Sampah Menutup Kali Cakung Drain, Petugas Angkut Sekitar 8 Meter Kubik

Sampah Menutup Kali Cakung Drain, Petugas Angkut Sekitar 8 Meter Kubik

Jakarta | Kali Cakung Drain di wilayah Cilincing, Jakarta Utara, menjadi perhatian setelah kondisinya yang dipenuhi sampah ramai dibicarakan di media sosial. Dalam gambaran yang beredar, sampah tampak mengambang dan menyebar luas di permukaan aliran. Jumlahnya terlihat menutupi sebagian besar area air, sehingga permukaan kali sulit terlihat di tumpukan tersebut. Keadaan itu membuat aliran sungai tampak dipenuhi benda-benda yang mengapung, bukan terbuka sebagaimana biasanya.

Di tengah tumpukan sampah itu, terlihat sebuah perahu berwarna merah dan biru. Perahu tersebut berada di benda-benda yang mengambang, sementara sejumlah orang tampak berada di atasnya. Pemandangan perahu di tengah permukaan yang tertutup sampah menjadi salah satu bagian yang terlihat dalam materi yang menyebar di media sosial. Tidak ada rincian lain mengenai orang-orang tersebut dalam gambaran yang tersedia, sehingga identitas maupun keterangan tambahan tentang mereka tidak dapat dipastikan.

Perhatian publik tertuju pada luasnya sampah yang memenuhi permukaan Kali Cakung Drain. Sebarannya membuat batas air dan tumpukan sampah sulit dibedakan dari tampilan yang beredar. Sampah terlihat berkumpul di banyak bagian, sementara ruang permukaan yang masih tampak terbuka sangat terbatas. Kondisi tersebut menggambarkan kejadian yang menjadi viral, tanpa memberikan informasi mengenai penyebab, lama penumpukan, atau dampak lain yang mungkin terjadi. Gambaran utama yang terlihat tetap berupa aliran kali yang dipenuhi sampah mengambang, dengan perahu merah dan biru serta sejumlah orang di atasnya berada di tengah tumpukan. Lokasi yang disebutkan adalah Kali Cakung Drain di Cilincing, Jakarta Utara. Perhatian terhadap kondisi tersebut muncul melalui unggahan media sosial yang menampilkan permukaan kali tertutup sampah secara luas. Dengan demikian, inti kejadian yang diketahui dari materi tersebut adalah penuhnya permukaan aliran oleh sampah dan penyebaran gambarnya secara viral. Tidak ada rincian tambahan mengenai waktu pengambilan gambar atau keadaan di luar yang tampak dalam materi itu.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menangani tumpukan sampah yang menutup aliran Kali Cakung Drain dengan mengerahkan petugas Unit Penanganan Sampah (UPS) Badan Air. Petugas turun langsung untuk mengangkut sampah dari aliran kali agar penumpukan dapat ditangani. Penanganan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kebersihan badan air di wilayah Jakarta. Sampah yang terbawa atau terkumpul di aliran kali perlu diangkat secara berkala supaya tidak terus menumpuk dan menghambat aliran.

Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, menyampaikan bahwa kegiatan penanganan sampah di badan air dilakukan rutin setiap hari. Keterangan tersebut disampaikan pada Senin, 26 Oktober 2026, sebagaimana tercantum dalam bahan sumber. Pelaksanaan rutin itu menunjukkan bahwa pembersihan bukan hanya dilakukan ketika tumpukan terlihat besar, melainkan menjadi kegiatan yang berlangsung secara berkelanjutan. Dengan demikian, petugas UPS Badan Air dapat menangani sampah yang ditemukan di aliran kali sebagai bagian dari pemeliharaan kebersihan lingkungan.

