Minerba Convex 2026 Siapkan Ruang Dialog dan Pendampingan bagi Pelaku Tambang

Minerba Convex 2026 Siapkan Ruang Dialog dan Pendampingan bagi Pelaku Tambang

Jakarta | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara bersama asosiasi pengusaha pertambangan akan menggelar Mineral dan Batu Bara Convention Expo (Minerba Convex) 2026. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 2–3 November 2026 di JI Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Dengan demikian, agenda tersebut masih akan diselenggarakan pada tanggal yang telah ditetapkan, bukan kegiatan yang sudah berlangsung. Penyelenggaraannya melibatkan dukungan 18 asosiasi serta organisasi pendukung di sektor pertambangan, yang menjadi bagian dari kolaborasi untuk menghadirkan ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan industri mineral dan batu bara.

Pemilihan Jakarta sebagai lokasi kegiatan menempatkan Minerba Convex di pusat kegiatan nasional dan memberi peluang bagi peserta dari berbagai daerah untuk hadir. Selama dua hari, konvensi dan pameran ini direncanakan menjadi wadah bagi pelaku usaha, asosiasi, organisasi pendukung, serta pihak lain yang berkaitan dengan sektor pertambangan. Kehadiran beragam unsur tersebut diharapkan membantu memperluas pertukaran informasi dan membuka kesempatan untuk membicarakan kebutuhan industri secara langsung. Dukungan dari 18 asosiasi dan organisasi juga menunjukkan keterlibatan luas kalangan sektor dalam persiapan acara.

Minerba Convex 2026 akan menjadi salah satu agenda yang mempertemukan pihak-pihak terkait pertambangan mineral dan batu bara dalam satu lokasi. Rangkaian kegiatan yang berlangsung di JI Expo Kemayoran pada 2–3 November itu dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi, menjajaki kerja sama, dan menyampaikan berbagai perspektif mengenai perkembangan usaha tambang. Informasi mengenai jadwal dan tempat ini penting bagi calon peserta maupun pihak yang ingin mengikuti perkembangan kegiatan, sehingga mereka dapat merencanakan kehadiran lebih awal. Dengan dukungan pemerintah dan organisasi sektor, penyelenggaraan acara tersebut diarahkan untuk menyediakan ruang dialog dan interaksi lintas pemangku kepentingan.

Minerba Convex 2026 dirancang sebagai ruang dialog yang mempertemukan berbagai pihak dengan kepentingan dan perspektif beragam dalam industri pertambangan. Pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, akademisi, peneliti, tenaga profesional, masyarakat, hingga media diharapkan dapat berinteraksi dalam satu forum. Pertemuan lintas pemangku kepentingan ini memberi kesempatan untuk bertukar informasi, menyampaikan pandangan, serta membahas perkembangan dan tantangan sektor mineral dan batu bara.

Rancangan tersebut menempatkan komunikasi dan kolaborasi sebagai bagian penting dari kegiatan, bukan sekadar agenda pertemuan. Dengan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, forum ini dapat membantu memperluas pemahaman mengenai industri minerba dan isu-isu yang berkaitan dengannya. Ruang dialog juga memungkinkan informasi dan pengalaman dari pemerintah, dunia usaha, kalangan ilmiah, pekerja profesional, masyarakat, serta media untuk saling melengkapi. Dengan demikian, pembahasan diharapkan dapat berlangsung dengan perspektif yang lebih berimbang.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Minerba Convex merupakan upaya bersama untuk meningkatkan pemahaman, membangun persepsi yang positif dan berimbang, serta mendorong kerja sama di industri pertambangan, khususnya subsektor mineral dan batu bara. Pernyataan tersebut disampaikan Tri dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Penekanan pada upaya bersama menunjukkan bahwa pemahaman publik dan perkembangan industri tidak hanya menjadi perhatian satu kelompok, tetapi memerlukan keterlibatan banyak pihak.

Melalui pertemuan para pemangku kepentingan, Minerba Convex 2026 diharapkan dapat membuka peluang komunikasi yang lebih terarah dan berkelanjutan. Pemerintah dan pelaku usaha dapat berdialog dengan akademisi serta peneliti, sementara masyarakat dan media turut memperoleh ruang untuk memahami persoalan serta menyampaikan perhatian. Interaksi semacam ini dapat menjadi landasan untuk membangun persepsi yang lebih utuh tentang kegiatan pertambangan dan mendorong kerja sama yang relevan. Dengan mempertemukan beragam suara, forum tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman bersama terhadap peran dan tantangan subsektor mineral dan batu bara.

