Jakarta | Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mengajak generasi muda menjaga semangat persatuan dan memahami perjuangan bangsa melalui nilai-nilai Sumpah Pemuda. Ajakan tersebut disampaikan saat ia membuka kegiatan napak tilas di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, pada Minggu. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Merah Muda Fest 2026 yang digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98. Melalui peringatan tersebut, kaum muda diajak melihat sejarah bukan sekadar sebagai catatan masa lalu, melainkan sebagai sumber nilai yang tetap relevan bagi kehidupan bersama.
Charles menegaskan bahwa napak tilas itu bukan hanya kegiatan berjalan menyusuri tempat bersejarah. Menurutnya, kegiatan tersebut juga merupakan cara untuk mengenalkan sekaligus mengingatkan anak muda pada lahirnya Sumpah Pemuda. Museum Sumpah Pemuda dipilih sebagai titik pembukaan karena tempat tersebut berkaitan langsung dengan sejarah peristiwa yang menjadi tonggak persatuan nasional. Dengan mendatangi lokasi bersejarah, peserta diharapkan dapat lebih dekat dengan kisah perjuangan para pemuda yang menyatukan tekad di tengah perbedaan.
Pesan tentang persatuan menjadi inti ajakan Charles kepada generasi muda. Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa kebersamaan dapat dibangun ketika masyarakat menempatkan cita-cita bersama di atas perbedaan. Nilai itu penting untuk dipahami dan dirawat, terutama oleh anak muda yang turut menentukan arah kehidupan bangsa. Napak tilas dalam Merah Muda Fest 2026 memberi ruang bagi peserta untuk mengenal kembali perjuangan tersebut melalui pengalaman langsung di tempat bersejarah. Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pun menjadi kesempatan untuk menghubungkan warisan sejarah dengan tanggung jawab masa kini: menjaga persatuan serta meneruskan semangat kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Napak tilas Sumpah Pemuda diikuti oleh 500 pemuda dan pemudi yang datang dari seluruh Indonesia. Kehadiran peserta dari berbagai daerah menggambarkan luasnya jangkauan kegiatan ini sekaligus menempatkan generasi muda sebagai bagian utama dalam mengenang sejarah persatuan bangsa. Mereka menyusuri rute di Jakarta yang menghubungkan sejumlah lokasi, dengan titik awal di Museum Sumpah Pemuda dan titik akhir di Lapangan Banteng.
Sejumlah undangan turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Hadir pula pimpinan serta anggota DPR dan DPRD, jajaran pengurus partai, dan pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kehadiran para undangan itu melengkapi partisipasi ratusan peserta muda dalam napak tilas, yang mengambil tempat di kawasan ibu kota.
Rute yang ditempuh memiliki panjang sekitar tiga kilometer. Perjalanan dimulai dari Museum Sumpah Pemuda, kemudian melewati kawasan Gereja Katedral Jakarta, sebelum berakhir di Lapangan Banteng. Ketiga lokasi tersebut menjadi penanda perjalanan dalam kegiatan ini, dengan museum sebagai titik berangkat dan Lapangan Banteng sebagai tujuan akhir. Keterangan mengenai rute tersebut memberi gambaran yang jelas tentang cakupan lintasan tanpa mengubah fokus pada kegiatan napak tilas itu sendiri.
Melalui rute bersejarah tersebut, para peserta menelusuri bagian Jakarta yang menjadi latar kegiatan. Jumlah peserta dan asal mereka dari seluruh Indonesia menunjukkan keterlibatan anak muda dalam kegiatan bersama di ibu kota. Kehadiran unsur pemerintah, legislatif, dan partai juga tercatat sebagai bagian dari pihak yang mengikuti atau menghadiri acara. Dengan demikian, informasi pokok napak tilas ini mencakup siapa yang terlibat, siapa saja undangan yang hadir, serta jalur sekitar tiga kilometer yang menghubungkan Museum Sumpah Pemuda, kawasan Gereja Katedral Jakarta, dan Lapangan Banteng. Rute itu menjadi kerangka kegiatan yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah di satu lintasan Jakarta.
