Greenpeace: Krisis Iklim Tekan Harga Pangan dan Pendapatan Pekerja Harian

Greenpeace: Krisis Iklim Tekan Harga Pangan dan Pendapatan Pekerja Harian

Jakarta | Greenpeace Indonesia menilai krisis iklim telah membawa dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, bukan hanya perubahan lingkungan yang berlangsung jauh dari keseharian. Cuaca yang semakin tidak menentu dan kejadian ekstrem dapat mengganggu kegiatan produksi serta distribusi pangan. Ketika pasokan terganggu, harga bahan pangan berisiko naik dan menjadi beban tambahan bagi rumah tangga, terutama mereka yang memiliki ruang terbatas untuk menyesuaikan pengeluaran. Pada saat yang sama, pekerja harian dapat kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan ketika kondisi cuaca menghambat pekerjaan atau aktivitas ekonomi. Dampak tersebut memperlihatkan bahwa krisis iklim berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan keamanan penghidupan masyarakat.

Juru kampanye keadilan iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menegaskan bahwa krisis iklim bukan semata ancaman yang baru akan dirasakan pada masa depan. Menurutnya, konsekuensinya telah hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui tekanan terhadap harga pangan dan penghasilan pekerja yang bergantung pada pekerjaan harian. Bagi kelompok yang pendapatannya tidak tetap, berkurangnya hari kerja dapat segera memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kenaikan biaya pangan juga dapat mempersempit pilihan belanja, sehingga keluarga perlu mengalokasikan lebih banyak pengeluaran untuk kebutuhan yang sama. Dengan demikian, dampak iklim tidak terbagi rata: masyarakat dengan sumber daya terbatas cenderung lebih sulit menghadapi perubahan dan memulihkan keadaan.

Penilaian ini menempatkan krisis iklim sebagai persoalan sosial dan ekonomi, selain isu lingkungan. Gangguan pada pangan maupun mata pencaharian dapat saling memperkuat, khususnya ketika rumah tangga menghadapi pendapatan yang tidak menentu bersamaan dengan harga kebutuhan yang meningkat. Karena itu, Greenpeace memandang kondisi tersebut membutuhkan penanganan serius dari pemerintah. Respons tidak cukup berhenti pada pengakuan bahwa perubahan iklim sedang terjadi; kebijakan juga perlu memperhatikan perlindungan kebutuhan dasar, ketahanan pangan, serta kelompok pekerja yang rentan kehilangan penghasilan. Langkah yang berpihak pada masyarakat terdampak penting agar beban krisis tidak semakin besar dan tidak ditanggung terutama oleh mereka yang paling sedikit memiliki kemampuan untuk menghindarinya. Pengalaman masyarakat saat ini menjadi alasan untuk bertindak, bukan sekadar peringatan tentang risiko yang mungkin muncul kelak.

Greenpeace Indonesia menggelar aksi pembentangan spanduk di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut menempatkan ruang publik yang dikenal luas sebagai lokasi penyampaian perhatian organisasi terhadap krisis iklim. Kehadiran pesan tentang persoalan iklim di kawasan pusat kota menunjukkan bahwa dampaknya bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Greenpeace Indonesia mengaitkan perhatian itu dengan keadaan masyarakat yang menghadapi tekanan ketika perubahan iklim memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi. Aksi berlangsung di ruang kota yang menjadi bagian dari aktivitas warga, sehingga persoalan tersebut hadir dalam percakapan publik.

Perhatian Greenpeace Indonesia pada dampak krisis iklim berkaitan dengan konsekuensi yang dirasakan masyarakat, terutama kelompok yang kondisi hidup dan penghasilannya rentan terhadap perubahan keadaan. Tekanan terhadap harga pangan dapat memperberat pemenuhan kebutuhan sehari-hari, sementara pekerja harian dapat menghadapi ketidakpastian pendapatan. Dampak seperti ini memperlihatkan bahwa krisis iklim tidak terbatas pada perubahan lingkungan, melainkan juga menyentuh kesejahteraan dan rasa aman ekonomi. Dengan menyoroti isu tersebut melalui aksi di Bundaran HI, organisasi itu mengangkat hubungan persoalan iklim dan beban yang dapat ditanggung warga. Fokusnya adalah dampak pada manusia, bukan sekadar peristiwa cuaca atau persoalan alam yang berdiri sendiri.

Aksi pembentangan spanduk itu menjadi cara Greenpeace Indonesia membawa perhatian terhadap krisis iklim ke ruang bersama. Lokasi di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia, memberi konteks perkotaan pada isu yang pengaruhnya dapat menjangkau masyarakat dengan kondisi dan pekerjaan berbeda. Bagi warga yang mengandalkan pendapatan harian, tekanan ekonomi dapat terasa langsung dalam kemampuan memenuhi kebutuhan, termasuk saat harga pangan meningkat. Karena itu, membicarakan krisis iklim juga berarti memperhatikan siapa yang paling terdampak dan bagaimana kehidupan mereka dapat terpengaruh. Aksi pada 20 Oktober 2026 tersebut menegaskan perhatian organisasi terhadap kaitan perubahan iklim, kesejahteraan masyarakat, harga kebutuhan pokok, dan pendapatan pekerja harian.

Dalam pemaparan Jeanny, hasil riset Greenpeace menunjukkan bahwa krisis iklim merupakan salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga bahan pangan. Dampaknya dapat terasa melalui perubahan kondisi produksi dan ketersediaan komoditas, meskipun harga juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti biaya distribusi, harga energi, serta dinamika pasar. Perubahan pola cuaca membuat musim tanam semakin sulit diperkirakan. Hujan yang datang terlalu awal, terlambat, atau dengan intensitas tinggi dapat mengganggu jadwal kerja petani dan kondisi lahan. Sebaliknya, periode kering yang lebih panjang dapat membatasi ketersediaan air. Ketidakpastian ini meningkatkan risiko usaha tani dan dapat mengurangi jumlah hasil yang tersedia untuk dipasarkan.

Risiko tersebut mencakup gagal tanam maupun gagal panen. Benih yang sudah ditanam bisa rusak ketika lahan tergenang, sementara tanaman yang kekurangan air atau terpapar suhu ekstrem mungkin tidak tumbuh optimal. Jika kejadian cuaca merugikan berlangsung di wilayah produksi penting, pasokan beberapa bahan pangan berpotensi menyusut. Jumlah yang lebih terbatas dapat ikut memberi tekanan pada harga, terutama apabila permintaan tetap tinggi dan pasokan dari daerah lain tidak cukup untuk menutup kekurangan. Namun, hubungan ini tidak selalu berlangsung secara langsung atau seragam. Besar dampaknya bergantung pada jenis tanaman, lokasi, waktu kejadian, kemampuan petani beradaptasi, serta ketersediaan infrastruktur dan dukungan produksi.

Tekanan iklim juga menjangkau laut dan kehidupan nelayan. Kenaikan suhu permukaan laut dapat memengaruhi sebaran, perilaku, dan ketersediaan ikan, sehingga hasil tangkapan nelayan berpotensi berubah. Nelayan mungkin perlu menempuh jarak lebih jauh atau menghabiskan waktu lebih lama untuk memperoleh tangkapan, dengan biaya dan risiko kerja yang turut meningkat. Apabila hasil tangkapan menurun, jumlah ikan yang masuk ke pasar dapat ikut berkurang. Perubahan di sektor pertanian dan perikanan secara bersamaan berisiko mengganggu kelancaran pasokan pangan. Karena itu, temuan tersebut menyoroti bagaimana krisis iklim dapat menambah tekanan pada sistem pangan, dari proses produksi hingga ketersediaan barang bagi konsumen, tanpa menjadi satu-satunya penentu perubahan harga.

Jeanny menilai bahwa hubungan krisis iklim dan harga pangan perlu dipahami sebagai persoalan pasokan, bukan semata-mata gejolak harga di pasar. Ketika cuaca ekstrem mengganggu produksi pertanian dan ketersediaan bahan pangan menurun, masyarakat tetap membutuhkan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketimpangan jumlah barang yang tersedia dan kebutuhan yang tidak ikut surut dapat mendorong harga naik. Dampaknya terutama terasa bagi keluarga yang harus membelanjakan pendapatan terbatas untuk kebutuhan pokok. Dalam pandangan Jeanny, tekanan tersebut memperlihatkan bahwa dampak krisis iklim tidak berhenti pada lingkungan atau lahan pertanian, tetapi juga menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat luas. Karena itu, pembahasan harga perlu mempertimbangkan penyebab yang memengaruhi ketersediaan pangan sejak awal.

Jeanny menyerukan agar pemerintah menangani akar persoalan melalui upaya penanggulangan krisis iklim. Menurutnya, pengendalian harga saja tidak cukup apabila faktor yang mengurangi pasokan pangan dibiarkan terus berlangsung. Kebijakan yang hanya berfokus pada harga di pasar berisiko menangani gejala tanpa mengurangi tekanan terhadap produksi dan ketersediaan bahan pangan. Pemerintah perlu memberi perhatian pada langkah-langkah yang membantu menghadapi dampak iklim terhadap sistem pangan, sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dan sektor terkait untuk merespons perubahan kondisi.

Baca juga: Reformasi Kebiasaan Nelayan Pantura dalam Pengelolaan Pendapatan