Jakarta | Sebuah mobil listrik BYD terlibat kecelakaan beruntun di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/10) pukul 16.48 WIB. Insiden tersebut bermula ketika mobil yang dikemudikan pria berinisial S, berusia 46 tahun, menabrak Honda Brio bernomor polisi B-2967-NGY yang melaju searah di depannya. Benturan awal itu menjadi rangkaian pertama dari beberapa tabrakan yang kemudian melibatkan kendaraan lain di lokasi.
Menurut keterangan dalam bahan sumber, setelah menghantam Honda Brio, BYD oleng ke kiri. Mobil listrik itu lalu menabrak Honda Beat bernomor polisi A-3867-DD yang dikendarai seorang pengemudi ojek online. Pada rangkaian yang sama, BYD juga mengenai mobil Wuling bernomor polisi B-1835-ERZ. Pergerakan kendaraan yang tidak terkendali membuat insiden berlanjut dari badan jalan menuju area trotoar.
BYD tersebut kemudian naik ke trotoar dan menabrak dua mobil lain yang sedang terparkir. Dengan demikian, kecelakaan ini melibatkan sedikitnya lima kendaraan: Honda Brio, Honda Beat, Wuling, BYD, serta dua mobil yang berada dalam keadaan parkir. Dampak benturan terhadap pengemudi ojek online dilaporkan cukup serius, yakni mengalami patah kaki. Urutan kejadian yang disampaikan menunjukkan bahwa tabrakan dengan Honda Brio mendahului benturan terhadap sepeda motor dan kendaraan lainnya.
Insiden pada jam sore itu berlangsung di kawasan yang kerap dilalui kendaraan, sehingga rangkaian tabrakan meluas hingga trotoar. Informasi awal menyebutkan waktu, lokasi, kendaraan yang terlibat, serta identitas pengemudi BYD berdasarkan inisial dan usia. Namun, rincian mengenai penyebab mobil oleng, kondisi pengemudi lain, maupun penanganan setelah kecelakaan tidak dijelaskan dalam keterangan tersebut. Fakta yang tersedia menegaskan bahwa satu benturan awal berlanjut menjadi kecelakaan beruntun, termasuk menabrak pengemudi ojek online dan mobil-mobil yang terparkir di sekitar lokasi.Hasan Syukur, 56 tahun, yang juga dikenal dengan nama Agus, menjadi salah satu korban dalam kecelakaan beruntun di Blok M. Ia mengalami patah tulang pada kaki kiri setelah tertabrak sebuah mobil BYD. Seusai kejadian, Hasan dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit Fatmawati untuk mendapatkan penanganan medis. Cedera tersebut membuatnya harus menjalani pemeriksaan dan beristirahat di rumah sakit.
Pada Jumat, ketika berada di IGD, Hasan menghubungi anaknya, Ewis Hildayani, 27 tahun, melalui panggilan video. Ewis mengatakan bahwa ayahnya sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit. Kondisinya mengharuskan Hasan membatasi gerakan, sehingga ia tidak diperbolehkan banyak bergerak. Melalui panggilan itu, Ewis dapat melihat keadaan ayahnya dan mengetahui bahwa ia tengah dirawat setelah mengalami kecelakaan.
Informasi mengenai kondisi Hasan disampaikan oleh Ewis saat menceritakan komunikasi mereka. Ia menggambarkan ayahnya berada dalam posisi berbaring dan masih perlu menjaga kaki yang cedera. Patah tulang pada kaki kiri menjadi luka yang dialami Hasan setelah tertabrak BYD dalam rangkaian kecelakaan tersebut. Saat itu, ia masih berada di IGD RS Fatmawati, sementara keluarga menantikan perkembangan penanganan medisnya.
Hasan tidak sendirian selama berada di rumah sakit. Sejumlah rekan sesama pengemudi ojek online menemaninya di IGD. Mereka berada di sana sambil menunggu kedatangan istri Hasan, yang sedang menuju rumah sakit dari Cengkareng, Jakarta Barat. Kehadiran rekan-rekannya membantu mendampingi Hasan ketika ia menjalani perawatan dan menunggu keluarga tiba. Ewis juga memperoleh kabar langsung dari ayahnya melalui panggilan video, meskipun Hasan harus tetap berbaring dan mengurangi aktivitas.
Situasi di rumah sakit itu memperlihatkan kondisi Hasan setelah insiden di Blok M: ia mengalami patah tulang kaki kiri, menjalani pemeriksaan di IGD, dan belum dapat banyak bergerak. Sementara menunggu istrinya datang dari Cengkareng, para pengemudi ojek online yang menjadi rekannya tetap mendampingi. Keterangan Ewis mengenai panggilan video tersebut memberi gambaran tentang keadaan ayahnya pada Jumat, tanpa mengubah bahwa penanganan medis masih menjadi perhatian utama setelah kecelakaan.
