JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Laut tidak pernah benar-benar berada dalam keadaan yang sama. Permukaannya dapat tampak tenang pada satu waktu, lalu berubah dalam hitungan singkat ketika cuaca bergerak, arus bergeser, dan gelombang datang tanpa pola yang sepenuhnya dapat dibaca. Perubahan tersebut menjadikan laut bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang yang terus berproses dan menolak kepastian. Di dalam ruang semacam itu, arah, jarak, serta kemungkinan selalu berada dalam kondisi terbuka.
Gagasan tersebut menjadi titik berangkat karya Lost at Sea yang dipamerkan dalam konteks ART Jakarta 2026. Karya ini menghadirkan laut sebagai metafora bagi pengalaman manusia ketika berhadapan dengan masa depan. Seperti permukaan air yang dipengaruhi banyak unsur sekaligus, masa depan dibentuk oleh rangkaian keadaan yang tidak seluruhnya dapat diprediksi. Cuaca dapat berubah, arus dapat membawa objek menjauh dari jalur semula, sedangkan gelombang dapat muncul dengan tenaga dan arah yang berbeda. Tidak ada satu tanda yang mampu memberikan jaminan mutlak tentang apa yang akan terjadi berikutnya.
Melalui gambaran laut yang dinamis, Lost at Sea membuka pembacaan tentang posisi manusia di tengah ketidakpastian. Manusia dapat menyusun rencana, mengenali tanda, dan memperkirakan risiko, tetapi tetap berhadapan dengan kemungkinan yang berada di luar kendali. Pengalaman tersebut tidak selalu berarti kehilangan arah secara harfiah. Ia juga dapat merujuk pada perasaan tertunda, keraguan dalam mengambil keputusan, atau kesadaran bahwa tujuan yang dibayangkan mungkin berubah sepanjang perjalanan.
Dengan demikian, laut dalam karya ini berfungsi sebagai ruang reflektif. Ketidaktenangan permukaannya mencerminkan dunia yang terus bergerak, sementara perubahan cuaca, arus, dan gelombang menegaskan bahwa masa depan tidak hadir sebagai jalur tunggal. Lost at Sea mengajak penonton memandang ketidakpastian bukan hanya sebagai ancaman, tetapi sebagai kondisi yang membentuk cara manusia membaca kemungkinan, menyesuaikan diri, dan melanjutkan perjalanan.
School of Medusa II karya Endry Pragusta, seniman asal Yogyakarta, dibingkai melalui narasi Lost at Sea atau “tersesat di laut”. Dalam kerangka ini, laut tidak semata-mata hadir sebagai latar visual, melainkan sebagai metafora bagi keadaan yang sulit dipetakan. Seseorang yang berada di tengah laut harus membaca arah melalui tanda-tanda yang terbatas, menghadapi perubahan cuaca, serta mempertahankan keseimbangan ketika daratan tidak lagi terlihat. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk untuk memikirkan kondisi pendidikan pada masa kini.
Melalui karya ini, sistem pendidikan dipahami sebagai sesuatu yang sedang hanyut. Hanyut tidak selalu berarti kehilangan seluruh tujuan, tetapi menunjukkan bahwa arah yang tersedia terus berubah dan tidak dapat dikendalikan sepenuhnya. Berbagai kebijakan, perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta tuntutan ekonomi membuat pendidikan harus bergerak dalam arus yang saling berlawanan. Di dalam situasi semacam itu, institusi pendidikan, pendidik, dan peserta didik dituntut untuk menyesuaikan diri tanpa memiliki peta yang benar-benar pasti.
Gagasan tersebut menjauhkan pendidikan dari gambaran sebagai sistem yang berjalan lurus menuju masa depan yang telah ditentukan. Masa depan tidak tampil sebagai tujuan tunggal yang menunggu untuk dicapai, melainkan sebagai ruang terbuka yang dibentuk oleh keputusan, risiko, dan kondisi yang senantiasa berubah. Metafora laut menegaskan bahwa proses belajar juga mencakup kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian, mengenali perubahan arah, dan menyusun kembali cara bertahan ketika kerangka lama tidak lagi memadai.
Dalam konteks ART Jakarta 2026, School of Medusa II menghadirkan pembacaan kritis terhadap cara pendidikan dibayangkan dan dijalankan. Karya Endry Pragusta tidak menawarkan jawaban praktis atau arah baru yang bersifat final. Sebaliknya, ia mengajak pengunjung memperhatikan keadaan ketika sistem pendidikan berada dalam kondisi hanyut: bergerak, bernegosiasi dengan arus, dan mencari kemungkinan orientasi di tengah ketidakjelasan. Dengan demikian, narasi Lost at Sea membuka percakapan tentang bagaimana pendidikan dapat tetap berfungsi tanpa menutupi kenyataan bahwa masa depannya selalu penuh ketidakpastian.
