Jakarta | Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Expo 2026 dipadati pencari kerja. Kegiatan tersebut berlangsung di Smesco, Jakarta Selatan, pada Kamis (22/10). Bursa kerja itu menjadi konteks bagi kisah salah satu pengunjungnya, Zaini, yang berusaha mencari pekerjaan setelah pensiun. Di tengah banyaknya orang yang datang untuk mencari peluang kerja, pengalaman Zaini memperlihatkan bahwa kebutuhan untuk tetap bekerja dapat berlanjut melewati usia pensiun. Usianya yang telah menginjak 55 tahun menjadi bagian penting dari perjuangan tersebut, sekaligus menandai tahap hidup yang berbeda dari kebanyakan pencari kerja yang datang ke acara itu.
Kisah Zaini bukan semata tentang menghadiri sebuah bursa karier. Ia menggambarkan upaya seseorang untuk kembali memperoleh pekerjaan setelah masa kerja sebelumnya berakhir karena pensiun. Pada usia 55 tahun, pencarian itu berlangsung dalam situasi ketika seseorang perlu menyesuaikan diri dengan kesempatan kerja yang tersedia. Namun, informasi mengenai pengalaman Zaini di acara tersebut tidak mengubah inti ceritanya: ia masih berupaya menemukan pekerjaan. Keramaian expo menyediakan latar bagi kisah personal itu, tanpa menjadikan usia sebagai satu-satunya penjelasan atas perjalanan yang ia jalani.
Perjuangan mencari kerja setelah pensiun juga mengingatkan bahwa kehidupan profesional tidak selalu berhenti pada satu batas usia. Bagi Zaini, keinginan untuk tetap bergerak menjadi bagian dari usaha melanjutkan kehidupan kerja pada tahap yang baru. Kisahnya menempatkan pencarian pekerjaan sebagai pengalaman yang dapat dijalani kembali, termasuk oleh orang yang telah memasuki masa pensiun. Di Smesco, Jakarta Selatan, pada Kamis (22/10), ia menjadi salah satu pengunjung dalam kegiatan yang dipadati pencari kerja. Kehadirannya menghubungkan suasana umum bursa karier dengan persoalan yang lebih pribadi: bagaimana seseorang tetap mencari kesempatan kerja ketika berusia 55 tahun dan telah pensiun.
Zaini, seorang warga Jakarta Timur berusia 55 tahun, masih aktif mencari pekerjaan setelah pensiun dari pekerjaan sebelumnya. Bagi dirinya, masa pensiun bukan penanda bahwa semua kesempatan untuk bekerja telah tertutup. Ia tetap berupaya menemukan peluang yang sesuai dan bersedia menjalani proses pencarian kerja pada tahap kehidupan yang baru. Sikap tersebut menunjukkan bahwa keinginan untuk tetap bekerja dapat bertahan setelah seseorang meninggalkan pekerjaan terdahulu. Pada usia 55 tahun, Zaini memilih untuk terus bergerak, menimbang kemungkinan, dan membuka diri terhadap kesempatan kerja yang tersedia, tanpa menganggap angka usia sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
Perjalanan mencari pekerjaan pada usia tersebut tentu berlangsung dalam konteks yang berbeda dibandingkan ketika seseorang masih bekerja sebelum pensiun. Namun, informasi mengenai Zaini menegaskan satu hal: ia belum berhenti berusaha. Ia terus mencari peluang setelah masa kerjanya sebelumnya berakhir, dan tetap memiliki semangat untuk kembali bekerja. Kisah ini bukan tentang rincian jabatan atau perusahaan tertentu, melainkan tentang ketekunan seseorang yang masih ingin berkontribusi melalui pekerjaan. Dengan tetap mengajukan diri sebagai pencari kerja, Zaini memperlihatkan bahwa pensiun dari satu pekerjaan tidak selalu berarti keinginan untuk bekerja ikut selesai.
Usia dan status pensiun dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup, tetapi keduanya tidak otomatis menghapus tujuan seseorang untuk kembali bekerja. Zaini tetap berusaha mencari pekerjaan di Jakarta Timur, meski telah berusia 55 tahun dan pensiun dari pekerjaan sebelumnya. Upayanya mencerminkan kemauan untuk terus mencari jalan, alih-alih menutup diri dari kemungkinan baru. Setiap peluang yang dijajaki menjadi bagian dari proses tersebut, sementara semangat untuk bekerja tetap menjadi pendorong. Kisah Zaini mengingatkan bahwa pencarian kerja dapat berlanjut setelah pensiun, dan bahwa seseorang tetap berhak mengejar kesempatan sesuai kemampuannya. Ia terus melangkah, berusaha, dan berharap menemukan peluang yang tepat untuk kembali bekerja.
Sebelum memasuki masa pensiun, Zaini bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Pengalaman itu menjadi bagian penting dari latar belakangnya ketika ia kembali mencari pekerjaan pada usia 55 tahun. Pekerjaannya dahulu berkaitan dengan bidang akuntansi, tetapi tidak ada rincian lebih jauh mengenai tugas tertentu yang perlu diasumsikan. Yang dapat diketahui adalah bahwa Zaini pernah bekerja di lingkungan perusahaan perkebunan kelapa sawit dan kini berupaya tetap aktif setelah pensiun. Peralihan dari masa bekerja menuju masa pensiun tidak membuatnya berhenti mempertimbangkan peluang untuk bekerja kembali.
Ada dua alasan yang mendorong Zaini terus mencari pekerjaan. Alasan pertama adalah tuntutan ekonomi. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan yang membuatnya berusaha memperoleh pekerjaan lagi, meskipun tidak tersedia keterangan mengenai keadaan keuangan atau besarnya kebutuhan yang ia hadapi. Karena itu, alasan ini dapat dipahami secara umum sebagai dorongan ekonomi, tanpa menyimpulkan detail yang tidak disampaikan. Keputusan untuk terus mencari kerja menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tetap menjadi pertimbangan dalam kehidupannya setelah pensiun. Namun, latar belakang tersebut tidak menjelaskan jenis pekerjaan tertentu yang sedang ia cari ataupun kondisi finansialnya secara terperinci.
Alasan kedua adalah keinginan untuk tetap produktif. Bagi Zaini, bekerja kembali bukan semata-mata berkaitan dengan tuntutan ekonomi; ia juga ingin menjalani kegiatan yang memberinya kesempatan untuk tetap berperan dan menggunakan waktunya secara aktif. Keinginan ini menunjukkan bahwa produktivitas memiliki arti tersendiri baginya pada usia 55 tahun, setelah menyelesaikan masa kerja sebelumnya. Kedua alasan tersebut hadir berdampingan: kebutuhan ekonomi mendorong pencarian kerja, sementara keinginan untuk tetap produktif menjadi motivasi personal. Dengan latar pengalaman sebagai akuntan di perusahaan perkebunan kelapa sawit, Zaini melanjutkan usahanya mencari pekerjaan, tanpa harus mengaitkannya dengan riwayat karier lain atau bidang pekerjaan yang belum disebutkan.
Expo tersebut menyediakan 12 ribu lowongan kerja dari lebih dari 100 perusahaan. Jumlah itu menunjukkan bahwa acara ini bukan hanya ruang pertemuan pencari kerja dan pemberi kerja, tetapi juga wadah dengan beragam kesempatan. Bagi pengunjung yang memiliki pengalaman dan kebutuhan berbeda, banyaknya lowongan dapat membuka ruang untuk menelusuri posisi yang sesuai dengan latar belakang, keterampilan, serta kondisi masing-masing. Namun, jumlah lowongan tidak dengan sendirinya menjamin setiap pengunjung memperoleh pekerjaan. Proses pencocokan tetap bergantung pada persyaratan perusahaan, kualifikasi pelamar, dan keputusan rekrutmen. Karena itu, angka tersebut menggambarkan luasnya peluang yang tersedia, bukan kepastian hasil bagi siapa pun.
Dalam konteks Zaini, kesempatan kerja dalam jumlah besar menegaskan bahwa pencarian kerja pada usia 55 tahun berlangsung di tengah pasar yang menawarkan beragam posisi, tetapi tetap menuntut kecocokan kebutuhan perusahaan dan kemampuan pelamar. Pengalaman kerja yang panjang dapat menjadi bekal, sementara persyaratan untuk tiap posisi bisa berbeda-beda. Bagi Zaini maupun pencari kerja lain yang hadir, informasi tentang lowongan dapat menjadi titik awal untuk memahami pilihan yang ada dan mempertimbangkan langkah berikutnya. Akan tetapi, ketersediaan posisi saja tidak cukup untuk menyimpulkan bagaimana proses pencarian seseorang berakhir.
Skala expo—12 ribu lowongan dari lebih dari 100 perusahaan—memberi gambaran tentang besarnya kesempatan yang dihimpun dalam satu acara. Angka itu penting bagi para pencari kerja yang datang, termasuk mereka yang tengah mencari peluang baru setelah melewati masa kerja sebelumnya. Meski begitu, setiap lowongan tetap memiliki kriteria dan proses seleksi sendiri, sehingga peluang umum tidak serta-merta berarti pekerjaan telah didapatkan atau lamaran telah berhasil. Bagi Zaini, jumlah tersebut menjadi bagian dari konteks perjuangannya mencari kerja pada usia 55 tahun, tanpa mengubah kenyataan bahwa hasil pencariannya tidak dapat dipastikan hanya dari informasi mengenai expo.
Baca juga: Perjuangan Pendidikan Dinda dan Farras di Tengah Keterbatasan