Ewis mengaku panik saat melihat kondisi ayahnya, Hasan, melalui panggilan video. Dalam percakapan itu, ia berusaha memahami apa yang terjadi dan memastikan lokasi ayahnya setelah kecelakaan beruntun di kawasan Blok M. Kondisi Hasan yang tampak mengalami cedera membuat Ewis segera menanyakan situasi di tempat kejadian serta bagaimana rangkaian peristiwa tersebut berlangsung.
Ia juga berupaya mencari tahu urutan tabrakan yang melibatkan ayahnya. Ewis menanyakan apakah Hasan lebih dahulu ditabrak kendaraan lain atau justru menabrak kendaraan di depannya. Selain itu, ia meminta penjelasan mengenai kendaraan apa saja yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan karena Ewis belum mengetahui kronologi secara utuh ketika menerima kabar dan melihat ayahnya melalui video.
Menurut keterangan yang diterima Ewis, Hasan mengalami patah tulang pada kaki kiri. Ia juga mendapat informasi bahwa tulang belakang ayahnya disebut remuk. Keterangan mengenai cedera tersebut menjadi perhatian keluarga, terutama karena Hasan harus menjalani tindakan medis untuk menangani patah tulang yang dialaminya. Ewis menyampaikan bahwa operasi terhadap ayahnya dijadwalkan atau berlangsung pada Sabtu (24/10), sebagaimana informasi yang diterimanya.
Meski mengetahui Hasan menjalani operasi, Ewis mengatakan belum memperoleh kabar terbaru mengenai kondisi ayahnya setelah tindakan tersebut. Ia masih menunggu informasi lanjutan tentang keadaan Hasan dan hasil penanganan medis. Belum adanya kabar pascaoperasi membuat keluarga belum dapat memastikan perkembangan pemulihan maupun langkah perawatan selanjutnya. Informasi mengenai kondisi Hasan setelah operasi juga belum ia terima saat menyampaikan keterangannya.
Di tengah ketidakpastian itu, Ewis masih berusaha mendapatkan penjelasan lebih lengkap tentang kecelakaan dan keadaan ayahnya. Baginya, informasi mengenai lokasi kejadian, kendaraan yang terlibat, serta urutan benturan diperlukan agar keluarga memahami peristiwa yang menyebabkan Hasan terluka. Namun, keterangan yang disampaikan Ewis sejauh ini masih merujuk pada informasi yang diterimanya, termasuk soal patah tulang kaki kiri dan kondisi tulang belakang. Kabar setelah operasi masih ditunggu keluarga.
Ewis mengatakan dirinya pasrah menerima kondisi ayahnya, Hasan, setelah mengalami kecelakaan beruntun di Blok M. Di tengah situasi yang dihadapi keluarga, ia menyampaikan bahwa hal utama baginya saat ini adalah melihat ayahnya kembali sehat. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perhatian Ewis tertuju pada pemulihan Hasan, bukan pada hal lain. Meski ayahnya belum dapat bekerja, Ewis berharap proses penyembuhan dapat berjalan hingga kondisinya pulih. Ia menyadari bahwa keadaan ini membawa perubahan bagi keluarga, tetapi tetap menempatkan kesehatan ayahnya sebagai harapan yang paling penting. Ewis menyampaikan harapan itu sambil meminta pihak yang menabrak ayahnya bertanggung jawab atas akibat kecelakaan tersebut.
Menurut Ewis, pertanggungjawaban itu diperlukan untuk membantu membiayai kebutuhan Hasan sampai pulih. Ia berharap penabrak bersedia menanggung biaya pemulihan ayahnya, sehingga Hasan dapat memperoleh perawatan yang dibutuhkan selama masa penyembuhan. Permintaan tersebut ia sampaikan sebagai bagian dari tuntutan agar tanggung jawab atas kejadian itu tidak diabaikan. Ewis juga berharap penabrak mendapat hukuman yang setimpal. Ia menyatakan harapan itu tanpa mengesampingkan kebutuhan keluarga yang saat ini berfokus pada kondisi Hasan. Selama ayahnya belum sehat dan belum bisa kembali bekerja, dukungan untuk memenuhi biaya pemulihan menjadi hal yang diminta Ewis dari pihak yang bertanggung jawab.
Ewis menegaskan bahwa harapan terbesarnya tetap agar Hasan kembali sehat, meskipun untuk sementara belum dapat bekerja. Ia pasrah terhadap kondisi yang dialami ayahnya, namun tetap berharap ada pertanggungjawaban untuk membiayai pemulihan hingga tuntas.
Baca juga: Kecelakaan Tragis di Perlintasan Kereta Api: Sopir Tewas Saat Menyebrang | Kecelakaan Tragis di Kembangan: Mobil Meluncur ke Trotoar dan Terjadi Tabrak Lari | Kecelakaan Kapal KM Virgo: Penyelamatan Korban Berlanjut di Laut Jawa






