Petugas Kehutanan Tewas Tertimpa Pohon Saat Menangani Karhutla Toraja Utara

Petugas Kehutanan Tewas Tertimpa Pohon Saat Menangani Karhutla Toraja Utara

Kabupaten Toraja Utara | Padayya, seorang polisi hutan berusia 45 tahun yang bekerja sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Saddang II Toraja Utara, meninggal dunia setelah tertimpa pohon tumbang saat menjalankan tugas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 28 Oktober 2026, sekitar pukul 20.50 WITA, di Lembang Nanna, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Ketika kejadian berlangsung, Padayya berada di lokasi untuk membantu menangani kebakaran. Dalam proses pemadaman, sebuah pohon tumbang dan menimpa korban. Insiden tersebut membuat petugas lain segera melakukan upaya evakuasi. Padayya kemudian dibawa untuk memperoleh penanganan medis, tetapi nyawanya tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal setelah sempat dievakuasi dan mendapatkan perawatan.

Kabar duka ini menyoroti risiko yang dihadapi petugas kehutanan ketika bekerja di area karhutla. Selain menghadapi api dan asap, personel di lapangan juga perlu mewaspadai kondisi lingkungan, termasuk pohon yang berpotensi tumbang. Situasi dapat berubah dengan cepat, terlebih saat penanganan dilakukan pada malam hari dan di kawasan yang medan serta kondisi sekitarnya perlu terus dipantau.

Peristiwa di Nanggala terjadi ketika Padayya sedang menjalankan tanggung jawabnya sebagai bagian dari tim penanganan kebakaran. Informasi mengenai kejadian ini menyebutkan bahwa korban sempat dievakuasi dan mendapatkan bantuan medis sebelum dinyatakan meninggal. Dengan demikian, insiden tersebut bukan hanya kecelakaan di lokasi kerja, tetapi juga kehilangan seorang petugas yang tengah berupaya menangani karhutla di wilayah tugasnya.

Kepergian Padayya menjadi duka bagi keluarga, rekan kerja, dan lingkungan kehutanan di Toraja Utara. Peristiwa ini sekaligus mengingatkan pentingnya keselamatan personel dalam setiap operasi pemadaman. Pengawasan kondisi lapangan, koordinasi antarpetugas, serta kewaspadaan terhadap bahaya di sekitar lokasi menjadi bagian penting dalam upaya melindungi mereka yang bertugas. Meski demikian, informasi yang tersedia mengenai kejadian ini berfokus pada waktu, lokasi, tugas korban, proses evakuasi, dan penanganan medis yang diterimanya.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan, Andi Kasman, menjelaskan bahwa Padayya sedang menjalankan tugas pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Toraja Utara bersama tim gabungan. Upaya tersebut berlangsung di kawasan hutan lindung dan di sekitar jalur poros Karre. Dalam proses penanganan api, Padayya dan anggota tim bekerja di tengah kobaran yang masih harus dipadamkan.

Setelah bekerja di lokasi kebakaran, Padayya beristirahat sejenak karena kelelahan. Pada saat itulah sebuah pohon tumbang dan menimpanya. Peristiwa tersebut terjadi ketika ia tengah berada di kawasan yang menjadi bagian dari upaya pemadaman. Berdasarkan keterangan Andi Kasman, korban sebelumnya bekerja bersama tim untuk menangani api, kemudian mengambil waktu untuk beristirahat sebelum tertimpa pohon.

Keterangan itu menggambarkan bahwa insiden terjadi di tengah tugas penanganan karhutla, bukan setelah pekerjaan pemadaman dinyatakan selesai. Padayya telah berada di lokasi dan ikut berupaya mengendalikan kebakaran di kawasan hutan lindung serta jalur poros Karre. Setelah bekerja dalam kondisi kobaran api, ia berhenti sejenak karena lelah. Ketika sedang beristirahat, pohon tumbang menimpanya. Urutan kejadian tersebut disampaikan oleh Andi Kasman sebagai penjelasan mengenai situasi yang mendahului insiden.

