Denpasar | Kebutuhan pusat data di Indonesia diperkirakan akan memerlukan tambahan pasokan listrik sebesar 20 gigawatt (GW), atau setara dengan 20.000 megawatt. Besaran itu mencapai sekitar 20 persen dari kapasitas listrik yang tersedia saat ini. Perkiraan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam sambutannya di Bali Tech Week 2026, Denpasar, Senin (19/10/2026). Angka tersebut menggambarkan skala kebutuhan energi yang perlu diperhitungkan seiring berkembangnya infrastruktur digital dan rencana pembangunan pusat data di Tanah Air.
Bahlil memandang digitalisasi sebagai instrumen industrialisasi, bukan sekadar pemanfaatan teknologi untuk layanan sehari-hari. Infrastruktur digital dapat mendukung aktivitas ekonomi dan menjadi bagian dari proses pengembangan industri. Namun, peningkatan kapasitas pusat data juga membawa konsekuensi berupa konsumsi listrik yang besar dan berkelanjutan. Karena itu, ketersediaan energi menjadi salah satu prasyarat agar pertumbuhan digital dapat berlangsung tanpa mengabaikan kebutuhan pasokan. Tanpa energi yang mencukupi, kemajuan digitalisasi berisiko menimbulkan persoalan baru, terutama ketika permintaan listrik bertambah lebih cepat daripada kemampuan sistem untuk menyediakan pasokan yang dibutuhkan.
Tambahan 20 GW memberi gambaran tentang besarnya tantangan tersebut. Jumlah itu bukan kebutuhan kecil yang dapat dipenuhi tanpa perencanaan, melainkan tambahan daya setara seperlima kapasitas listrik Indonesia saat ini. Penyampaian angka ini menegaskan bahwa agenda menarik investasi pusat data berkaitan erat dengan kesiapan energi. Investor membutuhkan kepastian bahwa fasilitas yang menggunakan listrik dalam jumlah besar dapat memperoleh pasokan yang andal. Pada saat yang sama, pemerintah perlu memperhitungkan pertumbuhan permintaan agar kebutuhan pusat data tidak berbenturan dengan pemenuhan listrik untuk kegiatan masyarakat dan sektor lainnya. Dengan demikian, perkiraan 20.000 megawatt menjadi ukuran penting dalam pembahasan mengenai hubungan digitalisasi, industrialisasi, dan pasokan energi nasional. Pernyataan Bahlil di Bali Tech Week menempatkan kecukupan listrik sebagai perhatian utama ketika Indonesia mengembangkan ekonomi digital serta berupaya menghadirkan investasi pusat data. Angka tersebut menunjukkan skala kebutuhan yang harus dipertimbangkan sejak awal, bukan setelah fasilitas beroperasi dan permintaan listrik meningkat. Kesiapan pasokan akan menentukan seberapa jauh peluang investasi dapat ditopang oleh infrastruktur energi.Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah skala kebutuhan listrik pusat data. Model AI generatif dan layanan komputasi berperforma tinggi mengandalkan prosesor khusus yang bekerja dalam jumlah besar dan terus-menerus. Beban komputasi tersebut menghasilkan kebutuhan daya dan pendinginan yang jauh lebih besar dibandingkan fasilitas yang terutama menopang layanan komputasi awan. Karena itu, ketersediaan listrik yang stabil, memadai, dan dapat dikembangkan menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan yang merencanakan pusat data baru.
Pusat data era komputasi awan umumnya memiliki kebutuhan daya sekitar 10–30 megawatt (MW), sedangkan fasilitas yang berfokus pada AI dapat memerlukan kapasitas 100 MW hingga 1 gigawatt (GW), bergantung pada skala dan jenis operasinya. Perbedaan ini membuat perencanaan pasokan harus dilakukan sejak awal, termasuk memastikan jaringan mampu menyalurkan daya besar tanpa mengganggu keandalan layanan. Pengembang juga perlu menilai peluang untuk meningkatkan kapasitas secara bertahap seiring bertambahnya kebutuhan pelanggan dan peralatan komputasi.
