Tangerang | Menteri Pekerjaan Umum Doddy Hanggodo meninjau sekaligus menyusuri aliran Kali Angke di wilayah Tangerang pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi sungai yang dikaitkan dengan banjir berulang di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan, terutama saat musim hujan. Peninjauan lapangan memberi kesempatan bagi pemerintah untuk mengamati keadaan aliran, termasuk bagian yang menjadi perhatian dalam upaya memahami persoalan banjir. Doddy mengatakan dirinya ingin memeriksa kondisi Kali Angke setelah memperoleh informasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Dengan menelusuri aliran sungai, ia dapat mencocokkan laporan awal dengan situasi yang terlihat di lapangan.
Perhatian dalam kunjungan itu tertuju pada kondisi Kali Angke yang disebut mengalami pendangkalan dan penyempitan. Kedua persoalan tersebut menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi kapasitas sungai dalam menampung dan mengalirkan air, khususnya ketika curah hujan meningkat. Pemeriksaan langsung dapat membantu mengidentifikasi titik-titik yang memerlukan perhatian lebih lanjut, sekaligus menjadi dasar bagi pembahasan penanganan bersama instansi terkait. Informasi dari BBWS menjadi salah satu bahan bagi menteri untuk menelusuri kondisi sungai, bukan satu-satunya dasar untuk menarik kesimpulan mengenai penyebab banjir. Karena itu, hasil peninjauan perlu ditempatkan dalam konteks kajian yang lebih luas, termasuk kondisi aliran dan wilayah sekitar.
Banjir di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan merupakan persoalan yang muncul berulang pada musim hujan, tetapi kondisi Kali Angke tidak dapat serta-merta dianggap sebagai penyebab tunggal seluruh kejadian. Penanganan banjir memerlukan pemahaman terhadap beragam faktor yang mungkin berperan di setiap lokasi. Peninjauan Doddy menjadi langkah untuk memperoleh gambaran langsung mengenai salah satu bagian dari persoalan tersebut. Temuan lapangan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan BBWS dalam menentukan tindak lanjut yang sesuai, termasuk menilai kebutuhan penanganan pada bagian sungai yang mengalami pendangkalan atau penyempitan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan agar langkah yang direncanakan didasarkan pada kondisi nyata dan mempertimbangkan karakteristik wilayah terdampak. Dengan demikian, kunjungan ini berfokus pada penelusuran kondisi Kali Angke serta pengumpulan informasi untuk mendukung pembahasan penanganan banjir secara terukur dan menyeluruh.
Peninjauan terhadap Kali Angke menyoroti dua persoalan yang berpengaruh langsung terhadap kemampuan sungai menampung aliran air, yaitu pendangkalan akibat sedimentasi dan penyempitan badan sungai. Kedua masalah tersebut perlu dipahami sebagai kondisi yang berbeda, meskipun sama-sama dapat mengurangi daya tampung sungai. Pendangkalan berkaitan dengan perubahan kedalaman, sementara penyempitan mengurangi ruang yang tersedia bagi air untuk mengalir dan tertampung. Dengan demikian, penanganan banjir perlu memperhatikan keduanya sebagai bagian dari kondisi sungai yang ditemukan dalam peninjauan.
Sedimentasi menyebabkan sungai menjadi dangkal. Ketika kedalaman berkurang, ruang tampung air di dalam alur sungai juga dapat menyusut. Sementara itu, penyempitan badan sungai secara langsung mengurangi kapasitas tampung air karena lebar ruang aliran menjadi lebih terbatas. Perbedaan ini penting dalam menjelaskan mengapa dua persoalan tersebut sama-sama menjadi sorotan. Peninjauan tidak hanya mencatat adanya pendangkalan, tetapi juga menunjukkan bahwa penyempitan merupakan persoalan tersendiri yang dapat semakin menurunkan kemampuan Kali Angke menampung air.
Doddy menilai penyempitan sungai cukup serius dan tidak semestinya dibiarkan berlarut-larut. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, daya tampung sungai dapat semakin menurun. Dampaknya menjadi perhatian terutama ketika debit air meningkat pada musim hujan, saat lebih banyak air perlu dialirkan atau ditampung. Dalam keadaan demikian, kapasitas yang berkurang akibat penyempitan dapat menjadi faktor penting dalam upaya penanganan banjir. Penilaian itu menegaskan perlunya memberi perhatian pada kondisi badan sungai, bersamaan dengan masalah pendangkalan yang berkaitan dengan sedimentasi. Kedua temuan tersebut menggambarkan bahwa ruang dan kedalaman alur berperan dalam kapasitas sungai, sehingga perubahan pada salah satunya dapat memengaruhi kemampuan menampung air. Karena itu, penyempitan yang dinilai serius perlu menjadi perhatian tanpa menunda-nunda, khususnya dalam menghadapi peningkatan debit pada musim hujan.
