Jakarta | TNI Angkatan Udara mengirimkan total 4,6 ton dry ice untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC) di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Material tersebut diterbangkan menggunakan dua pesawat angkut Hercules dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Minggu, 25 Oktober, sebagaimana tercantum dalam keterangan sumber. Pengiriman ini menjadi bagian dari upaya membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kedua wilayah.
Muatan dry ice dibagi untuk tujuan Palembang, Sumatera Selatan, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dua kota tersebut menjadi titik pengiriman bagi dukungan operasi yang diarahkan untuk membantu mengatasi dampak karhutla. Pesawat Hercules digunakan untuk mengangkut bahan yang diperlukan dalam kegiatan modifikasi cuaca, dengan pengiriman dilakukan melalui jalur udara dari Jakarta Timur menuju masing-masing daerah tujuan.
Dalam operasi modifikasi cuaca, bahan seperti dry ice digunakan sebagai bagian dari upaya untuk memengaruhi proses pembentukan hujan di atmosfer. Pelaksanaannya bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan awan yang sesuai, sehingga penggunaan material tersebut tidak dengan sendirinya menjamin terjadinya hujan. Dukungan ini ditujukan untuk membantu penanganan karhutla, sementara langkah pemadaman dan penanggulangan lainnya tetap diperlukan di lapangan.
Pengiriman 4,6 ton tersebut menunjukkan keterlibatan TNI AU dalam mendukung kegiatan penanganan bencana melalui kemampuan angkut udara. Pesawat Hercules memungkinkan pengiriman muatan dalam jumlah besar ke lokasi tujuan yang berjauhan. Dukungan logistik ini diharapkan memperlancar pelaksanaan OMC di Sumsel dan Kalsel, seiring upaya berbagai pihak mengurangi risiko serta dampak kebakaran hutan dan lahan. Informasi mengenai pengiriman menyebutkan bahwa kegiatan berlangsung pada Minggu, 25 Oktober, dengan Palembang dan Banjarmasin sebagai tujuan distribusi dry ice.
TNI AU mengerahkan dua pesawat Hercules untuk mengirimkan dry ice sebagai bahan pendukung operasi hujan buatan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Total muatan yang diangkut mencapai 4.623 kilogram, atau sekitar 4,6 ton. Pembagian pengiriman dilakukan melalui Banjarmasin dan Palembang, dengan masing-masing pesawat membawa muatan sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Data muatan tersebut menunjukkan bahwa Banjarmasin menerima kiriman dari kedua Hercules, sedangkan Palembang menerima kiriman dari satu pesawat.
Hercules A-1339 membawa sebanyak 2.338 kilogram dry ice ke Banjarmasin dalam dua penerbangan. Jumlah tersebut merupakan total muatan pesawat itu untuk tujuan Banjarmasin; tidak ada rincian lebih lanjut mengenai pembagian berat pada masing-masing penerbangan. Pengiriman menggunakan A-1339 menjadi salah satu bagian dari dukungan TNI AU terhadap operasi hujan buatan di wilayah Kalimantan Selatan. Bahan yang dibawa tersebut ditujukan untuk mendukung pelaksanaan operasi, bukan untuk tujuan pengiriman lain yang disebutkan dalam informasi ini.
Hercules A-1344 mengangkut dry ice dengan dua tujuan. Sebanyak 1.123 kilogram dibawa ke Banjarmasin, sementara 1.162 kilogram lainnya dikirim ke Palembang. Dengan demikian, muatan untuk Banjarmasin berasal dari A-1339 dan A-1344, dengan total 3.461 kilogram. Sementara itu, Palembang menerima 1.162 kilogram melalui A-1344. Rincian ini memperlihatkan pembagian muatan antarpesawat dan tujuan tanpa menambahkan informasi mengenai waktu atau detail penerbangan lain.
Kedua pesawat dikerahkan TNI AU untuk mengirimkan bahan pendukung operasi hujan buatan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Dry ice yang dibawa melalui Banjarmasin dan Palembang menjadi bagian dari dukungan logistik bagi operasi di dua wilayah tersebut. Secara keseluruhan, jumlah muatan dari kedua pesawat adalah 4.623 kilogram: 2.338 kilogram oleh Hercules A-1339, serta 2.285 kilogram oleh Hercules A-1344. Angka total ini sejalan dengan penyebutan sekitar 4,6 ton, sementara rincian per tujuan menunjukkan alokasi yang diterima masing-masing wilayah.
