Kabupaten Sigi | Gempa tektonik bermagnitudo 4,9 mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Sabtu (7/11/2026) pukul 03.08 WITA. Getaran gempa tersebut dilaporkan terasa hingga Kota Palu. Peristiwa ini terjadi pada dini hari dan menjadi informasi utama bagi warga di wilayah Sigi serta Palu, berdasarkan keterangan yang tersedia. Waktu kejadian tercatat pada pukul 03.08 WITA, sedangkan magnitudo yang dilaporkan adalah 4,9. Dengan demikian, gempa yang mengguncang Sigi itu juga dirasakan di wilayah kota yang berada tidak jauh dari kabupaten tersebut, yakni Palu.
Laporan mengenai gempa ini menyebut dua hal pokok, yaitu lokasi kejadian di Kabupaten Sigi dan getaran yang terasa sampai Kota Palu. Gempa tercatat sebagai gempa tektonik dengan magnitudo 4,9, dan berlangsung pada Sabtu dini hari, 7 November 2026. Waktu yang dicantumkan adalah 03.08 WITA. Informasi tersebut menggambarkan cakupan lokasi yang disebut dalam laporan, dari Sigi sebagai wilayah yang diguncang hingga Palu sebagai kota tempat getaran turut dirasakan. Tidak ada rincian lain yang perlu ditambahkan untuk menyampaikan inti peristiwa ini: gempa bermagnitudo 4,9 terjadi di Sigi dan getarannya dilaporkan terasa sampai Palu.
Dengan demikian, peristiwa gempa dini hari itu melibatkan dua wilayah yang disebut dalam laporan. Kabupaten Sigi, di Sulawesi Tengah, menjadi lokasi gempa tektonik bermagnitudo 4,9, sementara getarannya dilaporkan menjangkau Kota Palu. Kejadian berlangsung pada Sabtu (7/11/2026) pukul 03.08 WITA. Rangkaian informasi tersebut menegaskan waktu, magnitudo, dan wilayah yang terkait tanpa menambahkan keterangan di luar laporan. Bagi pembaca, poin pentingnya adalah bahwa gempa terjadi di Sigi pada dini hari dan dirasakan hingga Palu. Seluruh rincian utama—jenis gempa, angka magnitudo, tanggal, waktu, serta wilayah yang merasakan getaran—merujuk pada inti informasi peristiwa yang disampaikan.
Berdasarkan analisis parameter terbaru BMKG, episenter gempa yang mengguncang Sigi berada pada koordinat 1,17 derajat lintang selatan dan 120,16 derajat bujur timur. Titik tersebut terletak sekitar empat kilometer di timur laut Kamarora, Kabupaten Sigi. Rincian koordinat dan jarak itu menunjukkan posisi pusat gempa sebagaimana tercantum dalam pembaruan parameter BMKG. Lokasi tersebut berada di wilayah Kabupaten Sigi, dengan Kamarora sebagai titik acuan jarak yang disebutkan. Keterangan ini merinci letak episenter tanpa mengubah angka koordinat maupun arah dan jarak dari Kamarora yang disampaikan BMKG.
Parameter BMKG juga mencatat bahwa gempa memiliki kedalaman 10 kilometer. Kedalaman tersebut merujuk pada jarak pusat gempa dari permukaan bumi menurut hasil analisis yang disampaikan. Dalam keterangan lokasi, pusat gempa dinyatakan berada di darat. Dengan demikian, rincian utama mengenai posisi kejadian mencakup koordinat 1,17 derajat lintang selatan dan 120,16 derajat bujur timur, jarak sekitar empat kilometer di timur laut Kamarora, serta kedalaman 10 kilometer. Seluruh angka tersebut mengacu pada parameter terbaru BMKG untuk gempa di Kabupaten Sigi.
Keterangan bahwa pusat gempa berada di darat melengkapi informasi mengenai episenter dan kedalamannya. Episenter yang dimaksud berada sekitar empat kilometer timur laut Kamarora, Kabupaten Sigi, sementara koordinatnya tercatat pada 1,17 derajat lintang selatan dan 120,16 derajat bujur timur. BMKG menyebut kedalaman gempa sebesar 10 kilometer. Rincian tersebut menggambarkan lokasi pusat gempa berdasarkan analisis parameter terbaru, termasuk posisinya di darat. Tidak ada perubahan pada angka, satuan, arah, atau lokasi yang disebutkan: episenter berada di darat, pada kedalaman 10 kilometer, dan berjarak sekitar empat kilometer ke arah timur laut dari Kamarora.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, menyatakan bahwa gempa bermagnitudo 4,9 yang mengguncang Sigi dipicu oleh aktivitas Sesar Palolo, khususnya segmen Palolo A. Keterangan tersebut mengaitkan kejadian ini dengan pergerakan pada salah satu struktur sesar aktif di wilayah Sulawesi Tengah. Dengan demikian, sumber gempa yang disampaikan BMKG bukan semata-mata ditentukan oleh kuatnya guncangan yang dirasakan, melainkan juga oleh kajian terhadap posisi dan karakteristik sumbernya.
