Berita  

Empat Nyawa Melayang dalam Sepekan, Perempatan Sukoanyar Pakel Kian Dikenal sebagai Titik Rawan Maut

Empat Nyawa Melayang dalam Sepekan, Perempatan Sukoanyar Pakel Kian Dikenal sebagai Titik Rawan Maut

TULUNGAGUNG — Deru mesin kendaraan berat kini menjadi pemandangan yang hampir tak pernah berhenti di kawasan Perempatan Sukoanyar, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung. Dari pagi hingga malam, bus antarkota, truk pengangkut material, hingga kendaraan pribadi silih berganti melintasi persimpangan tersebut. Namun di balik padatnya lalu lintas itu, tersimpan kekhawatiran yang terus membesar di tengah masyarakat.

Dalam kurun waktu sekitar satu pekan terakhir, sedikitnya empat orang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas yang terjadi di kawasan perempatan tersebut. Rentetan peristiwa itu memunculkan pertanyaan besar mengenai kesiapan jalur alternatif yang kini menjadi salah satu urat nadi mobilitas kendaraan di wilayah selatan Tulungagung.

Berdasarkan pantauan di lapangan, arus kendaraan di Perempatan Sukoanyar mengalami peningkatan signifikan sejak diberlakukannya pengalihan jalur akibat penutupan akses di wilayah Gondang. Kendaraan yang sebelumnya melewati jalur tersebut kini dialihkan melalui ruas Bandung–Campurdarat dan melintasi Perempatan Sukoanyar menuju arah Pondok Pampang.

Perubahan pola lalu lintas itu membawa konsekuensi yang tidak ringan. Jalan yang sebelumnya hanya menampung volume kendaraan dalam jumlah tertentu kini harus menerima beban lalu lintas yang jauh lebih besar. Pada jam-jam sibuk, antrean kendaraan dapat mengular dari berbagai arah. Situasi menjadi semakin kompleks ketika kendaraan besar harus berpapasan atau bermanuver di area persimpangan yang memiliki ruang terbatas.

Sejumlah pengguna jalan mengaku harus meningkatkan kewaspadaan setiap kali melintasi lokasi tersebut. Mereka menilai kondisi lalu lintas saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa bulan lalu. Selain volume kendaraan yang meningkat tajam, kecepatan kendaraan dari berbagai arah juga kerap menyulitkan pengendara untuk memperkirakan waktu aman saat menyeberang atau berbelok.

Kondisi tersebut diperparah dengan belum tersedianya lampu pengatur lalu lintas di titik persimpangan yang kini menjadi salah satu jalur utama kendaraan pengalihan. Pengaturan lalu lintas masih mengandalkan kehati-hatian masing-masing pengguna jalan. Saat kendaraan datang bersamaan dari beberapa arah, situasi kerap berubah menjadi semrawut dan berpotensi memicu kecelakaan.

Tidak hanya itu, keberadaan petugas pengatur lalu lintas juga dinilai masih sangat minim. Pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika arus kendaraan sedang tinggi, pengguna jalan berharap ada kehadiran personel yang dapat membantu mengurai kepadatan sekaligus mengurangi risiko tabrakan antarkendaraan.

Warga sekitar mengaku semakin cemas setiap kali mendengar suara benturan keras maupun sirene ambulans yang menuju lokasi kejadian. Beberapa kecelakaan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat setempat karena memakan korban jiwa.

Menurut warga, keberadaan fasilitas keselamatan lalu lintas sudah menjadi kebutuhan mendesak. Mereka menilai peningkatan volume kendaraan yang terjadi saat ini tidak lagi sebanding dengan kondisi infrastruktur yang tersedia. Tanpa langkah antisipatif yang cepat, potensi kecelakaan dikhawatirkan akan terus berulang.

Sorotan terhadap kondisi tersebut juga datang dari pengasuh pondok pesantren sekaligus pengamat sosial Tulungagung, KH Toha Maksum atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Maksum. Ia menilai pemerintah dan instansi terkait perlu bergerak cepat sebelum jumlah korban terus bertambah.

Menurutnya, rangkaian kecelakaan yang terjadi dalam waktu berdekatan harus dipandang sebagai peringatan serius. Keselamatan masyarakat tidak boleh menunggu hingga muncul korban berikutnya. Karena itu, langkah-langkah teknis yang bersifat darurat perlu segera diterapkan di lokasi rawan tersebut.

Gus Maksum menegaskan bahwa pemasangan lampu lalu lintas di Perempatan Sukoanyar menjadi salah satu kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda. Dengan meningkatnya intensitas kendaraan dari berbagai arah, keberadaan traffic light diyakini mampu membantu mengatur pergerakan kendaraan secara lebih tertib dan terukur.

Selain pemasangan lampu pengatur lalu lintas, ia juga mendorong adanya penempatan personel dari kepolisian maupun Dinas Perhubungan, khususnya pada jam-jam padat kendaraan. Kehadiran petugas di lapangan dinilai penting untuk memberikan respons cepat ketika terjadi kepadatan maupun potensi gangguan lalu lintas.

“Jangan menunggu korban bertambah lagi. Keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama. Perempatan Sukoanyar membutuhkan perhatian serius dan tindakan nyata secepatnya,” ujarnya.

Desakan serupa juga muncul dari masyarakat yang setiap hari beraktivitas menggunakan jalur tersebut. Mereka berharap pemerintah daerah, Dinas Perhubungan, dan satuan lalu lintas kepolisian segera melakukan kajian serta mengambil langkah konkret guna menekan angka kecelakaan.

Bagi warga sekitar, persoalan ini bukan sekadar soal kemacetan atau kepadatan kendaraan. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan pengguna jalan, mulai dari pelajar, pekerja, pengendara sepeda motor, hingga sopir kendaraan angkutan barang yang setiap hari melintas di kawasan tersebut.

Hingga kini, Perempatan Sukoanyar masih menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian publik menyusul meningkatnya angka kecelakaan dalam waktu singkat. Masyarakat berharap tragedi yang telah merenggut empat nyawa dalam sepekan terakhir menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk segera menghadirkan solusi, sebelum persimpangan itu kembali menambah daftar korban berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *