Jakarta | Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memperkuat kerja sama eksternal lintas sektor untuk membangun karakter pemuda. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan daya saing generasi muda dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional yang terus berkembang. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora, Hendro Wicaksono, menyampaikan hal tersebut saat diwawancarai di Jakarta pada Rabu, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Kolaborasi tersebut menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari upaya menyiapkan pemuda. Pembangunan kapasitas generasi muda tidak hanya berkaitan dengan keterampilan dan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan nilai, sikap, serta tanggung jawab yang mendukung peran mereka di tengah masyarakat. Karena itu, kerja bersama dengan berbagai pihak dinilai dapat memperluas ruang pembelajaran dan partisipasi bagi pemuda, sekaligus mendorong kontribusi yang relevan dengan kebutuhan bangsa.
Dalam konteks pembangunan yang terus berubah, pemuda menghadapi tantangan yang beragam, mulai dari perubahan sosial hingga tuntutan untuk mampu beradaptasi dan berinovasi. Penguatan karakter dan daya saing perlu berjalan beriringan agar generasi muda dapat mengambil peran secara aktif dan bertanggung jawab. Kemenpora memandang keterlibatan lintas sektor sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung proses tersebut, dengan membuka peluang sinergi di luar lingkungan pemerintah.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya persatuan dan peran generasi muda dalam kehidupan nasional. Kerja sama yang melibatkan beragam unsur diharapkan dapat membantu menghadirkan dukungan yang lebih luas bagi pengembangan pemuda. Dengan demikian, upaya membangun karakter bukan hanya menjadi agenda satu lembaga, melainkan menjadi perhatian bersama. Penguatan kolaborasi juga dapat membantu memastikan bahwa program kepemudaan selaras dengan tantangan yang dihadapi dan aspirasi generasi muda. Melalui pendekatan tersebut, pemuda diharapkan semakin siap berkontribusi dalam pembangunan nasional yang dinamis.
Menurut Hendro, pembangunan pemuda perlu dipahami secara menyeluruh, bukan hanya sebagai upaya meningkatkan kemampuan fisik atau memperluas pengetahuan. Ada tiga aspek yang saling berkaitan, yakni body atau tubuh, mind atau pikiran, serta soul atau hati dan jiwa. Ketiganya menjadi bagian penting dalam membentuk pemuda yang berkembang secara utuh. Karena itu, pembahasan tentang kemajuan pemuda perlu memperhatikan kebutuhan pada masing-masing aspek, sekaligus melihat hubungan di semuanya.
Aspek pikiran berkaitan erat dengan pengetahuan dan pendidikan. Perhatian terhadap bidang tersebut, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, berada pada kementerian yang membidangi pendidikan. Pengakuan atas ruang lingkup itu membantu menjelaskan bahwa pembangunan pemuda melibatkan lebih dari satu bidang pemerintahan. Pendidikan dan pengetahuan merupakan bagian penting, tetapi keduanya tidak dengan sendirinya mencakup seluruh kebutuhan pemuda, terutama ketika pembicaraan beralih pada pembentukan karakter.
Dalam pandangan Hendro, pembentukan karakter membutuhkan keterlibatan Kemenpora bersama kementerian lintas sektor. Upaya tersebut juga memerlukan dukungan pemangku kepentingan, baik dari pemerintah maupun swasta. Keterlibatan berbagai pihak perlu diarahkan secara terarah agar perhatian terhadap tubuh, pikiran, serta hati dan jiwa dapat ditempatkan dalam kerangka pembangunan pemuda yang lebih menyeluruh. Pendekatan lintas sektor ini menegaskan bahwa tanggung jawab membangun karakter bukan hanya berada pada satu kementerian atau satu unsur masyarakat. Setiap pihak perlu mendukung sesuai peran dan keterlibatannya, tanpa mengabaikan keterkaitan pendidikan dan karakter. Dengan demikian, gagasan Hendro menempatkan pengembangan pemuda sebagai perhatian bersama: pendidikan dan pengetahuan tetap menjadi unsur penting, sementara pembentukan karakter memerlukan kerja bersama Kemenpora, kementerian terkait, serta para pemangku kepentingan pemerintah dan swasta. Penekanan pada koordinasi yang terarah menjadi penting agar kontribusi lintas sektor mendukung pembangunan pemuda secara utuh dan seimbang, mencakup tubuh, pikiran, serta hati dan jiwa.