Museum Sumpah Pemuda menjadi titik awal yang mengajak peserta napak tilas memahami bahwa persatuan Indonesia tumbuh melalui perjumpaan berbagai kalangan. Di tempat ini, kisah organisasi pemuda kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatera, dan Jong Ambon memperlihatkan bagaimana anak muda membawa identitas daerah masing-masing ke dalam ruang dialog bersama. Mereka berasal dari latar suku, budaya, dan agama yang beragam, tetapi tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang untuk membangun cita-cita kebangsaan. Museum ini mengingatkan pengunjung bahwa ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia lahir dari kesediaan untuk melampaui batas kelompok. Makna historisnya bukan hanya tersimpan pada benda dan dokumen, melainkan juga pada keberanian generasi muda merumuskan tujuan bersama. Dengan menelusuri kisah tersebut, peserta dapat melihat persatuan sebagai pilihan yang diperjuangkan dan dirawat, bukan keadaan yang hadir dengan sendirinya.
Titik berikutnya berada di kawasan Gereja Katedral Jakarta. Lingkungan ini memiliki kaitan penting dengan Kongres Pemuda II karena di sana pernah berdiri gedung Katholieke Jongenlingen Bond, salah satu lokasi berlangsungnya kongres pada 27 Oktober 1928. Kehadiran tempat tersebut mengingatkan bahwa peristiwa bersejarah itu berlangsung di sejumlah ruang, bukan hanya di satu gedung. Para pemuda berkumpul, bertukar gagasan, dan membahas masa depan bersama di tengah perbedaan latar organisasi maupun daerah. Sehari setelah pertemuan itu, pada 28 Oktober 1928, kongres mencapai puncaknya melalui ikrar Sumpah Pemuda. Karena itu, kawasan Katedral memberi kesempatan kepada peserta untuk membayangkan rangkaian proses yang mengantar para pemuda dari diskusi menuju pernyataan kebangsaan. Nilai pentingnya terletak pada kerja bersama yang mendahului lahirnya ikrar tersebut.
Perjalanan berakhir di Lapangan Banteng, sebuah titik untuk berhenti sejenak dan merefleksikan perjuangan tokoh-tokoh muda pada masa itu. Nama Muhammad Yamin, Sugondo Djojopoespito, dan Mohammad Tabrani mengingatkan peserta pada peran gagasan, kepemimpinan, serta keterlibatan aktif dalam gerakan pemuda. Napak tilas di lokasi ini menghubungkan jejak sejarah dengan tanggung jawab generasi masa kini. Persatuan tidak cukup dikenang sebagai peristiwa yang terjadi pada 1928; nilai itu perlu diwujudkan dalam sikap saling menghormati dan kemauan bekerja lintas perbedaan. Dari museum hingga Lapangan Banteng, setiap titik menghadirkan bagian berbeda dari perjalanan menuju kesadaran kebangsaan. Rangkaian lokasi ini membantu anak muda memahami bahwa ikrar bersejarah tersebut terbentuk melalui dialog, tekad, dan tindakan nyata. Mengingat perjuangan para tokoh berarti juga meneruskan semangat mereka dalam kehidupan bersama.
Charles menegaskan bahwa sejarah perjuangan bangsa tidak semestinya berhenti sebagai catatan di dalam buku atau menjadi bahan seremoni yang diulang setiap tahun. Kisah para pemuda yang berani menyatukan tekad melalui Sumpah Pemuda perlu dihadirkan sebagai sumber inspirasi bagi generasi masa kini. Nilai keberanian, kepedulian, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas perbedaan dapat membimbing anak muda menghadapi tantangan Indonesia hari ini. Dengan memahami perjalanan tersebut, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga menjadi dorongan untuk mengambil peran dan menghasilkan perubahan yang nyata.
Dalam pandangan Charles, napak tilas menjadi salah satu cara untuk mendekatkan nilai sejarah kepada generasi muda. Peserta diajak menelusuri jejak perjuangan sekaligus merefleksikan arti persatuan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan bangsa menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Menyongsong momentum itu, masyarakat memiliki kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat ikrar 1928 melalui tindakan yang relevan dengan masa kini, seperti membangun ruang dialog, menghargai keberagaman, dan bekerja bersama menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
Charles mengajak anak muda memanfaatkan perjalanan menuju peringatan satu abad tersebut untuk memperkuat persatuan dan menumbuhkan cinta tanah air. Rasa bangga terhadap sejarah, menurut seruan itu, perlu disertai kesediaan meneruskan perjuangan dengan cara yang sesuai dengan zamannya.
Baca juga: Merawat Silaturahmi, Kas Kohanudnas Silaturahmi Dengan Mantan Panglima TNI