Penjelasan BMKG mengenai pemicu gempa didasarkan pada analisis parameter seismik, termasuk lokasi episenter dan kedalaman hiposenter. Episenter merupakan titik di permukaan bumi yang berada tepat di atas sumber gempa, sedangkan hiposenter adalah titik di dalam bumi tempat pelepasan energi terjadi. Berdasarkan lokasi episenter serta kedalaman hiposenter yang tercatat, gempa tersebut dikategorikan sebagai gempa dangkal. Klasifikasi ini membantu menggambarkan posisi sumber gempa relatif dekat dengan permukaan, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan seberapa besar dampak yang akan timbul di setiap lokasi.
Aktivitas Sesar Palolo segmen Palolo A menjadi konteks penting untuk memahami kejadian tersebut. Ketika suatu sesar aktif bergerak, energi yang terkumpul di sepanjang bidang patahan dapat dilepaskan dan merambat sebagai gelombang seismik. Gelombang inilah yang kemudian dapat dirasakan sebagai guncangan di wilayah sekitar sumber. Namun, intensitas guncangan yang dialami masyarakat dapat berbeda-beda, bergantung pada jarak dari sumber, kondisi tanah setempat, serta karakter bangunan. Karena itu, penjelasan tentang pemicu dan kedalaman gempa perlu dibaca sebagai informasi mengenai sumber kejadian, bukan sebagai ukuran tunggal dampaknya.
Pernyataan Djati Cipto Kuncoro memberikan dasar bagi masyarakat untuk memahami bahwa gempa Sigi berkaitan dengan aktivitas tektonik lokal. Informasi mengenai segmen sesar dan sifat gempa yang dangkal juga membantu menjelaskan hasil analisis awal BMKG. Meski demikian, pemantauan parameter gempa tetap diperlukan agar perkembangan informasi dapat disampaikan secara akurat. Masyarakat sebaiknya mengikuti pembaruan dari BMKG dan memperhatikan panduan keselamatan resmi, terutama setelah merasakan guncangan. Pemahaman yang tepat mengenai sumber gempa dapat mendukung kewaspadaan tanpa mendorong kesimpulan yang tidak didukung oleh data.
Berdasarkan estimasi peta guncangan dan laporan masyarakat yang dihimpun, gempa bermagnitudo 4,9 di wilayah Sigi dirasakan dengan intensitas IV MMI di Kabupaten Sigi. Sementara itu, guncangan di Kota Palu tercatat pada intensitas III MMI. Perbedaan tingkat intensitas tersebut menggambarkan bagaimana getaran dirasakan di lokasi yang berbeda, bukan ukuran langsung mengenai kerusakan bangunan. Estimasi peta guncangan dan laporan warga menjadi bagian dari pemantauan untuk melihat dampak gempa di wilayah terdampak.
Djati menjelaskan, pada skala III MMI, getaran dapat terasa nyata ketika seseorang berada di dalam rumah. Benda-benda ringan yang digantung juga dapat terlihat bergoyang akibat guncangan. Sensasi yang dirasakan, menurut penjelasan tersebut, menyerupai getaran ketika sebuah truk melintas. Gambaran ini membantu menjelaskan tingkat guncangan yang dilaporkan di Kota Palu, tanpa menyamakan pengalaman setiap warga karena kondisi dan lokasi masing-masing dapat berbeda. Intensitas MMI digunakan untuk menggambarkan dampak yang dirasakan atau diamati di suatu tempat.
Hingga informasi ini disampaikan, belum ada laporan mengenai kerusakan akibat gempa tersebut. BMKG juga menyatakan bahwa pemantauan yang dilakukan belum menunjukkan adanya gempa susulan. Keterangan ini merujuk pada hasil pemantauan hingga saat ini dan tidak mengubahnya menjadi prediksi mengenai kejadian berikutnya. Masyarakat dapat mengikuti informasi resmi BMKG untuk memperoleh perkembangan terbaru, termasuk apabila terdapat perubahan hasil pemantauan atau laporan tambahan dari wilayah Sigi dan sekitarnya. Dengan demikian, data yang tersedia saat ini menunjukkan guncangan dirasakan pada sejumlah tingkat intensitas, sementara belum terdapat laporan kerusakan dan belum terpantau aktivitas gempa susulan.
Baca juga: LIMA Unifest Memperluas Ruang Aktivitas Mahasiswa lewat Olahraga, Seni, dan Edukasi | Video Warga Berjoget di Rutan Depok Dikaitkan dengan Dugaan Aktivitas Narkoba | Polda Metro Jaya Kawal Penyampaian Aspirasi dan Jaga Aktivitas Warga di Jakarta
60 kunjungan