JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Teras dan pagar sebuah rumah warga di Jalan Haji Sanusi, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, roboh ketika proyek pembangunan saluran air sedang berlangsung. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis malam, 1 Oktober, dan berdampak langsung pada satu rumah yang berada di sekitar lokasi pekerjaan.
Bagian pagar dan teras rumah itu ambruk ke arah saluran air yang tengah dikerjakan. Reruntuhan bangunan kemudian berada di area yang berdekatan dengan jalur proyek, sehingga kondisi rumah warga tersebut terlihat terdampak secara langsung oleh kejadian itu. Peristiwa ini menjadi perhatian karena berlangsung di tengah pekerjaan pembangunan saluran air di kawasan permukiman.
Bangunan yang roboh mencakup teras rumah serta pagar pada bagian depan. Kedua bagian tersebut tidak lagi berdiri seperti sebelumnya setelah ambruk menuju sisi saluran yang sedang dalam proses pengerjaan. Dengan demikian, kerusakan yang terlihat berada pada elemen depan satu rumah warga, bukan pada keseluruhan bangunan rumah.
Kejadian pada Kamis malam itu berlangsung di Jalan Haji Sanusi, wilayah Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Informasi mengenai peristiwa tersebut berfokus pada robohnya teras dan pagar saat pekerjaan saluran air berjalan. Tidak ada keterangan tambahan mengenai penyebab lain di luar hubungan waktu kejadian ambruk dan pelaksanaan proyek tersebut. Kondisi ini menggambarkan dampak langsung yang dialami satu rumah warga selama kegiatan pembangunan saluran air berlangsung di lokasi.
Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat, Mustajab, mengonfirmasi adanya persoalan yang berkaitan dengan robohnya teras dan pagar rumah warga di kawasan Duri Kosambi saat proyek saluran air berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan untuk menjelaskan langkah awal yang dilakukan pihak terkait setelah insiden itu diketahui.
Menurut Mustajab, persoalan tersebut telah dikoordinasikan dengan rukun warga (RW) setempat. Koordinasi dengan RW menjadi bagian dari penanganan awal agar kondisi di lapangan dapat segera disampaikan, diverifikasi, dan ditindaklanjuti bersama pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan komunikasi tersebut, dinas memperoleh jalur koordinasi dengan lingkungan warga yang terdampak selama pekerjaan saluran air berlangsung.
Mustajab menyatakan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti persoalan tersebut. Tindak lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi bangunan yang terdampak serta memahami keterkaitannya dengan pelaksanaan proyek. Penanganan juga diharapkan dapat dilakukan secara terkoordinasi, sehingga keluhan warga tidak berhenti pada penyampaian laporan, melainkan memperoleh respons dari instansi pelaksana.
Koordinasi melalui RW dinilai penting karena peristiwa itu bersentuhan langsung dengan lingkungan permukiman dan aktivitas masyarakat. Selain membantu menyampaikan informasi secara lebih teratur, langkah tersebut memungkinkan pihak dinas berkomunikasi dengan warga mengenai situasi di sekitar lokasi pekerjaan. Dinas SDA Jakarta Barat kemudian dapat menggunakan hasil koordinasi tersebut sebagai dasar untuk menentukan langkah berikutnya sesuai kondisi yang ditemukan.
Konfirmasi Mustajab menunjukkan bahwa persoalan robohnya teras dan pagar telah masuk dalam perhatian Suku Dinas SDA Jakarta Barat. Pernyataan mengenai koordinasi yang sudah dilakukan dengan RW sekaligus menegaskan adanya langkah penanganan awal. Selanjutnya, tindak lanjut yang dijanjikan diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai penanganan dampak proyek terhadap rumah warga di Duri Kosambi.
Camat Cengkareng, Suhardin, menyampaikan bahwa pemerintah kecamatan telah memfasilitasi pertemuan pemilik rumah yang terdampak dan pihak ketiga yang bertindak sebagai pelaksana proyek saluran air atau vendor. Fasilitasi tersebut dilakukan untuk mempertemukan kedua pihak dan membantu mencari penyelesaian atas kerusakan yang terjadi pada bagian depan rumah warga di Duri Kosambi.
Dalam kesepakatan yang difasilitasi itu, pihak pemilik rumah dan vendor menyetujui adanya perbaikan terhadap teras serta pagar rumah yang ambruk. Kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi penanganan kerusakan pada dua bagian bangunan yang terdampak selama proyek saluran air berlangsung. Dengan demikian, persoalan kerusakan tidak berhenti pada tahap penyampaian keluhan, tetapi telah dibicarakan langsung bersama pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
Keterangan Suhardin menegaskan peran kecamatan sebagai pihak yang membantu menghubungkan warga terdampak dengan vendor. Langkah itu ditempuh agar terdapat pemahaman bersama mengenai kondisi rumah dan bagian bangunan yang perlu dipulihkan. Pokok kesepakatan berfokus pada pembangunan kembali teras dan pagar yang roboh, sesuai dengan kerusakan yang dilaporkan oleh pemilik rumah.
Kesepakatan warga dan vendor tersebut menjadi bagian penting dalam penyelesaian dampak proyek saluran air di lingkungan setempat. Pembangunan kembali teras dan pagar diharapkan dapat mengembalikan fungsi bagian depan rumah yang mengalami kerusakan. Pemerintah kecamatan memastikan bahwa proses penyelesaian telah difasilitasi melalui komunikasi pemilik rumah terdampak dan pihak ketiga selaku pelaksana proyek, tanpa memperluas pokok kesepakatan di luar perbaikan bangunan yang ambruk.
Berdasarkan pantauan di lokasi setelah kejadian, petugas dari pihak vendor bersama Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat melakukan penanganan terhadap pagar dan bagian teras rumah yang roboh. Petugas terlihat berada di sekitar titik pekerjaan untuk mengamankan area serta menangani bagian bangunan yang terdampak. Penanganan dilakukan di tengah aktivitas pembangunan saluran air yang masih berlangsung di sepanjang jalur proyek.
Selain menangani pagar dan teras yang roboh, petugas juga memasang sejumlah tonggak kayu di bawah pagar rumah lain yang berada di sepanjang jalur pekerjaan. Penyangga tersebut dipasang sebagai upaya mencegah terjadinya kejadian serupa selama proses pembangunan berlangsung. Pemasangan dilakukan pada beberapa bagian pagar yang berada dekat dengan area penggalian dan jalur konstruksi. Langkah itu menjadi bagian dari pengamanan sementara terhadap bangunan yang berdekatan dengan lokasi proyek.
Dari hasil pemantauan di lapangan, insiden tersebut tidak berdampak pada struktur utama bangunan besar di sekitar lokasi. Informasi ini terbatas pada kondisi yang terlihat selama penanganan berlangsung dan tidak menyimpulkan tingkat kerusakan lebih lanjut pada rumah maupun bagian bangunan lainnya. Petugas masih melakukan pekerjaan sesuai kebutuhan di titik yang terdampak dan area sekitarnya.
Adapun proyek saluran air tersebut dibangun dengan panjang kurang lebih 684,4 meter. Konstruksinya menggunakan material u-ditch dengan dua ukuran, yaitu 40×40 sentimeter dan 60×60 sentimeter. Saluran ini dikerjakan sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur pengelolaan air di kawasan Duri Kosambi. Pekerjaan meliputi pemasangan elemen saluran pada jalur yang telah ditentukan, dengan kondisi sejumlah rumah berada di sekitar area proyek. Aktivitas penanganan dan pengamanan di lapangan dilakukan bersamaan dengan tahapan pekerjaan saluran air tersebut.

