Samakan dengan Gibran, Politisi PSI Sebut BJ Habibie Tidak Punya Ijazah

Samakan dengan Gibran, Politisi PSI Sebut BJ Habibie Tidak Punya Ijazah

Jakarta | Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sigit Widodo membandingkan polemik latar belakang pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan riwayat pendidikan Presiden ke-3 RI, B.J.

Keterangan yang tercatat menyebut Menurut Sigit, capaian akademik Habibie menunjukkan bahwa riwayat pendidikan seseorang tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan keberadaan ijazah pada setiap jenjang secara terpisah.

Data lain dalam laporan menunjukkan Sigit mengaku yakin putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu telah memenuhi persyaratan pendidikan yang diperlukan, termasuk pendidikan setingkat SMA.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Sigit menilai, persoalan administrasi pendidikan perlu dilihat secara proporsional. Ia berpendapat, seseorang tidak serta-merta dapat dianggap tidak memenuhi jenjang pendidikan tertentu hanya karena tidak memiliki ijazah dari jenjang sebelumnya, selama terdapat kualifikasi pendidikan lain yang diakui secara resmi. Pandangan tersebut disampaikan Sigit di tengah polemik mengenai kesetaraan pendidikan Gibran yang kembali menjadi sorotan setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutus gugatan terkait persyaratan pendidikan calon presiden dan wakil presiden. Dalam pernyataannya, Sigit mengangkat riwayat pendidikan Habibie sebagai pembanding. Ia menyebut Habibie tidak memiliki ijazah sarjana atau S1, tetapi berhasil menempuh pendidikan tinggi di Jerman hingga meraih gelar doktor.

Habibie diketahui pernah menempuh pendidikan di bidang teknik di Indonesia sebelum melanjutkan studi ke Jerman. Di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen, ia meraih gelar Diplom-Ingenieur dan kemudian gelar Doktor-Ingenieur. Justru saya sangat percaya Pak Habibie memenuhi semua syarat pendidikan S3 dan di bawahnya, meskipun secara teknis tidak memiliki ijazah S1," tulis Sigit. Ia kemudian menarik perbandingan tersebut ke persoalan pendidikan Gibran. Sigit juga menyentil argumentasi yang dikaitkannya dengan Denny Indrayana dan sejumlah pihak yang mengkritik latar belakang pendidikan Gibran. Ia berpendapat, apabila logika tersebut diterapkan secara kaku, Habibie pun dapat dianggap hanya lulusan SMA karena tidak memiliki ijazah S1. Kalau mengikuti logika Denny Indrayana dan sekian banyak buzzer yang tengah dikerahkan untuk mendiskreditkan Mas Gibran, Pak Habibie hanya lulus SMA karena tidak bisa menunjukkan ijazah S1," ujarnya. Sigit menilai pendekatan semacam itu mengabaikan riwayat pendidikan dan kualifikasi akademik yang telah ditempuh seseorang. Ia mengajak publik tetap menggunakan nalar dalam menilai polemik tersebut, alih-alih menjadikannya sebagai instrumen pertarungan politik.