Dalam kasus Kali Cakung Drain, petugas mengangkut sampah yang menutup aliran. Jumlah sampah yang diangkat diperkirakan sekitar 8 meter kubik. Volume tersebut menggambarkan banyaknya sampah yang terkumpul dan perlu ditangani oleh petugas. Pengangkutan dari badan kali menjadi langkah langsung untuk membersihkan bagian aliran yang terdampak. DLH DKI Jakarta menyampaikan penanganan rutin sebagai bentuk pekerjaan harian petugas, sementara pengerahan UPS Badan Air memungkinkan sampah di aliran kali diangkat dari lokasi. Kegiatan ini penting untuk merespons penumpukan yang dapat mengganggu kebersihan dan kelancaran aliran, sekaligus menjaga kondisi badan air. Informasi mengenai volume sampah dan pengerahan petugas memberi gambaran tentang penanganan yang dilakukan di Kali Cakung Drain. Pembersihan berkelanjutan juga membantu agar sampah tidak dibiarkan menumpuk tanpa penanganan. Warga di sekitar aliran diharapkan turut menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah ke kali, sehingga upaya petugas dapat didukung dan badan air tetap terpelihara.Yogi menjelaskan bahwa banyaknya sampah yang menutup Kali Cakung Drain dipengaruhi oleh aliran sampah dari daratan dan kondisi pasang-surut laut. Menurut keterangannya, hujan yang turun sehari sebelum petugas melakukan penanganan membuat sampah di daratan terbawa air menuju saluran. Sampah tersebut kemudian bergerak mengikuti aliran hingga sampai ke Kali Cakung Drain dan terkumpul di lokasi.

Ia menyebut hujan sehari sebelumnya sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan banyaknya sampah di kali. Air hujan mengalir dari daratan dan membawa sampah yang berada di sepanjang jalur aliran. Ketika sampah terbawa masuk ke saluran, material itu dapat berpindah bersama arus menuju titik tertentu. Yogi menerangkan bahwa keadaan tersebut ikut menjelaskan mengapa sampah terlihat menumpuk di Kali Cakung Drain saat petugas melakukan pengangkutan.

Selain aliran dari daratan, Yogi juga menyampaikan bahwa pasang-surut laut turut memengaruhi pergerakan sampah. Kondisi laut tersebut dapat mendorong sampah dari laut dan kawasan pesisir masuk ke Kali Cakung Drain. Dengan demikian, menurut penjelasannya, sampah yang berada di lokasi tidak hanya berasal dari daratan yang terbawa hujan, tetapi juga berkaitan dengan sampah dari laut dan pesisir yang terdorong ke saluran akibat perubahan pasang-surut.

Keterangan Yogi menggambarkan dua jalur yang membawa sampah menuju lokasi tersebut: aliran air hujan dari daratan dan dorongan dari laut serta pesisir saat kondisi pasang-surut. Ia tidak merinci jenis sampah atau memperkirakan berapa bagian yang datang melalui masing-masing jalur. Penjelasan itu disampaikan sebagai faktor yang memengaruhi banyaknya sampah di Kali Cakung Drain, bukan sebagai uraian mengenai penyebab lain. Petugas kemudian mengangkut sampah yang menumpuk di lokasi, dengan jumlah sekitar delapan meter kubik. Kondisi hujan sehari sebelumnya dan pasang-surut laut menjadi konteks yang disampaikan Yogi untuk menerangkan bagaimana sampah dapat terbawa dan masuk ke kali tersebut.

Proses pembersihan sampah di Kali Cakung Drain menghadapi kendala karena sejumlah perahu nelayan diparkir hingga memenuhi badan air. Kondisi tersebut membatasi ruang gerak petugas dan menghambat akses armada untuk menjangkau tumpukan sampah. Petugas perlu menyesuaikan posisi serta cara kerja agar pengangkutan dapat dilakukan tanpa mengganggu perahu yang berada di lokasi. Situasi ini membuat pekerjaan tidak bisa diselesaikan sekaligus dan harus dilakukan secara bertahap.

Kendala lain muncul ketika sampah terselip di perahu atau bagian-bagiannya. Material yang tersangkut menjadi lebih sulit diangkat, sehingga petugas perlu memeriksa area dengan cermat sebelum memindahkan sampah ke armada. Pengangkatan dilakukan secara hati-hati agar sampah yang terjepit dapat dilepaskan dan tidak kembali tercecer ke aliran. Meski akses terbatas, petugas terus membersihkan titik-titik yang dapat dijangkau. Hingga kegiatan berlangsung, sekitar 8 meter kubik sampah telah diangkut menggunakan armada UPS Badan Air.

Pembersihan bertahap diperlukan untuk menangani sampah yang tersebar sekaligus menyesuaikan kondisi badan air dan ruang kerja di perahu. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai dan saluran air. Sampah yang dibuang ke aliran dapat terbawa dan menumpuk, lalu menyulitkan proses pembersihan serta mengganggu kelancaran aliran. Risiko penumpukan perlu diwaspadai terutama saat hujan dan ketika terjadi perubahan pasang-surut, yang dapat memengaruhi pergerakan sampah. Dengan membuang sampah pada tempatnya, warga dapat membantu menjaga kebersihan sungai dan saluran air serta mengurangi beban petugas di lapangan.