Palembang | Kualitas udara di Palembang belum menunjukkan perbaikan, sementara konsentrasi partikulat halus PM2.5 meningkat hingga tingkat yang berbahaya. Kondisi ini tercermin dalam pemantauan di Stasiun Talang Betutu pada Rabu, 21 Oktober. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat bertahan di udara dan terhirup oleh manusia, sehingga lonjakan konsentrasinya menjadi perhatian penting di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data yang tercatat menunjukkan bahwa udara di wilayah tersebut tidak hanya berkabut, tetapi juga mengandung polutan pada kadar yang perlu diwaspadai masyarakat.
Grafik Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Stasiun Talang Betutu mencatat PM2.5 sebesar 336,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 WIB. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan nilai tertinggi yang terekam beberapa jam sebelumnya, tetapi tetap menggambarkan buruknya kondisi udara. Konsentrasi PM2.5 mencapai 876,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 04.00 WIB. Perbedaan angka sepanjang pagi menunjukkan bahwa paparan dapat berubah dari waktu ke waktu, namun belum menjadi tanda bahwa kualitas udara telah pulih. Pemantauan tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi secara lebih jelas.
BMKG menyatakan kualitas udara berada pada level hitam, atau kategori berbahaya, sejak pukul 00.00 WIB. Selain tingginya partikulat, asap karhutla turut mengurangi jarak pandang. Jarak pandang di Palembang sempat turun menjadi sekitar 200 meter, keadaan yang dapat mengganggu aktivitas luar ruang dan perjalanan, terutama pada dini hari. Kombinasi udara tercemar dan pandangan terbatas menegaskan bahwa situasi perlu dipantau dengan cermat. Data dari stasiun pemantauan membantu menggambarkan perubahan kualitas udara, sedangkan informasi jarak pandang memberi gambaran dampak asap di lapangan. Selama angka PM2.5 masih tinggi dan status tetap berbahaya, warga perlu memperhatikan pembaruan resmi sebelum beraktivitas, khususnya ketika harus berada di luar rumah dalam waktu lama.
Asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Palembang turut mengubah kegiatan belajar siswa. Ketika kualitas udara memburuk, sebagian besar sekolah di kota itu masih menjalankan pembelajaran secara daring atau jarak jauh. Keputusan tersebut membantu mengurangi paparan siswa terhadap udara di luar rumah, tetapi membuat rutinitas sekolah berlangsung berbeda dari biasanya. Ruang kelas digantikan layar ponsel atau perangkat lain, sementara interaksi langsung dengan guru dan teman menjadi terbatas. Bagi banyak keluarga, pembelajaran dari rumah juga menuntut penyesuaian jadwal, pendampingan, serta akses perangkat dan jaringan internet yang memadai. Situasi ini berlangsung ketika siswa seharusnya menjalani kegiatan belajar bersama di sekolah.
Andika, 15 tahun, siswa sebuah SMP negeri di Palembang, mengaku sudah bosan mengikuti pembelajaran dari rumah selama lebih dari sebulan. Ia merasa lelah menggunakan ponsel setiap hari untuk mengakses materi dan mengikuti kegiatan belajar. Selain itu, ia harus mengerjakan banyak tugas yang diberikan dari tiap mata pelajaran. Tugas yang terus datang membuat hari-harinya terasa padat, meski ia tidak berada di ruang kelas. Pernyataan Andika disampaikan pada Rabu, 20 Oktober. Pengalamannya menggambarkan tantangan yang dirasakan siswa saat kegiatan belajar jarak jauh berlangsung berkepanjangan, terutama ketika perangkat yang sama digunakan berulang kali untuk menerima pelajaran dan menyelesaikan pekerjaan sekolah.
Di balik kejenuhan itu, Andika merindukan kesempatan untuk kembali belajar tatap muka. Sekolah bukan hanya tempat menerima pelajaran, tetapi juga ruang untuk bertemu teman, bertanya langsung kepada guru, dan mengikuti rutinitas bersama. Kerinduan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran daring dapat menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan, namun tidak sepenuhnya menggantikan pengalaman di kelas. Bagi siswa, berinteraksi secara langsung dapat membantu memahami materi dan membuat proses belajar terasa lebih hidup. Selama kondisi udara belum mendukung kegiatan di luar rumah, sekolah dan keluarga perlu terus menyesuaikan cara belajar serta memastikan siswa tetap memperoleh pendampingan. Harapan untuk kembali ke kelas pun bergantung pada membaiknya kualitas udara dan pertimbangan keselamatan bagi seluruh warga sekolah.
Bagi Fitriana, warga Kalidoni, Palembang, perubahan kegiatan belajar menjadi daring membawa pengeluaran tambahan yang terasa langsung di rumah. Keluarganya belum memasang Wi-Fi, sehingga anak-anak mengandalkan paket data seluler untuk mengikuti pelajaran dan mengirimkan tugas. Ia pun harus membeli kuota internet lebih banyak daripada biasanya. Dalam sehari, pemakaian data di rumah dapat melampaui dua gigabita, terutama ketika pembelajaran berlangsung dan berbagai tugas membutuhkan akses internet. Kebutuhan tersebut membuat biaya komunikasi menjadi salah satu beban baru yang harus dipertimbangkan keluarga selama anak-anak belajar dari rumah.
Pengeluaran bukan satu-satunya hal yang perlu diatur. Fitriana juga membagi waktunya pekerjaan rumah tangga dan mendampingi anak, khususnya yang masih duduk di sekolah dasar. Anak tersebut belum selalu dapat memahami instruksi atau menyelesaikan tugas tanpa bantuan, sehingga Fitriana perlu ikut memperhatikan penjelasan guru dan membantu mengerjakan pekerjaan sekolah. Situasi ini membuat kegiatan belajar anak berkaitan erat dengan kesibukan orang tua di rumah. Ketika tugas datang bersamaan dengan pekerjaan rumah tangga, ia harus menentukan prioritas dan memastikan anak tetap mengikuti kegiatan belajar sebaik mungkin.
Pengalaman itu berbeda dengan anaknya yang duduk di SMP. Menurut Fitriana, anak yang lebih besar sudah dapat belajar lebih mandiri, sehingga pendampingan intensif tidak selalu diperlukan. Namun, tugas yang diberikan tetap menjadi keluhan tersendiri. Fitriana menilai jumlah pekerjaan sekolah terasa banyak, sementara siswa juga diminta mengirim dokumentasi foto bersama. Permintaan tersebut menambah hal yang perlu disiapkan dan dikirimkan keluarga, di samping tugas utama. Ia menyampaikan keberatan atas banyaknya tugas serta permintaan foto bersama itu sebagai bagian dari pengalamannya mendampingi pembelajaran daring. Beban biaya kuota, waktu, dan perhatian pun dirasakan sekaligus, dengan kebutuhan pendampingan yang berbeda anak SD dan SMP.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa asap yang menyelimuti Palembang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Asap yang bergerak hingga kawasan perkotaan itu berkaitan dengan titik-titik kebakaran yang masih ditangani petugas. Karena sumbernya tersebar, penanganan tidak hanya dilakukan di satu lokasi, melainkan mencakup beberapa kabupaten yang dilaporkan mengalami karhutla. Kondisi tersebut membuat dampak asap tetap dirasakan warga, termasuk keluarga dan siswa yang menanti kepastian untuk kembali mengikuti kegiatan belajar di kelas.
Wilayah pemadaman yang disebutkan meliputi Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, serta Muara Enim. Petugas terus bekerja di lokasi-lokasi tersebut untuk mengendalikan api dan mencegah kebakaran meluas. Sebaran wilayah itu menunjukkan bahwa penanganan karhutla memerlukan upaya berkelanjutan, sementara kondisi di setiap titik dapat berbeda. Selama masih ada kebakaran, asap berpotensi terbentuk dan terbawa ke kawasan lain, bergantung pada keadaan di lapangan. Oleh sebab itu, kegiatan pemadaman masih menjadi fokus utama dalam merespons sumber asap yang berdampak pada Palembang.
Ferdian menyebut potensi asap masih ada karena kebakaran belum sepenuhnya berhenti. Ogan Komering Ilir menjadi perhatian khusus karena disebut sebagai penyumbang asap terbesar. Selama api di wilayah tersebut dan lokasi lainnya masih menyala, masyarakat perlu menyadari bahwa kondisi udara dapat tetap terpengaruh. Upaya pengendalian pun terus dilakukan sampai kebakaran tuntas, bukan hanya sampai api tampak berkurang pada sebagian titik. Pemadaman yang berlanjut di berbagai wilayah Sumsel diharapkan dapat menekan sumber asap secara bertahap.
Baca juga: Rakor Penanganan Karhutla 2023 di Palembang | Indonesia Kembali Memimpin Konferensi Internasional untuk Polisi Wanita | Menyingkap Jejak Bisnis Keluarga Hartono dan Kekayaan yang Tersimpan






