KKSB Dorong Desa Kreatif Sumatera Utara, Tiga Daerah Masuk Nominasi

Kabupaten Deli Serdang | Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution mendorong pemerintah kabupaten dan kota agar berperan aktif mengembangkan desa serta kelurahan kreatif melalui program Kampung Kreatif Sumut Berkah (KKSB). Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu pemerintah daerah mengenali potensi khas wilayahnya, lalu mengolahnya menjadi kegiatan dan produk kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan keterlibatan pemerintah setempat, pengembangan diharapkan sesuai dengan karakter, kebutuhan, dan sumber daya masing-masing kawasan.

Bobby menyampaikan bahwa KKSB memiliki tujuan memperkuat identitas dan kreativitas lokal, meningkatkan produktivitas kawasan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ketiga sasaran itu berkaitan: identitas lokal dapat menjadi pijakan bagi warga untuk mengembangkan kreativitas, sementara kegiatan yang produktif membuka peluang ekonomi baru. Karena itu, desa dan kelurahan didorong tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam mengembangkan potensi serta menjaga ciri khas daerahnya.

KKSB 2026 ditetapkan sebagai program strategis daerah pada masa kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution bersama Wakil Gubernur Surya. Penetapan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kampung kreatif menjadi bagian dari agenda pembangunan Sumatera Utara, bukan sekadar kegiatan sesaat. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyiapkan bantuan khusus hingga Rp50 miliar untuk mendukung pelaksanaannya. Dukungan anggaran itu ditujukan agar pemerintah kabupaten dan kota memiliki sokongan dalam menjalankan program, dengan pelaksanaan yang diarahkan pada kebutuhan dan potensi lokal.

Melalui kolaborasi tersebut, Pemprov Sumut mendorong daerah untuk menyusun langkah pengembangan yang melibatkan masyarakat. Warga dapat berkontribusi dengan mengangkat kekayaan budaya, keterampilan, maupun potensi ekonomi yang telah tumbuh di lingkungannya. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kapasitas kampung secara bertahap, sehingga aktivitas kreatif dapat berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas. Pada akhirnya, KKSB diharapkan membantu membangun kawasan yang produktif sekaligus mempertahankan identitas lokal, serta memperluas kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh nilai ekonomi dari potensi daerahnya.

Program KKSB 2026 menerima 45 proposal dari desa dan kelurahan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara. Jumlah pengajuan tersebut menjadi gambaran beragamnya gagasan daerah untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Setiap proposal kemudian melalui proses penjaringan dan penilaian agar usulan yang dipilih memiliki dasar kebutuhan yang jelas serta peluang untuk diwujudkan secara berkelanjutan.

Tim penjaringan telah menyelesaikan tahapan evaluasi, termasuk rapat pleno yang membahas hasil penilaian, verifikasi, dan validasi lapangan. Rangkaian ini membantu memastikan bahwa gagasan dalam proposal sesuai dengan kondisi nyata di wilayah pengusul. Penilaian tidak hanya bertumpu pada uraian tertulis, tetapi juga mempertimbangkan temuan ketika tim memeriksa keadaan di lapangan. Dengan demikian, hasil seleksi dapat mencerminkan kebutuhan masyarakat dan kelayakan pengembangan program secara lebih menyeluruh.

Bobby menjelaskan bahwa wilayah yang dinilai perlu memiliki persoalan sekaligus potensi yang dapat dikembangkan. Artinya, sebuah usulan tidak cukup hanya mengidentifikasi masalah; gagasan yang diajukan juga perlu menunjukkan bagaimana keadaan tersebut bisa ditangani dan menghasilkan manfaat. Sebagai contoh, aliran sungai atau anak sungai mungkin mengganggu pemandangan atau menjadi lokasi pembuangan sampah. Namun, kondisi itu dapat diolah menjadi peluang untuk menghadirkan solusi yang memperbaiki lingkungan sekaligus membuka potensi ekonomi bagi warga.

Pendekatan tersebut mendorong desa dan kelurahan untuk melihat aset lokal secara lebih cermat. Persoalan yang selama ini dianggap sebagai hambatan dapat menjadi titik awal bagi perencanaan yang kreatif, sepanjang solusi yang ditawarkan sesuai dengan kondisi setempat. Dalam konteks seleksi KKSB 2026, keterkaitan masalah, potensi, dan rencana tindak lanjut menjadi bagian penting dalam menilai kekuatan setiap proposal. Tahapan evaluasi dan pemeriksaan lapangan membantu membedakan gagasan yang sekadar menarik dari usulan yang berangkat dari kebutuhan nyata serta memiliki kemungkinan untuk dikembangkan. Proses ini juga memberi ruang bagi daerah untuk menunjukkan cara mereka memadukan perbaikan lingkungan dengan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, kualitas proposal bergantung pada ketepatan membaca persoalan dan kejelasan arah pengembangan potensi lokal.

