Dari Rumah Sie Kong Lian hingga Museum Sumpah Pemuda

Dari Rumah Sie Kong Lian hingga Museum Sumpah Pemuda

Jakarta | Museum Sumpah Pemuda terletak di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat. Bangunan yang kini menjadi museum ini dahulu dikenal sebagai rumah Sie Kong Lian. Pada awal abad ke-20, tempat tersebut digunakan sebagai rumah tinggal dan ruang berkumpul, lalu menjadi salah satu lokasi penting bagi kaum muda yang memperjuangkan gagasan kebangsaan. Letaknya di kawasan yang mudah dijangkau turut mendukung pemanfaatannya sebagai tempat pertemuan dan kegiatan organisasi.

Nilai sejarah gedung ini terutama berkaitan dengan Kongres Pemuda II, pertemuan yang menghimpun berbagai organisasi pemuda dari beragam daerah. Para peserta membahas persatuan, identitas kebangsaan, serta bahasa yang dapat menjadi pemersatu. Pada masa itu, para pemuda berasal dari latar organisasi dan wilayah yang berbeda, tetapi berupaya membangun tujuan bersama. Gedung di Kramat Raya menjadi ruang bagi gagasan tersebut untuk dirumuskan dan disampaikan secara terbuka.

Rencana penyelenggaraan Kongres Pemuda II diputuskan di gedung ini pada 15 Agustus 1928. Persiapan tersebut kemudian berlanjut menjadi kongres yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928. Rangkaian pertemuan itu diselenggarakan di beberapa tempat di Batavia, dengan pembahasan yang berkembang dari soal pendidikan dan kebudayaan hingga cita-cita persatuan. Karena itu, gedung Kramat 106 bukan sekadar tempat berlangsungnya sebuah acara, melainkan bagian dari proses yang menghubungkan berbagai kelompok pemuda.

Pada 28 Oktober 1928, rapat ketiga Kongres Pemuda II berlangsung di gedung tersebut. Dalam kesempatan itu, ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda dibacakan. Isinya menegaskan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia. Peristiwa tersebut memberi makna khusus pada rumah Sie Kong Lian dalam sejarah pergerakan nasional. Kini, Museum Sumpah Pemuda merawat ingatan tentang kongres dan para pemuda yang mendorong lahirnya kesadaran kebangsaan. Pengunjung dapat melihat gedung itu sebagai saksi nyata sebuah langkah penting menuju persatuan Indonesia.Bangunan yang kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda bermula sebagai rumah tinggal milik Sie Kong Lian, seorang pengusaha Tionghoa, pada awal abad ke-20. Letaknya di Weltevreden, kawasan yang saat itu berkembang sebagai pusat kehidupan kota Batavia. Sejak 1908, rumah tersebut disewa oleh para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) dan Rechtsschool. Mereka menjadikannya tempat tinggal sekaligus ruang untuk belajar, berdiskusi, dan bertukar gagasan. Perubahan penggunaan ini membuat rumah tersebut tidak lagi sekadar kediaman pribadi. Kehadiran para pelajar dari lingkungan pendidikan yang berbeda turut membentuk suasana intelektual yang kelak memberi arti penting bagi bangunan itu dalam sejarah pergerakan pemuda Indonesia.

Pada 1927, sejumlah organisasi pergerakan pemuda menggunakan gedung tersebut untuk berkumpul dan menjalankan kegiatan. Di antaranya terdapat Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), organisasi yang mendorong persatuan di para pemuda dari berbagai daerah. Gedung itu kemudian dikenal sebagai Indonesische Clubgebouw, yang berarti gedung pertemuan. Fungsinya sebagai tempat bertukar pikiran dan berorganisasi menjadikannya ruang yang sesuai untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda II. Pertemuan bersejarah tersebut berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 dan menghasilkan ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Dengan demikian, pemilihan gedung bukan hanya berhubungan dengan ketersediaan ruang, tetapi juga dengan aktivitas organisasi yang telah menghidupkannya sebagai pusat pergerakan.

Setelah masa pergerakan, fungsi bangunan berubah beberapa kali. Gedung itu pernah digunakan kembali sebagai rumah tinggal, kemudian menjadi toko bunga, hotel, dan kantor. Perubahan tersebut mencerminkan perjalanan panjang bangunan dalam lingkungan kota yang terus berkembang, sekaligus membuat riwayatnya sebagai tempat berkumpul para pemuda berisiko terlupakan. Pemerintah daerah DKI Jakarta kemudian melakukan pemugaran pada 1973 untuk merawat bangunan dan mengangkat kembali nilai sejarahnya. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikannya sebagai museum pada 20 Mei 1973. Namun, nama Museum Sumpah Pemuda baru ditetapkan secara resmi pada 7 Februari 1983. Sejak itu, bangunan yang dahulu menjadi rumah dan gedung pertemuan tersebut berfungsi sebagai tempat pelestarian sejarah Kongres Pemuda II serta perjalanan organisasi pemuda Indonesia.

