Medan | Oki Rengga menyampaikan permintaan maaf setelah video perselisihannya dengan seorang suporter PSMS Medan tersebar luas di media sosial. Dalam pernyataan yang disampaikan melalui video di akun Instagram pribadinya, ia meminta maaf atas video tersebut, narasi yang berkembang, serta keributan yang muncul dalam beberapa hari terakhir. Permintaan maaf itu dikutip pada Sabtu, 7 November 2026, ketika peristiwa tersebut menjadi sorotan publik di ruang digital.
Isi permintaan maaf Oki mencakup hal-hal yang berkaitan dengan penyebaran rekaman dan pembicaraan yang menyertainya. Ia menyampaikan penyesalan atas video perselisihan itu, termasuk narasi yang beredar serta keributan yang muncul beberapa hari belakangan. Dengan demikian, pernyataannya tidak hanya merujuk pada rekaman yang beredar, tetapi juga pada rangkaian pembahasan dan situasi yang timbul setelah video tersebut menyebar di media sosial.
Permintaan maaf disampaikan langsung dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Instagram pribadi Oki Rengga. Pernyataan itu menjadi penjelasan publik dari Oki setelah rekaman perselisihannya dengan seorang suporter PSMS Medan beredar luas. Dalam video tersebut, ia menyebut permintaan maaf atas video, narasi, dan keributan yang muncul dalam beberapa hari terakhir. Informasi mengenai pernyataan itu dikutip pada Sabtu, 7 November 2026. Fokus pernyataan Oki adalah permintaan maaf atas situasi yang menyertai beredarnya video tersebut. Penyebaran rekaman di media sosial menjadi latar bagi penyampaiannya, sementara ia secara terbuka menyampaikan maaf terkait narasi dan keributan yang muncul. Tidak ada rincian lain yang ditambahkan dalam pernyataan yang dikutip tersebut. Melalui unggahan itu, Oki menyampaikan responsnya terhadap perhatian yang tertuju pada perselisihan di tribun, sekaligus menyebut unsur-unsur yang menjadi pokok permintaan maafnya. Pernyataan itu mengaitkan video yang beredar dengan narasi dan keributan beberapa hari terakhir, tanpa menguraikan hal lain di luar permintaan maaf tersebut.
Insiden yang melibatkan Oki Rengga terjadi ketika PSMS Medan menjamu Persija Jakarta di Stadion Utama Sumatera Utara, Deli Serdang. Stadion tersebut juga dikenal dengan nama Stadion Deli. Peristiwa berlangsung di area tribun saat pertandingan menjadi perhatian para penonton. Situasi kemudian memanas setelah Oki terlibat adu argumen dengan seorang suporter yang hendak membentangkan spanduk berisi kritik mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perselisihan itu terekam dalam video yang beredar di media sosial, sehingga potongan kejadian di tribun tersebut memicu beragam tanggapan dari publik.
Dalam rekaman itu, Oki terlihat bertelanjang dada dan berhadapan dengan suporter tersebut. Ketegangan tampak meningkat ketika keduanya berdebat mengenai spanduk yang akan dibentangkan. Video yang beredar juga memperlihatkan Oki memegang kepala suporter itu. Rekaman tersebut menunjukkan bagian tertentu dari kejadian, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh rangkaian percakapan maupun hal yang mendahului perselisihan. Karena itu, kronologi yang diketahui dari video perlu dipahami sebagai gambaran atas momen yang terekam, bukan uraian lengkap mengenai setiap interaksi di lokasi.
Di tengah adu argumen, Oki sempat mengatakan bahwa dirinya hampir dibunuh pemerintah karena menyuarakan persoalan karhutla. Pernyataan itu muncul dalam konteks perselisihan di tribun dan sebaiknya dipahami sebagai ucapan Oki yang terekam, bukan sebagai fakta terverifikasi mengenai tindakan pemerintah. Persoalan spanduk tentang kebakaran hutan dan lahan menjadi latar penting dalam insiden tersebut, sementara rekaman memperlihatkan perbedaan sikap Oki dan suporter yang ingin menyampaikan kritik. Setelah video menjadi sorotan, perhatian publik tertuju pada perilaku Oki di tribun sekaligus pada pesan mengenai karhutla yang hendak disampaikan melalui spanduk itu.
Dalam klarifikasinya, Oki Rengga mengaitkan emosinya dengan suasana pertandingan yang ia nilai penuh ketegangan. Ia menyampaikan bahwa situasi di tribun saat itu turut memengaruhi dirinya, sehingga emosinya sulit dikendalikan. Penjelasan tersebut merupakan keterangan dari Oki mengenai apa yang ia rasakan dan bagaimana ia memahami reaksinya sendiri. Karena itu, uraian tentang ketegangan pertandingan perlu dibaca sebagai sudut pandangnya, bukan sebagai penilaian yang berdiri sendiri mengenai seluruh keadaan di lokasi.
Oki juga telah menyampaikan permintaan maaf atas keributan yang terjadi di tribun. Dalam keterangannya, ia menjelaskan perselisihan yang berkaitan dengan spanduk karhutla dan menghubungkan respons emosionalnya dengan atmosfer pertandingan. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci keadaan lain yang dapat dipastikan menjadi penyebab reaksinya. Dengan demikian, penjelasan mengenai emosi dan suasana pertandingan sebaiknya tetap ditempatkan dalam batas keterangan yang ia sampaikan, tanpa menambahkan dugaan tentang motif atau faktor lain.
Adanya permintaan maaf dan penjelasan tersebut memberikan gambaran tentang sikap Oki setelah insiden, tetapi tidak dengan sendirinya menetapkan penilaian menyeluruh atas peristiwa di tribun. Ia menyebut ketegangan pertandingan sebagai konteks yang memengaruhi dirinya, sementara perselisihan soal spanduk menjadi pokok yang turut ia bahas dalam klarifikasi. Tanpa keterangan tambahan yang dapat diverifikasi, tidak tepat untuk menyimpulkan lebih jauh mengenai urutan kejadian atau kondisi pihak-pihak yang terlibat. Yang dapat dicatat adalah bahwa Oki mengakui emosinya sulit terkendali dalam suasana yang menurutnya tegang, serta meminta maaf atas keributan yang terjadi.
Dalam penjelasannya mengenai keributan di tribun, Oki Rengga membantah tudingan bahwa dirinya berusaha melarang suporter membentangkan spanduk tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menyatakan bahwa kedatangannya bukan untuk menghentikan penyampaian pesan tersebut, melainkan untuk berbicara dengan sejumlah suporter yang, menurut pengakuannya, sedang membicarakan rencana pembentangan spanduk. Oki menegaskan bahwa persoalan yang muncul berawal dari perbedaan pandangan mengenai waktu yang dianggap tepat untuk membentangkannya.
Oki mengaku mengusulkan agar spanduk itu dibentangkan setelah pertandingan selesai. Menurut penuturannya, saat itu perhatian penonton di tribun dinilainya sudah terpecah dari pertandingan. Ia khawatir pembentangan spanduk pada momen tersebut akan semakin mengalihkan perhatian dari jalannya laga. Karena itu, ia mengatakan bahwa sarannya dimaksudkan sebagai usulan mengenai waktu, bukan sebagai larangan terhadap isi pesan atau sikap suporter yang ingin menyuarakan isu karhutla.
Ia juga menyebut dirinya bersedia ikut memegang spanduk apabila rencana tersebut dilakukan setelah pertandingan berakhir. Oki mengklaim bahwa para suporter yang berada di lokasi saat percakapan berlangsung menyetujui usulannya. Menurut versinya, pembicaraan itu tidak semata-mata berisi penolakan, tetapi juga mencakup tawaran untuk tetap membantu menyampaikan pesan dengan waktu yang berbeda. Namun, keterangan mengenai percakapan, persetujuan suporter, dan kesediaannya tersebut merupakan klaim Oki dalam menjelaskan kejadian, bukan fakta yang telah dikonfirmasi secara independen.
Dengan penjelasan itu, Oki ingin meluruskan kesan bahwa ia bermaksud membungkam suporter atau menghalangi spanduk karhutla. Ia menggambarkan perbedaan tersebut sebagai persoalan pengaturan waktu pembentangan di tengah pertandingan. Pernyataan itu menjadi bagian dari versinya atas situasi yang memicu keributan di tribun. Penjelasan Oki tidak dengan sendirinya memastikan bagaimana seluruh pihak lain memahami percakapan tersebut atau apa yang terjadi dari sudut pandang mereka. Karena itu, bantahannya perlu dipahami sebagai keterangannya sendiri tentang alasan ia mendatangi suporter dan menyampaikan usulan tersebut.
Baca juga: Prabowo Jelaskan Agenda Pertemuan dengan 800 Petinggi TNI-Polri di Istana | Petisi Warga Soroti Penanganan Karhutla Sumsel, Pengobatan ISPA Dijamin Gratis | Kasus ISPA Sumsel Masih Tinggi pada September, Balita dan Kelompok Rentan Terancam Asap Karhutla
16 kunjungan

