Jakarta | Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa keselamatan suporter harus menjadi perhatian utama dalam setiap penyelenggaraan pertandingan sepak bola. Menurutnya, pengalaman menonton pertandingan semestinya berlangsung aman, sejak suporter berangkat menuju stadion hingga kembali ke rumah. Ia menyampaikan harapan agar setiap orang yang datang untuk mendukung tim dapat pulang dengan selamat setelah pertandingan berakhir. Pesan tersebut menekankan bahwa tanggung jawab menjaga keamanan tidak berhenti ketika laga selesai atau ketika penonton meninggalkan area stadion.
Pernyataan Erick disampaikan di Jakarta pada Senin, menyusul insiden penyerangan terhadap dua suporter yang baru saja menyaksikan pertandingan Garudayaksa melawan Persib. Peristiwa itu terjadi di Jawa Barat setelah mereka pulang dari Stadion Pakansari. Berdasarkan informasi yang disampaikan, keduanya diserang oleh orang tak dikenal yang membawa senjata tajam. Kejadian tersebut kembali menyoroti risiko yang dapat dihadapi suporter dalam perjalanan pulang, sekaligus pentingnya perhatian terhadap keamanan di luar lingkungan stadion.
Dalam konteks itu, dorongan agar suporter dapat kembali ke rumah dengan selamat menjadi pesan utama Erick. Penanganan keamanan pertandingan perlu mempertimbangkan perjalanan penonton sebelum dan sesudah laga, bukan hanya situasi di dalam stadion. Insiden yang menimpa dua suporter tersebut menunjukkan bahwa potensi kekerasan dapat muncul setelah pertandingan berakhir dan di lokasi yang berbeda dari tempat berlangsungnya laga. Karena itu, langkah pencegahan serta koordinasi pihak terkait merupakan bagian penting dari upaya melindungi penonton.
Keselamatan suporter juga menjadi unsur mendasar dalam membangun suasana sepak bola yang tertib dan ramah bagi semua pihak. Penonton datang untuk memberikan dukungan kepada tim, sehingga ancaman kekerasan tidak seharusnya menjadi bagian dari pengalaman mereka. Pesan Erick mengingatkan penyelenggara, aparat, klub, dan komunitas suporter akan pentingnya menjaga keamanan secara bersama. Dengan perhatian yang konsisten terhadap keselamatan, pertandingan dapat dinikmati tanpa mengabaikan perlindungan bagi mereka yang hadir. Harapan agar suporter pulang dengan selamat menjadi tolok ukur penting bagi penyelenggaraan laga yang bertanggung jawab.Erick Thohir menyampaikan bahwa PSSI telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk menangani bentrokan antarsuporter di sekitar pertandingan yang berlangsung di Stadion Pakansari. Koordinasi tersebut dilakukan agar setiap dugaan kekerasan diproses secara tegas dan sesuai ketentuan hukum. Menurut Erick, tindakan yang melanggar hukum tidak boleh dibiarkan, siapa pun pihak yang terlibat. Penanganan yang jelas dinilai penting untuk melindungi masyarakat, menjaga keamanan kegiatan sepak bola, serta mencegah insiden serupa terulang pada pertandingan berikutnya.
Selain berkoordinasi secara kelembagaan, Erick mengatakan dirinya telah menghubungi kapolres terkait. Ia meminta agar kasus tersebut ditangani dengan tegas, profesional, dan berdasarkan fakta yang ditemukan dalam proses penyelidikan. Sikap itu, kata Erick, diperlukan agar aparat dapat mengusut peristiwa secara menyeluruh dan menentukan langkah hukum sesuai prosedur. PSSI menyatakan menghormati kewenangan kepolisian dalam menangani perkara, sekaligus berharap prosesnya berjalan dengan cermat. Informasi yang tersedia saat ini belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab maupun motif di balik kejadian tersebut.
PSSI masih menunggu hasil penyelidikan polisi mengenai bentrokan di sekitar laga Pakansari. Salah satu hal yang diharapkan dapat dipastikan melalui penyelidikan ialah apakah penyerangan tersebut merupakan tindak kriminal murni atau berkaitan dengan persaingan antarsuporter. Pembedaan itu penting untuk memahami konteks kejadian, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk mengusut setiap dugaan tindak pidana. Hingga kepolisian menyampaikan temuan resmi, motif dan rangkaian peristiwa belum dapat dipastikan. Karena itu, PSSI tidak menyimpulkan penyebab insiden dan menyerahkan pengungkapan fakta kepada aparat. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi penyelidikan berlangsung tanpa mendahului kesimpulan, sementara pesan Erick menegaskan bahwa kekerasan harus ditindak sesuai hukum. Koordinasi dengan kepolisian menjadi bagian dari upaya mendorong respons yang tegas, sekaligus menjaga agar proses penanganan tetap berlandaskan bukti dan aturan yang berlaku.