Tiga kabupaten di Sumatera Utara masuk dalam nominasi pemenang KKSB 2026, yakni Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Humbang Hasundutan. Ketiga daerah tersebut menyampaikan paparan mengenai upaya serta potensi yang menjadi bagian dari pencalonan mereka. Presentasi masing-masing kabupaten disampaikan langsung oleh kepala daerah, sehingga informasi mengenai program dan kondisi daerah dipaparkan oleh pihak yang memimpin pelaksanaannya.

Bupati Serdang Bedagai Darma Wijaya mempresentasikan nominasi daerahnya. Paparan berikutnya disampaikan Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan, sementara Bupati Humbang Hasundutan Oloan Paniaran Nababan hadir untuk menjelaskan nominasi kabupatennya. Kehadiran para bupati dalam penyampaian tersebut menempatkan pemerintah daerah sebagai narasumber utama terkait gagasan dan langkah yang diajukan dalam KKSB 2026.

Seluruh presentasi didengarkan Bobby di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan, pada Senin. Dalam forum itu, setiap kepala daerah memaparkan materi nominasi secara langsung. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi ketiga kabupaten untuk menjelaskan hal-hal yang mereka ajukan, sekaligus bagi pihak yang menyimak untuk memperoleh gambaran dari masing-masing daerah. Informasi yang disampaikan dalam paparan menjadi bagian dari proses penilaian terhadap para nominasi.

Masuknya Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Humbang Hasundutan dalam daftar nominasi menunjukkan bahwa ketiganya berada dalam perhatian pada penyelenggaraan KKSB 2026. Namun, status nominasi berbeda dari penetapan sebagai pemenang. Ketiga kabupaten tersebut masih tercatat sebagai daerah yang masuk nominasi, dengan paparan yang telah disampaikan oleh kepala daerah masing-masing. Penyampaian langsung itu juga memungkinkan setiap bupati menerangkan materi yang diajukan serta memberikan konteks mengenai kabupaten yang mereka pimpin. Dengan demikian, forum di Kantor Gubernur Sumut pada Senin menjadi tempat penyampaian presentasi nominasi oleh Darma Wijaya, Asri Ludin Tambunan, dan Oloan Paniaran Nababan, yang masing-masing mewakili Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Humbang Hasundutan.

Salah satu rencana yang dipaparkan Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan adalah pengembangan Harapan Square sebagai sentra wisata tanaman hias. Kawasan ini direncanakan berada di Dusun VII–XI, Desa Bangun Sari Baru, Kecamatan Tanjungmorawa, Kabupaten Deli Serdang. Gagasan tersebut mengangkat kegiatan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi warga, yakni menjual dan membudidayakan tanaman hias. Dengan pengembangan yang terarah, aktivitas tersebut diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung sekaligus memberi identitas baru bagi desa.

Desa Bangun Sari Baru terletak di dataran rendah, sekitar 25 kilometer dari Kota Medan. Letaknya juga dinilai berpotensi menjadikan kawasan ini sebagai tujuan wisata bagi orang-orang yang baru tiba di Bandara Internasional Kualanamu. Jarak dan akses dari bandara dapat membuka peluang bagi wisatawan untuk singgah, mengenal ragam tanaman hias, serta melihat kegiatan warga setempat. Potensi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam merancang Harapan Square, meskipun pengembangannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lokasi.

Selama ini, warga telah menjual tanaman hias, tetapi kawasan penjualan dan kegiatan terkait belum tertata sebagai satu tujuan wisata. Harapan Square direncanakan untuk menata lokasi tersebut agar lebih nyaman dikunjungi dan memiliki fungsi yang lebih jelas. Penataan dapat membantu menghubungkan usaha warga dengan pengalaman wisata, sehingga pengunjung tidak sekadar membeli tanaman, tetapi juga mengenal potensi desa. Rencana ini sekaligus diarahkan untuk memberi nilai tambah pada kegiatan ekonomi yang sudah berjalan, bukan menggantikannya.

Baca juga: Transformasi Kecerdasan Buatan untuk Pekerja Kreatif di Malang