SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 16 September 2026, Pada tanggal 16 September, ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melakukan demonstrasi yang menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap pelantikan rektor baru, Akh Muzakki. Aksi unjuk rasa ini bertujuan untuk mengekspresikan pendapat dan tuntutan mahasiswa di tengah dinamika kampus yang saat ini tengah berlangsung. Mengawali kegiatan ini, para mahasiswa berkumpul di area strategis di dalam kampus, di mana suara mereka dapat didengar oleh rekan-rekan dan pihak-pihak terkait.
Unjuk rasa yang berlangsung sejak pagi hari ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk para dosen dan staff administratif. Dengan menggunakan spanduk dan meneriakkan yel-yel yang menentang pelantikan rektor, para mahasiswa mencoba untuk menyampaikan pesan bahwa mereka menginginkan perubahan kepemimpinan yang lebih sesuai dengan harapan dan aspirasi mereka. Demonstrasi ini tidak hanya merupakan protes terhadap pelantikan rektor baru, tetapi juga mencerminkan kebutuhan mahasiswa untuk terlibat dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi masa depan mereka.
Pihak universitas mengamati dengan seksama jalannya aksi ini, diharapkan dapat menemukan solusi yang cermat atas masalah yang dihadapi mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga melakukan dialog terbuka dengan pihak berwenang, berusaha mendiskusikan alasan di balik keberatan mereka terhadap rektor yang baru dilantik. Proses ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi komunikasi yang lebih baik mahasiswa dan pihak universitas.
Situasi di UINSA mencerminkan tantangan yang sering dihadapi oleh lembaga pendidikan tinggi, di mana kebijakan dan keputusan penting dapat menghasilkan reaksi dramatis dari komunitas kampus. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk saling mendengarkan dan berusaha menemukan titik temu yang dapat memajukan institusi ke arah yang lebih baik.
Dalam aksi yang berlangsung di UINSA, mahasiswa tidak hanya terbatas pada orasi, tetapi juga aktif dalam menyampaikan berbagai tuntutan yang dianggap krusial. Dalam konteks ini, mereka menekankan pentingnya penarikan Akh Muzakki dari jabatannya sebagai rektor. Tuntutan yang diusung mahasiswa ini didasarkan pada beberapa isu yang dikategorikan sebagai masalah mendasar dalam kepemimpinan rektor baru tersebut.
Salah satu isu yang diangkat adalah transparansi dalam pengambilan keputusan. Mahasiswa menilai bahwa selama satu periode kepemimpinan yang dijalani Akh Muzakki, terdapat sejumlah keputusan yang diambil tanpa melibatkan partisipasi komunitas akademik. Hal ini menumbuhkan rasa ketidakpuasan di kalangan mahasiswa yang ingin terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak pada mereka. Mereka berargumen bahwa partisipasi mahasiswa dalam kebijakan kampus sangat penting agar kebijakan tersebut dapat mencerminkan kebutuhan dan harapan mahasiswa.
Selanjutnya, mahasiswa juga menyoroti masalah kualitas pendidikan yang dianggap menurun. Dalam tuntutannya, mereka menyatakan bahwa ada perlunya peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran agar dapat memenuhi standar dan harapan civitas akademika. Selain itu, perhatian terhadap fasilitas yang ada juga menjadi fokus. Mahasiswa menginginkan adanya perbaikan terhadap infrastruktur yang mendukung kegiatan belajar mengajar agar lebih optimal.
Selain itu, tuntutan mahasiswa juga mencakup penguatan organisasi dan lembaga kemahasiswaan. Mereka meyakini bahwa keberadaan lembaga ini sangat vital untuk menyuarakan pendapat dan aspirasi mahasiswa yang lebih luas. Dengan ketidakpuasan yang terungkap melalui aksi ini, mahasiswa berharap dapat mencapai kepastian akan perubahan yang lebih baik dalam manajemen dan kepemimpinan di UINSA.
