Stella Christie Dorong Pemetaan Green Jobs Berbasis Kebutuhan Daerah dan Industri

Stella Christie Dorong Pemetaan Green Jobs Berbasis Kebutuhan Daerah dan Industri

Jakarta | Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mendorong pengembangan pekerjaan hijau atau green jobs dipetakan secara terukur dengan melibatkan pendidikan tinggi, kegiatan riset, dan kolaborasi industri. Menurutnya, perguruan tinggi dapat menjadi penghubung kebutuhan nyata dunia kerja dan pengetahuan yang dihasilkan melalui pembelajaran serta penelitian. Dorongan tersebut disampaikan Stella melalui keterangan di Jakarta pada Kamis.

Pemetaan yang terarah diperlukan agar kebutuhan tenaga kerja di bidang pekerjaan hijau dapat dikenali dengan lebih jelas. Perubahan menuju kegiatan ekonomi yang lebih berkelanjutan dapat menciptakan beragam jenis pekerjaan, tetapi kebutuhan keterampilan dan jumlah tenaga kerja bisa berbeda menurut daerah maupun sektor industri. Informasi yang terukur membantu pemangku kepentingan memahami bidang yang berkembang, kompetensi yang dibutuhkan, serta peluang yang dapat disiapkan bagi calon pekerja.

Dalam proses ini, perguruan tinggi dapat menghubungkan hasil penelitian dengan persoalan dan kebutuhan yang dihadapi dunia usaha. Riset kampus berpotensi menghasilkan pengetahuan, teknologi, atau pendekatan yang mendukung praktik industri lebih ramah lingkungan. Namun, potensi tersebut perlu diselaraskan dengan kebutuhan pengguna agar hasilnya dapat diterapkan. Komunikasi dan kerja sama kampus serta industri juga dapat membantu menentukan topik riset dan program pendidikan yang relevan.

Pemetaan kebutuhan dapat menjadi dasar untuk merancang kurikulum, pelatihan, dan kesempatan belajar yang sesuai dengan perkembangan pekerjaan hijau. Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak hanya membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai keberlanjutan, tetapi juga membantu mereka menguasai keterampilan yang dicari pemberi kerja. Keterhubungan pembelajaran, riset, dan kebutuhan industri dapat memperkecil kesenjangan kompetensi lulusan dengan tuntutan pekerjaan.

Bagi generasi muda, langkah tersebut membuka jalan untuk mempersiapkan karier di bidang yang mendukung transisi menuju ekonomi berkelanjutan. Pemetaan yang memperhatikan kebutuhan daerah dan industri dapat memberi gambaran lebih nyata mengenai pilihan pekerjaan dan kompetensi yang perlu dikembangkan. Melalui kolaborasi lintas pihak, pendidikan tinggi diharapkan mampu mendukung terbentuknya ekosistem green jobs yang lebih siap, relevan, dan terhubung dengan peluang kerja.

Menurut Stella Christie, penciptaan green jobs tidak cukup hanya dengan mendorong kegiatan yang ramah lingkungan. Upaya tersebut perlu ditopang model usaha yang mampu menghasilkan nilai ekonomi secara nyata. Ketika sebuah inisiatif lingkungan berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan, kegiatan itu dapat menciptakan perputaran ekonomi, membuka pasar, dan memberi alasan kuat bagi masyarakat maupun pelaku usaha untuk terus mengembangkannya. Dengan demikian, manfaat ekologis dapat berjalan seiring dengan peluang kerja dan kesejahteraan lokal.

Perputaran ekonomi dari usaha ramah lingkungan juga berpotensi memperluas penyerapan tenaga kerja. Bisnis yang tumbuh membutuhkan pekerja dengan keterampilan yang sesuai, mulai dari pengolahan bahan baku, produksi, distribusi, hingga pemasaran. Seiring meningkatnya aktivitas usaha, pemerintah daerah dapat melihat manfaatnya bagi perekonomian wilayah dan terdorong memberikan dukungan yang tepat. Dukungan tersebut dapat berupa penguatan ekosistem usaha, fasilitasi akses pasar, atau kebijakan yang membantu kegiatan berkelanjutan berkembang, tanpa mengabaikan kondisi serta prioritas setempat.

Untuk mengubah potensi lokal menjadi kegiatan ekonomi berkelanjutan, kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah menjadi penting. Perguruan tinggi dapat menyumbangkan riset dan pengetahuan, sementara industri memahami kebutuhan pasar, teknologi, dan tantangan operasional. Pemerintah daerah memiliki pemahaman mengenai sumber daya, kebijakan, serta kebutuhan masyarakat di wilayahnya. Pertukaran informasi di pihak-pihak ini dapat membantu mengenali peluang yang realistis, menyusun model usaha, dan menghubungkan kapasitas lokal dengan permintaan industri.

