Kota Global Pemerintah Provinsi DKI Jakarta | Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memandang Benyamin S Award (BSA) sebagai salah satu akselerator untuk memperkuat daya saing Jakarta dalam perjalanan menuju kota global. Ajang ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi kelurahan yang menghadirkan program dan pelayanan berkualitas, tetapi juga mendorong tumbuhnya inovasi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat. Melalui pengakuan terhadap inisiatif di tingkat lokal, pemerintah berharap praktik baik dapat terlihat, dipelajari, dan dikembangkan sehingga memberi manfaat lebih luas bagi warga. Pendekatan tersebut menempatkan kelurahan sebagai bagian penting dari upaya membangun kota yang responsif, tangguh, dan mampu bersaing.
Gagasan itu disampaikan Kepala Biro Kerja Sama Daerah Setda DKI Jakarta, Tona Hutauruk, dalam penganugerahan BSA 2026 di Jakarta, Jumat, 30 Oktober. Menurut Tona, penguatan daya saing Jakarta perlu dilakukan dengan mengoptimalkan potensi lokal yang tersebar di berbagai wilayah. Potensi itu dapat berupa sumber daya masyarakat, karakter lingkungan, kekayaan budaya, maupun cara-cara kreatif untuk menjawab persoalan setempat. Karena itu, inovasi kelurahan memiliki arti strategis: gagasan yang sesuai dengan kondisi warga dapat memperkuat kualitas layanan sekaligus mendorong pembangunan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. BSA menjadi salah satu sarana untuk mengenali dan memberi dorongan kepada upaya tersebut.
Tona juga menekankan bahwa pengembangan potensi lokal tidak semestinya menghapus identitas asli Jakarta. Dalam perjalanan menuju kota global, kemajuan dan keterbukaan perlu berjalan seiring dengan pemeliharaan karakter yang membentuk jati diri kota. Identitas tersebut hadir dalam kehidupan warga, tradisi, serta kekhasan tiap kawasan, dan dapat menjadi kekuatan yang membedakan Jakarta di tengah persaingan antar kota. Dengan menggabungkan inovasi, pelayanan publik yang semakin baik, dan penghargaan terhadap identitas lokal, Jakarta dapat membangun daya saing yang berakar pada masyarakatnya. BSA, dalam pandangan pemerintah provinsi, mendorong kelurahan untuk berkontribusi pada visi itu melalui karya yang relevan dan berkelanjutan.
Menurut Tona, Benyamin S Award (BSA) telah berkembang dari sebuah penghargaan menjadi gerakan strategis yang berakar di tingkat kelurahan. Perkembangan ini terlihat dari perhatian yang diberikan terhadap inisiatif dan kerja nyata di lingkungan warga. Dengan menempatkan kelurahan sebagai ruang penting untuk berinovasi, BSA mendorong kepemimpinan lokal agar mampu menerjemahkan tujuan pembangunan kota ke dalam upaya yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Penghargaan tersebut juga mencerminkan arah bersama untuk mewujudkan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Cita-cita itu tidak hanya disampaikan sebagai sasaran, tetapi menjadi landasan bagi berbagai inisiatif yang dinilai melalui BSA. Dalam kerangka tersebut, kualitas lingkungan dan kesejahteraan warga menjadi bagian dari perhatian, sementara kelurahan berperan sebagai penghubung tujuan kota dan pelaksanaan kegiatan di tingkat komunitas.
Kepemimpinan lurah yang inovatif menjadi salah satu unsur penting dalam gerakan ini. Lurah dapat membuka ruang bagi gagasan, mengajak warga terlibat, serta membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Inovasi dalam konteks ini tidak semata-mata berarti menghadirkan program baru, melainkan juga kemampuan menggerakkan sumber daya dan partisipasi secara terarah. BSA memberi perhatian pada peran kepemimpinan tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong kemajuan kelurahan.
Namun, gerakan akar rumput tidak bertumpu pada pemimpin saja. Keterlibatan warga dan dukungan berbagai pihak diperlukan agar inisiatif dapat dijalankan melalui kerja yang solid. Partisipasi masyarakat memberi ruang bagi kebutuhan dan kepedulian lokal untuk hadir dalam kegiatan kelurahan, sedangkan kolaborasi membantu menyatukan peran yang beragam. Penilaian Tona menempatkan kebersamaan ini sebagai ciri penting BSA: penghargaan menjadi wadah yang mengapresiasi upaya bersama, bukan hanya capaian satu individu atau satu institusi. Dengan demikian, BSA menggambarkan kepemimpinan dan partisipasi sebagai dua unsur yang saling melengkapi dalam mendorong lingkungan kelurahan yang lebih baik, sejalan dengan tujuan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera, tanpa melepaskan perhatian pada proses serta keterlibatan para pelakunya.
