Budaya  

Azmir Azhari, Pematung Realis di Balik Karya Para Pahlawan, Berpulang pada Usia 73 Tahun

Azmir Azhari, Pematung Realis di Balik Karya Para Pahlawan, Berpulang pada Usia 73 Tahun

Yogyakarta | Pematung realis Azmir Azhari meninggal dunia pada Selasa, 27 Oktober 2026, dalam usia 73 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di RSUD Pondok Gede, Jakarta. Kabar duka tersebut disampaikan putranya, Adriel, melalui Instagram Story pada Selasa pagi. Informasi itu segera menjadi perhatian keluarga, kerabat, dan masyarakat yang mengenal kiprah Azmir sebagai seniman. Dalam unggahannya, Adriel menyampaikan belasungkawa atas kepergian sang ayah dan memohon doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Pesan tersebut juga mencerminkan kesedihan keluarga atas kehilangan Azmir, sekaligus mengajak orang-orang yang mengenalnya untuk turut mendoakan. Unggahan itu menjadi pemberitahuan awal mengenai wafatnya pematung tersebut.

Pada saat kabar itu dibagikan, jenazah Azmir masih berada di rumah sakit. Adriel turut menyampaikan bahwa keluarga menghadapi kendala sehingga jenazah belum dapat dibawa ke rumah duka. Informasi mengenai hambatan tersebut disampaikan bersama kabar wafat, tanpa penjelasan lebih jauh mengenai sifat kendalanya. Karena itu, keluarga masih mengurus proses yang diperlukan sebelum jenazah dapat dipindahkan. Belum ada rincian tambahan mengenai tahapan yang harus dilalui, sementara pihak keluarga berfokus menyelesaikan urusan tersebut. Keadaan itu membuat waktu pemindahan belum dapat dipastikan pada pagi hari. Perkembangan berikutnya disampaikan pada Selasa siang, setelah proses yang dihadapi keluarga memungkinkan jenazah keluar dari rumah sakit.

Pada Selasa siang, jenazah Azmir akhirnya telah dapat dibawa dari RSUD Pondok Gede ke rumah duka. Di sana, jenazah disemayamkan sebelum rangkaian penghormatan terakhir dilanjutkan. Keluarga kemudian menjadwalkan salat jenazah dan pemakaman pada sore hari. Dengan demikian, setelah sempat tertahan di rumah sakit karena kendala, jenazah dapat dipindahkan untuk disemayamkan dan dipersiapkan menuju prosesi berikutnya. Kabar ini melengkapi informasi awal yang disampaikan Adriel pada pagi hari, sekaligus memberi kejelasan mengenai rencana keluarga pada hari tersebut. Pemindahan ke rumah duka menjadi perkembangan penting bagi keluarga dan kerabat yang menunggu untuk memberikan penghormatan terakhir. Prosesi sore itu menandai tahap akhir rangkaian pengurusan jenazah sebelum Azmir dimakamkan.

Azmir Azhari lahir pada 1 Januari 1953 di Payakumbuh, Sumatra Barat. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan ketertarikan pada seni dan mulai mengembangkan kemampuannya melalui kegiatan melukis. Minat tersebut menjadi pintu awal bagi perjalanan panjangnya di dunia seni rupa. Namun, seiring waktu, perhatian Azmir tidak hanya tertuju pada bidang dua dimensi. Ia mulai tertarik pada kemungkinan menghadirkan bentuk dan sosok secara nyata melalui seni patung.

Ketertarikan itu tumbuh ketika Azmir masih duduk di bangku sekolah menengah. Pada masa tersebut, ia mencoba membentuk patung menggunakan tanah liat. Bahan yang mudah dibentuk itu memberinya kesempatan untuk mengenal proses penciptaan karya tiga dimensi, mulai dari membangun bentuk hingga memperhatikan proporsi. Pengalaman awal tersebut kemudian memperkuat ketertarikannya pada seni patung. Peralihan dari melukis ke memahat tidak serta-merta menghapus dasar artistik yang telah ia peroleh. Sebaliknya, keduanya menjadi bagian dari proses pembentukan kepekaan visual dan pemahamannya terhadap bentuk.

Pada 1973, Azmir melanjutkan pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, lembaga yang kini dikenal sebagai Institut Seni Indonesia. Ia mula-mula mengambil jurusan seni lukis, sejalan dengan pengalaman dan minat awalnya. Setahun kemudian, ia memutuskan beralih ke seni patung. Pilihan itu menandai langkah penting dalam perjalanan pendidikannya sekaligus memperjelas arah yang ingin ia tekuni sebagai seniman. Lingkungan pendidikan seni di Yogyakarta memberinya ruang untuk memperdalam keterampilan serta mengenal berbagai pendekatan dalam penciptaan patung.

Keputusan Azmir untuk menjadi pematung juga dipengaruhi oleh kekagumannya terhadap Edhi Soenarso, salah satu tokoh penting seni patung Indonesia. Selain itu, karya pematung Prancis Auguste Rodin turut memberinya inspirasi. Pengaruh keduanya memperkaya pandangannya mengenai ekspresi, anatomi, dan kemampuan patung dalam menyampaikan karakter manusia. Dari minat melukis, eksperimen dengan tanah liat, hingga pendidikan formal dan inspirasi dari para pematung, terbentuklah landasan yang mengantarkan Azmir pada bidang yang kemudian menjadi ciri utama perjalanan seninya.

Azmir Azhari dikenal sebagai pematung realis yang menghadirkan sosok manusia dan tokoh dengan bentuk yang mudah dikenali. Reputasinya tumbuh melalui karya-karya yang menggambarkan figur publik maupun pahlawan, dengan pendekatan yang menekankan kemiripan dan detail rupa. Sepanjang berkarya, ia menghasilkan sedikitnya 50 patung. Jumlah tersebut memperlihatkan rentang kiprahnya, sekaligus menempatkannya sebagai seniman yang memberi perhatian besar pada representasi sosok dalam medium tiga dimensi. Karya-karya itu hadir dalam beragam konteks, dari penghormatan kepada tokoh hingga bentuk yang memiliki ciri khas tersendiri.

Di karya yang dikenal, terdapat patung Jenderal Soedirman di Purbalingga. Sosok pahlawan tersebut menjadi salah satu figur penting yang diwujudkan Azmir dalam bentuk patung. Ia juga membuat patung Taufik Kiemas, serta patung knalpot di Purbalingga, karya dengan objek yang berbeda dari representasi tokoh manusia. Ragam ini menunjukkan bahwa praktiknya tidak terbatas pada satu jenis subjek. Ia dapat menggarap figur sejarah dan publik, sekaligus menghasilkan bentuk yang merujuk pada benda atau identitas tertentu. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari jejak kreatifnya yang beragam.

Patung Kapten Pierre Tendean karya Azmir tersimpan di Museum Satria Mandala. Kehadiran karya itu di museum menambah catatan tentang patung-patung yang dibuatnya untuk mengabadikan tokoh. Selain karya yang disebut di Indonesia, sejumlah patungnya dibuat untuk beberapa negara, termasuk China, Hong Kong, Jepang, dan Singapura. Informasi tersebut memperlihatkan jangkauan karya Azmir melampaui satu wilayah, tanpa mengubah fokus utamanya sebagai pematung realis. Berbagai patungnya menjadi penanda perjalanan berkesenian yang panjang dan produktif. Dari figur pahlawan hingga bentuk yang tidak lazim, karya-karya itu menunjukkan keluasan subjek yang pernah ia garap dan menjadi bagian dari warisan kreatif yang ditinggalkannya.

Dalam pandangan Azmir Azhari yang disampaikannya pada 2020, patung bukan semata-mata bentuk rupa yang dibuat untuk dipandang. Seni patung yang ia dalami juga berfungsi sebagai catatan sejarah para pahlawan. Melalui wujud tiga dimensi, seorang pematung dapat merekam sosok yang dikenang, sehingga keberadaan dan pengenalannya tidak hanya bergantung pada tulisan atau kisah yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pemahaman tersebut menjelaskan perhatian Azmir pada ketepatan ketika menghadirkan figur pahlawan. Bentuk patung perlu menyampaikan ciri-ciri sosok secara terbaca, sekaligus mempertahankan hubungan karya dan tokoh yang menjadi subjeknya. Dengan demikian, proses mematung baginya berkaitan dengan usaha mengabadikan sosok dalam rupa.

Catatan itu mencakup rupa dan wajah, juga sikap, gerak, serta proporsi tubuh. Setiap unsur berperan dalam membantu orang mengenali figur yang dihadirkan. Wajah menjadi penanda penting, sedangkan sikap dan gerak dapat memperlihatkan karakter atau cara sosok tersebut ditampilkan. Proporsi tubuh turut menentukan kesan keseluruhan, karena patung menghadirkan figur secara utuh dalam ruang, bukan hanya melalui gambar datar. Dalam pemahaman Azmir, unsur-unsur tersebut perlu dibentuk sebagai satu kesatuan tiga dimensi. Patung kemudian menjadi cara untuk menyimpan gambaran tentang pahlawan secara konkret, dengan ciri yang dapat diamati dari berbagai sisi. Karya tidak sekadar menampilkan nama tokoh, tetapi juga memberi bentuk visual yang memungkinkan sosok itu dikenali.

Azmir juga menjelaskan kedekatan yang dapat dirasakan penonton ketika berhadapan dengan patung. Orang yang melihatnya, menurut gagasan yang ia sampaikan, dapat merasa seolah sedang melihat pahlawannya sendiri.