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah membangun koordinasi lintas sektor sebagai bagian dari upaya memantau pembangunan karakter pemuda. Pemantauan ini diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai keterlibatan kementerian dan lembaga pemerintah dalam pembinaan generasi muda. Melalui koordinasi tersebut, pemerintah dapat melihat bagaimana nilai tanggung jawab, disiplin, kepedulian, dan integritas ditanamkan melalui berbagai program. Pendekatan bersama juga membantu memastikan bahwa penguatan karakter tidak berjalan terpisah dari upaya mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan pemuda. Dengan demikian, pemantauan tidak hanya mencatat kegiatan, tetapi juga memberi konteks tentang kontribusinya terhadap perkembangan anak muda sebagai warga yang aktif dan produktif.
Koordinasi ini diharapkan membantu pemerintah mengenali program-program yang secara langsung maupun tidak langsung memberi perhatian kepada pemuda. Pemetaan tersebut penting karena kebutuhan generasi muda beragam, dipengaruhi kondisi sosial, ekonomi, dan akses layanan di setiap daerah. Informasi mengenai sasaran, bentuk kegiatan, serta peluang partisipasi dapat menjadi dasar untuk memahami sejauh mana kebijakan yang ada telah menjangkau mereka. Pemerintah juga dapat melihat kemungkinan tumpang tindih atau celah dukungan ant program, lalu merumuskan langkah yang lebih selaras. Dengan kebijakan yang saling mendukung, pembinaan karakter dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas dan kesiapan pemuda menghadapi perubahan sosial maupun ekonomi.
Upaya tersebut memerlukan koordinasi yang berkelanjutan, bukan hanya pertukaran informasi pada satu tahap. Kemenpora berharap komunikasi antarkementerian dapat memperjelas peran masing-masing, memperkuat kesinambungan program, dan mendorong respons yang sesuai dengan kebutuhan pemuda di berbagai wilayah. Koordinasi akan terus diperkuat bersama kementerian terkait, terutama lembaga yang memiliki mandat dan program di bidang pendidikan serta pembangunan kepemudaan. Keterhubungan dengan sektor pendidikan penting untuk mendukung pembentukan nilai dan kompetensi, sementara agenda kepemudaan dapat membuka ruang partisipasi, kepemimpinan, dan pengembangan potensi. Dengan pemahaman bersama atas program dan sasaran, pemerintah diharapkan mampu menyusun dukungan yang lebih terpadu, relevan, dan berkelanjutan bagi generasi muda.
Hendro menilai bahwa pemuda masa kini perlu membangun karakter yang kuat agar mampu menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berubah. Tiga sikap yang penting dikembangkan ialah patriotik, gigih, dan berempati. Patriotisme mendorong generasi muda mencintai bangsa serta mengambil bagian dalam menjaga persatuan dan mendorong kemajuan. Sikap ini tidak hanya tercermin melalui simbol, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kepentingan masyarakat dan kesediaan berkontribusi bagi negara.
Kegigihan membantu pemuda tetap berusaha ketika menghadapi hambatan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kegiatan sosial. Di tengah perubahan yang cepat, kemampuan untuk belajar dari kegagalan dan menyesuaikan diri menjadi bekal penting. Sementara itu, empati menumbuhkan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain dan mendorong kerja sama yang saling menghargai. Ketiga karakter tersebut dapat memperkuat kemampuan pemuda untuk mengambil keputusan, bekerja bersama, dan merespons persoalan secara bertanggung jawab.
Penguatan karakter tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga saja. Sinergi antarkementerian diharapkan memperluas jangkauan program kepemudaan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh pemuda di berbagai wilayah dan latar belakang. Kolaborasi juga dapat menjadikan pembentukan karakter sebagai agenda bersama lintas sektor, yang terhubung dengan pendidikan, kesehatan, kebudayaan, ketenagakerjaan, dan bidang pembangunan lainnya. Dengan pendekatan tersebut, nilai-nilai positif dapat diperkuat melalui program yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Agar upaya ini berjalan efektif, koordinasi perlu dilanjutkan secara konsisten dan disertai pemantauan berkelanjutan. Kesinambungan diperlukan untuk melihat kemajuan program, mengenali kendala, serta melakukan penyesuaian berdasarkan kebutuhan pemuda. Penguatan karakter juga perlu berjalan seiring dengan pengembangan intelektual. Pengetahuan, keterampilan berpikir, dan karakter yang matang merupakan dua unsur yang sama-sama penting untuk membentuk pemuda berdaya saing. Perpaduan keduanya diharapkan membuat generasi muda siap menghadapi perubahan, mampu bekerja sama menghadapi persoalan, dan berkontribusi secara nyata pada pembangunan nasional.
Baca juga: Kolaborasi Industri Energi di Indonesia untuk Masa Depan






