Jakarta | Persija Jakarta menyatakan kecewa terhadap kondisi rumput Jakarta International Stadium (JIS) setelah mengalahkan Persik Kediri. Pernyataan itu menempatkan kualitas lapangan sebagai perhatian utama setelah pertandingan, sekaligus memunculkan kritik terhadap fasilitas yang digunakan klub. Persija menyampaikan penilaian tersebut sebagai respons atas pengalaman tim di stadion, bukan sekadar pembahasan mengenai hasil laga. Dengan demikian, sorotan publik beralih dari pertandingan ke kondisi rumput JIS dan bagaimana pengelola menanggapi masukan tersebut.
Kritik Persija menjadi latar bagi tanggapan PT Jakarta Propertindo (Jakpro), perusahaan yang mengelola stadion. Dalam kapasitasnya sebagai pengelola, Jakpro menjadi pihak yang diharapkan merespons penilaian klub mengenai lapangan. Isu ini juga membuat perhatian tertuju pada komunikasi pengguna stadion dan pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaannya. Bagi Persija, kondisi lapangan merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan pertandingan, sementara bagi Jakpro, kritik tersebut menjadi masukan yang perlu ditanggapi secara terbuka dan proporsional.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa evaluasi terhadap stadion dapat muncul setelah klub menjalani pertandingan, ketika pengalaman langsung menjadi dasar untuk menyampaikan pendapat. Namun, tanpa keterangan lebih lanjut, pembahasan perlu dibatasi pada pernyataan kekecewaan Persija dan respons Jakpro sebagai pengelola JIS. Tidak ada rincian tambahan mengenai bagian rumput yang dipersoalkan atau penyebab kondisi tersebut yang dapat dipastikan dari informasi ini. Karena itu, inti persoalannya adalah adanya kritik dari Persija setelah laga melawan Persik Kediri, serta perhatian yang kini tertuju pada langkah dan penjelasan Jakpro dalam menanggapi kritik itu.
Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Iwan Takwin, menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan perbaikan dan inovasi dalam menangani kondisi rumput Jakarta International Stadium (JIS). Upaya tersebut, menurut Iwan, menjadi bagian dari perhatian Jakpro terhadap kualitas lapangan, termasuk setelah muncul kritik dari Persija mengenai kondisi permukaan rumput. Ia menegaskan penanganan terus berjalan, bukan hanya berhenti pada evaluasi atas masukan yang disampaikan.
Iwan menjelaskan, Jakpro juga merencanakan penambahan metode perawatan untuk meningkatkan kerataan rumput. Langkah itu diarahkan agar permukaan lapangan dapat ditangani dengan lebih baik dan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, perawatan tidak hanya berfokus pada pemeliharaan rutin, tetapi turut mencakup upaya memperbaiki aspek kerataan yang menjadi perhatian. Rencana tersebut disampaikan sebagai bagian dari langkah lanjutan Jakpro dalam merespons kondisi lapangan.
Menurut keterangan Iwan, penanganan yang direncanakan ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari sepekan. Target waktu itu menjadi gambaran durasi yang diharapkan untuk menyelesaikan pekerjaan, sementara Jakpro tetap menjalankan proses perbaikan dan inovasi yang diperlukan. Ia tidak menyebut bahwa kondisi rumput sudah sepenuhnya pulih; pernyataannya menekankan bahwa upaya penanganan masih dilakukan dan metode perawatan tambahan tengah direncanakan.
Jakpro memandang perawatan rumput JIS sebagai pekerjaan yang perlu terus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Karena itu, pernyataan Iwan menempatkan rencana peningkatan metode sebagai bagian dari ikhtiar perusahaan untuk merespons kritik sekaligus menjaga kualitas lapangan. Target kurang dari sepekan juga merupakan sasaran penanganan yang disampaikan pihak Jakpro, bukan penilaian independen mengenai hasil akhirnya. Perkembangan dan hasil pekerjaan selanjutnya akan menunjukkan sejauh mana langkah tersebut dapat memperbaiki kerataan rumput sesuai harapan.
