Jakarta | Kementerian Perdagangan mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mengembangkan kemampuan sebagai entrepreneur melalui program Campuspreneur. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa pembinaan ini ditujukan bagi talenta muda dan melibatkan mahasiswa serta kampus di lebih dari 25 perguruan tinggi. Program tersebut menempatkan kampus sebagai ruang untuk mengenalkan kewirausahaan dan perdagangan secara lebih menyeluruh, termasuk kemungkinan menjangkau pasar ekspor. Dengan bekal pemahaman dari berbagai tahap perdagangan, mahasiswa diharapkan dapat melihat proses membangun usaha secara lebih utuh, bukan sebatas menghasilkan sebuah produk.
Materi Campuspreneur mencakup pelatihan perdagangan dari hulu ke hilir. Pada bagian hulu, mahasiswa mendapat pembekalan mengenai produksi, yaitu bagaimana menyiapkan barang yang akan ditawarkan. Pelatihan juga membahas desain produk dan kemasan, dua aspek yang membantu pelaku usaha menyajikan produknya dengan baik. Pembekalan ini menghubungkan proses pembuatan dengan cara produk ditampilkan kepada calon pembeli. Dengan demikian, peserta dapat memahami bahwa kesiapan berdagang mencakup lebih dari kegiatan produksi semata; desain, kemasan, dan pemahaman mengenai tahap pemasaran juga menjadi bagian dari rangkaian yang dipelajari.
Di sisi hilir, program ini memperkenalkan upaya membuka peluang pasar serta mencari pembeli di luar negeri. Aspek tersebut memberi mahasiswa gambaran mengenai langkah yang diperlukan untuk menawarkan produk kepada pasar internasional. Fokusnya bukan hanya mendorong gagasan usaha, melainkan juga mengenalkan jalur perdagangan yang dapat menghubungkan produk dengan calon pembeli. Melalui pembinaan di berbagai perguruan tinggi, Kemendag berupaya memperluas pemahaman mahasiswa tentang rangkaian usaha, mulai dari produksi, perancangan produk dan kemasan, hingga pencarian peluang pasar. Campuspreneur menjadi bagian dari strategi untuk menyiapkan talenta muda agar memahami perdagangan secara praktis dan dapat mempertimbangkan ekspor sebagai salah satu arah pengembangan usaha mereka.
Pada Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 tahun 2026, Kementerian Perdagangan menyediakan booth khusus yang memberi ruang bagi 20 kampus untuk menampilkan produk dan karya mereka. Kehadiran perguruan tinggi dalam pameran perdagangan ini memperlihatkan keterlibatan lingkungan akademik dalam promosi produk lokal, sekaligus membuka kesempatan untuk memperkenalkan hasil pengembangan kampus kepada pengunjung pameran. Format booth bersama tersebut menempatkan partisipasi kampus sebagai bagian dari agenda perdagangan yang lebih luas, tanpa mengaburkan keragaman produk yang dibawa masing-masing peserta. Informasi mengenai capaian ini menyoroti nilai transaksi agregat yang tercatat dari partisipasi kampus, bukan nilai untuk satu kategori produk tertentu.
Partisipasi tersebut mencatatkan transaksi senilai USD 24,5 juta. Angka ini menunjukkan besarnya nilai transaksi yang dikaitkan dengan keikutsertaan kampus di TEI 2026, namun tidak berarti seluruh nilai tersebut berasal dari satu produk, satu bidang, atau satu peserta. Ragam produk dan layanan yang terlibat menjadi bagian penting untuk membaca capaian itu secara proporsional. Di contoh yang disebutkan terdapat charcoal serta jasa animasi, dua jenis penawaran yang berbeda karakter. Keduanya menggambarkan bahwa kontribusi kampus dalam pameran tidak terbatas pada barang fisik, tetapi juga mencakup layanan kreatif. Nilai transaksi yang dilaporkan mencerminkan keseluruhan partisipasi tersebut, sementara rincian pembagiannya tidak dinyatakan.
Karena itu, capaian USD 24,5 juta perlu dipahami sebagai hasil agregat dari beragam produk dan jasa yang dibawa dalam partisipasi 20 kampus. Penyebutan charcoal dan jasa animasi berfungsi sebagai contoh, bukan daftar lengkap maupun penanda bahwa kedua kategori itu menyumbang seluruh transaksi. Pendekatan penyajian angka secara hati-hati membantu menjaga makna informasi: nilai yang tersedia dapat dicatat, sementara atribusi spesifik kepada produk, kampus, atau pembeli tidak dapat ditambahkan tanpa data pendukung. Keikutsertaan kampus di pameran perdagangan nasional tersebut menyediakan gambaran tentang luasnya jenis penawaran yang masuk dalam promosi produk lokal. Dengan demikian, perhatian dapat diarahkan pada skala transaksi dan keberagaman, tanpa membuat klaim yang tidak tercantum dalam konteks tersebut.