Erick Thohir menekankan bahwa penanganan kekerasan antarsuporter perlu dibedakan berdasarkan sifat kejadian dan pihak yang berwenang. Apabila bentrokan, penganiayaan, perusakan, atau tindakan lain yang diduga melanggar hukum terjadi di luar maupun di dalam area pertandingan, perkara tersebut dapat masuk ranah pidana. Dalam situasi demikian, PSSI akan mendorong agar aparat berwenang mengusut kejadian secara tuntas, termasuk mengidentifikasi pelaku dan mengumpulkan bukti. Proses hukum harus berjalan berdasarkan ketentuan yang berlaku, bukan sekadar diselesaikan melalui mekanisme disiplin sepak bola.
Di sisi lain, jika insiden berkaitan dengan perilaku negatif suporter dan pelanggaran terhadap aturan pertandingan atau kompetisi, konsekuensi sepak bola perlu dijatuhkan sesuai tingkat pelanggarannya. Tanggung jawab dapat melibatkan individu, komunitas fan, maupun klub, bergantung pada fakta dan aturan yang berlaku. Tim dan kelompok pendukung tidak semestinya menganggap perilaku yang membahayakan orang lain sebagai persoalan tanpa akibat. Langkah disipliner dapat mencakup sanksi terhadap suporter atau klub, dengan bentuk dan bobot yang ditentukan melalui pemeriksaan serta prosedur resmi.
Erick juga membuka kemungkinan adanya pengurangan poin bagi klub apabila pelanggaran dan ketentuan disiplin mendukung penerapan sanksi tersebut. Namun, pengurangan poin bukan konsekuensi otomatis untuk setiap keributan; keputusan harus mempertimbangkan bukti, tingkat kesalahan, dan kewenangan lembaga yang menangani. PSSI dan badan sepak bola terkait dapat mengambil tindakan dalam lingkup kompetisi, sedangkan aparat penegak hukum menangani dugaan tindak pidana. Karena itu, sanksi olahraga tidak menggantikan proses pidana, begitu pula proses pidana tidak serta-merta menentukan bentuk hukuman kompetisi. Pemisahan kewenangan ini penting agar setiap perkara ditangani secara tepat, adil, dan proporsional. Dengan pembagian yang jelas, klub dan komunitas suporter mengetahui bahwa insiden dapat menimbulkan konsekuensi berbeda, tanpa mencampuradukkan standar pembuktian maupun tujuan dari masing-masing proses.
Menurut Erick, tanggung jawab atas penyelenggaraan pertandingan sepak bola harus dipikul bersama, bukan dibebankan kepada satu pihak saja. Klub bertanggung jawab membina pemain dan pendukung, serta menjaga agar seluruh unsur di lingkungan klub memahami pentingnya perilaku yang tertib. Komunikasi yang baik dengan komunitas suporter juga diperlukan, termasuk saat klub menyampaikan aturan dan mengajak pendukung menghormati pihak lain. Dengan demikian, peran klub tidak berhenti pada persiapan tim di lapangan, tetapi mencakup upaya menjaga suasana pertandingan tetap aman bagi semua yang hadir.
Penyelenggara kompetisi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan pertandingan dan memastikan aturan pelaksanaannya dipahami serta dijalankan. Komunitas fan, pada saat yang sama, berperan menjaga dukungan tetap positif dan tidak berubah menjadi tindakan kekerasan. Kepolisian juga memikul tanggung jawab dalam pengamanan pertandingan, sesuai perannya dalam menjaga ketertiban. Erick memandang bahwa setiap pihak perlu menjalankan kewajibannya secara serius dan saling mendukung. Penanganan kekerasan antarsuporter, dalam pandangan tersebut, menuntut keterlibatan klub, penyelenggara kompetisi, komunitas fan, dan kepolisian, dengan tanggung jawab masing-masing yang tidak diabaikan.
Harapan Erick adalah agar sepak bola menjadi sarana pemersatu masyarakat. Ia menyebut keberhasilan tim nasional menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai bukti bahwa olahraga dapat menyatukan bangsa melalui dukungan yang masif dan konstruktif. Dukungan terhadap tim nasional tersebut menunjukkan bagaimana semangat bersama dapat hadir dalam sepak bola dan dirasakan secara luas. Erick berharap semangat serupa tercermin pula dalam penyelenggaraan pertandingan, melalui dukungan yang tertib serta keterlibatan semua pihak. Bagi dirinya, sepak bola dapat mempertemukan masyarakat dalam rasa bangga dan kebersamaan, apabila seluruh unsur yang terlibat menjalankan tanggung jawabnya masing-masing.
Baca juga: Kapal KN Kunyit Dikerahkan untuk Penanganan Jenazah Korban Insiden KM Virgo 8 | Krisis Air Bersih di Makassar: Langkah-Langkah Penanganan yang Dilakukan | Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi






