Kabupaten Minahasa Selatan | Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene mengingatkan bahwa edukasi mengenai stunting seharusnya tidak berhenti pada penyampaian informasi. Pengetahuan baru akan memberi dampak apabila diterapkan menjadi kebiasaan nyata di dalam keluarga. Orang tua, calon orang tua, dan anggota keluarga lain perlu memahami bahwa upaya pencegahan berkaitan dengan pilihan dan perhatian sehari-hari, bukan semata-mata materi yang didengar dalam kegiatan sosialisasi. Karena itu, informasi perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dilakukan secara konsisten di rumah dan lingkungan sekitar.
Menurut Felly, edukasi perlu disampaikan berulang kali agar semakin banyak masyarakat mengenal stunting serta memahami langkah pencegahannya. Pengulangan membantu pesan menjangkau orang yang belum pernah memperoleh informasi, sekaligus menguatkan pemahaman mereka yang sudah pernah mendengarnya. Penyampaian juga perlu dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dekat dengan kehidupan masyarakat, sehingga pesan tidak terasa sebagai pengetahuan yang jauh dari kebutuhan sehari-hari. Ketika informasi diterima berulang melalui berbagai kesempatan, keluarga memiliki peluang lebih besar untuk mengingatnya, membicarakannya bersama, lalu membangun kebiasaan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Felly menekankan bahwa keberhasilan menurunkan angka stunting membutuhkan keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat, bukan hanya pelaksanaan program oleh pemerintah. Program dan dukungan pemerintah tetap penting, tetapi hasilnya akan lebih kuat jika orang tua, kerabat, dan warga turut mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing. Kepedulian bersama dapat membantu memastikan edukasi tidak berhenti di ruang pertemuan, melainkan hadir dalam keputusan dan tindakan keluarga. Dengan kerja sama tersebut, upaya pencegahan diharapkan memberi hasil yang lebih baik daripada target yang telah ditetapkan. Pesan utamanya ialah menjadikan pengetahuan sebagai kebiasaan, sehingga komitmen mengatasi stunting tumbuh dan terpelihara dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kegiatan fasilitasi teknis Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Kelurahan Rumoong Bawah, Kecamatan Rumoong Barat, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, pada Senin (26/10), Felly menekankan bahwa edukasi pencegahan stunting perlu diwujudkan menjadi kebiasaan nyata di dalam keluarga. Pengetahuan yang disampaikan dalam kegiatan, menurutnya, akan lebih bermakna apabila diterapkan secara konsisten melalui keputusan sehari-hari yang mendukung kesehatan ibu dan anak.
Upaya tersebut tidak seharusnya baru dimulai ketika seorang anak terlihat mengalami gangguan pertumbuhan. Perhatian perlu diberikan sejak sebelum kehamilan, dilanjutkan selama masa kehamilan, hingga anak memasuki usia balita. Dengan pendekatan sepanjang siklus tersebut, keluarga dapat lebih siap memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi pada setiap tahap perkembangan. Kesiapan calon orang tua, termasuk pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan pemenuhan gizi, menjadi bagian penting dari pencegahan sejak dini.
Selama kehamilan, ibu perlu memperoleh pemeriksaan kesehatan secara teratur agar kondisi ibu dan janin dapat dipantau serta masalah dapat ditangani sedini mungkin. Pemenuhan gizi seimbang juga harus menjadi perhatian keluarga, termasuk memastikan asupan protein hewani yang sesuai. Setelah bayi lahir, pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif menjadi langkah penting dalam mendukung kebutuhan gizi dan kesehatan bayi. Ketika anak mulai membutuhkan makanan pendamping ASI, keluarga perlu memberikan MPASI dengan waktu, tekstur, dan komposisi yang tepat sesuai tahap usianya.
Perlindungan anak juga mencakup imunisasi sesuai jadwal serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin. Pengukuran berat badan dan tinggi badan, disertai konsultasi dengan tenaga kesehatan, membantu keluarga mengetahui apakah pertumbuhan anak berlangsung sesuai tahap perkembangannya. Jika ditemukan tanda yang memerlukan perhatian, tindak lanjut dapat dilakukan lebih cepat. Pesan Felly menempatkan keluarga sebagai pelaku utama pencegahan: membangun rutinitas sehat, mencari informasi yang dapat dipercaya, dan memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia. Dengan demikian, edukasi stunting tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi diterapkan berkelanjutan sejak persiapan kehamilan sampai anak tumbuh menjadi balita.Felly menekankan bahwa dukungan terhadap pertumbuhan anak tidak berhenti pada penyampaian informasi mengenai stunting. Pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang dilakukan keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, penerapan delapan fungsi keluarga menjadi bagian penting dari upaya mendukung anak, sejalan dengan pengasuhan yang penuh kasih sayang. Keduanya membantu membangun lingkungan yang memberi ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara sehat. Penekanan ini mengingatkan bahwa keluarga bukan sekadar penerima edukasi, melainkan pihak yang berperan menjaga agar pemahaman tentang pencegahan stunting benar-benar hadir dalam praktik keseharian.