Padayya juga sempat mengirim video ketika menjalankan tugas pemadaman. Informasi mengenai video tersebut menunjukkan bahwa korban sempat mendokumentasikan atau mengirim rekaman saat bertugas, tetapi tidak ada rincian tambahan mengenai isi video yang disampaikan dalam keterangan tersebut. Karena itu, peristiwa ini dapat dipaparkan berdasarkan hal-hal yang diketahui: Padayya bertugas bersama tim gabungan, bekerja di tengah api, beristirahat karena kelelahan, lalu tertimpa pohon yang tumbang. Rangkaian itu menjadi kronologi utama kejadian di jalur poros Karre dan kawasan hutan lindung Toraja Utara, sebagaimana diterangkan oleh Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan.Setelah Padayya tertimpa pohon saat menjalankan tugas penanganan kebakaran hutan dan lahan di Toraja Utara, rekan-rekannya segera melakukan upaya pertolongan dan evakuasi. Dalam keadaan darurat, tim membawa petugas kehutanan tersebut ke Puskesmas Nanggala untuk memperoleh penanganan medis awal. Langkah itu menjadi bagian dari respons cepat di tengah situasi lapangan yang berat, ketika keselamatan korban menjadi prioritas. Informasi mengenai proses pertolongan tersebut menunjukkan bahwa Padayya tidak dibiarkan menghadapi dampak kecelakaan seorang diri; rekan satu tim berupaya membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum penanganan lanjutan dilakukan.

Setelah mendapat penanganan di Puskesmas Nanggala, Padayya kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Elim Rantepao. Namun, berbagai upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawanya. Ia meninggal dunia setelah insiden saat bertugas itu, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan jajaran kehutanan. Perpindahan dari puskesmas ke rumah sakit menggambarkan upaya untuk memperoleh perawatan lanjutan, tetapi kabar wafatnya tetap menjadi kehilangan yang berat. Peristiwa ini juga mengingatkan bahwa pekerjaan pemadaman karhutla berlangsung di lingkungan yang memiliki risiko, termasuk ancaman pohon tumbang ketika petugas berupaya menangani kebakaran.

Kematian Padayya menjadi duka bagi jajaran kehutanan Sulawesi Selatan, terutama para petugas yang terlibat langsung dalam penanganan karhutla di Toraja Utara. Kasman menyampaikan bahwa Padayya merupakan salah satu petugas yang berada di garis depan pemadaman. Penilaian itu menempatkan peran Padayya sebagai bagian penting dari kerja lapangan, bukan sekadar nama dalam laporan kecelakaan. Kasman juga mengungkapkan rasa kehilangan atas kepergian rekannya. Pernyataan tersebut mencerminkan kesedihan sekaligus penghargaan terhadap pengabdian Padayya selama menjalankan tugas. Bagi para petugas yang masih bekerja di lokasi, kabar ini membawa duka pribadi dan kedukaan bersama dalam satu jajaran. Mereka kehilangan rekan yang ikut menghadapi tantangan pemadaman, sementara tugas perlindungan kawasan dan penanganan kebakaran tetap memerlukan kewaspadaan serta kerja bersama. Kepergiannya meninggalkan kenangan tentang pengabdian di garis depan, sekaligus menegaskan pentingnya perhatian pada keselamatan petugas dalam setiap operasi kehutanan, khususnya ketika kondisi lapangan berisiko dan sulit diprediksi.

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan hutan lindung Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, masih menjadi perhatian tim penanganan hingga Kamis, 29 Oktober 2026. Kebakaran tersebut telah berlangsung sejak 19 Oktober dan belum sepenuhnya padam. Upaya pengendalian terus dilakukan di tengah kondisi kebakaran yang meluas di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan. Penanganan di Nanggala merupakan bagian dari respons terhadap karhutla yang membutuhkan pemantauan dan kerja lapangan secara berkelanjutan, terutama pada area hutan dan lahan yang terdampak.

Sejumlah unsur bergabung dalam penanganan kebakaran di kawasan tersebut. Personel Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Saddang II bekerja bersama Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan. TNI dan Polri juga terlibat dalam upaya pengendalian di lapangan. Keterlibatan lintas instansi ini mendukung kegiatan penanganan yang masih berjalan, sementara api belum sepenuhnya padam. Informasi mengenai proses tersebut memberi gambaran tentang upaya tim gabungan dalam menghadapi kebakaran, tanpa menyimpulkan hubungan kondisi karhutla dan insiden yang terjadi saat petugas bertugas.

Berdasarkan data KPH Saddang II per 26 Oktober 2026, kebakaran telah melanda 400,13 hektare hutan dan lahan di Kabupaten Tana Toraja serta 296 hektare di Kabupaten Toraja Utara. Angka tersebut mencakup wilayah terdampak di dua kabupaten dan menunjukkan besarnya area yang perlu ditangani. Sementara itu, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan dan Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran di tingkat provinsi sekitar 1.613,67 hektare. Data ini menjadi gambaran skala karhutla di Sulawesi Selatan pada periode tersebut.

Baca juga: Perkembangan Terkini Karhutla di Jambi: Penurunan Jumlah Hotspot