Jakarta | Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyatakan bahwa pengembangan sektor pertanian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga di atas 10 persen. Angka tersebut mencerminkan keyakinan yang ia kemukakan apabila potensi pertanian mampu dikembangkan dan dijalankan secara optimal. Pernyataan itu bukan target resmi pemerintah, bukan pula gambaran pertumbuhan yang telah dicapai Indonesia. Pesannya menempatkan pertanian sebagai salah satu penggerak yang berpeluang memberi kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Peluang tersebut berkaitan dengan luasnya peran pertanian dalam kegiatan ekonomi. Sektor ini mencakup produksi pangan dan berbagai komoditas, sekaligus melibatkan banyak pelaku usaha serta tenaga kerja. Ketika produktivitas dan nilai tambah meningkat, dampaknya dapat menjalar ke kegiatan lain, mulai dari pengolahan hasil hingga distribusi. Dengan demikian, pengembangan pertanian tidak hanya dipandang sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga sebagai jalan untuk memperkuat rantai ekonomi dan membuka ruang pertumbuhan yang lebih luas.
Namun, potensi besar tidak serta-merta berubah menjadi pertumbuhan tinggi. Diperlukan pelaksanaan yang konsisten, peningkatan produktivitas, dan pengelolaan yang mampu menghubungkan hasil produksi dengan kebutuhan pasar. Dukungan terhadap petani dan pelaku usaha, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kegiatan pascapanen dapat menjadi bagian dari upaya tersebut. Berbagai langkah ini perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah dan komoditas, agar pengembangan tidak berhenti pada peningkatan produksi semata, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
Karena itu, pernyataan Rachmat lebih tepat dibaca sebagai gambaran potensi bersyarat: pertanian dapat menjadi pendorong kuat bagi ekonomi jika pengembangannya benar-benar terlaksana. Besaran pertumbuhan di atas 10 persen yang disebutkan menunjukkan optimisme terhadap kontribusi sektor tersebut, bukan kepastian mengenai hasil atau jadwal pencapaiannya. Realisasi pertumbuhan tetap bergantung pada banyak faktor, termasuk keberhasilan kebijakan dan kapasitas pelaku di lapangan. Fokus pada pengembangan yang terukur dapat membantu menerjemahkan potensi pertanian menjadi kontribusi ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
Pambudy menjadikan Vietnam sebagai pembanding ketika membicarakan peluang pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor pertanian. Ia menyebut ekonomi Vietnam tumbuh sebesar 9,9 persen pada kuartal III 2026. Dalam pandangannya, angka tersebut berkaitan dengan dorongan yang diberikan kepada pertanian, bukan hanya pada satu bagian kegiatan, melainkan sejak tahap produksi hingga hasilnya dapat dipasarkan ke luar negeri. Perbandingan ini menempatkan pertanian sebagai rangkaian kegiatan yang terhubung, dari on-farm, pengolahan atau processing, sampai ekspor. Rangkaian itu menjadi kerangka yang digunakan Pambudy untuk menerangkan faktor pendorong pertumbuhan Vietnam.
Menurut Pambudy, dorongan pada tahap on-farm merupakan bagian awal dari rangkaian tersebut. Setelah itu, hasil pertanian masuk ke tahap pengolahan atau processing. Tahap berikutnya adalah ekspor. Dengan menyebut tiga bagian itu secara berurutan, Pambudy menggambarkan pendekatan Vietnam sebagai dukungan terhadap pertanian dari kegiatan di tingkat usaha tani, dilanjutkan dengan pengolahan, lalu diarahkan ke pasar ekspor. Penekanannya berada pada kesinambungan antarbagian: pertanian tidak berhenti pada on-farm, dan pengolahan tidak dipisahkan dari tujuan ekspor. Ketiganya disebut sebagai bagian dari dorongan yang sama terhadap sektor pertanian.
Pertumbuhan Vietnam sebesar 9,9 persen pada kuartal III 2026 menjadi tolok ukur dalam perbandingan yang disampaikan Pambudy. Ia mengaitkan capaian tersebut dengan penguatan pertanian melalui tahap on-farm, processing, dan ekspor. Dengan demikian, model yang ia soroti bukan semata-mata kegiatan produksi pertanian, tetapi rangkaian yang mencakup produksi, pengolahan, dan penjualan ke luar negeri. Pambudy menyampaikan hubungan itu sebagai pandangannya mengenai faktor yang menopang pertumbuhan Vietnam. Perbandingan tersebut sekaligus menunjukkan aspek yang ia angkat dalam pembahasan pertumbuhan ekonomi, yakni bagaimana dorongan pada pertanian mencakup seluruh tahapan yang disebutkan, dari awal kegiatan hingga ekspor.
