Jakarta | Harga emas melemah pada perdagangan Selasa, 3 November 2026, setelah sempat mencatat penguatan tajam sehari sebelumnya. Logam mulia ditutup pada US.928,25 per troy ons, turun 0,49% dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi setelah harga emas naik 1,9% pada Senin, sehingga sebagian kenaikan itu terkikis dalam perdagangan berikutnya. Perubahan arah ini menunjukkan bahwa pasar masih bergerak hati-hati dan belum mempertahankan penguatan secara konsisten.
Pada Rabu, 4 November, pukul 06.41 WIB, harga emas nyaris tidak berubah. Berdasarkan catatan pada waktu tersebut, harganya naik tipis 0,008% menjadi US$3.928,56 per troy ons. Selisih yang sangat kecil dari harga penutupan Selasa menggambarkan perdagangan yang relatif datar pada awal sesi, sekaligus menandakan bahwa pelaku pasar masih menimbang berbagai faktor yang memengaruhi permintaan terhadap aset lindung nilai. Pergerakan tipis itu belum cukup untuk menghapus pelemahan yang terjadi pada hari sebelumnya.
Salah satu perkembangan yang sempat memberi dukungan bagi emas adalah penurunan harga minyak. Harga energi yang lebih rendah dapat meredakan kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan tinggi, sehingga tekanan terhadap prospek suku bunga berpotensi berkurang. Dalam situasi tersebut, emas memperoleh ruang untuk menguat karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil dapat menjadi perhatian yang lebih ringan bagi investor. Namun, dukungan tersebut tidak bertahan lama. Setelah sempat terbantu oleh meredanya kekhawatiran inflasi, harga emas kembali berbalik turun. Dengan demikian, pelemahan pada Selasa mencerminkan dinamika pasar yang berubah cepat, sementara angka pada awal Rabu menunjukkan stabilisasi sementara, bukan pemulihan yang kuat.
Tekanan terhadap harga emas pada Selasa terutama datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Indeks dolar AS naik menjadi 101,867, dibandingkan 101,745 pada sesi sebelumnya. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun meningkat menjadi 4,962% dari 4,894%. Pergerakan kedua indikator tersebut memperkuat hambatan bagi logam mulia, yang tidak memberikan pendapatan bunga kepada pemegangnya.
Dolar yang menguat membuat emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Ketika biaya pembelian meningkat dalam mata uang lokal, permintaan dari sebagian investor internasional dapat berkurang. Dampaknya tidak selalu terjadi secara langsung atau seragam, karena harga emas juga dipengaruhi faktor lain, termasuk permintaan aset aman dan ekspektasi pasar. Namun, kenaikan indeks dolar biasanya menjadi tekanan bagi emas, terutama ketika mata uang AS menguat secara luas.
Kenaikan imbal hasil Treasury juga dapat mengubah perbandingan daya tarik emas dan aset berbunga. Investor yang memegang obligasi pemerintah AS berpotensi memperoleh imbal hasil lebih tinggi, sedangkan emas tidak menghasilkan kupon ataupun bunga. Karena itu, ketika imbal hasil obligasi naik, biaya peluang untuk menyimpan emas cenderung meningkat. Sebagian pelaku pasar dapat memilih instrumen berbunga, khususnya apabila kenaikan imbal hasil dipandang berkelanjutan dan risiko pasar dinilai terkendali. Perubahan imbal hasil riil juga penting untuk dicermati, sebab imbal hasil nominal saja tidak menggambarkan seluruh daya tarik investasi.
Phillip Streible menyatakan bahwa dolar terus menguat dan imbal hasil obligasi bergerak lebih tinggi. Komentar tersebut menggambarkan kombinasi kondisi yang membebani emas pada sesi perdagangan itu. Meski demikian, tekanan dari dolar dan obligasi bukan satu-satunya penentu arah harga. Perhatian pasar terhadap pemilu sela AS, perkembangan ekonomi, serta kemungkinan perubahan kebijakan moneter dapat memicu pergeseran sentimen. Apabila dolar melemah atau imbal hasil turun, sebagian tekanan terhadap emas dapat mereda; sebaliknya, penguatan lanjutan pada kedua indikator berpotensi membuat logam mulia tetap menghadapi tantangan.Menjelang pemilu sela di Amerika Serikat, investor mencermati hasil pemungutan suara untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan fiskal dan dinamika pemerintahan. Hasil pemilu dapat memengaruhi peluang pengesahan undang-undang, perundingan anggaran, serta keputusan mengenai batas utang. Perubahan keseimbangan kekuasaan di Kongres juga berpotensi mengubah perkiraan pasar terhadap belanja pemerintah dan kebijakan ekonomi. Dalam situasi ketika dolar dan imbal hasil obligasi AS menjadi perhatian utama, perkembangan politik tersebut turut masuk dalam pertimbangan investor emas, meskipun dampaknya bergantung pada hasil akhir dan respons pasar.