Setelah tiba di Palembang dan Banjarmasin, dry ice yang dikirim untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) direncanakan disebarkan ke udara menggunakan pesawat. Penyebaran tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Muatan yang telah ditempatkan di kedua kota itu akan mendukung pelaksanaan operasi sesuai kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, pengiriman melalui jalur udara tidak berhenti pada pemindahan bahan, tetapi dilanjutkan dengan pemanfaatannya dalam kegiatan modifikasi cuaca.
Dalam OMC, dry ice digunakan sebagai bahan untuk mendukung proses pembentukan hujan buatan. Bahan tersebut akan dilepaskan dari pesawat ke atmosfer pada kondisi yang dinilai mendukung, sebagai bagian dari rangkaian upaya untuk mendorong terjadinya hujan. Pelaksanaan kegiatan tetap bergantung pada kondisi cuaca dan awan di wilayah sasaran. Karena itu, penyebaran dry ice merupakan langkah operasional untuk mendukung rekayasa cuaca, bukan jaminan bahwa hujan akan turun secara merata atau pada waktu tertentu. Operasi ini ditujukan untuk membantu respons terhadap dampak karhutla yang masih berlangsung.
Hujan buatan diharapkan dapat membantu mengurangi asap serta mendukung pemadaman titik api yang masih tersisa. Curah hujan berpotensi membasahi area terdampak dan membantu menekan kondisi yang memungkinkan kebakaran terus bertahan, tetapi hasilnya tidak dapat dipastikan sebelumnya. OMC juga tidak menggantikan penanganan langsung oleh petugas di darat maupun upaya pemantauan karhutla. Penyebaran dry ice dari pesawat diharapkan menjadi salah satu dukungan tambahan bagi langkah-langkah tersebut, khususnya di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Dengan sasaran membantu mengurai asap dan memadamkan sisa titik api, operasi ini diarahkan untuk meringankan dampak karhutla bagi masyarakat serta lingkungan di wilayah terdampak.
Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, menjelaskan pada Senin, 26 Oktober 2026, bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilaksanakan untuk membantu mengurai asap di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah penanganan yang mengandalkan dukungan udara, terutama ketika kondisi cuaca dan sebaran asap menyulitkan upaya pengendalian di lapangan. Menurutnya, pelaksanaan OMC diarahkan untuk mendukung terbentuknya awan hujan sehingga peluang turunnya hujan di wilayah sasaran dapat meningkat. Hujan diharapkan membantu membasahi area yang terbakar dan mengurangi kabut asap yang mengganggu masyarakat.
Mayjen Muhammad Nas juga menyampaikan bahwa TNI akan terus menyediakan pesawat angkut untuk menunjang pemadaman melalui OMC. Pesawat tersebut dapat digunakan untuk membawa personel, perlengkapan, maupun bahan yang diperlukan dalam operasi, termasuk material untuk penyemaian awan. Kesiapan unsur udara menjadi penting karena operasi dapat melibatkan wilayah yang luas dan membutuhkan koordinasi awak pesawat, petugas teknis, serta instansi terkait. Dukungan itu diberikan untuk membantu kelancaran misi, dengan pelaksanaan penerbangan dan penyemaian menyesuaikan kebutuhan operasi serta kondisi atmosfer. Dengan demikian, pengerahan pesawat tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rangkaian upaya penanganan karhutla.
Ia menegaskan, dukungan alutsista udara merupakan bagian dari upaya berkelanjutan TNI bersama instansi terkait untuk mengoptimalkan OMC. Kerja sama lintas lembaga diperlukan agar perencanaan penerbangan, pemantauan cuaca, dan penentuan wilayah sasaran dapat berjalan selaras. OMC tidak menggantikan pemadaman langsung di darat, tetapi dapat melengkapi langkah tersebut dengan membantu pembentukan awan hujan di sekitar area terdampak. Melalui dukungan pesawat angkut dan sarana udara lainnya, TNI berupaya membantu memperkuat respons terhadap karhutla, mendukung pembentukan awan hujan, serta membantu mengurai kabut asap. Pernyataan tersebut menekankan kesinambungan keterlibatan TNI dalam mendukung operasi bersama sesuai kebutuhan di lapangan.
Baca juga: Perpanjangan Operasi Pencarian Korban KMP Virgo Transport-8 | Kisah Lampri dan Operasi Tangkap Tangan KPK | Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan






