Tuban — Di tengah panasnya jalanan dan kesibukan hidup yang tak pernah berhenti, ada secercah ketenangan yang hadir di desa-desa Kabupaten Tuban. Bukan dari pembangunan megah atau teknologi canggih, melainkan dari langkah sederhana para polisi lalu lintas yang datang membawa senyum, sapaan, dan kepedulian. Program “POLANTAS MENYAPA” kini menjadi napas baru yang menghangatkan hubungan antara aparat dan rakyat.
Tidak ada meja birokrasi. Tidak ada suara peluit yang memaksa. Yang ada hanyalah dialog hangat, tatapan penuh empati, dan tangan-tangan yang ingin membantu. Polisi berseragam putih-biru itu kini mengunjungi rumah-rumah warga, menyapa di balai desa, hingga duduk bersila di bawah pohon rindang bersama para petani yang baru pulang dari sawah.
“Kami datang bukan untuk mencari kesalahan. Kami datang untuk mendengar, menyapa, dan berbagi pengetahuan. Polisi harus dekat dengan masyarakat, bukan ditakuti,” tutur Kasat Lantas Polres Tuban, AKP Muhammad Hariyazie Syakhranie, S.Tr.K., S.I.K., dengan senyum tulus yang mencerminkan semangat perubahan.
Hadir dengan Hati, Bukan Sekadar Tugas
Setiap kunjungan, para petugas Satlantas membawa penjelasan sederhana tentang keselamatan jalan, cara mengurus SIM tanpa perantara, dan pentingnya membayar pajak tepat waktu. Mereka tidak sekadar menjelaskan, tetapi menemani warga satu per satu, membantu mengisi berkas, hingga memastikan semua benar-benar paham.
Ada momen mengharukan ketika seorang nenek berusia 60 tahun yang selama ini takut berurusan dengan polisi berkata pelan sambil menahan tangis:
“Nak, ternyata kalian baik. Saya kira polisi hanya marah-marah di jalan. Terima kasih sudah mau duduk dengan saya, mengajari saya…”
Kalimat sederhana itu seolah menjadi bukti bahwa perubahan bukan sekadar slogan. Ia hidup di tengah masyarakat, menyentuh hati mereka yang selama ini hanya mengenal polisi lewat ketegasan, bukan kelembutan.
Pajak untuk Masa Depan Anak-Anak Desa
Dalam setiap pertemuan, petugas juga menjelaskan pentingnya pajak kendaraan untuk pembangunan daerah. Tapi cara mereka berbicara jauh dari nada menggurui.
“Ketika Bapak/Ibu membayar pajak, itu bukan hilang. Itu kembali untuk perbaikan jalan, penerangan, dan sekolah untuk anak-anak kita,” jelas seorang anggota Satlantas kepada warga yang berkumpul.
Dan perlahan, warga mulai memahami. Mereka sadar bahwa tertib administrasi bukan tentang denda atau sanksi, melainkan tentang masa depan kampung mereka sendiri.
Keteladanan yang Menggerakkan
Hubungan polisi dan masyarakat yang dahulu kaku kini berubah menjadi lebih hangat. Anak-anak desa berlari mendekat ketika melihat iring-iringan polisi datang. Para pemuda mulai bangga membuat SIM resmi. Para orang tua lebih tenang saat melepas anak-anak mereka berkendara.
“Kalau ada polisi seperti ini, kita merasa dihargai. Rasanya bukan seperti aparat mengajari rakyat, tetapi saudara mengingatkan saudaranya,” kata seorang warga.
POLANTAS MENYAPA telah menjadi bukti bahwa polisi tidak harus selalu berdiri di pinggir jalan dengan peluit dan teguran. Polisi bisa masuk ke hati masyarakat, membangun kesadaran dengan cara paling sederhana: hadir dan mendengarkan.
Menyayangi Warga, Menyayangi Kota
Bagi AKP Hariyazie, program ini adalah sebuah komitmen jangka panjang.
“Tugas polisi bukan hanya menertibkan jalan. Tugas kami adalah menjaga keselamatan, mendorong perubahan, dan membangun kedekatan. Jika masyarakat merasa aman dan dihargai, maka jalan menuju ketertiban akan terbuka dengan sendirinya,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Melalui POLANTAS MENYAPA, Polres Tuban menunjukkan wajah Polri yang lebih manusiawi. Wajah yang tidak hanya mengawasi, tetapi merangkul. Tidak hanya menegakkan aturan, tetapi menumbuhkan kesadaran. Tidak hanya bekerja dengan tangan, tetapi dengan hati.
Inilah polisi yang diharapkan masyarakat—Polisi yang Prediktif, Responsif, Transparan, dan Berkeadilan.
Polisi yang hadir bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menenangkan.
Polisi yang bekerja tidak untuk dipuji, tetapi untuk melayani.
Dan dari desa-desa kecil di Tuban, harapan itu kini mulai tumbuh kembali.