Sejumlah jajak pendapat dan analis independen memperkirakan Partai Demokrat memiliki peluang merebut kendali DPR dari Partai Republik. Namun, persaingan untuk menguasai Senat masih belum pasti, sehingga komposisi Kongres setelah pemilu belum dapat dipastikan. Investor karena itu memantau hasil di kedua kamar, bukan hanya perubahan kendali DPR. Perbedaan skenario dapat menghasilkan penilaian yang berlainan mengenai kemampuan pemerintah untuk menjalankan agenda fiskal. Ketidakpastian tersebut dapat mendorong pelaku pasar berhati-hati dalam mengambil posisi, sementara perubahan ekspektasi mengenai kebijakan berpotensi memengaruhi permintaan terhadap dolar dan aset lindung nilai seperti emas.
Analis pasar Fawad Razaqzada menilai kemenangan Demokrat di kedua kamar Kongres dapat menekan dolar. Dalam skenario itu, pemerintahan kemungkinan menghadapi lebih banyak hambatan untuk meloloskan undang-undang, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan batas utang. Prospek proses legislasi yang lebih sulit dapat menjadi salah satu faktor yang mengurangi daya tarik dolar, meski pergerakannya juga dipengaruhi faktor ekonomi dan moneter lainnya. Pelemahan mata uang AS berpotensi menjadi salah satu penopang bagi emas, yang harganya sering bergerak berlawanan arah dengan dolar. Di samping hasil pemilu, investor turut mencermati ketidakpastian mengenai kemungkinan kesepakatan AS dan Iran. Perkembangan diplomatik itu dapat mengubah penilaian terhadap risiko geopolitik dan turut memengaruhi sentimen pasar. Dengan demikian, pemilu sela dan isu diplomatik menjadi bagian dari rangkaian faktor yang membentuk prospek emas dalam jangka pendek.
Perak turut mencerminkan tekanan yang melanda pasar logam mulia, meski pergerakannya berlangsung setelah lonjakan tajam pada awal pekan. Pada Selasa, 3 November 2026, perak ditutup pada US$49,77 per troy ons, melemah 1,6%. Penurunan itu terjadi setelah harganya melonjak 3,1% pada Senin, sehingga sebagian kenaikan sebelumnya terpangkas ketika dolar AS dan imbal hasil obligasi kembali menjadi perhatian investor.
Pada Rabu, 4 November, pukul 06.41 WIB, harga perak turun tipis 0,12% ke US$49,72 per troy ons. Perubahan terbatas tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menimbang berbagai pendorong harga, termasuk arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik. Seperti emas, perak tidak memberikan imbal hasil, sehingga daya tariknya dapat berkurang ketika prospek suku bunga lebih tinggi membuat aset berbunga tampak lebih menguntungkan.
Di pasar energi, minyak merosot ke level terendah dalam tiga pekan. Investor mempertimbangkan peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina dan konflik Iran, yang berpotensi mengubah prospek pasokan energi. Namun, serangan terbaru dalam kedua konflik tersebut turut memunculkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan. Perimbangan kemungkinan meredanya ketegangan dan risiko eskalasi membuat harga komoditas bergerak di tengah ketidakpastian.
Perhatian pasar juga tertuju pada perkiraan suku bunga Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada Desember sebesar 79%. Angka tersebut tetap menunjukkan ekspektasi kenaikan yang kuat, tetapi penurunan tipis dalam perkiraan itu dapat memberi dukungan kepada aset tanpa imbal hasil seperti emas. Dengan demikian, harga logam mulia berpotensi merespons perubahan ekspektasi suku bunga sekaligus perkembangan dolar, imbal hasil AS, dan risiko geopolitik.
Baca juga: Pembebasan Lahan Jalan Tambang Bogor Menanti Penetapan Lokasi dari Gubernur Jabar | SMEXPO Pertamina di Pasar Ngasem Dorong UMKM Menjangkau Pasar Lebih Luas | Pekan Keempat Super League 2026/2027 Tertunda, Menanti Kembalinya Persija dan Persib
33 kunjungan