Meutya Hafid Dorong Anak Muda Indonesia Jadi Pencipta Nilai di Era AI

Meutya Hafid Dorong Anak Muda Indonesia Jadi Pencipta Nilai di Era AI

Jakarta | Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak peserta Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 untuk berinovasi dan mengambil peran sebagai pencipta dampak di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Ajakan tersebut disampaikan dalam acara IYS 2026 yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Jumat. Meutya menilai Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya mengikuti perubahan teknologi, tetapi juga mampu memimpin arah transformasi digital. Pesan itu menempatkan anak muda sebagai bagian penting dari upaya membangun ekosistem digital yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Di era AI, kemampuan menggunakan teknologi saja dinilai belum cukup. Anak muda juga perlu mengembangkan gagasan, keterampilan, dan keberanian untuk menghasilkan solusi yang menjawab kebutuhan nyata. Perkembangan kecerdasan buatan mengubah cara orang belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menciptakan layanan. Karena itu, generasi muda diharapkan dapat memahami perubahan tersebut sekaligus mempertimbangkan dampaknya. Inovasi yang mereka dorong dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari produk dan layanan digital hingga pendekatan baru untuk menyelesaikan persoalan sosial. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak hanya menjadi sesuatu yang dikonsumsi, melainkan juga peluang untuk menciptakan nilai.

Penekanan Meutya pada kepemimpinan digital mencerminkan kebutuhan Indonesia untuk menyiapkan talenta yang aktif membentuk masa depan, bukan sekadar menjadi pengguna teknologi. Kepemimpinan tersebut dapat tumbuh melalui kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan tanggung jawab dalam memanfaatkan AI. Forum seperti IYS menjadi ruang bagi peserta untuk bertukar pandangan dan melihat bagaimana ide dapat dikembangkan menjadi dampak. Ajakan itu juga relevan bagi upaya memastikan transformasi digital berjalan inklusif dan selaras dengan kepentingan publik. Dengan mendorong anak muda berinovasi, Indonesia dapat memperkuat kapasitas generasi penerus untuk menghadapi perubahan sekaligus berkontribusi pada kemajuan bangsa.

Meutya Hafid menggambarkan ekonomi digital Indonesia sebagai sektor dengan skala dan peluang yang sangat besar. Nilainya saat ini diperkirakan sekitar 100 miliar dolar AS, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara. Prospek pertumbuhannya juga signifikan: pada 2030, nilainya diproyeksikan mencapai 360 miliar dolar AS. Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas digital serta potensi yang dapat dikembangkan dalam beberapa tahun mendatang. Namun, besaran pasar dan laju pertumbuhan tidak seharusnya menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan transformasi digital Indonesia.

Menurut pesan Meutya, nilai ekonomi yang tinggi belum dengan sendirinya menjawab pertanyaan penting tentang daya saing. Pertumbuhan transaksi, layanan daring, dan penggunaan platform dapat memperluas kegiatan ekonomi, tetapi belum tentu memperkuat kemampuan Indonesia untuk menghasilkan teknologi dan produk bernilai tambah. Jika masyarakat hanya menjadi pengguna, sementara teknologi utama dikembangkan dan dikendalikan pihak lain, manfaat ekonomi yang tercipta berisiko tidak sepenuhnya memperkuat kapasitas nasional. Karena itu, capaian pasar perlu dibaca bersama kemampuan talenta, pelaku usaha, dan institusi dalam membangun inovasi yang berkelanjutan.

Meutya juga menekankan bahwa keterhubungan digital tidak otomatis menjadikan masyarakat berdaya secara digital. Akses internet dan perangkat merupakan fondasi penting, tetapi pemberdayaan membutuhkan keterampilan untuk memahami, mengembangkan, dan memanfaatkan teknologi secara produktif. Dalam konteks kecerdasan buatan, kemampuan tersebut semakin menentukan apakah anak muda mampu mengambil peran aktif dalam perubahan, bukan sekadar mengikuti layanan yang tersedia. Indonesia perlu bergerak dari posisi sebagai pasar bagi teknologi menuju negara yang turut menciptakan nilai. Peralihan itu menuntut lebih dari pemakaian aplikasi: dibutuhkan pengetahuan, kreativitas, dan penguasaan untuk mengembangkan serta mengendalikan teknologi. Dengan demikian, potensi ekonomi digital dapat diterjemahkan menjadi daya saing, lapangan usaha, dan nilai yang tumbuh di dalam negeri.