Menurut Doddy, penanganan Kali Angke tidak cukup dilakukan dengan pengerukan atau normalisasi saja. Persoalan sungai ini mencakup dua kondisi yang sama-sama memengaruhi kemampuan aliran, yaitu pendangkalan dan penyempitan pada bagian tertentu. Karena itu, pekerjaan penanganan perlu mencakup upaya mengurangi pendangkalan sekaligus mengembalikan lebar sungai yang telah menyempit. Jika hanya satu persoalan yang ditangani, kapasitas aliran Kali Angke belum tentu dapat kembali mendekati kondisi semula.
Normalisasi diperlukan untuk mengurangi dampak pendangkalan, sedangkan bagian sungai yang menyempit perlu diperlebar. Keduanya merupakan pekerjaan yang saling melengkapi dalam penanganan Kali Angke. Pendangkalan menjadi perhatian karena kondisi tersebut mengurangi ruang aliran, sementara penyempitan juga membatasi kapasitas sungai. Menurut Doddy, pengembalian kapasitas aliran mendekati keadaan semula perlu menjadi tujuan penanganan, sehingga cakupan pekerjaan tidak hanya berfokus pada pengerukan. Penanganan yang mempertimbangkan kedua kondisi itu dinilai lebih sesuai dengan persoalan yang terlihat di sungai.
Doddy juga mengoreksi rencana pekerjaan yang sebelumnya disiapkan jajaran BBWS. Setelah melihat kondisi di lapangan, ia meminta agar penanganan turut mencakup bagian Kali Angke yang menyempit dan tidak terpusat pada pengerukan saja. Dengan demikian, pekerjaan yang direncanakan perlu menyesuaikan kondisi nyata sungai, termasuk titik-titik yang mengalami penyempitan. Penekanan tersebut bukan berarti normalisasi tidak diperlukan, melainkan bahwa pengerukan perlu berjalan bersama penanganan penyempitan. Bagi Doddy, dua pekerjaan itu perlu dipandang sebagai bagian dari upaya mengembalikan kapasitas aliran Kali Angke. Dengan cakupan yang lebih lengkap, penanganan diharapkan menjawab persoalan pendangkalan dan penyempitan secara bersamaan, sesuai kondisi yang ia temukan di lapangan, tanpa mengabaikan tujuan agar kapasitas aliran mendekati kondisi semula.
Rencana normalisasi Kali Angke yang disiapkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) pada awalnya ditargetkan rampung pada Desember. Namun, pekerjaan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama setelah cakupannya diperluas. Penanganan tidak hanya diarahkan pada normalisasi alur sungai, tetapi juga mencakup bagian-bagian yang mengalami penyempitan. Perluasan lingkup ini dinilai penting agar upaya penanganan dapat menyasar persoalan yang berpengaruh terhadap kapasitas sungai dalam menampung dan mengalirkan air.
Secara keseluruhan, bentang pekerjaan normalisasi dan penanganan penyempitan diperkirakan mencapai sekitar 3,5 kilometer. Panjang tersebut menjadi gambaran cakupan yang perlu dibahas lebih lanjut oleh pihak-pihak terkait, termasuk dalam menentukan langkah teknis dan urutan pelaksanaannya. Dengan cakupan yang lebih luas, proses persiapan serta pengerjaan berpotensi berlangsung lebih lama daripada target awal. Karena itu, perkiraan penyelesaian pada Desember perlu dipahami sebagai rencana semula, bukan kepastian bahwa seluruh pekerjaan akan selesai pada bulan tersebut.
Doddy mengingatkan bahwa pembangunan turap atau sheet pile saja tidak cukup untuk menekan risiko banjir apabila kapasitas sungai tidak dipulihkan. Jika pemasangan struktur pelindung dilakukan tanpa memperhatikan ruang aliran, sungai justru dapat semakin menyempit. Kondisi itu berisiko membatasi aliran air dan mengurangi manfaat yang diharapkan dari pembangunan turap. Penanganan perlu mempertimbangkan kondisi alur secara menyeluruh, termasuk kebutuhan mengatasi pendangkalan dan mengembalikan kapasitas sungai, agar pekerjaan fisik dapat mendukung pengurangan risiko banjir secara lebih efektif.
Untuk menyelaraskan cakupan, metode, dan pelaksanaan pekerjaan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama pemerintah daerah akan membahas langkah teknis lebih lanjut. Pembahasan tersebut diharapkan menjadi ruang koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan penanganan yang terpadu, sejalan dengan kondisi Kali Angke dan kebutuhan di lapangan. Hingga pembahasan itu dilakukan, jadwal pelaksanaan maupun keputusan teknis final belum dapat dinyatakan telah ditetapkan.
Baca juga: Revitalisasi Anak Kali Krukut: Penanganan Tanpa Penggusuran | Pencurian Tower BTS di Tangerang: Modus Pelaku Terungkap | Investigasi Kasus Dugaan Asusila Melibatkan Aparat Tangerang




