KEDIRI — Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia seharusnya menjadi momentum untuk bertanya lebih dalam: sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah benar-benar hadir dalam perilaku sosial kita?
Sebab mencintai Rasulullah SAW bukan hanya tentang memperbanyak lantunan shalawat, menghadiri pengajian, atau mengenang perjalanan hidup beliau. Cinta kepada Rasulullah juga harus menemukan bentuk konkretnya dalam kepedulian kepada sesama, mempererat persaudaraan, membantu mereka yang membutuhkan, serta menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.
Di tengah kehidupan sosial yang semakin mudah diwarnai perbedaan, perselisihan, prasangka, bahkan saling menjauh karena persoalan kecil, pesan persaudaraan justru menjadi semakin penting.
Islam tidak dibangun di atas kebencian. Islam dibangun di atas rahmat.
Dan Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan utama bagaimana manusia membangun kehidupan yang berlandaskan kasih sayang, kepedulian, keadilan, dan persaudaraan.
Maulid Jangan Sekadar Seremoni
Ada satu pertanyaan penting yang sering luput dari peringatan Maulid Nabi:
Setelah acara selesai, apa yang berubah dalam kehidupan kita?
Jika setelah Maulid kita masih mudah menghina, masih senang mempermalukan orang lain, masih abai terhadap tetangga yang kesusahan, masih tega melihat saudara membutuhkan pertolongan tanpa berbuat apa-apa, maka ada sesuatu yang harus kita evaluasi.
Maulid seharusnya menjadi cermin moral.
Bukan hanya untuk mengingat kelahiran Nabi, tetapi untuk mengukur sejauh mana akhlak beliau telah menginspirasi kehidupan kita.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ada hak tetangga, ada hak saudara, ada kewajiban membantu yang lemah, ada kewajiban menjaga lisan, dan ada tanggung jawab sosial terhadap lingkungan.
Karena itu, ukhuwah Islamiyah tidak boleh berhenti menjadi slogan.
Ia harus menjadi tindakan.
Persaudaraan Diuji Ketika Ada Perbedaan
Persaudaraan sangat mudah dibicarakan ketika semua orang memiliki pandangan yang sama.
Namun persaudaraan justru diuji ketika muncul perbedaan.
Berbeda pilihan.
Berbeda pendapat.
Berbeda latar belakang.
Berbeda kepentingan.
Bahkan berbeda cara memahami persoalan.
Di titik itulah akhlak menjadi penting.
Kita tidak harus selalu sepakat untuk tetap bersaudara.
Kita tidak harus memiliki pandangan yang sama untuk tetap saling menghormati.
Dan kita tidak harus menyukai semua orang untuk tetap memperlakukan manusia dengan bermartabat.
Inilah substansi penting dari semangat rahmatan lil ‘alamin: perbedaan tidak otomatis menjadi alasan untuk bermusuhan.
Masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang tidak memiliki perbedaan. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa persaudaraan.
Kepedulian Sosial Bukan Sekadar Memberi
Kepedulian sosial juga tidak selalu berbentuk materi.
Kadang seseorang tidak membutuhkan uang.
Ia membutuhkan seseorang yang mau mendengar.
Kadang seorang tetangga tidak membutuhkan bantuan besar.
Ia hanya membutuhkan orang yang datang ketika sedang mengalami kesulitan.
Kadang seorang saudara tidak membutuhkan nasihat panjang.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:
“Saya ada di sini. Jangan menghadapi semuanya sendirian.”
Karena itu, kepedulian sosial sesungguhnya memiliki wajah yang sangat luas.
Memberikan makanan kepada yang lapar adalah kepedulian.
Membantu orang sakit adalah kepedulian.
Mendampingi orang yang sedang menghadapi persoalan adalah kepedulian.
Menolong korban musibah adalah kepedulian.
Menjaga nama baik seseorang dari fitnah juga merupakan kepedulian.
Bahkan menahan lisan agar tidak menyakiti orang lain adalah bagian dari akhlak sosial.
Cinta Rasul Harus Turun Menjadi Akhlak
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah kepada Allah SWT.
Beliau juga memberikan teladan bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Karena itu, ukuran kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya dilihat dari seberapa meriah seseorang memperingati Maulid.
Lebih jauh dari itu:
Apakah kita semakin lembut kepada sesama?
Apakah kita semakin peduli kepada orang yang kesusahan?
Apakah kita semakin mampu memaafkan?
Apakah kita semakin berhati-hati dalam berbicara?
Apakah kehadiran kita membawa manfaat bagi lingkungan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar kemeriahan sebuah acara.
Sebab Maulid Nabi seharusnya melahirkan perubahan perilaku, bukan hanya keramaian kegiatan.
Menolong dalam Kebaikan, Bukan Memperbesar Perpecahan
Di tengah derasnya arus informasi, media sosial juga dapat menjadi ruang yang mempererat sekaligus memecah belah.
Satu unggahan dapat menyebarkan kebaikan kepada ribuan orang.
Tetapi satu unggahan yang berisi fitnah, penghinaan, atau provokasi juga dapat menghancurkan kehormatan seseorang.
Karena itu, semangat cinta Rasul harus hadir bahkan dalam cara kita menggunakan media sosial.
Sebelum membagikan informasi, periksa kebenarannya.
Sebelum menghakimi seseorang, dengarkan penjelasannya.
Sebelum menulis komentar yang menyakitkan, pikirkan dampaknya.
Dan sebelum ikut membenci seseorang karena “katanya”, tanyakan:
Benarkah kita mengetahui seluruh faktanya?
Persaudaraan tidak akan tumbuh apabila masyarakat terbiasa hidup dari prasangka.
Sebaliknya, persaudaraan akan tumbuh ketika masyarakat membangun budaya saling menjaga, saling menghormati, dan saling menolong dalam kebaikan.
Membangun Harmoni Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar untuk berbuat baik.
Tidak perlu menunggu memiliki kekayaan besar untuk peduli.
Tidak perlu menunggu memiliki jabatan untuk membantu.
Kebaikan bisa dimulai dari rumah.
Dari keluarga.
Dari tetangga.
Dari lingkungan kerja.
Dari komunitas.
Dari orang yang kebetulan kita temui di jalan.
Satu bantuan kecil mungkin terlihat tidak berarti bagi kita.
Tetapi bagi orang yang sedang berada dalam kesulitan, bantuan itu bisa menjadi sesuatu yang sangat besar.
Begitulah seharusnya semangat Maulid Nabi diterjemahkan: dari kecintaan menjadi kepedulian, dari kepedulian menjadi tindakan, dan dari tindakan menjadi budaya sosial.
Jangan Biarkan Persaudaraan Kalah oleh Ego
Persoalan terbesar dalam kehidupan sosial sering kali bukan karena manusia tidak tahu tentang kebaikan.
Masalahnya adalah ego sering kali lebih besar daripada keinginan untuk berbuat baik.
Kita ingin dihormati, tetapi lupa menghormati.
Kita ingin dipahami, tetapi tidak mau memahami.
Kita ingin dimaafkan, tetapi sulit memaafkan.
Kita ingin ditolong, tetapi terkadang lupa menolong.
Di sinilah keteladanan Rasulullah SAW menjadi sangat relevan.
Kehidupan beliau mengajarkan bahwa kekuatan seorang manusia tidak selalu ditunjukkan dengan kemampuan membalas.
Terkadang kekuatan terbesar justru terlihat ketika seseorang mampu menahan amarah, memaafkan, dan tetap memilih jalan kebaikan.
Maulid Nabi Harus Melahirkan Gerakan Sosial
Sudah waktunya peringatan Maulid Nabi tidak hanya diukur dari jumlah jamaah yang hadir, panjangnya acara, atau meriahnya panggung.
Ukuran yang jauh lebih penting adalah:
Berapa banyak orang yang kemudian terbantu?
Berapa banyak saudara yang kembali berdamai?
Berapa banyak anak yatim yang diperhatikan?
Berapa banyak masyarakat kurang mampu yang diringankan bebannya?
Berapa banyak konflik yang berhasil diredam?
Berapa banyak kebencian yang berubah menjadi persaudaraan?
Jika Maulid mampu melahirkan semua itu, maka peringatan tersebut tidak berhenti sebagai tradisi.
Ia berubah menjadi gerakan sosial yang hidup.
Pesan Dedy Luqman Hakim, S.H.: Hukum Harus Berjalan Bersama Kemanusiaan
Menurut Dedy Luqman Hakim, S.H., semangat persaudaraan dan kepedulian sosial juga memiliki relevansi kuat dalam kehidupan hukum dan masyarakat.
Hukum, menurutnya, tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaan.
“Masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang paling keras menghukum, tetapi masyarakat yang mampu menegakkan keadilan sekaligus menjaga kemanusiaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.”
Bagi Dedy, semangat cinta Rasul dapat diterjemahkan melalui tindakan nyata: membela yang membutuhkan pertolongan, membantu tanpa membeda-bedakan, menjaga kehormatan manusia, serta menyelesaikan persoalan dengan mengedepankan keadilan dan kemaslahatan.
Sebab hukum dan kemanusiaan bukan dua kutub yang harus dipertentangkan.
Keduanya justru harus berjalan beriringan.
Keadilan tanpa kemanusiaan dapat berubah menjadi kekakuan.
Sebaliknya, kepedulian tanpa prinsip keadilan dapat kehilangan arah.
Karena itu, masyarakat membutuhkan keseimbangan: tegas terhadap ketidakadilan, tetapi tetap manusiawi terhadap manusia.
Cinta Rasul, Perkuat Persaudaraan
Pada akhirnya, Maulid Nabi mengajarkan sebuah pesan sederhana tetapi sangat dalam:
Cinta Rasul harus terlihat dalam akhlak.
Akhlak dalam keluarga.
Akhlak dalam bertetangga.
Akhlak dalam bekerja.
Akhlak dalam bermasyarakat.
Akhlak ketika berbeda pendapat.
Akhlak ketika memiliki kekuasaan.
Akhlak ketika menghadapi orang yang sedang berada di bawah.
Dan akhlak ketika memiliki kesempatan untuk membalas keburukan.
Karena Rasulullah SAW tidak hanya meninggalkan sejarah.
Beliau meninggalkan teladan.
Dan teladan itu harus diteruskan dalam kehidupan nyata.
Maka Maulid Nabi jangan hanya menjadi momentum untuk mengingat Rasulullah.
Jadikan Maulid sebagai momentum untuk meniru akhlaknya.
Perkuat ukhuwah Islamiyah.
Rawat persaudaraan.
Bantu mereka yang membutuhkan.
Jaga lisan.
Jangan mudah memfitnah.
Jangan mudah menghakimi.
Jangan membangun kebencian.
Dan jangan pernah merasa bahwa kebaikan kecil tidak memiliki arti.
Sebab bisa jadi, kebaikan yang kita anggap kecil justru menjadi alasan seseorang kembali memiliki harapan.
Cinta Rasul, Perkuat Persaudaraan.
Tebarkan Rahmat, Hidupkan Kepedulian.
Saling Menolong dalam Kebaikan, Membangun Harmoni Kehidupan.
Oleh: Dedy Luqman Hakim, S.H.
Penasihat Hukum | Konsultan Hukum | Praktisi Hukum | Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Cakra Tirta Mustika (CAKRAM) Kediri Raya | Wakil Ketua Bidang Hukum GRIB Jaya DPC Kota Kediri
- Korupsi, TPPU, Narkotika dan Terorisme dalam KUHP Nasional: Dedy Luqman Hakim Soroti Tantangan Implementasi
- BGN Sanksi 18 Kepala SPPG di Tuban, Pengamat Pertanyakan Peran Korwil
- MERASA PALING BENAR BELUM TENTU MENANG: Adillia Laeba Ungkap Mengapa Gugatan Perdata Bisa Kandas Sebelum Pokok Perkara Diperiksa

