Survei PPI: Prabowo Memimpin, Dedi Mulyadi Ungguli Anies dalam Simulasi Pilpres

Survei PPI: Prabowo Memimpin, Dedi Mulyadi Ungguli Anies dalam Simulasi Pilpres

Jakarta | Survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” menempatkan Prabowo Subianto di posisi teratas dalam simulasi pemilihan presiden jika pemungutan suara digelar saat ini. Temuan yang dirilis pada Minggu, 12 Oktober 2026, itu juga menunjukkan Dedi Mulyadi berada di urutan kedua, mengungguli Anies Baswedan. Hasil tersebut memberi gambaran mengenai peta pilihan responden pada saat survei dilakukan, bukan kepastian tentang hasil pemilu mendatang. Posisi para tokoh dapat berubah seiring perkembangan politik, kinerja pemerintahan, serta dinamika dukungan publik.

PPI menyusun tiga simulasi calon presiden, sehingga hasilnya tidak berasal dari satu skenario tunggal. Perbedaan susunan nama dalam tiap simulasi dapat memengaruhi pilihan responden dan membantu memotret persaingan dengan beberapa konfigurasi kandidat. Karena itu, posisi Prabowo, Dedi, dan Anies perlu dibaca dalam konteks skenario yang diuji, bukan sebagai perbandingan yang berdiri sendiri di luar rancangan survei. Pendekatan tersebut memberi ruang untuk melihat bagaimana dukungan terbagi ketika pilihan nama capres berubah. Angka atau urutan dari satu simulasi tidak otomatis dapat disamakan dengan hasil pada simulasi lain.

Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno menjelaskan bahwa responden diberi pertanyaan mengenai siapa yang akan dipilih sebagai presiden apabila pilpres berlangsung pada saat itu. Dengan kata lain, survei mengukur preferensi yang dinyatakan responden dalam situasi hipotetis, bukan keputusan yang sudah mengikat. Temuan ini menyoroti persaingan yang beragam: Prabowo memimpin, sementara Dedi muncul di posisi kedua dan melampaui Anies dalam hasil yang disampaikan. Namun, untuk memahami kekuatan relatif setiap tokoh secara lebih utuh, pembaca perlu memperhatikan ketiga simulasi, rumusan pertanyaan, serta konteks waktu pengumpulan data. Hasil survei merupakan potret opini publik pada periode tertentu, sehingga interpretasinya sebaiknya tetap mempertimbangkan batas tersebut.

Dalam salah satu simulasi pemilihan presiden yang dimuat dalam laporan survei PPI, Prabowo Subianto menempati posisi teratas dengan elektabilitas 31,6 persen. Di bawahnya, Dedi Mulyadi memperoleh 11,4 persen dan berada di posisi kedua, sementara Anies Baswedan mencatat 10,1 persen. Selisih Dedi dan Anies dalam skenario ini sebesar 1,3 poin persentase. Angka tersebut menunjukkan urutan pilihan responden pada simulasi yang melibatkan sejumlah nama, bukan gambaran yang dapat dilepaskan dari susunan kandidat yang diuji.

Beberapa nama lain dalam simulasi yang sama juga memperoleh dukungan. Gibran Rakabuming Raka mencatat elektabilitas 6,9 persen, disusul Ganjar Pranowo dengan 4,4 persen. Sementara itu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperoleh 2,3 persen. Dengan demikian, hasil yang dilaporkan menempatkan Prabowo jauh di atas kandidat lainnya, sedangkan persentase Dedi dan Anies berada pada kisaran yang lebih dekat. Kandidat-kandidat berikutnya memperoleh angka lebih rendah dalam skenario tersebut. Pembacaan ini merujuk pada persentase yang tercantum, tanpa menyimpulkan perubahan dukungan dari waktu ke waktu.

Penting untuk mencatat bahwa angka-angka tersebut menggambarkan satu simulasi dalam survei PPI. Susunan nama yang diajukan kepada responden dapat memengaruhi hasil, sehingga angka dari skenario ini perlu dibedakan dari hasil simulasi lain yang menggunakan jumlah atau kombinasi kandidat berbeda. Karena itu, elektabilitas Prabowo 31,6 persen, Dedi 11,4 persen, dan Anies 10,1 persen tidak boleh dicampuradukkan dengan skenario 17 nama maupun simulasi yang hanya memuat lima nama. Ketiganya merupakan hasil pengukuran tersendiri dengan komposisi kandidat yang berbeda. Menjaga pembedaan ini membantu pembaca memahami posisi masing-masing tokoh secara tepat dan menghindari penafsiran seolah seluruh persentase berasal dari satu perbandingan yang sama. Hasil tersebut juga tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan responden memilih seorang kandidat; bagian ini hanya menyampaikan perolehan yang tercatat dalam simulasi awal tersebut.

Ketika simulasi elektabilitas dikerucutkan menjadi 17 nama ketua umum partai politik, peta dukungan menunjukkan perubahan dibandingkan simulasi sebelumnya. Prabowo Subianto tetap berada di urutan pertama dengan perolehan 34 persen. Angka tersebut menegaskan bahwa ia masih menjadi kandidat dengan dukungan terbesar dalam skenario ini. Namun, penyempitan daftar nama turut mengubah posisi sejumlah tokoh lain, sehingga hasilnya tidak sepenuhnya sama dengan simulasi yang melibatkan kandidat lebih banyak atau susunan berbeda.

Anies Baswedan menempati posisi kedua dengan 19,4 persen. Capaian itu menempatkannya di bawah Prabowo, tetapi memperlihatkan kenaikan posisi dalam perbandingan dengan simulasi sebelumnya sebagaimana tercermin pada hasil survei. Jarak keduanya mencapai 14,6 poin persentase. Dengan demikian, meskipun Prabowo memimpin cukup jauh, Anies muncul sebagai pesaing terdekat dalam daftar 17 nama tersebut. Urutan ini juga menunjukkan bahwa perubahan skenario dapat memengaruhi peringkat, bahkan ketika tokoh yang berada di puncak tetap sama.

Di bawah Anies, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperoleh 11,1 persen dan berada di posisi ketiga. Gibran Rakabuming Raka menyusul dengan 10,9 persen, hanya terpaut 0,2 poin persentase dari AHY. Selisih yang tipis ini membuat persaingan keduanya tampak berdekatan dalam simulasi, walaupun AHY masih menempati urutan lebih tinggi. Secara keseluruhan, susunan hasilnya adalah Prabowo dengan 34 persen, Anies 19,4 persen, AHY 11,1 persen, lalu Gibran 10,9 persen. Pembacaan angka dan urutan ini penting untuk membedakan hasil simulasi 17 nama dari simulasi sebelumnya: Prabowo tetap memimpin, Anies berada di posisi kedua, sementara AHY dan Gibran bersaing ketat di bawahnya. Angka tersebut menggambarkan dukungan responden pada skenario yang diuji, bukan kepastian mengenai hasil pemilihan. Karena itu, pergeseran peringkat sebaiknya dipahami dalam konteks daftar kandidat yang digunakan oleh lembaga survei.Dalam simulasi pemilihan presiden 2029 yang melibatkan lima nama, Prabowo Subianto memperoleh tingkat dukungan tertinggi, yakni 40,5 persen. Hasil tersebut menempatkannya di posisi pertama dalam daftar kandidat yang diuji. Anies Baswedan berada di urutan berikutnya dengan 17,7 persen, disusul Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang mencatat 14 persen. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka memperoleh 12,2 persen dan Pramono Anung meraih 3,9 persen.

Angka-angka itu merupakan hasil simulasi yang disampaikan dalam survei PPI. Urutan dukungan pada simulasi tersebut dimulai dari Prabowo, kemudian Anies, AHY, Gibran, dan Pramono. Selisih perolehan Prabowo dan Anies tercatat 22,8 poin persentase. Anies juga unggul 3,7 poin persentase dibandingkan AHY, sedangkan jarak dukungan AHY dengan Gibran adalah 1,8 poin persentase. Perolehan Pramono berada di bawah empat nama lainnya dalam pengujian lima kandidat itu.

Simulasi ini menggambarkan pilihan responden ketika lima nama tersebut diajukan sebagai kandidat untuk Pilpres 2029. Persentase yang disebutkan merujuk pada masing-masing nama dalam hasil survei; tidak ada rincian tambahan dalam data yang disampaikan mengenai pilihan kandidat lain atau jawaban responden di luar lima nama tersebut. Karena itu, hasil ini dapat dibaca sesuai cakupan simulasi yang dilaporkan, tanpa mengasumsikan perubahan dukungan ataupun hasil pemilihan mendatang.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 26 September hingga 6 Oktober 2026. Pengumpulan data melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Responden berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Dengan jumlah dan cakupan responden tersebut, survei mencantumkan margin of error sebesar 2,83 persen. Keterangan mengenai waktu pelaksanaan, jumlah responden, cakupan wilayah, batas usia, dan margin of error tersebut merupakan metodologi yang tersedia untuk membaca hasil simulasi lima kandidat ini.

Baca juga: Beri Kuliah Program Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Setuju Parliamentary Threshold 5 Persen, Dorong Terjadi Penyederhanaan Sistem Kepartaian dan Pemisahan Pilpres dan Pileg | Prabowo Nyatakan Pendidikan Gratis untuk Semua Jenjang | Reshuffle Menteri Keuangan: Langkah Strategis Prabowo untuk Pemerintahan