Jakarta | Pelatih Bigetron by Vitality, ONIC, dan RRQ Kazu menilai persaingan di Free Fire World Series (FFWS) Global Finals 2026 akan semakin sulit. Ketiga wakil Indonesia itu harus menghadapi kompetisi dengan format baru yang menghadirkan 24 tim. Turnamen dijadwalkan mulai berlangsung pada 6 November di Bangkok, Thailand, dan jumlah peserta yang lebih besar diperkirakan mengubah dinamika pertandingan sejak fase awal. Setiap tim tidak hanya perlu menyiapkan kemampuan individu dan koordinasi skuad, tetapi juga memahami situasi permainan yang berkembang cepat di berbagai area.
Dengan lebih banyak tim di dalam pertandingan, membaca strategi lawan menjadi tantangan tersendiri. Pola permainan yang sebelumnya dapat diperkirakan dari sejumlah pesaing mungkin berubah ketika tim-tim dari berbagai kawasan bertemu. Masing-masing peserta membawa pendekatan berbeda dalam mencari perlengkapan, bergerak menuju zona aman, dan menentukan waktu untuk bertarung. Perubahan kecil dalam keputusan lawan dapat memengaruhi rencana satu regu, sehingga para pemain perlu sigap menyesuaikan strategi tanpa kehilangan tujuan utama. Informasi yang dikumpulkan selama pertandingan pun harus dimanfaatkan dengan cermat untuk menekan risiko.
Penentuan lokasi pendaratan juga berpotensi menjadi lebih rumit. Banyaknya peserta dapat meningkatkan persaingan di titik-titik yang dianggap menguntungkan, sekaligus mendorong tim memilih area alternatif. Pilihan tersebut memiliki konsekuensi terhadap akses perlengkapan, jalur rotasi, dan peluang bertemu lawan pada awal permainan. Selain itu, pergerakan tim dari berbagai kawasan perlu diantisipasi karena pendekatan mereka belum tentu serupa dengan gaya bermain yang biasa dihadapi para wakil Indonesia. Pelatih dan pemain harus menyiapkan beberapa kemungkinan, bukan bergantung pada satu rencana tetap. Dalam format 24 tim, pengamatan, komunikasi, serta pengambilan keputusan yang cepat akan menjadi bagian penting dari upaya bertahan dan mengumpulkan poin. Bekal persiapan itu diharapkan membantu Bigetron by Vitality, ONIC, dan RRQ Kazu menavigasi tekanan turnamen di Bangkok.
Pelatih Bigetron by Vitality, Chris Jo, menaruh perhatian khusus pada Xprojekt, tim dari kawasan MENA yang menjadi salah satu lawan berpotensi bersinggungan dengan wakil Indonesia di FFWS Global Finals 2026. Menurut Chris, Xprojekt saat ini tengah menjalani bootcamp atau pemusatan latihan di Indonesia. Kehadiran mereka di lokasi yang sama membuat potensi pertemuan antartim dalam perebutan area permainan semakin nyata, terutama pada fase awal pertandingan ketika tim-tim menentukan lokasi pendaratan.
Perhatian Bigetron tertuju pada dua drop zone yang dimiliki bersama Xprojekt. Dalam kompetisi battle royale, zona pendaratan yang sama dapat memaksa dua tim berhadapan langsung sebelum permainan berkembang ke fase berikutnya. Situasi tersebut menuntut persiapan matang, mulai dari membaca kebiasaan lawan hingga menentukan respons jika kedua skuad mendarat di area yang sama. Bagi Bigetron, benturan di drop zone bukan sekadar kemungkinan taktis, melainkan risiko yang perlu diperhitungkan dalam menyusun pendekatan pertandingan.
Chris menyebut tingkat kemenangan Bigetron dalam situasi tersebut masih berada di angka 50 persen. Catatan itu menunjukkan bahwa hasil duel di area pendaratan belum dapat dianggap pasti, sehingga tim perlu terus mengevaluasi strategi dan kesiapan pemain. Angka tersebut juga menjadi pengingat bahwa penguasaan drop zone bersama Xprojekt dapat berujung pada hasil yang berbeda di setiap pertemuan. Bigetron perlu menjaga disiplin komunikasi dan mengambil keputusan cepat ketika menghadapi perebutan lokasi, sembari tetap menyesuaikan strategi dengan kondisi pertandingan.
Pernyataan Chris disampaikan dalam acara pelepasan wakil Indonesia untuk FFWS Global Finals 2026 di Jakarta pada Jumat. Ia menekankan potensi pertemuan dengan Xprojekt sebagai hal yang patut dicermati, bukan sebagai kepastian bahwa kedua tim akan selalu bertarung di awal laga. Dengan memahami peluang dan risiko pada dua drop zone tersebut, Bigetron dapat menyiapkan beberapa skenario sebelum turnamen berlangsung. Persiapan itu penting agar tim mampu merespons tekanan secara terukur apabila kembali berhadapan langsung dengan Xprojekt, sekaligus mempertahankan peluang untuk mengembangkan permainan setelah fase pendaratan berakhir.