Gagasan Green Business Academy dapat menjadi salah satu wadah untuk membangun kolaborasi tersebut. Program ini dapat dikembangkan melalui perguruan tinggi dengan melibatkan dosen, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah daerah. Mereka dapat bekerja bersama mengidentifikasi peluang usaha berkelanjutan berdasarkan sumber daya dan persoalan lokal, lalu menguji kelayakan gagasan melalui riset, pemetaan pasar, serta pendampingan. Keterlibatan beragam pihak juga membantu memastikan bahwa inovasi tidak berhenti sebagai kajian, tetapi memiliki jalur menuju penerapan dan pengembangan bisnis. Melalui pendekatan itu, green jobs dapat tumbuh dari kebutuhan nyata daerah dan industri, sekaligus memberi manfaat ekonomi dan lingkungan dalam jangka panjang.

Penelitian di perguruan tinggi akan memberi manfaat lebih besar ketika terhubung langsung dengan persoalan yang dihadapi industri. Hubungan tersebut membantu memastikan bahwa pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai kajian akademik, tetapi dapat digunakan untuk meningkatkan proses produksi, mengatasi hambatan usaha, dan merespons perubahan kebutuhan pasar. Bagi industri, kolaborasi dengan kampus membuka akses terhadap keahlian dan sumber daya riset. Bagi peneliti, persoalan nyata memberikan konteks dan arah yang lebih jelas bagi penelitian.

Stella Christie mendorong mekanisme push and pull untuk membangun hubungan tersebut. Dalam pendekatan ini, industri terlebih dahulu menyampaikan masalah yang memerlukan solusi, seperti kebutuhan teknologi, keterampilan tertentu, atau cara kerja yang lebih efisien. Perguruan tinggi kemudian merespons dengan penelitian dan inovasi sesuai bidang keahlian yang dimiliki. Dengan demikian, agenda riset dapat bertolak dari kebutuhan konkret, sementara kontribusi kampus tetap berlandaskan kompetensi dan bukti ilmiah.

Alur dua arah ini dimaksudkan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan peneliti yang kompetensinya paling sesuai. Pemetaan masalah industri dan kepakaran kampus menjadi langkah penting agar kerja sama tidak sekadar bersifat umum. Ketika kebutuhan dirumuskan dengan jelas, calon mitra dapat menemukan satu sama lain, menyepakati tujuan, serta menentukan bentuk kolaborasi yang realistis. Proses tersebut juga dapat membantu mengarahkan pendanaan dan waktu penelitian pada persoalan yang memiliki manfaat bagi masyarakat dan kegiatan ekonomi.

Keterhubungan yang sama perlu diterapkan pada pendidikan dan materi pembelajaran. Potensi serta kebutuhan setiap wilayah berbeda, sehingga isi pembelajaran dapat disesuaikan dengan karakter ekonomi lokal, sumber daya yang tersedia, dan jenis pekerjaan yang berkembang. Penyesuaian ini memungkinkan pengetahuan dan kepakaran kampus menjawab tantangan daerah, bukan hanya kebutuhan yang bersifat nasional atau berpusat di kota besar. Mahasiswa pun dapat memperoleh bekal yang relevan dengan peluang kerja di sekitarnya. Dengan menyelaraskan riset, pendidikan, kebutuhan industri, dan potensi wilayah, perguruan tinggi dapat berperan sebagai mitra pembangunan yang responsif serta mendukung kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan dunia kerja.Stella Christie mengusulkan penyusunan panduan jalur karier menuju pekerjaan ramah lingkungan agar calon tenaga kerja memiliki gambaran yang jelas tentang peluang di berbagai sektor. Panduan ini dapat menjelaskan jenis pekerjaan yang tersedia, mulai dari bidang energi terbarukan, pengelolaan limbah, transportasi berkelanjutan, hingga pertanian dan industri yang lebih efisien sumber daya. Informasi tersebut membantu masyarakat memahami bahwa transisi menuju ekonomi hijau bukan hanya menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga mengubah kebutuhan keterampilan pada pekerjaan yang sudah ada.

Selain mencantumkan pilihan profesi, panduan perlu memetakan kompetensi yang dibutuhkan untuk setiap jalur karier. Kompetensi itu dapat mencakup keterampilan teknis, kemampuan mengoperasikan teknologi, pemahaman standar lingkungan, serta kecakapan komunikasi dan pemecahan masalah. Dengan informasi yang terperinci, calon pekerja, lembaga pendidikan, dan penyelenggara pelatihan dapat menilai kesenjangan keterampilan dan merancang pembelajaran yang sesuai. Pemetaan juga perlu memperhatikan kebutuhan daerah, sebab potensi sumber daya, struktur industri, dan peluang kerja berbeda satu wilayah dan wilayah lainnya.

Langkah berikutnya adalah mengenali bidang yang memiliki permintaan tenaga kerja tinggi, tetapi masih kekurangan pekerja terampil. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan prioritas pelatihan, memperbarui kurikulum perguruan tinggi, dan mengarahkan dukungan kepada sektor yang membutuhkan.

Baca juga: Kenaikan TKDN Kendaraan Listrik: Dorong Pertumbuhan Industri Lokal | Kolaborasi Industri Energi di Indonesia untuk Masa Depan