Jakarta | Kehidupan bersama tanpa ikatan pernikahan, yang kini kerap disebut kumpul kebo, bukanlah gejala baru. Catatan mengenai pasangan yang tinggal serumah tanpa perkawinan resmi telah muncul sejak ratusan tahun lalu di Hindia Belanda. Pada masa kolonial, keadaan ini berkembang dalam tatanan sosial yang dibentuk oleh kekuasaan, perdagangan, mobilitas penduduk, serta perbedaan status hukum dan budaya. Karena itu, kisah hidup bersama tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah masyarakat kolonial, bukan sebagai gambaran kehidupan di Indonesia masa kini. Istilah dan penilaian terhadap praktik itu juga berubah menurut zaman, kelompok sosial, dan aturan yang berlaku.
Praktik tersebut tidak hanya dijumpai di kalangan masyarakat biasa. Sejumlah pejabat tinggi Eropa di Hindia Belanda diketahui tinggal bersama perempuan pribumi, meskipun mereka tidak terikat perkawinan yang diakui secara resmi. Hubungan semacam ini berlangsung dalam lingkungan kolonial yang mempertemukan pendatang Eropa dengan penduduk setempat, terutama di kota-kota, pusat administrasi, dan kawasan perkebunan. Kedudukan pejabat memberi mereka pengaruh dan keleluasaan yang tidak dimiliki pasangan pribumi pada umumnya. Namun, pengalaman tiap pasangan berbeda, sehingga hubungan serumah itu tidak dapat dijelaskan dengan satu pola atau dianggap selalu didasari keadaan yang sama.
Konteks hukum dan sosial masa kolonial turut membentuk pilihan serta konsekuensi hubungan tersebut. Perbedaan agama, kebiasaan, status kewargaan, dan kepentingan keluarga dapat mempersulit pengesahan perkawinan lintas kelompok. Dalam sejumlah keadaan, hidup bersama menjadi jalan yang ditempuh, sementara perempuan pribumi sering berada dalam posisi yang lebih rentan karena ketimpangan kuasa dan terbatasnya perlindungan. Pada saat yang sama, masyarakat kolonial memiliki beragam pandangan terhadap hubungan semacam itu; penerimaan dan kecaman dapat bergantung pada lingkungan maupun kedudukan pihak yang terlibat. Menelusuri praktik ini membantu menjelaskan kehidupan privat elite Eropa sekaligus struktur sosial Hindia Belanda, tanpa menyamakan masa kolonial dengan masyarakat Indonesia modern.
Gustaaf Willem Baron van Imhoff, yang menjabat sebagai gubernur jenderal VOC pada 1743–1750, merupakan salah satu contoh kehidupan bersama di kalangan elite Hindia Belanda. Ia tercatat memiliki istri, tetapi pada masa itu ia juga menerima seorang budak perempuan dari Ratu Bone. Perempuan tersebut kemudian dibaptis dengan nama Helena Pieters dan tinggal bersama Van Imhoff sebagai teman hidup. Hubungan mereka tidak hanya berupa tinggal serumah: keduanya kemudian memiliki anak. Rangkaian keterangan ini menunjukkan bahwa status perkawinan Van Imhoff dan keberadaan teman hidup di rumahnya tercatat bersamaan. Dalam kisah tersebut, identitas perempuan itu, asal pemberiannya, pembaptisannya, serta hubungan yang terjalin menjadi bagian penting dari contoh ini.
Contoh lain adalah Reinier de Klerk, yang menjabat sebagai gubernur jenderal pada 1777–1780. Setibanya di Jawa, ia hidup bersama seorang budak perempuan. Mereka memiliki banyak anak, yang kemudian dikirim ke Belanda. Keterangan mengenai De Klerk menekankan urutan peristiwa itu: kedatangannya di Jawa, kehidupannya bersama perempuan tersebut, kelahiran anak-anak mereka, lalu pengiriman anak-anak itu ke Belanda. Tidak ada nama bagi perempuan tersebut yang dicantumkan dalam bahan ini, sehingga ia cukup disebut sebagai seorang budak perempuan. Demikian pula, jumlah anak tidak dirinci lebih jauh selain dinyatakan banyak. Rincian yang tersedia memberikan gambaran khusus tentang kehidupan bersama De Klerk tanpa menambahkan keterangan lain.