Manusia berhadapan dengan masa depan dalam keadaan yang tidak sepenuhnya siap. Perangkat untuk memahaminya mungkin belum lengkap, sementara informasi yang tersedia belum mampu menjelaskan seluruh kemungkinan yang akan muncul. Kondisi ini menempatkan manusia pada posisi yang harus terus bergerak, meskipun pengetahuan, pengalaman, dan alat bantu yang dimiliki masih memiliki batas. Masa depan tidak hadir sebagai sesuatu yang dapat dilihat secara utuh sejak awal, sehingga langkah menuju ke sana selalu berlangsung di tengah ketidakpastian.
Citra perjalanan di laut memperjelas keadaan tersebut. Di atas laut, arah perlu dicari sambil menghadapi kondisi yang dapat berubah. Jalur yang semula tampak memungkinkan dapat dipengaruhi oleh perubahan di sekitar, sehingga perjalanan menuntut perhatian terhadap situasi yang sedang berlangsung. Namun, pencarian arah itu tidak berarti bahwa tujuan akhirnya telah diketahui secara lengkap. Yang tersedia adalah kebutuhan untuk menentukan langkah berikutnya dengan bekal yang ada, meskipun bekal tersebut belum tentu memadai untuk membaca keseluruhan perjalanan.
Metafora laut juga menunjukkan bahwa navigasi bukan sekadar persoalan memiliki peta atau perangkat yang sempurna. Ia berkaitan dengan upaya mempertahankan gerak ketika pandangan terhadap masa depan masih terbatas. Manusia perlu menyesuaikan arah berdasarkan keadaan yang dihadapi, tanpa memperoleh kepastian mengenai hasil akhirnya. Dalam kerangka ini, ketidaklengkapan perangkat bukan alasan untuk menghapus perjalanan, melainkan bagian dari situasi yang harus dihadapi. Setiap keputusan berlangsung sebelum seluruh informasi tersedia, sementara kemungkinan yang menunggu di depan belum sepenuhnya terlihat.
Metafora pelayaran dalam karya Medusa II dapat dibaca sebagai gambaran tentang cara manusia menghadapi masa depan, termasuk ketika berhadapan dengan kehidupan finansial. Seperti perjalanan di laut, keputusan keuangan berlangsung di ruang yang tidak sepenuhnya dapat dipetakan sejak awal. Seseorang mungkin telah memiliki tujuan, perhitungan, dan bekal pengetahuan, tetapi tetap harus bergerak ketika situasi berubah atau informasi yang tersedia belum lengkap.
Dalam konteks investasi, ketidakpastian bukan alasan untuk menunggu sampai seluruh jawaban ditemukan. Setiap pilihan membawa kemungkinan, risiko, dan konsekuensi yang perlu dipertimbangkan secara sadar. Menentukan langkah tidak berarti mengabaikan ancaman, melainkan mengakui bahwa keputusan sering kali dibuat di tengah kondisi yang dinamis. Karena itu, kemampuan membaca keadaan menjadi sama pentingnya dengan keberanian untuk berangkat.
Inti pernyataan narasumber dalam bahan tersebut mengibaratkan investasi seperti berlayar. Laut dan setiap gelombangnya sulit dikendalikan atau diprediksi sepenuhnya. Hal yang dapat dilakukan adalah belajar membaca arus, memahami kondisi, menentukan arah, dan menjaga keseimbangan selama perjalanan. Pandangan ini menempatkan pengelolaan keuangan bukan sebagai upaya untuk menghapus seluruh ketidakpastian, melainkan sebagai proses membangun kesiapan dalam merespons perubahan.
Dengan demikian, keputusan finansial menuntut perpaduan pengetahuan, pengamatan, dan keluwesan. Arah yang telah ditentukan tetap perlu ditinjau ketika arus berubah, sementara keseimbangan perlu dijaga agar satu gelombang tidak langsung menggoyahkan keseluruhan perjalanan. Hubungan karya, laut, dan masa depan memperlihatkan bahwa seseorang perlu mengambil keputusan meski belum memiliki gambaran utuh mengenai apa yang akan dihadapi. Dalam kehidupan finansial, seperti dalam pelayaran, langkah yang bijak lahir dari usaha memahami kondisi, mengukur kemampuan, dan tetap menentukan arah di tengah ketidakpastian.



