Depok Siapkan Penahan Aliran dan Normalisasi Saluran untuk Atasi Banjir SMPN 2

Depok Siapkan Penahan Aliran dan Normalisasi Saluran untuk Atasi Banjir SMPN 2

Depok | Hujan deras pada Selasa, 27 Oktober 2026, menyebabkan air setinggi sekitar 30 sentimeter menggenangi SMPN 2 Depok. Genangan tersebut masuk ke sejumlah bagian sekolah, termasuk ruang kelas dan kantor. Air juga merendam ruang kepala sekolah, sehingga banjir tidak hanya terjadi di area luar bangunan, tetapi mencapai ruang-ruang yang digunakan untuk kegiatan sekolah sehari-hari.

Meski air menggenangi lingkungan sekolah dan beberapa ruangan, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Kondisi tersebut membuat banjir menjadi bagian dari situasi yang dihadapi warga sekolah pada hari itu, sementara aktivitas pembelajaran tidak dihentikan. Keterangan mengenai tinggi air dan ruang-ruang yang terdampak disampaikan dalam laporan kejadian, dengan genangan mencapai sekitar 30 sentimeter di SMPN 2 Depok.

Kepala sekolah, Suharno, menyebut banjir di SMPN 2 Depok bukan peristiwa yang baru terjadi sekali. Menurut keterangannya, genangan telah berulang selama sekitar satu setengah hingga dua tahun terakhir. Pernyataan itu menunjukkan bahwa sekolah beberapa kali menghadapi kejadian serupa dalam rentang waktu tersebut. Pada kejadian Selasa itu, air kembali masuk ke ruang kelas dan kantor, termasuk ruang kepala sekolah, sementara kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Informasi yang disampaikan Suharno menegaskan bahwa banjir berulang menjadi kondisi yang telah dialami sekolah selama periode tersebut; ia tidak menyebutkan rincian kejadian terdahulu dalam keterangan ini. Hujan deras pada 27 Oktober kembali disertai genangan setinggi sekitar 30 sentimeter, yang merendam sejumlah area di lingkungan SMPN 2 Depok. Dengan demikian, gambaran kejadian kali ini mencakup hujan deras, air yang memasuki beberapa ruangan, serta pembelajaran yang tetap berlangsung di tengah genangan. Sekolah menghadapi banjir berulang tersebut sebagaimana disampaikan kepala sekolah, dengan rentang waktu sekitar satu setengah hingga dua tahun.Peninjauan yang dilakukan Dinas Pendidikan Kota Depok bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Depok mengungkap sejumlah persoalan pada aliran air di sekitar SMPN 2 Depok. Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, menyampaikan bahwa salah satu penyebab banjir adalah luapan air sungai yang posisinya lebih tinggi daripada area sekolah. Kondisi tersebut membuat air lebih mudah mengalir ke lingkungan sekolah ketika debit sungai meningkat, terutama saat hujan deras. Temuan ini menunjukkan bahwa penanganan banjir perlu mempertimbangkan hubungan elevasi sungai, kapasitas saluran, dan kondisi drainase di sekitar sekolah.

Selain luapan sungai, tim peninjau menemukan penyempitan pada outlet saluran yang terhubung dengan jalan raya. Bagian saluran yang menyempit dapat menghambat aliran keluar, sehingga air tertahan dan berpotensi melimpas ke kawasan sekitar. Menurut Suharno, banjir terjadi ketika kali di dekat sekolah tidak mampu menampung debit air saat hujan deras. Dengan kata lain, derasnya aliran dari kawasan sekitar dapat melampaui kemampuan badan kali untuk menyalurkan air. Situasi ini semakin berisiko apabila saluran penghubung tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengalirkan air secara lancar menuju jalur pembuangan.

Suharno juga menyebut penyempitan badan kali sebagai faktor yang memperburuk kapasitas aliran. Selain itu, terdapat dugaan pendangkalan pada saluran di dekat Puskesmas Depok Jaya. Endapan yang menumpuk dapat mengurangi kedalaman saluran dan memperkecil volume air yang mampu ditampung. Gorong-gorong yang tersumbat berbagai jenis sampah turut menghambat aliran, khususnya ketika hujan membawa lebih banyak air dan material ke saluran. Gabungan hambatan tersebut membuat air lebih sulit bergerak keluar dari kawasan sekolah. Hasil peninjauan ini menjadi dasar untuk melihat titik-titik yang membutuhkan penanganan, termasuk outlet, badan kali, saluran dekat puskesmas, dan gorong-gorong. Perbaikan aliran pada bagian-bagian itu diperlukan agar air hujan tidak tertahan dan meluap kembali ke lingkungan SMPN 2 saat debit meningkat.

Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok telah membahas sejumlah upaya untuk menangani persoalan banjir di SMPN 2 Depok. Pembahasan tersebut mencakup langkah jangka pendek dan menengah, dengan penanganan awal diarahkan untuk mengurangi risiko air dari saluran masuk ke area sekolah. Upaya ini direncanakan sebagai bagian dari penanganan bertahap, sembari menyiapkan pembenahan saluran yang lebih menyeluruh.

Untuk langkah jangka pendek, Disdik akan menerapkan metode backflow di lingkungan SMPN 2 Depok. Mekanisme ini bekerja seperti katup yang menahan aliran balik, sehingga air dari saluran tidak mengalir kembali dan masuk ke kawasan sekolah. Dengan pemasangan penahan tersebut, aliran dari saluran diharapkan dapat dikendalikan ketika kondisi tertentu menyebabkan air bergerak kembali menuju area sekolah. Penerapan metode ini menjadi upaya awal untuk mengurangi dampak genangan.

Wahid mengatakan pengerjaan metode backflow akan segera dilakukan. Namun, pemasangan itu masih berupa rencana dan belum dinyatakan selesai. Pemerintah menargetkan pekerjaan dapat rampung pada November atau Desember 2026. Jadwal tersebut menjadi sasaran pelaksanaan, sementara realisasinya akan bergantung pada proses pengerjaan di lapangan. Karena itu, target waktu tersebut perlu dipahami sebagai rencana penanganan, bukan tanda bahwa sistem penahan aliran sudah beroperasi.

Selain upaya awal tersebut, Disdik dan DPUPR juga membicarakan penanganan jangka menengah untuk mengatasi persoalan banjir di sekolah. Pembahasan lintas dinas diperlukan agar langkah pencegahan di area sekolah dapat berjalan seiring dengan penanganan saluran. Metode backflow diharapkan menjadi perlindungan awal terhadap aliran balik, sedangkan rencana berikutnya diarahkan pada pembenahan yang lebih luas. Pemerintah akan menindaklanjuti rencana itu melalui tahapan pekerjaan sesuai jadwal yang telah ditargetkan.

Untuk penanganan jangka menengah, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok merencanakan normalisasi outlet saluran air yang berada di dekat Puskesmas Depok Jaya. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas aliran, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Saluran yang lebih memadai diharapkan dapat mengalirkan air dengan lebih lancar dan mengurangi risiko limpasan menuju lingkungan sekolah. Rencana normalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan banjir yang tidak hanya berfokus pada tindakan darurat, tetapi juga pada pembenahan infrastruktur saluran secara bertahap.

Suharno berharap penyempitan kali dan saluran di sekitar SMPN 2 Depok dapat diperbaiki agar aliran air tidak mudah tertahan. Menurutnya, penanganan perlu melihat kondisi jalur air secara menyeluruh, termasuk titik-titik sempit yang menghambat debit saat curah hujan meningkat. Pelebaran saluran dapat menjadi salah satu pilihan jika kondisi lokasi memungkinkan. Namun, apabila pelebaran belum dapat dilakukan, pengontrolan atau pembenahan gorong-gorong setidaknya perlu dipertimbangkan. Gorong-gorong yang terawat dan tidak tersumbat dapat membantu menjaga kelancaran aliran. Perbaikan pada bagian tersebut juga diharapkan mengurangi kemungkinan air meluap ke area sekolah, sekaligus mendukung langkah normalisasi outlet di dekat Puskesmas Depok Jaya.

Di tengah kondisi banjir, kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berjalan. Sebagian siswa juga dilibatkan dalam kegiatan membersihkan area sekolah setelah terdampak genangan. Keterlibatan tersebut dilakukan sebagai pembelajaran mengenai mitigasi bencana, bukan semata-mata kegiatan untuk memulihkan lingkungan. Siswa dapat memahami pentingnya menjaga kebersihan saluran, mengenali dampak hujan deras, serta mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika banjir terjadi. Meski demikian, kegiatan pembersihan tetap perlu memperhatikan keselamatan siswa dan dilaksanakan dengan pendampingan pihak sekolah. Pengalaman tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kesiapsiagaan menghadapi banjir melibatkan berbagai pihak. Sementara itu, perbaikan saluran dan gorong-gorong tetap diperlukan agar upaya di lingkungan sekolah didukung penanganan infrastruktur yang lebih luas.

Baca juga: Anggaran Pilkades Bukan Beban Calon, Pemkab Siapkan Pembiayaan melalui APBD | Penemuan Kerangka Manusia di Tangerang: Polisi Siapkan Langkah Identifikasi