Di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), situasi semakin memanas seiring dengan berjalannya waktu. Demonstrasi yang digelar oleh mahasiswa menarik perhatian banyak pihak, menciptakan kerumunan di depan gedung rektorat. Tuntutan mahasiswa untuk menolak pelantikan rektor baru bukanlah sekadar isu biasa; ketidakpuasan ini mencerminkan keresahan yang lebih besar mengenai kebijakan dan kepemimpinan di kampus.
Kumpulan mahasiswa yang semakin banyak menunjukkan betapa pentingnya isu ini bagi mereka. Suasana di kampus menjadi tegang, dengan mahasiswa menyuarakan aspirasi dan kekhawatiran mereka terhadap masa depan lembaga pendidikan yang mereka cintai. Komunikasi pihak universitas dan mahasiswa tampak terbatas, sehingga meningkatkan rasa frustrasi di kalangan mahasiswa. Kiap-kian, berbagai spanduk dan poster terbentang di area demonstrasi, mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap keputusan yang dianggap tidak melibatkan suara mereka.
Kerumunan ini menciptakan lingkungan yang menggugah perhatian, dengan beberapa mewakili berbagai organisasi mahasiswa yang mengadakan aksi dengan terorganisir. Melalui berbagai saluran media sosial, informasi tentang aksi demonstrasi ini cepat menyebar, memicu minat mahasiswa dari fakultas lain untuk bergabung. Pertentangan mahasiswa dan pihak universitas semakin terasa, dengan keduanya tampak keras kepala dalam mempertahankan posisi masing-masing.Pendekatan yang diambil mahasiswa mencerminkan tidak hanya ketidakpuasan terhadap pelantikan rektor, tetapi juga harapan untuk adanya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan di level manajemen universitas. Semua ini menunjukkan bahwa ketegangan di UINSA bukan sekadar soal individu, melainkan sebuah pergerakan kolektif untuk memperjuangkan hak dan aspirasi mahasiswa.
Di tengah ketegangan yang meningkat di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), mahasiswa memutuskan untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap pelantikan rektor baru melalui aksi yang mencolok dan simbolis. Salah satu bentuk protes yang paling terlihat adalah pemusnahan karangan bunga yang dihiasai dengan ucapan selamat bagi rektor yang baru dilantik. Aksi ini bukan hanya menunjukkan penolakan terhadap pemilihan rektor, tetapi juga menandakan kekecewaan yang mendalam dari kalangan mahasiswa terhadap kebijakan yang dianggap tidak memenuhi aspirasi komunitas akademik.
Pembakaran karangan bunga tersebut terjadi di lokasi strategis di kampus, merenggut perhatian tidak hanya dari mahasiswa, tetapi juga awak media dan masyarakat luas. Tindakan ini mengundang beragam reaksi, mulai dari dukungan terhadap mahasiswa yang mengekspresikan suara mereka, hingga kritik terhadap cara mengungkapkan ketidakpuasan. Diketahui bahwa karangan bunga tersebut tidak hanya sekadar hiasan, melainkan simbol harapan dan sambutan untuk era kepemimpinan yang baru. Namun, bagi mahasiswa, ini lebih dari sekedar perayaan—ini adalah pengingat bahwa pelantikan rektor baru membawa serta rasa ketidakadilan dan adanya ketidakpuasan kolektif.
Melalui aksi vandal ini, mahasiswa berharap suara mereka didengar. Aksi ini memberikan tekanan kepada pihak universitas untuk mempertimbangkan kembali keputusan yang diambil. Mahasiswa menuntut adanya ruang dialog dan diskusi yang lebih terbuka mengenai kepemimpinan dan kebijakan di kampus. Ini menjadi sinyal penting bahwa komunitas akademik di UINSA sangat peduli akan arah dan tujuan institusi tempat mereka belajar. Dalam suasana ketegangan ini, harapan untuk perbaikan di masa depan tetap diceritakan melalui tindakan berani mereka.







