Jakarta | Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah dan masyarakat memperluas gerakan menanam cabai untuk memperkuat pasokan nasional sekaligus menjaga kestabilan harga. Dorongan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi terbatas mengenai pangan yang berlangsung di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada Senin. Upaya menambah produksi cabai dinilai penting karena ketersediaan komoditas ini dapat memengaruhi kondisi harga pangan di berbagai wilayah.
Tito mengajak masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia, baik di desa, kelurahan, maupun kawasan perkotaan, sebagai tempat untuk menanam cabai. Lahan yang belum digunakan secara optimal dapat dimanfaatkan sebagai sumber tambahan pasokan, termasuk melalui penanaman di lingkungan rumah atau ruang terbuka yang sesuai. Dengan melibatkan warga dan pemerintah setempat, kegiatan menanam diharapkan dapat berjalan lebih luas dan menyesuaikan kondisi masing-masing daerah.
Gerakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah tanaman, tetapi juga membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung ketersediaan pangan. Pemerintah daerah dapat mendorong pemanfaatan lahan melalui koordinasi dengan perangkat desa dan kelurahan, serta mengajak kelompok masyarakat untuk terlibat. Penanaman cabai di lingkungan setempat berpotensi membantu memenuhi sebagian kebutuhan warga dan menambah sumber pasokan di tingkat daerah.
Penguatan pasokan dari berbagai wilayah menjadi salah satu langkah untuk menjaga agar ketersediaan cabai tidak hanya bergantung pada sentra produksi tertentu. Ketika produksi lokal bertambah, daerah memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri dan merespons perubahan pasokan. Meski begitu, pelaksanaan gerakan perlu memperhatikan kesiapan lahan, ketersediaan bibit, dan perawatan tanaman agar kegiatan tidak berhenti pada tahap penanaman.
Ajakan ini menempatkan gerakan tanam sebagai upaya bersama yang dapat dilakukan dari tingkat rumah tangga hingga pemerintah daerah. Pemanfaatan lahan desa, kelurahan, dan perkotaan diharapkan memperkuat pasokan cabai secara bertahap, sekaligus mendukung kestabilan harga. Dengan keterlibatan masyarakat yang konsisten, penanaman dapat menjadi bagian dari langkah daerah dalam menjaga ketahanan pangan dan mengurangi tekanan ketika kebutuhan meningkat.
Tito Karnavian menyampaikan bahwa inflasi bulanan dari Agustus ke September 2026 tercatat naik sebesar 0,30 persen. Kenaikan tersebut terutama disumbang oleh kelompok makanan dan minuman, yang menjadi kelompok dengan kontribusi utama terhadap pergerakan harga pada periode itu. Penjelasan ini menempatkan komoditas pangan sebagai perhatian dalam membaca perkembangan inflasi bulanan, sekaligus menunjukkan bahwa kenaikan tidak tersebar merata pada seluruh jenis barang kebutuhan. Dalam kelompok makanan dan minuman, komoditas cabai disebut memiliki peran penting terhadap kenaikan tersebut.
Tito menyebut cabai rawit dan cabai merah sebagai faktor utama yang mendorong inflasi pada kelompok itu. Dengan demikian, kenaikan yang dibahas bukan terutama berasal dari bahan makanan pokok, melainkan dari perubahan harga kedua jenis cabai tersebut. Penegasan ini penting agar sumber tekanan harga dapat dipahami secara lebih tepat. Ketika cabai memberi kontribusi besar terhadap inflasi pangan, perhatian dapat diarahkan pada ketersediaan pasokan komoditas tersebut, tanpa menyamakan kondisinya dengan pasokan bahan pokok lainnya. Data kenaikan bulanan dan penjelasan mengenai penyumbang utama itu menjadi dasar untuk memahami situasi harga pada September.
Salah satu penyebab berkurangnya produksi cabai di sejumlah daerah sentra adalah kondisi kekeringan. Kekeringan tersebut memengaruhi produktivitas tanaman, sehingga hasil produksi cabai dapat berkurang. Penjelasan ini menghubungkan kondisi produksi dengan tekanan harga yang terlihat pada komoditas cabai, tanpa menguraikan rincian wilayah atau dampak lain di luar informasi yang disampaikan. Karena cabai rawit dan cabai merah menjadi faktor utama dalam kelompok makanan dan minuman, perubahan produktivitas tanaman merupakan hal yang relevan dalam melihat ketersediaan pasokan. Keterangan Tito menunjukkan bahwa penguatan pasokan perlu memperhatikan tantangan produksi yang berkaitan dengan kekeringan, terutama pada daerah sentra cabai. Dengan memahami hubungan tersebut, perkembangan inflasi bulanan dapat dibaca bersama kondisi produksi komoditas yang berkontribusi terhadap kenaikan harga, tanpa mengabaikan fakta bahwa angka inflasi pada periode itu mencapai 0,30 persen.