Iwan menyampaikan bahwa pemasangan rumput di JIS setelah konser dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu. Keterangan tersebut disampaikan pada Selasa, 27 Oktober 2026. Ia membandingkan perkiraan waktu itu dengan proses pemasangan yang biasanya berlangsung hingga empat bulan. Dengan demikian, durasi satu minggu yang disebutkan merujuk pada pekerjaan setelah konser, sementara rentang hingga empat bulan menggambarkan waktu yang lazim diperlukan untuk proses pemasangan rumput.
Perbandingan tersebut menjadi pokok keterangan Iwan mengenai waktu pemulihan permukaan lapangan setelah kegiatan konser. Pernyataannya menyebut adanya perbedaan yang cukup besar perkiraan penyelesaian pascakonser dan lamanya proses yang biasanya berlangsung. Namun, keterangan yang tersedia hanya menjelaskan jangka waktu tersebut. Tidak ada rincian tambahan mengenai tahapan pekerjaan, kondisi lapangan, metode pemasangan, atau faktor lain yang menjadi dasar perbandingan itu.
Karena itu, informasi yang dapat dipastikan dari pernyataan tersebut terbatas pada dua hal: pemasangan rumput setelah konser disebut dapat selesai dalam satu minggu, dan proses yang biasanya berlangsung dapat memakan waktu hingga empat bulan. Keterangan itu tidak menyebut jenis maupun tanggal konser, sehingga kedua hal tersebut tidak dapat ditambahkan sebagai konteks. Pernyataan Iwan juga tidak dengan sendirinya menjelaskan aspek teknis pelaksanaan. Perbandingan waktunya dapat dicatat sebagai keterangan mengenai estimasi durasi, bukan sebagai uraian menyeluruh tentang proses pemulihan lapangan. Dengan batas informasi tersebut, pembaca dapat memahami klaim waktu yang disampaikan tanpa mengaitkannya dengan detail yang belum dijelaskan. Iwan menyampaikannya pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Iwan menyebut perawatan rumput JIS dilakukan melalui sejumlah metode, termasuk penggunaan nursery serta metode gulung dan gelar. Dalam keterangannya, langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi rumput, bersama pemotongan yang dibuat lebih rapi. Penjelasan itu menggambarkan pendekatan perawatan yang disampaikan Jakpro dalam menanggapi kritik mengenai kondisi lapangan. Nursery, metode gulung dan gelar, serta pemotongan rumput disebut sebagai unsur yang berkaitan dalam penanganan rumput JIS. Iwan mengaitkan penerapan metode tersebut dengan kondisi akar yang lebih kuat dan berkurangnya rumput yang terlepas saat pertandingan.
Menurut Iwan, akar rumput yang lebih kuat membuat rumput tidak mudah terlepas ketika lapangan digunakan untuk pertandingan. Pemotongan yang lebih rapi juga disebut sebagai bagian dari rangkaian perawatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa upaya menjaga akar dan merapikan pemotongan dilakukan bersama penggunaan nursery serta metode gulung dan gelar. Dalam penjelasan itu, hasil yang menjadi perhatian adalah semakin minimnya rumput yang copot. Dengan demikian, pernyataan mengenai kondisi rumput yang lebih baik merupakan penilaian Iwan atas metode perawatan yang disebutkannya, bukan kesimpulan terpisah mengenai aspek lain di JIS.
Iwan menyebut rumput yang copot saat ini sudah minim, bahkan menurut keterangannya tidak ada lagi. Pernyataan tersebut merujuk pada hasil perawatan yang mencakup nursery, metode gulung dan gelar, serta pemotongan rumput yang lebih rapi. Ia menghubungkan upaya itu dengan akar rumput yang lebih kuat sehingga kemungkinan rumput terlepas saat pertandingan dapat berkurang. Penjelasan Jakpro melalui Iwan tersebut menekankan metode perawatan dan kondisi rumput yang terlihat dalam penilaiannya. Klaim tentang minimnya rumput yang copot maupun tidak adanya rumput yang terlepas tetap merupakan keterangan Iwan, sebagaimana disampaikan dalam tanggapan terhadap kritik Persija soal kondisi rumput JIS.
Baca juga: DPR Indonesia Tanggapi Kecaman Perdana Menteri Kepulauan Solomon di PBB | Kondisi Kesehatan Doddy Katamsi Memprihatinkan | Dugaan Ancaman untuk Victor Dethan: Sorotan Terhadap Pemain Persija





