JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Persaingan chipset smartphone pada 2026 memasuki fase yang lebih kompetitif. MediaTek, Qualcomm, dan Samsung tidak lagi hanya berlomba menghasilkan prosesor dengan kinerja tinggi, tetapi juga memperluas kemampuan pada kecerdasan buatan (AI), efisiensi daya, konektivitas, serta fitur gaming. Ketiga produsen tersebut mengembangkan platform yang dirancang untuk mendukung pengalaman penggunaan lebih cepat, responsif, dan personal di berbagai kelas perangkat.
Perubahan ini menandai pergeseran penting dalam peran chipset. Komponen tersebut kini bukan sekadar pusat pemrosesan untuk menjalankan aplikasi, melainkan fondasi bagi berbagai fitur pintar yang semakin sering digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Pengolahan foto dan video berbasis AI, penerjemahan langsung, pengenalan suara, pengelolaan konsumsi baterai, keamanan perangkat, hingga peningkatan kualitas koneksi bergantung pada kemampuan chipset. Di sisi lain, kebutuhan bermain gim dengan grafis kompleks mendorong produsen memperkuat unit pemrosesan grafis dan sistem pendinginan yang lebih efisien.
Data Counterpoint Research untuk kuartal II 2026 menunjukkan bahwa MediaTek masih memimpin pasar smartphone AP-SoC global dengan pangsa 31 persen. Qualcomm berada di posisi kedua dengan 23 persen, sedangkan Samsung mencatat 9 persen. Angka tersebut memperlihatkan keunggulan MediaTek dalam menjangkau pasar luas, terutama melalui perangkat kelas menengah dan terjangkau, sementara Qualcomm mempertahankan posisi kuat pada segmen premium serta sejumlah kategori flagship.
Meski masih berada di bawah kedua pesaingnya, Samsung menunjukkan perkembangan positif. Pangsa perusahaan ini meningkat dari 7 persen pada kuartal sebelumnya menjadi 9 persen pada kuartal II 2026. Kenaikan tersebut mengindikasikan upaya Samsung untuk memperkuat kembali portofolio chipset internalnya melalui peningkatan performa, kemampuan AI, efisiensi energi, dan integrasi yang lebih erat dengan ekosistem perangkat. Dengan demikian, kompetisi ketiganya tidak hanya ditentukan oleh angka kecepatan, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan teknologi yang terasa manfaatnya dalam penggunaan harian.
Qualcomm mempertahankan strategi yang berfokus pada pasar smartphone premium melalui keluarga Snapdragon. Berbeda dari pendekatan yang mengejar cakupan luas di berbagai kelas harga, perusahaan ini menempatkan performa tinggi, efisiensi, konektivitas, serta pengalaman kecerdasan buatan sebagai nilai utama. Strategi tersebut membuat Snapdragon tetap menjadi salah satu platform yang banyak dipertimbangkan oleh produsen perangkat flagship, terutama ketika persaingan chipset semakin ketat pada 2026.
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah Snapdragon 8 Elite Gen 5. Chipset ini menggunakan CPU Qualcomm Oryon generasi ketiga, yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan komputasi tanpa mengorbankan efisiensi energi. Kecepatan prosesornya diklaim dapat mencapai 4,74 GHz, sehingga mendukung pemrosesan aplikasi berat, multitasking, serta berbagai fitur berbasis AI secara lebih responsif. Dibandingkan generasi sebelumnya, Qualcomm menyatakan adanya peningkatan performa hingga 20 persen dan efisiensi daya hingga 35 persen.
Peningkatan tidak hanya berfokus pada CPU. Qualcomm juga memperbarui GPU Adreno untuk memberikan kemampuan grafis yang lebih kuat pada perangkat premium. Berdasarkan klaim perusahaan, performanya meningkat 23 persen, sementara efisiensi dayanya menjadi 20 persen lebih baik dibandingkan generasi terdahulu. Perubahan ini penting karena layar dengan resolusi tinggi dan refresh rate cepat membutuhkan pemrosesan grafis besar, sekaligus dapat mempercepat konsumsi baterai ketika tidak dikelola secara optimal.
Dukungan ray tracing turut memperkuat posisi Snapdragon 8 Elite Gen 5 sebagai platform gaming mobile. Teknologi tersebut memungkinkan pencahayaan, bayangan, dan pantulan terlihat lebih realistis dalam gim yang kompatibel. Selain itu, dukungan terhadap Unreal Engine 5 membuka peluang bagi pengembang untuk menghadirkan visual dengan detail lebih tinggi serta efek sinematik yang sebelumnya lebih umum ditemukan pada konsol dan komputer. Melalui kombinasi CPU Oryon, GPU Adreno, dan ekosistem pengembangan tersebut, Qualcomm berupaya mempertahankan daya saingnya di segmen flagship.
Perkembangan chipset flagship tidak lagi hanya ditentukan oleh peningkatan kecepatan CPU dan GPU. Kemampuan kecerdasan buatan serta pengelolaan daya kini menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas pengalaman gaming pada smartphone. Snapdragon 8 Elite Gen 5 membawa NPU Hexagon yang diklaim 37 persen lebih cepat. Peningkatan tersebut mendukung pemrosesan AI langsung di perangkat agar berlangsung lebih responsif, tanpa bergantung sepenuhnya pada pemrosesan di luar smartphone. Dengan demikian, NPU memiliki posisi yang semakin penting dalam rancangan chipset modern.
Di sisi lain, tuntutan terhadap CPU dan GPU juga terus meningkat. Smartphone flagship diharapkan mampu menjalankan game dengan frame rate tinggi secara konsisten, sementara teknologi grafis seperti ray tracing membutuhkan kemampuan komputasi yang lebih besar. Kombinasi kinerja CPU, GPU, dan NPU harus dikelola secara seimbang agar peningkatan kemampuan tersebut tidak diikuti oleh konsumsi daya yang berlebihan. Pengelolaan daya menjadi semakin penting ketika perangkat digunakan untuk bermain dalam waktu lama.
Hubungan performa dan efisiensi tersebut menjadikan desain chipset sebagai faktor penentu pengalaman gaming secara keseluruhan. CPU bertugas menangani proses umum, GPU mengolah grafis dan ray tracing, sedangkan NPU mempercepat pemrosesan AI pada perangkat. Ketiganya perlu bekerja bersama melalui pengaturan daya yang terukur. Frame rate tinggi tidak cukup apabila konsumsi daya meningkat terlalu cepat selama pemakaian berkelanjutan. Karena itu, chipset flagship dituntut menghadirkan kinerja grafis dan AI yang responsif, sekaligus mempertahankan efisiensi daya agar kemampuan tersebut dapat digunakan secara stabil dalam durasi panjang.
MediaTek semakin agresif memperluas posisi di pasar premium melalui lini Dimensity. Selama bertahun-tahun, perusahaan ini lebih sering diasosiasikan dengan chipset untuk smartphone kelas menengah karena menawarkan kombinasi harga dan kinerja yang kompetitif. Namun, strategi tersebut kini berkembang. MediaTek ingin membuktikan bahwa teknologinya mampu memenuhi tuntutan perangkat flagship, termasuk kebutuhan terhadap performa komputasi tinggi, efisiensi daya, konektivitas cepat, serta pemrosesan kecerdasan buatan (AI) yang semakin kompleks.
Langkah penting dalam strategi tersebut terlihat melalui peluncuran Dimensity 9600 Pro pada September 2026. Chipset ini dibuat menggunakan teknologi fabrikasi 2 nanometer dari TSMC, sebuah proses produksi yang dirancang untuk meningkatkan kepadatan transistor sekaligus membantu menjaga efisiensi energi. Penggunaan proses tersebut menempatkan Dimensity 9600 Pro di platform mobile paling canggih dan memperkuat ambisi MediaTek untuk bersaing langsung di segmen kelas atas.
Dimensity 9600 Pro dirancang dengan perhatian besar pada kemampuan AI dan performa flagship. MediaTek mengklaim chip ini mampu meningkatkan pemrosesan AI generatif secara langsung di perangkat sebesar 51 persen dibandingkan pendahulunya. Peningkatan tersebut dapat mendukung berbagai fungsi, seperti pengeditan foto dan video berbasis AI, penerjemahan waktu nyata, pembuatan konten, asisten pintar, serta fitur personalisasi yang tidak selalu bergantung pada koneksi ke layanan cloud. Pemrosesan lokal juga berpotensi mempercepat respons dan membantu menjaga privasi data pengguna.
MediaTek juga menyiapkan Dimensity 9600M berbasis proses fabrikasi 3 nanometer untuk perangkat kelas atas yang lebih luas. Varian ini menunjukkan upaya perusahaan memperluas teknologi premium ke lebih banyak kategori smartphone, bukan hanya model dengan harga tertinggi. Perkembangan tersebut menandakan bahwa persaingan MediaTek dan Qualcomm, sekaligus tekanan dari Samsung, semakin ditentukan oleh kemampuan mengadopsi teknologi fabrikasi terbaru dan mengoptimalkan AI. Dengan demikian, keunggulan chipset tidak lagi hanya diukur dari kecepatan CPU, tetapi juga dari efisiensi, kemampuan grafis, dan pengalaman AI yang dapat diberikan kepada pengguna.