Kedua contoh ini memperlihatkan bahwa kehidupan bersama perempuan di luar ikatan perkawinan tercatat dalam kisah para gubernur jenderal VOC tersebut. Pada Van Imhoff, sumber menyebutkan bahwa ia memiliki istri sekaligus tinggal bersama Helena Pieters, perempuan yang diterimanya dari Ratu Bone dan kemudian dibaptis. Mereka memiliki anak. Pada De Klerk, keterangan berpusat pada seorang budak perempuan yang tinggal bersamanya setelah ia tiba di Jawa, serta anak-anak mereka yang kemudian dikirim ke Belanda. Kedua kisah memiliki rincian yang berbeda, tetapi sama-sama menyebut kehidupan serumah dan adanya anak. Perbandingan ini perlu dibatasi pada fakta yang tersedia: masa jabatan masing-masing, hubungan yang disebutkan, dan nasib anak-anak sebagaimana tercatat. Dengan demikian, kedua tokoh memberikan contoh konkret mengenai pola kehidupan yang menjadi pokok pembahasan.Praktik hidup bersama perempuan tanpa ikatan pernikahan resmi tidak terbatas pada satu rumah tangga elite di Hindia Belanda. Catatan mengenai sejumlah pejabat dan tokoh Eropa menunjukkan bahwa hubungan semacam ini juga muncul di lingkungan mereka. Keadaan tersebut memberi gambaran bahwa kehidupan serumah tanpa pernikahan dapat berlangsung di tengah masyarakat kolonial, termasuk di kalangan orang-orang yang memiliki kedudukan dan pengaruh. Namun, setiap kisah perlu dipahami sesuai keterangan yang tersedia, tanpa menyamaratakan pengalaman para tokoh atau menambahkan kesimpulan yang tidak didukung sumber.
Herman Warner Muntinghe, anggota Dewan Hindia, tercatat tinggal bersama tiga perempuan yang berstatus budak. Hal ini disebut terjadi meskipun ia telah menikah dengan seorang perempuan Indo-Belanda. Keterangan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan status perkawinan resmi Muntinghe dan pengaturan hidupnya di rumah. Informasi yang tersedia tidak perlu diperluas menjadi dugaan mengenai alasan atau bentuk hubungan di mereka. Yang dapat dicatat ialah bahwa kehidupan bersama perempuan berstatus budak berlangsung dalam rumah tangga seorang pejabat tinggi, sementara ia juga memiliki istri yang tercatat secara resmi.
Thomas Stamford Raffles, yang berkuasa pada 1811–1816, disebut tidak mempermasalahkan hubungan tidak sah para bawahannya dengan perempuan budak. Sikap tersebut membuat praktik itu lazim pada masa kekuasaannya. Sementara itu, kisah Alexander Hare menampilkan relasi yang juga berkaitan dengan ketimpangan kuasa. Menurut buku karya Tim Hannigan, Hare menggunakan posisi dan kekuasaannya untuk mengeksploitasi perempuan lokal yang dijadikannya teman hidup. Penyebutan ini penting dibatasi pada keterangan tersebut: sumber menggambarkan penggunaan kekuasaan dan eksploitasi, bukan sekadar kehidupan bersama. Ketiga contoh itu menunjukkan bahwa hubungan di luar pernikahan resmi hadir dalam lingkaran pejabat dan elite Eropa, tetapi konteks masing-masing tetap berbeda dan tidak dapat disamakan begitu saja.
Kehidupan serumah tanpa pernikahan di Hindia Belanda tidak hanya ditemukan di kalangan elite. Kisah para pejabat, pengusaha, atau tokoh terpandang memang kerap mendapat perhatian karena kedudukan mereka dan jejak yang ditinggalkan dalam catatan sejarah. Namun, pengalaman kelompok tersebut hanya memperlihatkan sebagian dari praktik yang lebih luas. Di berbagai lingkungan, hubungan tinggal bersama juga berlangsung di orang Eropa yang tidak memiliki status sosial tinggi, dan tidak selalu dicatat dengan perhatian yang sama.
Pegawai, prajurit, serta pedagang Eropa tingkat bawah juga kerap tinggal bersama perempuan lokal tanpa ikatan pernikahan. Keadaan ini memperluas gambaran tentang hubungan lintas kelompok dalam masyarakat kolonial: praktik tersebut tidak terbatas pada rumah tangga elite atau kalangan yang memiliki kekayaan dan pengaruh. Bagi sebagian pendatang Eropa, hidup serumah menjadi bagian dari keseharian di tengah lingkungan setempat. Perempuan lokal yang tinggal bersama mereka berada dalam relasi yang berlangsung di luar lembaga perkawinan, sebagaimana dicatat dalam sumber mengenai kehidupan sosial pada masa itu.
Di masyarakat, pola hidup tersebut dikenal dengan sebutan “kumpul gerbouw”. Istilah ini merujuk pada kebiasaan berbagi tempat tinggal, tetapi juga membawa nada sindiran. Keterangan sumber menjelaskan bahwa gerbouw dalam bahasa Belanda berarti bangunan atau rumah. Dengan demikian, kata itu menunjuk pada tempat yang dihuni bersama, bukan pada ikatan resmi yang mengesahkan hubungan para penghuninya.
142 kunjungan