya doa Richard dan selesainya persoalan hukum yang mereka hadapi. Ia berharap semua yang diharapkan dapat tercapai, seiring dengan harapan agar perkara tersebut segera selesai. Reni menyampaikan harapan itu saat mendampingi suaminya, dengan merujuk pada Richard yang sedang berdoa.