Pambudy menilai Indonesia memiliki peluang untuk kembali mencatat pertumbuhan ekonomi dua digit, seperti yang pernah terjadi pada 1970–1980-an. Peluang tersebut, menurut pandangannya, berkaitan dengan kemampuan mengoptimalkan sektor pertanian. Pertanian tidak hanya dipandang sebagai salah satu bidang kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai sektor yang dapat memberi dorongan kuat terhadap laju pertumbuhan nasional apabila berkembang secara maksimal. Karena itu, pengalaman pada masa lalu menjadi rujukan untuk melihat kemungkinan pertumbuhan tinggi pada masa mendatang.
Pada periode 1970–1980-an, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh dua perkembangan yang berlangsung bersamaan. Pertama, sektor pertanian tumbuh dengan cepat dan pesat. Kedua, hilirisasi berkembang dengan baik. Pambudy mengaitkan kombinasi kedua hal tersebut dengan capaian pertumbuhan ekonomi pada masa itu. Dengan kata lain, pertumbuhan pertanian dan perkembangan hilirisasi tidak diposisikan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai unsur yang berjalan beriringan dalam mendorong kinerja ekonomi Indonesia.
Hubungan tersebut menjadi dasar pandangan bahwa penguatan pertanian dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk kembali mencapai pertumbuhan dua digit. Namun, poin yang disampaikan Pambudy bertumpu pada kondisi bahwa sektor pertanian dapat dioptimalkan, sebagaimana pertumbuhannya yang pesat pada periode sebelumnya, sementara hilirisasi turut berkembang dengan baik. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi dalam konteks yang ia sampaikan berkaitan dengan kemajuan di kedua bidang secara bersamaan. Oleh sebab itu, pertanian yang kuat dan hilirisasi yang berkembang menjadi dua bagian penting dalam gambaran peluang tersebut. Pandangan ini menghubungkan pengalaman historis Indonesia dengan kesempatan untuk mendorong ekonomi tumbuh lebih tinggi, tanpa memisahkan peran pertanian dari perkembangan hilirisasi. Bagi Pambudy, pengoptimalan sektor pertanian merupakan salah satu landasan untuk mengulang capaian pertumbuhan yang pernah diraih pada dekade 1970–1980-an, ketika pertanian tumbuh pesat dan hilirisasi berjalan baik secara bersamaan.
Selain penguatan sektor pertanian, Pambudy menyebut hilirisasi sebagai salah satu upaya untuk menambah nilai ekonomi. Pengembangan pertanian dapat membuka peluang bagi kegiatan ekonomi yang lebih luas, sementara hilirisasi mendorong agar nilai dari suatu komoditas tidak berhenti pada tahap produksi awal. Dengan demikian, kedua pendekatan tersebut dibicarakan sebagai bagian dari upaya memperkuat kontribusi sektor produktif terhadap perekonomian. Pambudy menempatkan hilirisasi bersama pengembangan pertanian dalam pembahasan mengenai cara mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Hilirisasi berkaitan dengan pengolahan lebih lanjut atas hasil produksi sehingga nilai tambah dapat tercipta di dalam rantai ekonomi. Dalam konteks ini, pendekatan tersebut disebut sebagai cara untuk memperbesar manfaat ekonomi dari potensi yang dimiliki. Pernyataan itu tidak hanya menyoroti peningkatan produksi, tetapi juga pentingnya memperkuat nilai yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi. Bersama pengembangan pertanian, hilirisasi menjadi salah satu jalur yang disampaikan untuk mendukung pertumbuhan yang lebih tinggi.
Selain itu, Pambudy menyoroti peningkatan inklusi keuangan masyarakat. Inklusi keuangan merujuk pada semakin luasnya keterlibatan masyarakat dalam layanan dan kegiatan keuangan. Dalam kerangka yang ia sampaikan, perluasan inklusi tersebut juga dipandang sebagai cara untuk menambah nilai ekonomi, melengkapi upaya pengembangan pertanian dan hilirisasi. Ketiga hal itu disebut sebagai unsur yang dapat mendukung dorongan pertumbuhan ekonomi, tanpa mengubah inti pembahasan mengenai potensi kontribusinya. Pambudy menyampaikan pernyataan tersebut di kantornya pada Senin, 19 Oktober 2026.
Baca juga: Memperkuat Paten untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia | Penguatan Keamanan Siber di Era Digital | Potensi Ekonomi dari Hilirisasi Bauksit di Indonesia
