Perubahan Hormon Kehamilan Dapat Memicu Gusi Lebih Mudah Berdarah

Perubahan Hormon Kehamilan Dapat Memicu Gusi Lebih Mudah Berdarah

Jakarta | Kehamilan membawa berbagai perubahan fisiologis yang membantu tubuh menyesuaikan diri dengan perkembangan janin. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ukuran tubuh atau kebutuhan energi, tetapi juga dapat memengaruhi jaringan di dalam mulut, termasuk gusi dan jaringan pendukung gigi. Salah satu faktor yang berperan ialah perubahan kadar hormon selama kehamilan. Respons jaringan gusi terhadap rangsangan tertentu dapat berubah, sehingga sebagian ibu hamil menjadi lebih mudah mengalami iritasi atau peradangan. Dampaknya berbeda pada setiap orang; perubahan hormon tidak berarti semua ibu hamil pasti mengalami masalah gusi.

Kondisi peradangan gusi yang berkaitan dengan kehamilan dikenal sebagai gingivitis gravidarum. Pada keadaan ini, perubahan hormonal dapat membuat jaringan gusi lebih sensitif dan rentan meradang. Gusi yang sedang meradang mungkin bereaksi lebih kuat terhadap plak, yaitu lapisan bakteri yang dapat menumpuk di permukaan gigi dan sepanjang garis gusi. Karena itu, kebersihan mulut tetap penting selama kehamilan. Namun, memahami kaitan hormon dan gusi juga membantu menjelaskan mengapa keluhan dapat muncul meskipun perubahan yang dirasakan tampak ringan. Gingivitis gravidarum merupakan kondisi yang perlu diperhatikan, bukan alasan untuk menganggap setiap perubahan pada gusi sebagai sesuatu yang pasti terjadi pada kehamilan.

Salah satu tanda awal yang dapat dikenali adalah gusi mudah berdarah saat menyikat gigi. Perdarahan dapat terlihat pada sikat gigi atau ketika berkumur, dan mungkin disertai gusi yang tampak lebih sensitif. Tanda tersebut dapat mengindikasikan iritasi atau peradangan, tetapi tidak cukup untuk memastikan penyebabnya tanpa pemeriksaan. Menyikat gigi dengan lembut dan menjaga kebersihan gigi secara teratur dapat membantu mengurangi penumpukan plak; hindari menghentikan penyikatan hanya karena gusi berdarah. Bila perdarahan berulang, semakin banyak, atau disertai keluhan lain, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter gigi atau tenaga kesehatan. Dengan demikian, perubahan pada gusi dapat dinilai secara tepat dan kebutuhan perawatan selama kehamilan dapat dibicarakan secara aman.

Profesor Dr. drg. Sri Lelyati, Sp.Perio, Subsp. RPID(K), menjelaskan bahwa gusi berdarah selama kehamilan tidak selalu dapat diterangkan hanya oleh penumpukan bakteri atau karang gigi. Kedua hal tersebut dapat berkaitan dengan masalah pada gusi, tetapi bukan satu-satunya aspek yang perlu diperhatikan. Perubahan hormon selama kehamilan juga ikut berperan dalam kondisi jaringan gusi. Karena itu, munculnya perdarahan tidak sebaiknya langsung dianggap semata-mata sebagai akibat karang gigi, tanpa mempertimbangkan perubahan yang berlangsung selama kehamilan.

Menurut Sri Lelyati, peningkatan hormon kehamilan dapat membuat respons gusi menjadi berlebihan. Dalam keadaan tersebut, gusi dapat lebih mudah mengalami peradangan dan pembengkakan. Respons yang lebih kuat ini berarti tanda peradangan dapat muncul lebih cepat, termasuk ketika gusi terpapar pemicu yang berkaitan dengan kebersihan mulut. Penjelasan ini menekankan peran perubahan hormonal terhadap respons jaringan, bukan menyatakan bahwa hormon menjadi satu-satunya penyebab perdarahan pada setiap ibu hamil.

Dengan memahami hal itu, gusi berdarah pada masa kehamilan dapat dipandang sebagai kondisi yang melibatkan lebih dari satu sisi: keberadaan bakteri atau karang gigi dan perubahan respons gusi yang berkaitan dengan hormon. Keterangan tersebut tidak menghilangkan pentingnya kondisi kebersihan gigi dan mulut, tetapi mengingatkan bahwa respons gusi selama kehamilan dapat berbeda. Peradangan serta pembengkakan yang lebih cepat terjadi merupakan bagian dari penjelasan narasumber mengenai keterlibatan hormon. Informasi ini membantu menjelaskan mengapa perdarahan bisa terjadi, tanpa menyimpulkan bahwa semua kasus memiliki penyebab yang sama atau menambahkan faktor lain di luar penjelasan tersebut.

Puluhan ibu hamil mengikuti kegiatan edukasi kesehatan gigi dan mulut yang diselenggarakan Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia bersama Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 26 Oktober 2026, dengan perhatian khusus pada kesehatan gusi selama kehamilan. Narasumber yang hadir adalah drg. Jelshagrysna Jessyella Rope dan Profesor Sri Lelyati. Melalui edukasi tersebut, para peserta memperoleh kesempatan untuk mengenal isu kesehatan gusi yang dapat menjadi perhatian selama masa kehamilan. Penyelenggaraan kegiatan bersama institusi pendidikan kedokteran gigi dan puskesmas juga menunjukkan pentingnya upaya menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat, termasuk kepada ibu hamil di lingkungan setempat.

Kehamilan merupakan masa ketika perubahan hormon dapat memengaruhi kondisi gusi dan membuatnya lebih mudah berdarah. Karena itu, pembahasan kesehatan gusi menjadi bagian yang relevan dalam edukasi kesehatan bagi ibu hamil. Kegiatan di Kebon Jeruk secara khusus mengangkat tema tersebut, tanpa mengabaikan pentingnya perhatian terhadap kesehatan gigi dan mulut secara umum. Informasi yang disampaikan oleh narasumber memberi konteks bagi peserta untuk memahami mengapa kesehatan gusi perlu diperhatikan selama kehamilan. Edukasi semacam ini dapat membantu menghadirkan pembicaraan mengenai kesehatan mulut sebagai bagian dari perhatian terhadap kesehatan ibu. Pengetahuan yang diperoleh juga dapat menjadi dasar bagi peserta untuk bertanya atau mencari informasi lebih lanjut dari tenaga kesehatan yang kompeten.

Keterlibatan Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia bersama Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk mempertemukan unsur pendidikan dan layanan kesehatan masyarakat dalam satu kegiatan. Sasaran edukasi, yakni puluhan ibu hamil, membuat topik kesehatan gusi selama kehamilan dekat dengan kebutuhan peserta. Kehadiran drg. Jelshagrysna Jessyella Rope bersama Profesor Sri Lelyati sebagai narasumber menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Meski informasi mengenai susunan acara maupun materi terperinci tidak tersedia, pokok pembahasannya jelas berfokus pada kesehatan gusi ketika hamil. Kegiatan yang berlangsung pada 26 Oktober 2026 ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan gigi dan mulut dapat menjadi ruang untuk meningkatkan perhatian terhadap perubahan kondisi gusi selama kehamilan, sekaligus mendorong ibu hamil membicarakan kesehatan mulut dengan tenaga kesehatan.

Setelah sesi edukasi mengenai perubahan hormon kehamilan dan dampaknya terhadap kesehatan gusi, para peserta menjalani pemeriksaan kebersihan rongga mulut. Pemeriksaan ini menggunakan Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S), yaitu indeks sederhana yang membantu menggambarkan kondisi kebersihan mulut seseorang. Dengan pemeriksaan tersebut, kondisi gigi dan jaringan di sekitarnya dapat ditinjau secara lebih terarah, bukan hanya berdasarkan keluhan yang dirasakan. Langkah ini juga memberi peserta gambaran awal tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan sehari-hari selama masa kehamilan.

Dalam penilaian OHI-S, petugas mengamati keberadaan debris, yakni lapisan sisa makanan dan kotoran yang menempel pada permukaan gigi, serta kalkulus atau karang gigi yang telah mengeras. Kedua hal tersebut menjadi tolok ukur awal kebersihan rongga mulut. Temuan dari pemeriksaan dapat membantu mengenali bagian yang membutuhkan perhatian lebih, sekaligus menjadi bahan edukasi mengenai pentingnya menyikat gigi dengan teknik yang tepat dan membersihkan area sela gigi. Pemeriksaan ini merupakan skrining kondisi kebersihan mulut, bukan pengganti pemeriksaan dan diagnosis lengkap oleh dokter gigi.

Ibu hamil tetap perlu menjaga kebersihan gigi dan mulut secara rutin, lain dengan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida dan melakukan pemeriksaan gigi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Keluhan gusi berdarah atau bengkak sebaiknya tidak diabaikan, terutama bila keluhan menetap, berulang, atau disertai rasa nyeri. Berkonsultasi dengan dokter gigi membantu memastikan penyebab keluhan dan menentukan perawatan yang sesuai dengan kondisi kehamilan. Hasil skrining OHI-S diharapkan mendorong kesadaran para peserta untuk merawat gigi dan gusi secara teratur, memperhatikan perubahan pada rongga mulut, serta mencari bantuan profesional ketika diperlukan. Perawatan yang konsisten dapat mendukung kesehatan mulut ibu selama kehamilan.

Baca juga: Aksi Buruh Besar di Depan DPR, Serukan Perubahan UU Ketenagakerjaan