Proses penjurian Benyamin S Award pada 2026 diawali dengan penjaringan di tingkat kota dan kabupaten. Para wali kota dan bupati berperan merekomendasikan lurah yang dinilai memiliki kinerja serta inovasi terbaik di wilayah masing-masing. Tahap awal ini membuat seleksi bertumpu pada penilaian pemerintah daerah yang memahami kondisi, tantangan, dan kebutuhan masyarakat setempat. Rekomendasi tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi para peserta untuk mengikuti tahapan berikutnya.
Menurut Tona, jumlah lurah yang terlibat meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, tercatat 27 lurah mengikuti proses seleksi, sedangkan pada 2026 jumlahnya mencapai 52 orang. Pertumbuhan tersebut menunjukkan penjaringan yang semakin luas dan meningkatnya partisipasi wilayah dalam ajang ini. Lebih banyak peserta juga memberi ruang bagi beragam gagasan pelayanan publik dan inisiatif tingkat kelurahan untuk diperkenalkan serta dinilai.
Setelah rekomendasi dihimpun, para kandidat menjalani seleksi yang ketat. Proses penilaian tidak berhenti pada banyaknya peserta atau asal wilayah, tetapi menelaah kelayakan setiap lurah berdasarkan kinerja dan inovasi yang diajukan. Dengan demikian, penyaringan berlangsung bertahap: rekomendasi dari wali kota dan bupati membuka kesempatan, lalu evaluasi lanjutan menentukan kandidat yang mampu memenuhi kriteria penjurian. Tahapan tersebut membantu memastikan bahwa peserta yang melaju benar-benar menunjukkan kapasitas dan upaya nyata dalam mengembangkan kelurahan.
Dari 52 peserta pada 2026, proses seleksi akhirnya menghasilkan 10 lurah finalis. Jumlah finalis yang terbatas mencerminkan persaingan yang semakin kompetitif sekaligus pentingnya konsistensi dalam memenuhi penilaian. Tona menyampaikan angka dan keterangan proses tersebut sebagai gambaran perkembangan penjaringan tahun ini. Dengan meluasnya partisipasi dan seleksi berlapis, Benyamin S Award dapat menampilkan lebih banyak praktik baik dari berbagai kelurahan, sekaligus mengidentifikasi kandidat yang paling menonjol untuk melanjutkan ke tahap final. Perubahan jumlah peserta dari 27 menjadi 52 juga menandai jangkauan ajang yang lebih besar pada 2026.
Sepuluh kelurahan telah ditetapkan sebagai finalis Benyamin S Award (BSA) 2026. Mereka adalah Kelurahan Kebon Sirih, Kelapa Gading Timur, Srengseng, Sukabumi Utara, Taman Sari, Kebon Baru, Cilandak Barat, Utan Kayu Selatan, Malaka Sari, dan Pulau Panggang. Daftar tersebut mencakup wilayah dari berbagai bagian Jakarta dan menjadi peserta yang akan bersaing dalam ajang penghargaan kelurahan tahun ini. Penetapan para finalis menandai cakupan kompetisi yang melibatkan sepuluh kelurahan, bukan hanya satu wilayah tertentu. Setiap nama mewakili kelurahan yang masuk ke dalam tahap persaingan BSA 2026.
Dalam kompetisi ini, para finalis bersaing untuk meraih penghargaan pada empat kategori, yaitu bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Kategori-kategori tersebut menjadi ruang penilaian yang berbeda dalam penghargaan kelurahan. Aspek bersih, nyaman, dan indah menyoroti kualitas lingkungan wilayah, sedangkan kategori sejahtera mencakup dimensi kesejahteraan. Keempat kategori itu membentuk lingkup penghargaan yang disebutkan untuk BSA 2026. Dengan demikian, persaingan sepuluh finalis berlangsung dalam kerangka kategori yang telah ditetapkan, tanpa mengubah daftar peserta maupun menambahkan bidang lain.
Kelurahan Kebon Sirih hingga Pulau Panggang merupakan bagian dari kelompok finalis yang sama. Kesepuluhnya tercatat sebagai peserta dalam kompetisi BSA 2026 dan berpeluang bersaing untuk penghargaan kelurahan pada kategori yang tersedia. Informasi mengenai finalis dan kategori tersebut memberikan gambaran tentang luasnya cakupan ajang: sepuluh kelurahan berkompetisi dalam empat kategori, yakni bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Cakupan inilah yang menjadi batas informasi tentang persaingan pada tahap ini.
Baca juga: Inovasi Mixue Dorong Pertumbuhan Mitra di Indonesia | Penataan Kawasan Lapangan Banteng: Menuju Modernisasi Jakarta | Menyelami Keindahan Seni di Jakarta: Empat Pameran Menarik di Bulan September