Pembinaan terhadap 2.600 desa menjadi salah satu langkah Kemendag untuk memperluas sumber produk lokal yang siap memasuki pasar. Potensi desa tidak cukup hanya dikenal sebagai kekayaan daerah; potensi tersebut perlu dikembangkan menjadi barang yang konsisten, memenuhi kebutuhan pembeli, dan memiliki peluang untuk dipasarkan secara berkelanjutan. Karena itu, pendampingan diarahkan pada tahapan produksi sekaligus kesiapan usaha, agar produsen dapat bergerak dari skala lokal menuju jangkauan pasar yang lebih luas.
Dukungan yang diberikan mencakup pembinaan produksi, penjagaan mutu, dan pengemasan. Pembinaan produksi membantu pelaku usaha mengembangkan proses kerja yang lebih terarah sehingga kemampuan menghasilkan barang dapat ditingkatkan. Penjagaan mutu penting agar produk memiliki kualitas yang dapat dipertahankan dan memenuhi ekspektasi pasar. Sementara itu, pengemasan berperan melindungi produk sekaligus menyajikannya secara lebih menarik dan layak bersaing. Ketiga aspek ini saling melengkapi: produk yang berlimpah belum tentu mudah dipasarkan jika kualitasnya tidak konsisten atau kemasannya belum memadai.
Kemendag juga memfasilitasi business matching untuk mempertemukan produsen dengan calon pembeli dari luar negeri. Pertemuan semacam ini membuka akses terhadap peluang transaksi dan membantu pelaku usaha memahami kebutuhan pasar tujuan. Dengan demikian, pembinaan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga menghubungkan produsen dengan jalur pemasaran yang relevan. Akses tersebut dapat menjadi dorongan bagi desa untuk memperbaiki kapasitas dan kesiapan usahanya secara bertahap.
Penguatan pasar domestik tetap penting sebagai ruang tumbuh bagi produk dalam negeri. Permintaan di dalam negeri dapat menjadi pijakan bagi produsen untuk mengembangkan kualitas, menjaga kesinambungan produksi, dan membangun kepercayaan konsumen. Pada saat yang sama, pasar global memberikan peluang untuk memperluas jangkauan penjualan sekaligus mendorong peningkatan kapasitas produksi. Kedua pasar ini dapat saling mendukung, bukan dipandang sebagai pilihan yang terpisah.
Dalam kerangka tersebut, hilirisasi didorong untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah industri dalam negeri. Pengolahan lebih lanjut memungkinkan potensi bahan dan kemampuan produksi lokal menghasilkan produk bernilai lebih tinggi. Jika pembinaan desa terhubung dengan mutu, kemasan, akses pembeli, dan penguatan hilirisasi, produk lokal memiliki landasan lebih kuat untuk berkembang di pasar domestik maupun global.
Menjelang akhir 2026, Kemendag mengarahkan perhatian pada upaya meningkatkan belanja masyarakat sekaligus memperkuat pasar dalam negeri. Kedua sasaran tersebut saling berkaitan: aktivitas belanja yang lebih kuat dapat membuka ruang bagi produk lokal untuk menjangkau konsumen, sementara pasar domestik yang kokoh memberi industri dalam negeri lingkungan perdagangan yang lebih mendukung. Karena itu, dorongan belanja ditempatkan sebagai bagian dari agenda yang lebih luas, bukan semata-mata promosi sesaat. Pemerintah berupaya memanfaatkan momentum perdagangan untuk mempertemukan kebutuhan konsumen dengan pilihan barang yang dipasarkan di dalam negeri, termasuk produk buatan pelaku usaha lokal.
Salah satu momentum yang dapat dimanfaatkan adalah Hari Belanja Online Nasional atau Harbolnas. Ajang belanja daring ini memberi ruang bagi pelaku perdagangan untuk menawarkan produk kepada masyarakat melalui kanal digital, sekaligus mendorong konsumen bertransaksi. Dalam konteks penguatan produk lokal, perhatian pentingnya ialah memastikan produk dalam negeri turut memperoleh kesempatan tampil dan dipilih selama momentum tersebut. Harbolnas dengan demikian dapat dipandang sebagai salah satu sarana menggerakkan perdagangan, bukan tujuan akhir. Upaya itu tetap perlu terhubung dengan penguatan industri lokal dan perluasan akses pasar, sehingga aktivitas transaksi mendukung keberadaan produk dalam negeri di tengah beragam pilihan yang tersedia bagi konsumen.
Di samping kanal daring, program belanja dengan diskon di ritel modern juga menjadi bagian dari pendekatan untuk mendorong belanja.
Baca juga: Target Penerimaan Pajak 2027: Strategi dan Proyeksi DJP | Pangkas BUMN: Strategi Danantara Menuju Efisiensi Bisnis | Revitalisasi Anak Kali Krukut: Strategi Tanpa Penggusuran

