Afni Dorong Siak Kembali Mengembangkan Potensi Pesisir dan Maritim

Afni Dorong Siak Kembali Mengembangkan Potensi Pesisir dan Maritim

Kabupaten Siak | Bupati Siak Afni Zulkifli menyampaikan pandangan bahwa masyarakat Melayu pada suatu masa akan kembali kepada akar kehidupannya, yakni kawasan pesisir, maritim, sungai, dan laut. Menurutnya, keterikatan tersebut bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan juga dapat menjadi arah penting bagi masa depan masyarakat dan pembangunan daerah. Wilayah perairan yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat Melayu memiliki potensi besar untuk kembali dikembangkan secara produktif, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas.

Pernyataan itu disampaikan secara tegas ketika Afni menghadiri peletakan batu pertama pembangunan fasilitas PT Oriental Resources Indonesia (PT ORI) di Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB), Kabupaten Siak, pada Kamis, 9 Oktober 2026. Kehadiran investasi tersebut menjadi momentum untuk melihat kawasan pesisir tidak hanya sebagai wilayah penyangga, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi yang memiliki keterkaitan dengan industri, perdagangan, transportasi, dan pengelolaan sumber daya.

Afni menempatkan gagasan kembali ke akar kemaritiman Melayu dalam pembahasan mengenai masa depan sumber-sumber penghidupan di daratan. Perkembangan wilayah darat tetap penting, tetapi pemanfaatannya perlu berjalan seimbang dengan perhatian terhadap sungai, pesisir, dan laut. Menurut pandangan tersebut, ketahanan ekonomi masyarakat tidak dapat hanya bergantung pada satu sektor, terutama ketika perubahan lingkungan, kebutuhan pangan, dan pertumbuhan penduduk terus memengaruhi pola kehidupan.

Karena itu, potensi wilayah perairan perlu dipetakan dan dikelola dengan pendekatan yang terencana. Pengembangan perikanan, pelabuhan, industri pengolahan, wisata bahari, serta konektivitas antarkawasan dapat membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Pada saat yang sama, pembangunan harus tetap memperhatikan kelestarian ekosistem dan kearifan lokal. Pesan Afni menjadi ajakan agar masyarakat dan pemerintah kembali mengenali kekuatan geografis serta identitas budaya Siak sebagai bagian dari kawasan yang memiliki masa depan maritim.

Afni menyampaikan ajakan agar Siak kembali mengembangkan potensi pesisir dan maritim karena sumber pendapatan dari daratan dinilai semakin terbatas. Ia mengingatkan bahwa minyak di darat pada akhirnya akan habis. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mempertimbangkan kembali sumber-sumber penghidupan yang selama ini berada di sekitar wilayah pesisir, sungai, dan laut. Menurut Afni, perhatian terhadap kawasan tersebut penting bagi masyarakat Melayu yang memiliki kedekatan dengan lingkungan perairan.

Dalam pandangannya, tanaman akasia belum mampu memberikan pemasukan dalam jumlah besar bagi masyarakat. Tanaman itu memang menjadi salah satu sumber pendapatan, tetapi hasilnya dinilai terbatas. Karena itu, ketergantungan pada sumber penghasilan dari daratan tidak dapat menjadi satu-satunya tumpuan. Afni juga menyebutkan bahwa sawit diperkirakan hanya memberikan sekitar Rp3 miliar pada tahun depan. Perkiraan tersebut menjadi salah satu alasan yang mendorongnya untuk mengajak masyarakat kembali melihat peluang yang tersedia di kawasan pesisir dan maritim.

Ajakan itu mencakup perhatian terhadap potensi sungai dan laut, selain wilayah pesisir. Afni menilai masyarakat Melayu perlu kembali menoleh kepada ruang-ruang perairan tersebut, terutama ketika sumber pendapatan dari minyak, akasia, dan sawit menghadapi keterbatasan masing-masing. Pernyataan itu menekankan pentingnya mengingat kembali hubungan masyarakat dengan pesisir, maritim, sungai, dan laut sebagai bagian dari potensi yang dimiliki Siak. Dorongan tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan perubahan sumber pendapatan di daratan serta perkiraan pemasukan sawit pada tahun mendatang.

