SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 12 September 2026, Era Society 5.0 merupakan fase transformasi sosial yang mengintegrasikan teknologi canggih dengan kehidupan sehari-hari, menciptakan sebuah masyarakat yang lebih inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan. Dalam konteks arsitektur, perkembangan ini membawa perubahan signifikan terkait cara merancang, membangun, dan menggunakan ruang. Melalui penerapan teknologi seperti Internet of Things (IoT), big data, dan artificial intelligence (AI), arsitektur masa kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal atau gedung perkantoran, tetapi juga sebagai entitas yang responsif terhadap penggunanya dan lingkungan sekitarnya.
Dalam era ini, tantangan utama bagi arsitektur di Indonesia adalah bagaimana untuk tetap mempertahankan identitas lokal di tengah maraknya pengaruh global serta kemajuan teknologi. Proses desain yang mengedepankan elemen budaya dan tradisi lokal harus tetap relevan sambil mengadopsi inovasi teknologi. Misalnya, penggunaan material ramah lingkungan dan teknologi desain yang efisien dapat membantu menciptakan bangunan yang tidak hanya estetik tetapi juga sustainable.
Selain tantangan, era Society 5.0 juga menawarkan berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan oleh para arsitek dan pengembang. Membangun bangunan yang cerdas dan berkelanjutan bukan lagi sekedar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan isu lingkungan dan efisiensi energi, arsitektur yang mampu menciptakan solusi cerdas menjadi sangat diminati. Oleh karena itu, kolaborasi arsitek, teknolog, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk menciptakan inovasi dalam desain dan penggunaan ruang.
Secara keseluruhan, pergeseran menuju Society 5.0 menuntut adaptasi yang cepat dan inovatif dalam dunia arsitektur, memadukan teknologi dan kaidah lokal untuk menghasilkan produk yang tidak hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga memiliki nilai kultural yang kaya. Dengan pemahaman yang tepat mengenai tantangan dan peluang ini, arsitektur Indonesia dapat berkembang ke arah yang lebih positif dan berkelanjutan.
Archiexpo 2026 merupakan acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur (Himaartra) di Universitas Kristen Petra. Acara ini bertujuan untuk menjadi platform bagi para profesional, akademisi, serta mahasiswa untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi oleh arsitektur Indonesia di era Society 5.0. Tema utama yang diangkat dalam acara ini adalah "Arsitektur Indonesia dalam Society 5.0: Tantangan dan Peluang", yang mencerminkan kebutuhan untuk memahami bagaimana teknologi dan inovasi mempengaruhi praktek arsitektur di tanah air.
Dalam rangkaian kegiatan Archiexpo 2026, beberapa agenda menarik telah dipersiapkan, mulai dari seminar, workshop, hingga pameran karya arsitektur. Seminar akan diisi oleh pembicara-pembicara terkemuka dari berbagai disiplin ilmu yang akan membahas tentang integrasi teknologi dalam desain bangunan, penggunaan material ramah lingkungan, serta tantangan urbanisasi yang dihadapi oleh kota-kota besar di Indonesia. Para peserta diharapkan dapat memperoleh wawasan baru dan perspektif yang lebih mendalam mengenai peran arsitektur dalam pembangunan masyarakat yang semakin cerdas dan terhubung.
Workshop yang diadakan selama Archiexpo 2026 akan memberi kesempatan kepada peserta untuk mendapatkan pengalaman praktis dalam menerapkan konsep-konsep yang dibahas. Berbagai metode dan teknik desain akan diperkenalkan, dengan fokus pada inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Selain itu, pameran karya arsitektur akan menjadi fitur penting dari acara ini, menampilkan proyek-proyek terkini dari mahasiswa dan profesional di bidang arsitektur, serta solusi desain yang mengadaptasi tren Society 5.0.
Secara keseluruhan, Archiexpo 2026 diharapkan dapat mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam dunia arsitektur, menumbuhkan kreativitas dan inovasi, serta membuka diskusi yang konstruktif mengenai masa depan arsitektur di Indonesia. Acara ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk memahami bagaimana arsitektur dapat beradaptasi dan berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang terus berlangsung.
Acara Archiexpo menjadi platform yang strategis bagi mahasiswa arsitektur untuk berinteraksi dengan teknologi terkini dan membagikan gagasan kreatif mereka. Dalam konteks ini, partisipasi mahasiswa sangat penting karena mereka tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai kontributor dalam diskusi dan seminar. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk menguji dan menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh di bangku kuliah.
Selama acara, mahasiswa dapat menjelajahi berbagai pameran karya yang ditampilkan, yang tidak hanya menampilkan inovasi desain, tetapi juga integrasi teknologi dalam arsitektur. Hal ini menciptakan lingkungan yang dinamis di mana teknologi dan seni arsitektur saling berinteraksi, menghasilkan ide-ide baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Diskusi yang terjadi dalam seminar dan lokakarya di Archiexpo mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis mengenai penerapan teknologi dalam konteks lokal.
Teknologi dalam arsitektur tidak sekadar alat, tetapi juga berfungsi sebagai medium untuk menjelajahi konsep kearifan lokal. Dengan mempertemukan teknologi dan nilai-nilai budaya, mahasiswa berkesempatan untuk mengembangkan proyek yang mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan. Archiexpo menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mendiskusikan bagaimana teknologi dapat mendukung pelestarian kearifan lokal, memberikan solusi yang lebih berkelanjutan dan inklusif dalam desain.
Interaksi ini mendorong kolaborasi berbagai disiplin ilmu, sehingga mahasiswa bisa mendapatkan perspektif yang lebih luas dan memperluas jangkauan pemikiran mereka. Melalui pengalaman langsung dengan teknologi, mahasiswa tidak hanya belajar tentang aspek teknis, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan desain yang lebih relevan dan responsif terhadap perkembangan zaman, khususnya di era Society 5.0 yang ditandai oleh integrasi manusia dan teknologi.
Lomba menggambar mural yang diadakan di acara Archiexpo, yang dikenal sebagai Lomba Archidraw, merupakan salah satu sorotan utama yang dirancang untuk memberikan wadah bagi para pelajar dan mahasiswa untuk mengekspresikan diri mereka melalui seni. Lomba ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai platform untuk memperkenalkan dan mempromosikan kearifan lokal serta warisan budaya Indonesia.
Dalam acara ini, tema lomba ditentukan dengan cermat sehingga mencerminkan kearifan lokal dan tradisi yang kaya di berbagai daerah di Indonesia. Peserta, yang terdiri dari siswa SMA serta mahasiswa, diberikan kebebasan untuk menafsirkan tema tersebut ke dalam karya mural mereka. Mereka memiliki waktu tertentu untuk menciptakan dan menyelesaikan karya seni mereka. Dalam proses ini, peserta tidak hanya perlu mempertimbangkan aspek estetika tetapi juga nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal yang ingin mereka gambarkan.
Lomba Archidraw juga berperan penting dalam pengembangan kreativitas peserta. Dengan memberikan ruang bagi para pelajar untuk mencurahkan ide dan imajinasi mereka ke dalam mural, kegiatan ini diharapkan dapat memicu minat dan bakat seni. Selain itu, lomba ini meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya Indonesia di kalangan generasi muda. Karya-karya yang dihasilkan tidak hanya menjadi representasi dari keterampilan seni, tetapi juga sebagai pengingat akan nilai-nilai budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Dengan demikian, Lomba Archidraw tidak hanya menjadi kompetisi seni, tetapi juga sebagai upaya kolektif untuk memperkuat identitas budaya bangsa di era Society 5.0 di mana teknologi dan kreativitas berkolaborasi.