Tri menjelaskan bahwa subsektor mineral dan batu bara (minerba) memiliki peran strategis dalam pembangunan Indonesia. Peran tersebut berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan energi nasional, sebab hasil pertambangan menjadi bahan baku bagi industri energi. Dengan demikian, kegiatan minerba terhubung dengan kebutuhan sektor energi serta agenda pembangunan yang lebih luas. Penjelasan ini menempatkan minerba sebagai subsektor yang hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung industri energi. Tri juga menekankan bahwa besarnya peran tersebut berkaitan dengan manfaat ekonomi dan kewajiban pengelolaan yang menyertainya.

Manfaat yang disebutkan Tri mencakup kontribusi terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dorongan bagi investasi, serta terciptanya aktivitas ekonomi dan lapangan kerja. Aktivitas tersebut berlangsung di berbagai daerah tempat industri pertambangan beroperasi. Kontribusi PNBP menunjukkan salah satu jalur manfaat subsektor ini bagi negara, sementara investasi dan kegiatan ekonomi berkaitan dengan keberadaan industri di wilayah operasionalnya. Kesempatan kerja juga tercipta di daerah-daerah tersebut. Manfaat-manfaat itu menjelaskan keterkaitan minerba dengan penerimaan negara dan kegiatan ekonomi di berbagai wilayah, sebagaimana dipaparkan Tri.

Namun, besarnya peran dan manfaat minerba berjalan seiring dengan tanggung jawab pengelolaan. Tri menegaskan bahwa kegiatan pertambangan perlu memperhatikan keselamatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta kepentingan pembangunan nasional. Aspek-aspek tersebut menjadi perhatian dalam mengelola subsektor yang mendukung kebutuhan energi dan berkontribusi terhadap PNBP, investasi, aktivitas ekonomi, serta lapangan kerja. Dengan mengaitkan manfaat dan tanggung jawab itu, penjelasan Tri menempatkan pengelolaan yang bertanggung jawab sebagai bagian penting dari peran minerba. Keselamatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan kepentingan nasional perlu menjadi pertimbangan dalam kegiatan industri pertambangan di berbagai daerah operasionalnya.

Minerba Convex 2026 diharapkan menjadi ruang yang mendukung pelaku usaha pertambangan dalam menjalankan kegiatan usahanya, termasuk saat menghadapi tahapan administrasi dan perencanaan. Dukungan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui penyampaian informasi, tetapi juga melalui kesempatan untuk berkonsultasi dan memperoleh pendampingan. Dengan demikian, pelaku usaha dapat membahas kendala yang ditemui serta memahami langkah yang perlu disiapkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Salah satu perhatian dalam kegiatan ini adalah proses penyusunan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Melalui konsultasi dan pendampingan, peserta diharapkan mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai proses penyusunan dokumen, kebutuhan perencanaan, serta hal-hal yang perlu diperhatikan agar pengajuan dapat dilakukan dengan baik. Ruang konsultasi juga dapat membantu pelaku usaha mengidentifikasi bagian yang masih memerlukan penjelasan, sehingga proses persiapan tidak hanya berfokus pada pemenuhan dokumen, tetapi turut mendukung perencanaan kegiatan yang terarah.

Tri berharap penyusunan RKAB ke depan dapat berlangsung lebih baik dan lancar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perbaikan dalam proses tersebut diharapkan membantu pelaku usaha menyiapkan rencana secara lebih matang, sekaligus mendukung pelaksanaan kegiatan pertambangan yang efektif dan sesuai ketentuan. Harapan ini penting karena kualitas perencanaan berkaitan dengan kesiapan pelaksanaan dan pemahaman terhadap kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap pelaku usaha.

Penyelenggara juga menghendaki agar Minerba Convex tidak berhenti sebagai pameran ataupun forum komunikasi. Acara ini diharapkan berkembang menjadi ruang dialog dan belajar yang mempertemukan berbagai pihak di subsektor mineral dan batubara. Pertukaran pandangan, konsultasi, serta pembahasan bersama dapat membantu membangun pemahaman yang lebih utuh dan persepsi yang selaras. Dengan landasan pemahaman bersama, komunikasi pelaku usaha dan pemangku kepentingan dapat berlangsung lebih terbuka, sementara berbagai isu dalam subsektor minerba dapat dibicarakan secara konstruktif. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan ini diharapkan memberi manfaat praktis bagi peserta, termasuk dalam menyiapkan RKAB dan menjalankan usaha secara bertanggung jawab, terencana, serta sejalan dengan aturan yang berlaku.

Baca juga: Anggaran Pilkades Bukan Beban Calon, Pemkab Siapkan Pembiayaan melalui APBD