Koleksi Museum Sumpah Pemuda merekam gagasan, tokoh, dan peristiwa yang membentuk sejarah pergerakan pemuda Indonesia. Di benda yang menarik perhatian pengunjung ialah biola milik Wage Rudolf Supratman. Instrumen tersebut digunakan untuk memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” dalam Kongres Pemuda II, momen penting dalam perjalanan kebangsaan. Keberadaan biola itu menghubungkan sebuah benda dengan peristiwa yang dikenang luas: para pemuda dari berbagai organisasi berkumpul, bertukar gagasan, dan menyatakan ikrar bersama. Koleksi museum memberi gambaran tentang gerakan tersebut melalui benda, foto, dan dokumentasi yang berkaitan dengan masa itu. Pengunjung dapat menelusuri jejaknya dengan melihat unsur-unsur yang disimpan dan dipamerkan di dalam museum.

Pada salah satu dinding museum terdapat replika naskah Sumpah Pemuda. Naskah itu ditulis dengan ejaan lama dan memuat ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, serta satu bahasa persatuan, Indonesia. Teks tersebut memperlihatkan inti kesepakatan yang menjadi penanda penting Kongres Pemuda II. Replika itu melengkapi koleksi lain yang mendokumentasikan peristiwa dan tokoh pergerakan. Foto tokoh-tokoh pemuda dan dokumentasi kongres membantu pengunjung mengenali orang-orang serta kegiatan yang berkaitan dengan pergerakan. Benda terkait Mohammad Yamin dan Prof. Mr. Soenario juga menjadi bagian dari koleksi. Melalui ragam materi tersebut, museum menghadirkan rekaman sejarah dalam bentuk yang dapat diamati secara langsung, bukan hanya melalui uraian tertulis.

Koleksi lain mencakup bendera INPO dan Monumen Persatuan Pemuda. Kehadiran benda-benda itu memperluas gambaran mengenai organisasi, tokoh, dan simbol yang berkaitan dengan gerakan pemuda. Bersama biola Supratman, replika naskah, foto, serta dokumentasi kongres, setiap koleksi menyusun rangkaian pengingat tentang peristiwa yang melatari lahirnya ikrar persatuan. Pengunjung dapat melihat keterkaitan pernyataan tentang tanah air, bangsa, dan bahasa dengan dokumentasi pergerakan yang tersimpan di museum. Benda-benda tersebut tidak berdiri sebagai pajangan semata; sebagai koleksi sejarah, semuanya menjadi bahan untuk memahami bagaimana gagasan persatuan dicatat dan dikenang. Dengan menelusuri koleksi yang dipamerkan, pengunjung memperoleh gambaran tentang warisan gerakan pemuda Indonesia dan peristiwa yang terus menjadi bagian dari ingatan kebangsaan.

Museum Sumpah Pemuda dapat dikunjungi pada Selasa hingga Kamis serta Sabtu dan Minggu, mulai pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. Pada hari Jumat, jam kunjungan berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.30 WIB. Museum tidak beroperasi setiap Senin dan pada hari libur besar. Perbedaan waktu tutup pada Jumat perlu diperhatikan ketika menyusun rencana perjalanan, terutama bagi pengunjung yang ingin datang menjelang sore. Sebaiknya periksa kembali jadwal sebelum berangkat, khususnya apabila kunjungan bertepatan dengan hari libur, agar perjalanan tidak berujung pada kedatangan saat museum tutup.

Harga tiket dibedakan berdasarkan usia dan kategori pengunjung. Pengunjung domestik berusia di atas 12 tahun dikenai tarif Rp5.000, sedangkan anak berusia 3 hingga 12 tahun membayar Rp3.000. Untuk wisatawan asing, harga tiket masuk sebesar Rp25.000. Perbedaan tarif ini memudahkan keluarga memperkirakan biaya sebelum berkunjung. Jika datang bersama anak-anak, hitung jumlah tiket menurut kelompok usia masing-masing; anak berusia 3–12 tahun menggunakan tarif anak, sementara pengunjung domestik yang berusia lebih dari 12 tahun mengikuti tarif dewasa domestik. Wisatawan asing perlu memperhitungkan tarif tersendiri.

Agar kunjungan berjalan lancar, tentukan hari kedatangan terlebih dahulu dengan mencocokkannya pada jadwal operasional, lalu siapkan anggaran tiket sesuai jumlah dan kategori pengunjung.