Afni mengimbau masyarakat Melayu di Siak dan seluruh wilayah pesisir agar tidak merasa cemas menghadapi kondisi dana bagi hasil (DBH) minyak dan gas bumi. Menurutnya, dinamika penerimaan DBH memang menjadi perhatian penting bagi daerah yang selama ini memiliki keterkaitan dengan kegiatan migas. Namun, ia berharap masyarakat tetap tenang, menjaga persatuan, serta menyikapi perkembangan tersebut dengan kepala dingin dan semangat untuk terus membangun potensi daerah.

Dalam pernyataannya, Afni menyebut bahwa DBH yang diterima Siak terus mengalami penurunan. Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat belum mengetahui secara jelas rumus atau mekanisme yang digunakan dalam penetapan besaran dana tersebut. Kondisi itu, menurut pandangannya, dapat menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, termasuk anggapan bahwa dana bagi hasil dipotong oleh pemerintah pusat. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan dan kegelisahan yang ia tangkap dari masyarakat, bukan sebagai fakta yang telah diverifikasi secara terpisah. Karena itu, Afni menilai keterbukaan informasi dan penjelasan yang mudah dipahami penting untuk mencegah kesalahpahaman.

Afni mengajak masyarakat Melayu Siak dan komunitas pesisir untuk tidak kehilangan harapan. Ia meyakini bahwa Siak merupakan negeri bertuah, memiliki akar peradaban yang kuat, serta dikenal sebagai tanah yang beradab dan pernah dipimpin para sultan yang alim. Nilai sejarah, budaya, dan keagamaan tersebut, menurutnya, menjadi modal moral bagi masyarakat untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan pembiayaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya. Dengan keyakinan religius, Afni berharap Allah senantiasa menjaga Siak, melindungi masyarakatnya, serta melimpahkan rezeki yang berkah bagi negeri tersebut. Harapan itu juga ia kaitkan dengan dorongan agar masyarakat terus bekerja, menjaga amanah, dan mengembangkan potensi pesisir serta maritim secara berkelanjutan.

PT Oriental Resources Indonesia (PT ORI) merupakan perusahaan swasta berstatus penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang mulai merealisasikan investasinya di Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB), Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kehadiran perusahaan ini menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat pemanfaatan potensi sumber daya lokal secara lebih terintegrasi.

PT ORI disebut sebagai investor hilirisasi pertama berbasis kelapa sawit di KITB. Investasi tersebut diarahkan untuk membangun kegiatan industri yang mampu memberikan nilai tambah terhadap komoditas kelapa sawit, sehingga tidak hanya mengandalkan penjualan bahan mentah. Pengembangan industri hilir diharapkan turut membuka peluang kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi daerah, serta memperluas keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok industri.

Pada tahap pertama, investasi PT ORI diproyeksikan mencapai Rp1,6 triliun. Nilai tersebut terdiri atas rencana pengembangan awal sebesar Rp800 miliar dan pembangunan lanjutan dengan nilai yang sama, yakni Rp800 miliar. Pembagian tahapan investasi ini menunjukkan adanya rencana pengembangan yang dilakukan secara bertahap dan terukur, menyesuaikan kesiapan kawasan, kebutuhan fasilitas, serta pertumbuhan kegiatan produksi.

Realisasi investasi ditandai dengan dimulainya pembangunan fasilitas industri PT ORI di KITB. Pembangunan tersebut menjadi bukti awal komitmen perusahaan untuk menjalankan kegiatan usaha di kawasan yang diproyeksikan sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri di Kabupaten Siak. Selain memberikan dampak ekonomi langsung, pembangunan fasilitas ini berpotensi mendorong peningkatan infrastruktur pendukung dan memperkuat daya tarik KITB bagi investor berikutnya.

Proyek PT ORI merupakan bagian dari rencana pengembangan kegiatan industri yang ditargetkan mulai direalisasikan pada 2026. Dengan dukungan pemerintah daerah, pengelola kawasan, serta pemangku kepentingan terkait, investasi ini diharapkan dapat berjalan sesuai tahapan dan memberikan kontribusi terhadap percepatan hilirisasi kelapa sawit. Kehadiran investor tersebut juga memperkuat posisi KITB sebagai kawasan strategis untuk pengembangan industri berbasis potensi daerah dan sumber daya maritim di Riau.