Pelatih ONIC, Ahmad “AFM” Fadly Masturoh, menilai format 24 tim di FFWS Global Finals 2026 menghadirkan tantangan tersendiri bagi seluruh peserta. Jumlah tersebut menjadi pengalaman pertama dalam kompetisi global Free Fire, sehingga tim tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pendekatan yang sudah terbukti pada turnamen dengan jumlah peserta lebih sedikit. Setiap tambahan tim berpotensi mengubah dinamika pertandingan, mulai dari persaingan menentukan area aman hingga pilihan strategi sejak fase awal. Bagi ONIC, persiapan bukan hanya soal meningkatkan kemampuan individu dan koordinasi skuad, tetapi juga membaca situasi yang mungkin berubah lebih cepat dari perkiraan. AFM melihat skala kompetisi ini membuat pemahaman terhadap kekuatan lawan menjadi semakin penting, sekaligus lebih rumit untuk dibangun sebelum pertandingan dimulai.
Tantangan itu bertambah dengan hadirnya wakil dari kawasan yang tidak selalu menjadi bagian dari peta persaingan utama, seperti India, Nepal, Bangladesh, dan Amerika Utara. Menurut AFM, karakter setiap tim dapat berbeda, termasuk dalam menentukan lokasi pendaratan dan menyusun pola rotasi. Jika kebiasaan lawan belum banyak diketahui, tim lain akan kesulitan menebak area yang mereka incar atau jalur yang dipilih untuk bergerak menuju zona berikutnya. Dampaknya, keputusan yang biasanya terasa aman bisa berubah menjadi pertemuan tak terduga. Tim unggulan perlu menyesuaikan rencana secara langsung, bukan semata-mata menjalankan strategi berdasarkan reputasi lawan. Situasi tersebut juga menuntut komunikasi yang rapi agar perubahan rotasi tidak membuat pemain terpisah atau kehilangan kendali atas area yang telah diamankan.
AFM mengaitkan potensi kejutan itu dengan Esports World Cup (EWC) tahun sebelumnya. Kala itu, dua tim India berhasil menembus grand final, meskipun pencapaian tersebut tidak banyak diperkirakan sebelum turnamen berlangsung. Hasil itu menjadi pengingat bahwa peta kekuatan dapat berkembang dan tim dari kawasan yang kurang disorot tetap mampu bersaing di panggung besar. Ia menilai kejutan serupa mungkin terjadi di FFWS Global Finals 2026, terutama dengan jumlah peserta yang lebih besar dan latar persaingan yang beragam. Kondisi tersebut dapat menyulitkan tim yang sejak awal dipandang sebagai favorit, termasuk ONIC, RRQ Kazu, dan Bigetron. Karena itu, status unggulan tidak menjamin perjalanan yang mudah. Setiap tim perlu menjaga kewaspadaan, cepat beradaptasi, dan menghormati ancaman dari semua peserta hingga pertandingan berakhir.Pelatih RRQ Kazu, Adi Gustiawan, menyambut positif keputusan memperluas jumlah peserta FFWS Global Finals 2026 menjadi 24 tim. Baginya, tambahan slot bukan sekadar perubahan angka dalam daftar peserta, tetapi langkah yang dapat memberi lebih banyak tim kesempatan bersaing di level tertinggi. Turnamen dengan cakupan lebih luas juga dinilai mampu mendorong perkembangan ekosistem kompetitif Free Fire, dari komunitas dan liga regional hingga panggung internasional.
Adi melihat kesempatan tampil di turnamen dunia dapat menjadi motivasi bagi pemain untuk terus meningkatkan kemampuan. Semakin banyak wakil yang berpeluang berkompetisi, semakin terbuka pula jalur bagi talenta dari berbagai wilayah untuk menunjukkan kualitas mereka. Pengalaman menghadapi tim lintas negara dapat memperkaya persaingan dan membantu pemain memahami standar permainan internasional. Dengan demikian, format yang menampung lebih banyak peserta berpotensi memberi dampak yang melampaui satu edisi kompetisi.
Perluasan itu sejalan dengan langkah Garena membuka wilayah kompetisi baru, termasuk Eropa, Amerika, dan Afrika. Minat pemain Free Fire di kawasan-kawasan tersebut disebut terus meningkat, sehingga kesempatan mengikuti jalur kompetitif resmi menjadi semakin relevan.