Pengasuhan yang penuh kasih sayang turut menunjang pertumbuhan fisik, perkembangan mental, dan pembentukan karakter anak. Perhatian dan kepedulian orang tua dapat membuat anak merasa aman serta didukung selama menjalani proses tumbuh kembangnya. Hal ini tidak berarti keluarga harus melakukan langkah yang rumit. Yang diperlukan adalah kepedulian yang konsisten dan kesediaan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam hubungan serta rutinitas bersama anak. Dengan demikian, edukasi pencegahan stunting dapat memiliki makna lebih luas: bukan hanya sebagai informasi, tetapi juga sebagai landasan bagi keluarga dalam mendampingi kebutuhan anak setiap hari.
Penerapan pengetahuan secara berkelanjutan menjadi penting karena tumbuh kembang anak berlangsung dari waktu ke waktu. Keluarga dapat menjadikan pemahaman tentang pencegahan stunting sebagai pengingat untuk terus memperhatikan dukungan yang diberikan kepada anak, sekaligus membangun pola pengasuhan penuh kasih sayang. Pesan Felly tentang delapan fungsi keluarga dan pengasuhan ini menempatkan kebiasaan keluarga sebagai bagian dari upaya menjaga perkembangan anak secara menyeluruh. Ketika edukasi diterapkan secara konsisten, dukungan bagi pertumbuhan fisik, perkembangan mental, dan pembentukan karakter tidak hanya muncul sesaat setelah kegiatan penyuluhan, tetapi dapat menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Karena itu, perubahan yang diharapkan berawal dari pemahaman yang dilanjutkan dengan praktik nyata dan terpelihara dalam keseharian.
Wakil Bupati Minahasa Selatan, Brigjen TNI (Purn.) Theodorus Kawatu, mendorong seluruh pemangku kepentingan daerah untuk memperkuat kerja sama dalam upaya menurunkan stunting. Pemerintah daerah, perangkat terkait, kader posyandu, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari menyampaikan informasi hingga mendampingi keluarga menerapkan pola hidup sehat. Edukasi tidak cukup berhenti pada kegiatan sosialisasi atau penyampaian materi. Pesan tentang pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pengasuhan perlu diteruskan secara jelas, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan setiap keluarga. Dengan keterlibatan bersama, dukungan kepada keluarga dapat menjangkau lebih banyak warga dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kawatu juga berharap kader posyandu dan unsur masyarakat aktif menjadi penghubung program pemerintah dan keluarga. Pendampingan yang dekat memungkinkan informasi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami sekaligus membuka ruang bagi keluarga untuk bertanya dan memperoleh arahan. Komitmen bersama di tingkat daerah diharapkan mempercepat penurunan stunting, bukan hanya melalui intervensi, tetapi juga dengan menguatkan penerapan delapan fungsi keluarga. Fungsi tersebut dapat menjadi landasan bagi keluarga untuk menjaga kesehatan, membangun ketahanan, memberikan pendidikan, serta menanamkan nilai dan karakter kepada anak. Ketika pesan edukasi diikuti tindakan nyata di rumah, upaya membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter akan semakin terarah.
Sinergi yang berkelanjutan membutuhkan koordinasi, pembagian peran yang jelas, dan perhatian terhadap perkembangan pelaksanaan di lapangan. Pemerintah daerah bersama perangkat dan kader dapat menghubungkan layanan serta pendampingan, sementara masyarakat turut menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan. Kawatu berharap fasilitasi teknis Bangga Kencana dapat membantu memperkuat pemahaman para pelaksana dan keluarga mengenai tujuan serta cara menjalankan program.
Baca juga: Wisuda Ke-42 PNJ: Rekor Lulusan dan Tingkat Penyerapan Kerja yang Menggembirakan | Krisis Air Bersih di Tigaraksa, 300 Keluarga Terpaksa Berjuang | Kisah Tragis Penyiraman Air Keras yang Berujung pada Kehilangan Nyawa