Pemerintah memandang gerakan tanam cabai sebagai langkah jangka panjang untuk menjaga ketersediaan bahan pangan dan mengurangi tekanan harga di pasaran. Upaya ini tidak hanya dilakukan ketika harga cabai meningkat atau pasokan menipis, tetapi perlu berjalan secara berkelanjutan agar produksi lokal lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan dan gangguan distribusi. Dengan menambah kegiatan budidaya di lingkungan warga, lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan dan sumber pasokan menjadi lebih beragam. Ketersediaan cabai yang lebih terjaga diharapkan membantu menahan gejolak harga, terutama pada periode ketika permintaan meningkat atau hasil panen dari sentra produksi menurun.
Pemerintah daerah memiliki peran penting untuk mengajak masyarakat berpartisipasi melalui program pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi setempat. Bentuknya dapat menyesuaikan luas lahan, iklim, kebiasaan bertani, serta kemampuan warga, mulai dari penanaman di pekarangan hingga pengembangan kelompok tani. Pendampingan, penyediaan bibit, dan berbagi pengetahuan budidaya dapat membantu peserta merawat tanaman dengan lebih baik. Pendekatan yang sesuai karakteristik wilayah juga memungkinkan masyarakat terlibat tanpa harus bergantung pada satu model program. Pemerintah daerah dapat menghubungkan warga, petani, dan pihak terkait agar hasil tanam memiliki peluang untuk dimanfaatkan maupun dipasarkan.
Tito Karnavian menilai peningkatan produksi cabai dapat mendukung pengendalian inflasi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani. Ketika harga cabai naik, hasil panen yang tersedia memberi petani kesempatan memperoleh pendapatan dari komoditas yang dibutuhkan masyarakat. Pada saat yang sama, tambahan produksi lokal dapat memperkuat pasokan dan membantu meredam tekanan harga, meskipun dampaknya bergantung pada jumlah panen, waktu distribusi, dan kebutuhan pasar. Pasokan yang memadai di daerah juga mengurangi ketergantungan pada kiriman dari wilayah lain, khususnya ketika produksi atau distribusi antardaerah terganggu. Tito optimistis kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat ketahanan pangan. Dengan keterlibatan yang konsisten, gerakan tanam berpotensi menjaga ketersediaan cabai, mendukung usaha petani, dan membantu menjaga inflasi secara berkelanjutan.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pasokan cabai nasional mencukupi hingga akhir tahun. Meski demikian, pemerintah terus mengantisipasi potensi kenaikan harga menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, ketika kebutuhan masyarakat dapat meningkat. Sekretaris Utama Bapanas Ito Hediarto menyampaikan bahwa ketersediaan cabai bukan persoalan utama saat ini. Perhatian perlu diberikan pada kelancaran distribusi agar pasokan dari daerah sentra dapat menjangkau wilayah konsumen secara tepat waktu. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus meredam tekanan harga di berbagai daerah, terutama saat permintaan musiman meningkat.
Pengiriman antardaerah, khususnya melalui jalur laut, perlu dijaga agar tidak terhambat oleh kendala angkutan maupun biaya logistik. Sejumlah daerah sentra memiliki pasokan yang memadai, sementara wilayah lain membutuhkan tambahan komoditas untuk memenuhi permintaan lokal. Karena itu, penguatan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku distribusi diperlukan untuk memetakan kebutuhan serta memastikan pengiriman berlangsung lancar. Bapanas mendorong pemanfaatan Fasilitasi Distribusi Pangan untuk membantu memindahkan pasokan dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan. Skema ini mendukung pemerataan ketersediaan dan membantu mengurangi beban biaya distribusi yang dapat berpengaruh pada harga jual.
Dengan biaya pengiriman yang lebih terkendali, cabai diharapkan dapat dijual dengan harga lebih terjangkau bagi konsumen, tanpa mengabaikan kepentingan petani dan pedagang. Pemantauan harga tetap diperlukan sebagai dasar untuk menentukan langkah intervensi yang sesuai, terutama menjelang periode hari besar keagamaan dan pergantian tahun.
Baca juga: Asap Masih Mengepul, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Pembasahan Lahan Gambut | Silaturahmi Lintas Generasi, TNI Perkuat Semangat Pengabdian | Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi






