Jakarta | Karya tulis Gempita Nora Marten, yang akrab dikenal sebagai Gempi, berjudul “Penghancur Hutan” terpilih menjadi judul utama dalam komik serial Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) terbitan Mizan. Karya tersebut berawal dari tugas Bahasa Indonesia yang dikerjakan Gempi di sekolah. Dari tugas kelas itu, tulisannya kemudian mendapat kesempatan untuk hadir dalam bentuk komik dan dibaca oleh khalayak yang lebih luas.
Dalam konteks ini, kisah terpilihnya tulisan Gempi berpusat pada asal-usul karya dan bentuk penerbitannya. Judul itu pertama kali dibuat sebagai tugas pelajaran Bahasa Indonesia, lalu masuk ke dalam rangkaian cerita anak KKPK yang diterbitkan Mizan. Perubahan dari karya tulis menjadi komik juga menempatkan cerita tersebut dalam format yang berbeda dari tugas awalnya, tanpa mengubah fakta bahwa titik mulanya adalah kegiatan sekolah. Tidak ada rincian lain mengenai isi cerita yang diperlukan untuk memahami kabar pemilihannya.
Peristiwa ini menyoroti kesempatan bagi karya anak untuk memperoleh pembaca melalui penerbitan. Bagi Gempi, tulisan yang dibuat untuk memenuhi tugas sekolah kemudian terpilih di delapan cerita yang diadaptasi menjadi komik, sekaligus menjadi judul utama. Informasi tersebut menjadi inti kabar mengenai “Penghancur Hutan”: sebuah karya dari tugas Bahasa Indonesia yang melangkah ke ranah buku komik melalui serial KKPK. Dengan demikian, jalur karya ini dapat dijelaskan secara sederhana, dari tugas sekolah hingga terbit sebagai bagian dari komik anak Mizan.
Gisella Anastasia membagikan kabar mengenai pencapaian Gempi melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @gisel_la. Dalam unggahan tersebut, ia menyampaikan bahwa cerita yang ditulis putrinya terpilih untuk masuk dalam kumpulan cerita anak KKPK. Kabar ini menjadi momen istimewa bagi Gisel, bukan hanya karena karya Gempi mendapat kesempatan untuk dibaca lebih luas, tetapi juga karena cerita itu terpilih bersama tujuh cerita anak lainnya. Informasi mengenai unggahan tersebut dikutip pada Kamis (29/10/2026). Keterangan waktu itu menjadi acuan pemberitaan, tanpa perlu menambahkan urutan peristiwa atau rincian lain yang tidak disampaikan dalam sumber.
Gisel mengungkapkan rasa bangga sekaligus haru atas pencapaian sang putri. Perasaan tersebut menunjukkan bahwa terpilihnya cerita Gempi memiliki arti tersendiri bagi keluarga, terutama karena karya itu berasal dari pengalaman menulis seorang anak. Meski kabar yang dibagikan berpusat pada hasil seleksi, respons Gisel juga memperlihatkan dukungan terhadap usaha Gempi dalam menghasilkan cerita. Ia menyampaikan kebahagiaannya melalui media sosial, tempat ia membagikan kabar itu kepada para pengikutnya. Tanpa menambahkan kutipan langsung yang tidak tersedia, pesan utamanya tetap jelas: Gisel merasa bangga dan tersentuh ketika mengetahui cerita Gempi mendapat tempat di karya anak lainnya.
Terpilihnya cerita Gempi bersama tujuh cerita lain menempatkan karyanya dalam sebuah pilihan yang melibatkan sejumlah penulis cilik. Bagi Gempi, hal ini menjadi pengakuan atas cerita yang ia buat, sementara bagi Gisel, kabar tersebut menjadi alasan untuk merayakan proses dan hasil karya putrinya. Unggahan di akun @gisel_la sekaligus menjadi sumber informasi mengenai pencapaian itu. Rincian yang dapat dipastikan dari kabar tersebut mencakup nama Gempi, keterpilihan ceritanya untuk KKPK, adanya tujuh cerita anak lain yang turut terpilih, serta rasa bangga dan haru yang dirasakan Gisel. Keterangan ini mempertahankan fokus pada informasi yang disampaikan, tanpa mengasumsikan isi cerita, proses seleksi, atau tanggapan lain yang tidak disebutkan.
Perjalanan sebuah tulisan dari tugas sekolah menjadi komik menunjukkan bagaimana karya yang berawal dari kegiatan belajar dapat memperoleh ruang baru. Bagi Gempi, cerita yang dibuat dalam konteks tugas itu kemudian diangkat ke bentuk komik, sehingga tidak hanya tersimpan sebagai bagian dari pekerjaan sekolah. Perubahan bentuk tersebut membuka kesempatan bagi cerita untuk dibaca oleh lebih banyak orang. Sebuah tugas yang semula hadir dalam lingkup belajar seorang anak pun dapat berkembang menjadi karya yang menjangkau pembaca di luar lingkungan awalnya. Peralihan ini menjadi bagian penting dari kisah Gempi, tanpa mengubah kenyataan bahwa cerita tersebut bermula dari proses sederhana sebagai seorang pelajar.
Kesempatan untuk hadir sebagai komik memberi cerita Gempi wujud yang berbeda dan memungkinkan pembaca menemui kisahnya melalui medium yang lebih luas. Komik menggabungkan cerita dengan gambar, sehingga karya yang sebelumnya dibuat sebagai tugas dapat dinikmati dalam format lain. Namun, hal yang menonjol bukan semata-mata perubahan medianya, melainkan perjalanan karya anak dari ruang belajar menuju kesempatan untuk dibaca lebih banyak orang. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa gagasan dan latihan yang muncul dalam proses belajar dapat memiliki nilai bagi pembaca lain. Cerita Gempi menjadi contoh sebuah karya yang berangkat dari pengalaman belajar, lalu memperoleh kesempatan untuk hadir di hadapan khalayak yang lebih luas.
Bagi Gempi, kisah ini merupakan pengalaman istimewa karena awalnya berhubungan dengan kegiatan yang biasa dijalani seorang anak di sekolah. Tugas sekolah menjadi titik mula, sementara perjalanannya sebagai komik menghadirkan kesempatan yang berbeda bagi cerita tersebut. Pencapaian itu dapat dipandang sebagai bagian dari proses tumbuh dan belajar: sebuah tulisan dibuat, kemudian memperoleh bentuk serta jangkauan baru. Tanpa perlu menambahkan hal-hal di luar informasi yang tersedia, perjalanan tersebut sudah memperlihatkan hubungan kegiatan belajar dan kemungkinan berkarya. Cerita Gempi mengingatkan bahwa karya anak dapat berawal dari tugas sederhana dan, ketika mendapat kesempatan untuk diterbitkan dalam bentuk komik, menjangkau pembaca yang lebih banyak daripada lingkup awalnya.
Bagi Gisel, terpilihnya cerita Gempi untuk diterbitkan dalam KKPK memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar melihat sebuah karya anak masuk ke dalam buku. Pencapaian itu juga menjadi pengingat bahwa kreativitas anak perlu mendapat ruang untuk tumbuh. Ketika gagasan mereka didengarkan dan diberi kesempatan untuk diwujudkan, anak dapat mengembangkan minat serta keberanian dalam berkarya. Dalam pandangan Gisel, cerita yang bermula dari tugas sekolah dapat berkembang menjadi karya yang dibaca lebih banyak orang apabila anak memperoleh dukungan dan kesempatan yang sesuai.
Ruang bagi kreativitas tidak hanya berarti memberikan pujian atas hasil akhir. Anak juga perlu diberi peluang untuk mencoba, menuangkan ide, dan menyelesaikan karya dengan caranya sendiri. Proses tersebut dapat membantu mereka mengenali hal-hal yang disukai sekaligus membangun kepercayaan diri. Pengalaman Gempi memperlihatkan bahwa kegiatan sederhana, seperti mengerjakan tugas, dapat menjadi awal bagi sebuah karya kreatif. Karena itu, perhatian terhadap minat anak dan dukungan terhadap prosesnya penting agar mereka tidak merasa bahwa menulis atau berkreasi hanya dilakukan untuk memenuhi kewajiban.
Gisel juga menekankan pentingnya kebiasaan membaca dan menulis yang terus didorong, terutama di tengah perkembangan teknologi digital yang berlangsung pesat. Kehadiran teknologi membawa perubahan dalam keseharian anak, sehingga membaca dan menulis tetap perlu mendapat tempat sebagai kegiatan yang bernilai. Kebiasaan membaca dapat memberi anak bahan dan inspirasi, sementara menulis menjadi cara untuk menyampaikan gagasan mereka. Pesan Gisel menempatkan penerbitan cerita Gempi sebagai salah satu kesempatan untuk menghargai kreativitas anak, sekaligus mengingatkan bahwa dukungan terhadap kegiatan membaca dan menulis perlu terus hadir. Dengan memberi ruang bagi anak untuk berkarya dan membangun kebiasaan literasi, orang dewasa dapat mendukung perkembangan minat mereka tanpa mengabaikan perubahan zaman.
Baca juga: Pembangunan Sekolah Ramah Disabilitas di Kebayoran Lama | Renovasi Sekolah di DKI Jakarta: Menyongsong Masa Depan yang Lebih Baik | Kekerasan di Dunia Pendidikan: Mantan Kepala Sekolah SMPN 18 Malang Terancam Hukum