Namun, listrik bukan satu-satunya faktor penentu keputusan investasi. Pusat data memerlukan pasokan air yang memadai untuk mendukung sistem pendinginan, jaringan serat optik berkapasitas tinggi untuk menghubungkan pengguna dan layanan, serta lokasi yang siap dibangun dengan akses infrastruktur dan kepastian tata ruang. Kualitas konektivitas dan ketahanan terhadap risiko operasional turut memengaruhi kelayakan suatu kawasan. Pemerintah memandang kesiapan unsur-unsur tersebut sebagai bagian dari upaya menarik investasi pusat data berskala regional. Dalam persaingan antarnegara, pasokan energi yang andal—terutama energi bersih—dapat menjadi keunggulan penting, sekaligus membantu investor memenuhi sasaran keberlanjutan. Dengan menyelaraskan perencanaan kelistrikan, air, telekomunikasi, dan lokasi, Indonesia dapat memperkuat daya tariknya sebagai basis layanan digital untuk pasar domestik maupun kawasan.Pemerintah mendorong Batam, Karimun, dan Bintan untuk berkembang sebagai hub pusat data baru di Indonesia. Ketiga wilayah di Kepulauan Riau itu dipandang berpotensi melengkapi pusat-pusat data yang telah tumbuh di Singapura dan Malaysia. Pengembangan kawasan tersebut juga sejalan dengan upaya menarik investasi digital sekaligus memperkuat kesiapan infrastruktur energi. Di tengah meningkatnya kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data, ketersediaan lokasi yang sesuai serta pasokan listrik yang andal menjadi pertimbangan penting bagi investor.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut sejumlah keunggulan kawasan tersebut. Ketersediaan air menjadi salah satu pertimbangan, mengingat pusat data membutuhkan sumber daya untuk mendukung sistem pendinginan. Bahlil juga menyoroti kepadatan penduduk yang lebih rendah dibandingkan wilayah seperti Jawa Barat, Jakarta, atau Bali. Kondisi itu dinilai memberi ruang lebih luas untuk pengembangan fasilitas berskala besar. Selain itu, peluang pemanfaatan energi baru terbarukan dapat menjadi nilai tambah, terutama ketika perusahaan teknologi semakin memperhatikan sumber listrik yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Batam memperlihatkan besarnya minat investasi yang mulai terbentuk. Kapasitas pusat data yang telah tersedia, telah memperoleh komitmen, dan sedang dikembangkan di wilayah tersebut mencapai 1,47 gigawatt. Angka ini mencakup berbagai tahap proyek, sehingga menunjukkan skala rencana sekaligus perkembangan yang berlangsung, bukan semata-mata kapasitas operasional saat ini. Salah satu perkembangan penting adalah kontrak pasokan listrik sebesar 450 megawatt PLN Batam dan DayOne. Kontrak tersebut disebut sebagai kontrak pasokan listrik terbesar untuk pusat data di Indonesia. Ketersediaan daya dalam jumlah besar dapat membantu memenuhi kebutuhan fasilitas yang beroperasi terus-menerus, serta memberi kepastian bagi rencana pembangunan. Namun, realisasi potensi Batam, Karimun, dan Bintan tetap bergantung pada kesiapan jaringan, pasokan energi, dan dukungan infrastruktur pendukung. Jika faktor-faktor itu berkembang seiring pertumbuhan investasi, Kepulauan Riau berpeluang memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan regional untuk menarik proyek pusat data.
Rencana pasokan listrik menjadi salah satu landasan pemerintah dalam mendukung investasi pusat data di Indonesia. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, ditargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt. Dari jumlah tersebut, 42,6 gigawatt berasal dari energi baru terbarukan, 10,3 gigawatt dari sistem penyimpanan energi, dan 16,6 gigawatt dari pembangkit fosil. Pelaksanaan rencana itu diperkirakan memiliki potensi investasi sebesar Rp2.967,4 triliun. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas tidak hanya mencakup pembangkit, tetapi juga penyimpanan yang dapat mendukung penyediaan listrik. Bagi calon investor pusat data, ketersediaan pasokan merupakan pertimbangan penting dalam menentukan lokasi dan merancang kebutuhan operasional. Pemerintah menempatkan rencana kelistrikan ini sebagai bagian dari upaya menyiapkan dukungan infrastruktur bagi investasi, seiring meningkatnya perhatian terhadap kebutuhan energi pusat data.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas sekitar 100 gigawatt-peak. Pengembangannya direncanakan mencakup PLTS skala besar, PLTS terapung, panel surya atap, serta instalasi di kawasan industri. Ragam lokasi dan skala tersebut menjadi bagian dari rencana pemanfaatan energi surya di berbagai kebutuhan dan wilayah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai, ketersediaan energi terbarukan dapat menarik minat investor pusat data untuk menggunakan sumber energi tersebut. Peluang itu berkaitan dengan kebutuhan pusat data akan pasokan listrik yang memadai serta pilihan sumber energi untuk operasionalnya.
Baca juga: Kenaikan Harga Cabai Merah: Imbas Terbatasnya Pasokan | Keterbatasan Pasokan Beras Premium di Ritel Modern | Tantangan Hukum bagi Investasi di Indonesia: Sorotan dari Pelaku Usaha