Dalam forum Indonesia Youth Summit (IYS), Meutya Hafid mengajak peserta dan generasi muda Indonesia untuk mengambil peran lebih aktif di tengah perkembangan kecerdasan buatan. IYS diikuti 160 pemuda terpilih dari berbagai provinsi sebagai peserta utama. Mereka diharapkan tidak berhenti sebagai pengguna aplikasi dan layanan digital, melainkan mulai merancang gagasan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Ajakan ini juga ditujukan kepada anak muda secara luas: teknologi sebaiknya tidak hanya dipakai untuk memperoleh kemudahan pribadi, tetapi dimanfaatkan untuk menciptakan nilai dan dampak yang relevan bagi Indonesia.

Perubahan peran tersebut menuntut cara belajar yang lebih mendalam. Menurut pesan yang disampaikan, kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai kecakapan merumuskan pertanyaan yang tepat. Dalam era AI, mencari jawaban memang dapat terasa semakin mudah, tetapi kualitas hasil tetap bergantung pada persoalan yang diajukan dan pemahaman terhadap konteksnya. Karena itu, generasi muda perlu berlatih mengenali masalah, menentukan informasi yang dibutuhkan, dan menilai apakah keluaran teknologi benar-benar berguna. Keterampilan ini membantu mereka bergerak dari sekadar menerima hasil menjadi pihak yang mampu mengarahkan teknologi untuk tujuan yang jelas.

Pemahaman tentang prinsip kerja, kemampuan, dan keterbatasan teknologi juga penting. Aplikasi berbasis AI dapat membantu banyak kegiatan, tetapi bukan solusi otomatis untuk setiap persoalan. Pengguna perlu memahami apa yang dapat dilakukan sistem, kapan hasilnya perlu diperiksa, serta bagaimana menjaga agar penerapannya sesuai kebutuhan dan kondisi setempat. Dengan bekal tersebut, anak muda dapat mengembangkan solusi yang lebih bertanggung jawab, bukan sekadar mengikuti tren atau mengandalkan jawaban yang dihasilkan aplikasi tanpa penilaian.

Contoh penerapan yang disoroti mencakup penggunaan AI untuk membantu guru dalam kegiatan pendidikan, mendukung petani menghadapi kebutuhan di sektor pertanian, serta meningkatkan efisiensi UMKM. Teknologi juga berpotensi memperluas akses masyarakat terhadap layanan publik. Bidang-bidang ini menunjukkan bahwa inovasi tidak harus dimulai dari aplikasi yang rumit; titik awalnya dapat berupa pemahaman atas kendala nyata dan rancangan yang sesuai bagi orang yang akan menggunakannya. Dengan mendorong lebih banyak anak muda menjadi pencipta solusi, ajakan Meutya menempatkan AI sebagai sarana untuk menghasilkan manfaat sosial yang luas, bukan sekadar alat konsumsi teknologi.

Adopsi kecerdasan artifisial yang semakin luas menuntut cara pandang kepemimpinan yang tidak berhenti pada kecanggihan teknologi. Meutya Hafid menekankan pentingnya memastikan bahwa pengembangan dan pemanfaatan AI tetap berpusat pada manusia, menjunjung etika, serta dilakukan melalui kolaborasi. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan dan membuka peluang baru, tetapi arah penggunaannya bergantung pada keputusan manusia. Karena itu, kemajuan tidak semestinya diukur hanya dari kemampuan sistem memproses data atau menghasilkan keluaran, melainkan juga dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Pendekatan tersebut mengajak para pengembang, pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas untuk mengajukan pertanyaan mendasar sebelum membangun suatu teknologi. Mengapa teknologi ini dibutuhkan, dan persoalan siapa yang hendak diselesaikan? Siapa yang akan menerima manfaatnya, serta apakah akses terhadap manfaat tersebut dapat dirasakan secara adil? Risiko apa yang mungkin muncul, dan bagaimana privasi, keamanan, hak, serta keselamatan pengguna dapat dilindungi? Pertanyaan semacam ini membantu memastikan bahwa inovasi tidak hanya mungkin dibuat, tetapi juga layak dan bertanggung jawab untuk diterapkan.

Kepemimpinan AI yang beretika juga memerlukan ruang dialog lintas bidang. Keahlian teknis perlu dipertemukan dengan pemahaman tentang kebutuhan sosial, budaya, dan ekonomi, sementara kebijakan harus mampu mengikuti perubahan tanpa mengabaikan perlindungan publik. Kolaborasi memungkinkan berbagai pihak mengenali potensi dampak sejak awal, termasuk kemungkinan bias, kesenjangan akses, atau penggunaan yang merugikan. Dengan begitu, generasi muda dapat mengambil peran bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, melainkan sebagai pencipta solusi yang mempertimbangkan kepentingan bersama dan membangun kepercayaan masyarakat.

Meutya mengaitkan tanggung jawab tersebut dengan semangat kebangsaan lintas generasi.

Baca juga: Peningkatan Kasus Cuci Darah di Kalangan Anak Muda dan Pentingnya Kesadaran Obat